
" La terus hubunganya apa coba sama aku. Kan aku tadi cuman tanya siapa dia? eh kamu jawabnya sudah kayak rel kreta api aja."
" Tapi dia ganteng ya. Yang pernah aku dengar sih kabarnya dia dulu SMA nya satu kota sama kayak kamu lo Ja."
" Oh ya trus aku harus bangga gitu?"
Malampun tiba. Kini Senja sedang berada di kos kosanya yang bisa dibilang lumayan lah ya. Karena kamarnya tersedia AC, WIFI, dan kamar mandi dalam. Jadi dia gak perlu repot-repot untuk mandi ketika pulangnya sudah malam dari kampus.
" Hais kenapa sih laki-laki di parkiran tadi kayak tidak asing" dia berguman sendiri sambil tanpa sadar kertas yang tadi akan digunakan untuk mengerjakan tugas sudah pernuh dengan coretan coretan nama. Tanpa sadar dia menuliskan Kak Ael aku kangen. Kak Ae. Kak Ael.
Setelah menyadari apa yang telah dilakukanya senja hanya senyum-senyum sendiri karena dia tanpa sadar menulis nama orang yang pernah dia cintai untuk pertama kalinya.
Apakah itu yang dinamankan rindu? Atau justru Senja belum bisa melupakan Kak Ael nya itu?
Aneh sebenarnya dia memanggil nama cinta pertamanya dengan sebutan Kak Ael. Padahal namanya adalah Alfarizi. Karena yang dia tahu temanya-temanya dulu memanggil namanya dengan sebutan Alfa atau Fariz. Bodohnya Senja dia tak pernah menannyakan nama lengkap Kak Aelnya itu. Entah mengapa dia memanggil namanya dengan sebutan Kak Ael dan Alfarizi menyetujui saja. Bahkan itu adalah panggilan berbeda yang dia miliki.
Waktu menunjukan pukul 21:00 dan benar saja tugas yang kemarin dia kerjakan belum selesai karena banyak hal yang dia kerjakan dengan Puspa dari beberapa hari yang lalu. Ya mereka berdua akan membuka kedai kopinya. Sebenarnya itu adalah cabang dari sebelumnya. Ada untungnya juga dia kuliah ambil jurusan Manajemen sehingga kini Senja dan Puspa bisa bekerja sama membuka bisnis. Setidaknya penghasilanya cukup untuk uang makan, kos, dan kuliahnya sendiri.
Senja bukanya orang yang suka pergi jalan-jalan ke Mall untuk membeli barang barang yang tidak berguna. Dia lebih suka uangnya untuk di tabung dan di investasikan jika nanti sudah terkumpul cukup.
Tring tring tring tring (suara ponsel Senja)
" Hallo ada apasih Pus jam segini telfon. Lihat ni tugas aku belum kelar juga."
" ye ye mana aku tahu dan mana aku bisa lihat yang aku bisa hanya mendengarkankamu nyrocos tanta memberi kesempatan yang telfon ungkapin sesuatau."
" Ya udah apa cepet kalau enggak aku matiin"
__ADS_1
" Hiya hiya santai sayangku. Gini kan besok aku ada jam sore jadi gak bisa nemenin kamu untuk pembukaan cabang kedai kita. Jadi aku minta maaf ya. Besok kamu sensiri saja yang datang dan untuk masalah browsurenya besok aku aja yang sebarin sebagai balasnya."
" Oh gitu ya. Ya udah oke."
" Hih gitu doang reaksinya?" Sambil memutar bola matanya yang akan terkesan cuek mendengar jawaban Senja.
" La terus?"
" Gak jadi lupain, sekarang kamu lanjut aja tugasmu."
Tut tut tut tut. Senja tiba-tiba mematikan telfonya dan benar saja membuat Puspa kesal.
Waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari dan Senja baru saja menyelesaiakn tugas kuliahnya. Dia begitu lelah dan langsung merebahka tubuhnya di tempat tidur dan langsung terlelap.
"Hah hah sia*** kenapasih kak Ael muncul dengan menggukana pakaian laki-laki aneh itu."
Karena tidak ada jam pagi jadi senja tidak perlu datang ke kampus. Dia memilih pergi ke kedai kopinya untuk mengechek semua persiapan pembukaan cabangnya itu.
Senja malajukan montor meticnya dengan kecepatan sedang di tengah padatanya kota Malang. Karena pagi-pagi jalanan selalu di penuhi dengan kendaraan yang akan berangkat kerja dan anak SMA.
di kedai kopi JP
Na na na na begitu sakitnya hatiku kau pergi tinggalkan aku aku masih mencintai kamu sungguh cinta tapi kamu tega...... Senja bernyanyi nyanyi lagu ciptaanya sendiri secepat kilat mulutnya berucap asala keluar lirik saja. Dengan ketika enak-enaknya dia bernyanyi tiba-tiba dari belakang tidak sengaja tertabrak oleh laki-laki yang sedang berlari lari. Hal itu sungguh membuat Senja naik darah karena dia badanya tertindih badan laki-laki itu hanya saja tangannya dapat menopang tubungnya seperti seorang yang sedang push up dan hampir saja mulutnya berciuman tapi untungnya tangan Senja sudah menutup wajahya sendiri. laki-laki itu tersadar setelah beberapa detik terdiam dalam kaedaan seperti itu. Akhirnya dia bangun dan segera menolong Senja untuk bangun dengan mengulurkan tanganya.
" Maaf mari saya bantu. Buka tangan di wajahmu saya tak akan ngapa ngapain kamu kok." sambil mengulurkan tangannya.
setelah bangun Senja begitu kaget akan sosok laki-laki yang itu.
__ADS_1
" Kamu" ucapnya secara bersamaan anatar Senja dan laki-laki itu. Senja begitu mengenali jaket dan topi yang digukana laki-laki itu walaupun tidak bisa melihat wajahnya tetapi bedanya kini dia menggukana masker tanpa kacamata hitamnya itu.
sambil menengok kebelakang sekirangan aman laki-laki itu memperkenalkan dirinya kepada Senja.
" Saya Ardian. kamu?"
" Oh saya Senja. eh apa apan kamu jangan kurang ajar ya. Saya akan teriak kalau kamu macam-macam."
" suttt suttt diam dulu sebentar dan ikuti saya. Disini tidak aman." sambil membekap mulut Senja dan menariknya untuk pergi ke parkiran mobilnya karena dia merasa mobilnya adalah tempat paling aman untuk sekarang dari kejaran teman perempuanya yang begitu tergila gila dengan Ardian.
" Emmp emmp lepaa emmp"
" Maaf sebentar saja menurutlah dengan saya. Saya berjanji tak akan melukai atau macam-macam denganmu."
akhirnya sampailah di mobil Ardian yang begitu mewah berwarna putih bersih.
" Kamu tenang disini dulu ya. Akan saya jelaska alasanya saya membawa kamu kesini."
" Biasa saja bahasanya gak usah seformal itu. Sepertinya kita gak beda jauh umurnya. Sekarang cepat katan aku gak punya waktu banyak."
"Begitulah ceritanya saya sudah menjelaskan semuanya. Tetapi saya mohon sebentar lagi jangan keluar dulu bisa bahaya nantinya."
" Ya tersah asal jangan macam-macam. aku akan tidur sebantar nanti kalau sudah dua puluh menit bangunkan aku. Aku begitu mengantuk karena banyak tugas yang harus aku kerjain kemarin."
" Baiklah tidurlah"
" Tunggu apa kamu gak mau melepas maskermu itu? ingin rasanya aku mencakarmu dari tadi" mendengar pertanyaan itu Ardian melototkan matanya karena kaget ada yang ingin mencakar wajah tampanya itu.
" Ye gak usah melot juga kali kalau gak mau biasa saja gak usah melotot. huh terserahlah aku mau tidur bentar ingat jangan macam-macam."
__ADS_1