
Ardian masih setia menunggu Senja hingga sadar kembali.
" Senjaku gadisku sudah lama aku gak dekat denganmu. Apa kamu tidak mengenaliku Senja setelah hampir lima tahun tidak jumpa? Maaf dahulu aku pergi tanpa memberi kabar kamu dahulu. Ada alasan yang belum saatnya kamu ketahui Senja. Maaf Senja. Setahuku kamu begitu menyukaiku. Apakah sekarang rasa sayang itu masih sama." Ardian sambil mengusap rambut halus dan pipi Senja yang lembut.
Dia sudah dalam pengaruh obat tidur selama dua jam lamanya sehingga membuat Ardian ikut terlelap di samping tempat tidur Senja dengan kepala di tundukan kebawah dan tangannya dijadikan sebagai penopang kepalanya.
Senja membuka matanya perlahan " Ukh haus banget aku." Dia belum sadar ada dimana. Yang ada dipikiranya sekarang ada dikamar kosanya. Seperti biasa setelah bangun tidur Senja selalu meregakan otot otot tubuh dan tanganya dan tanpa sengaja menjatuhi kepala Ardian.
" Arkh kamu siapa, kok bisa ada di kamarku." sambil teriak karena keterkejutanya melihat ada laki-laki tertidur disampingnya.
Karena kaget mendengar terikana Senja akhirnya Ardian membuka matanya dengan perasaan khawatir.
" Kenapa kamu kenapa apa ada yang masih sakit?" tanyanya sambil memegang tangan Senja dan menampakan wajah yang begitu cemas sedikit pucat karena khawatir.
" Haih kamu ngapain disini?"
" Saya nungguin kamu dan terserah akulah mau dimana aja kan ini rumah saya sendiri. Jadi aku bebas." Mendengar itu Senja mengeratkan kedua alisanya dan mulai mencari sesuatu kebenarannya kesamping dan kekiri.
" Kenapa? masih belum percaya kalau ini rumah saya."
" Iya iya ini sepertinya benar rumah kamu tapi bicaranya gak usah saya kamu dong. Mending sekalian Saya Anda aja biar lebih formal lagi."
" Jangan banyak bicara kamu mending segara makan aku ambilkan dahulu di dapur."
" Gak mau aku gak lapar."
Sambil keluar kamar dia berteriak mengatakan " Tidak ada penolakan Senja Maharani Puspita." Ardian terus tersenyum hingga menuju dapur. Setelah sampai di dapur dia mengambil makanan dengan lauk daging rendang dan ayam goreng serta ada capcay juga.
Pasti Senja menyukai makanan ini. Tidak mungkin menolak makanan kalau lauknya sudah ada ayam goreng dan capcaynya. Untung saja aku tadi sgera menyuruh bibi untuk membuatkan ini agar sewaktu-waktu dia bangun segera makan.
Dalam hatinya Ardian begitu senang karena setelah sekian lamanya dia bisa makan bersama Senja lagi. Karena tidak hanya untuk Senja dia juga membawa makanan untuk dirinya sendiri.
" Ini cepat makan kamu pasti menyukai lauknya ini saya begitu tahu dan segera minum obat kamu." dengan duduk ke tepi sisi ranjang. Senja hanya diam dan memandang Ardian dengan begitu intens tanpa berkedip sekalipun.
" Hai kenapa pandangin saya terus. Ya ya aku tahu kalau saya memang ganteng dari dulu" Senja hanya bisa memutar bola matanya sambil sedikit memonyongkan bibir miliknya.
" Apa kamu mau saya suapin?"
" Ckk jangan sok baik ya. Anda tidak mengenal saya. Jangan berlagak seperti Anda mengenal saya dengan baik."
__ADS_1
Kenapa wajahmu seperti tidak asing? Kenapa hatiku mengatakan kalau kamu Kak Ael? Hais Senja Senja itu tak mungkin yang ada di depan kamu ini adalah laki-laki aneh yang bikin kamu terluka dan kesal. Dia bukan Kak Ael.....hmmm apa aku sebegitu rindunya dengan Kak Ael sehingga aku merasa ada yang mirip dengan Kak Ael.
Dia menepuk nepuk pipinya dan tidak boleh untuk berfikiran seperti itu lagi. Ardian memegang tangan Senja agar dia menghentikan untuk tidak menepuk pipinya sendiri.
" Lepas gak. Anda jangan berlagak sok baik kali ini." Senja menarik tangannya yang barusan dipegang oleh Ardian.
" Kamu kenapa sih?" Dengan muka bingung.
" Ingat kamu bukan Kak Ael. Kamu jangan berlagak tahu tentang makanan saya. Jangan menatap saya seperti itu karana mata itu hanya mengingatkan saya dengan Kak Ael." Apa sebegitu rindunya Senja pada Ael sampai-sampai air matanya lolos menuju pipinya.
Ardian yang melihat Senja mengeluarkan air mata menjadi tidak tega dan memeluk tubuhnya.
" Jangan nangis kamu bukan anak kecil lagi. Aku memang bukan Kak Aelmu tetapi aku Ardian." Bisiknya di telinga Senja dan membuat sang pemilik sadar seketika jika dirinya berada dalam pelukan Ardian. Segera dia melepaskan dirinya dari pelukan Ardian.
" Dasar cari kesempatan dalam kesempitan."
" Oh ya. Ya udah deh sorry sekarang kamu cepat makan makananya keburu dingin jadi tidak enak nantinya."
Senja menarik nafasnya dengan pajang dan menghembuskannya dengan kasar. Sampai dapat di dengar oleh Ardian.
" Huuf...Baiklah"
" Maaf tadi saya udah kurang ajar tadi sama kamu. Oh ya selama kaki kamu masih sakit lebih baik kamu tinggal di rumah saya dahulu."
" Jangan saya tida terima penolakan." Senja yang mendengar jawaban yang seenak jidatnya Ardian hanya bisa memutar bola matanya.
Di kampus
Puspa berjalan karena terburu-buru tidak sengaja menabrak sosok laki-laki bertubuh atletis sama seperti Ardian. Laki-laki itu sering sekali terlihat kumpul bersama Ardian. Ya dia memang salah satu teman Ardian namanya Dilon Saputra Wijaya.
" Ah bajuku basahkan" Puspa yang tidak sengaja menumpahkan jus jambunya ke baju putih Dilon ketika tadi dia tidak sengaja menabraknya.
Kejadian itu membuat Dilon begitu murka kepada gadis yang ada didepannya tersebut. " Tanggung jawab kamu" Meneriaki Puspa dengan tangannya sambil menunjukan bajunya yang kotor.
" Iya kak maaf" Puspa merobek bukunya dan menuliskan nomor telfonya. Dia menyerahkan ke tangan Dilon.
" 085231xxxxx9 nomor siapa ini. Jangan main main kamu sama aku." dengan rahang yang mengeras.
" Kakak ini bodoh atau apa sih ya jelas nomorku dan nanti hubungi aku saja. Sekarang aku ada kelas Kak. Maaf sekali lagi. Tenang aja aku tanggung jawab telfon aja nanti."
__ADS_1
Tanganya membentuk huruf V " Pist kak Sorry sekali lagi" Berlari meninggalkan Dilon yang masih terlihat kesal dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan gadis itu. Puspa terlihat sudah menjauh dan beberapa detik kemudian sudah tak terlihat punggungnya.
" Awas kamu gadis sialan. Aku cari perhitungan sama kamu dan tak akan ku biarkan hari-harimu di kampus tenang."
" Bodoh bodoh kenapa aku tak menanyakan namanya tadi bagaimana aku cara mencarinya." Kakinya tidak sengaja menendang tong sampah di depanya.
" Aduh kakiku sial banget sih hari ini. Ardian aku butuh kamu untuk membalas gadi sialan itu."
Di rumah Ardian
Ardian berada di ruang keluarga menatap fokus laptop di depanya. Hari ini dia tidak pergi ke kampus karena khawatir kepada Senja.
Klatak bugh " Aduh aw kakiku sakit." Senja yang ingin keluar mengambil air minum harus menggunakan bantuan tongkat. Namun naas dia terjatuh ketika sedang membuka pintunya.
Ardian yang mendengar Senja berteriak dengan berlari secepat kilat mengahampiri Senja.
" Senja kamu kenapa? Ayo aku bantu berdiri."
" Tidak usah aku bisa sendiri dan jangan sok akrab deh. Kita baru kenal kemarin dan kamu tidak tahu saya begitu juga sebaliknya." Tidak mau mendengar penolakan Ardian begitu saja menggendong Senja kembali ke kamar. Ardian merasa tidak ada penolakan darinya menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
" Sebenarnya kamu mau kemana dan mau apa?"
" Aku haus mau minum."
" Ya udah tunggu sini biar saya ambillin."
" Ini minum air putihnya. Kalau mau apa apa bilang saja."
" Caranya?"
" Berteriak boleh kok."
Gelas berisi air yang ada di tangannya sudah terkuras abis menuju tenggorokanya. Rasanya begitu nikmat dan segar.
" Terima kasih Kak Ael." Tanp sadar dia menyebut naman Kak Ael.
" Ha? Kak Ael? Saya Ardian lo."
" Hummp apa apa aku bilang apa tadi?" Tangnya menggaruk kepalanya karena merasa gugup dan malu karena sudah menyebut Ardian dengan nama Kak Aelnya itu.
__ADS_1
" Sudahlah tak apa jika kamu menganggap saya adalah Kak Aelmu itu."
" Tidak sekali tidak ya tidak. Kak Ael dan kamu adalah orang yang berbeda dan tak mungkin bisa dianggap sama."