RASA ITU MASIH ADA

RASA ITU MASIH ADA
Sakit


__ADS_3

" Apa kamu lihat-lihat dasar laki-laki anhe."


" Heh kamu seharusnya berterima kasih kepada saya karena sudah membalikan HP kamu bukanya mengatai saya kayak begitu. Kalu mau saya bisa membuang HP itu dari tadi ketika di jalan."


" Oke. Makasih."


" Karena sudah mengembalikan Hp kamu saya meminta imbalanya katanya semua itu tidak gratiskan dan imbalanya adalah sebuah permintaab bahkan bisa dibilang perintah."


Ardian yang melihat HP senja tergeletam di atas meja langsung disambar dengan tangan kanannya. Hal itu dilakuka agar Senja mau menyetujui imbalanya tersebut.


Ardian yang sadar mendapat tatapan tajam dari Senja memiliki ide jahil.


" Bagaimana apa kamu setuju?"


" NO"


" Ya udah HP nya aku bawa lagi ini trus aku buang di tengah jalan biar dilindas oleh mbil atau truck."


" Huh baiklah satu permintaan tidak masalah."


" Kata siapa satu tetapi tiga permintaan." Senyum licik di bibirnya diperlihatkan.


" Ya ya ya cepatlah dan jangan aneh-aneh." Sambil mata senja diputar ke atas. Dia begitu kesal dengan laki-laki yang ada di depanya tersebut karena merasa sudah dikerjain dan perasaan menjadi tidak enak terasa ada yang mengganjal.


" Oh tentu tidak sekarang. Nanti saya pikirkan apa itu." Dengan yang dikedipkan sebelah seakan menggoda Senja."


Puspa yang melihat itu tiba-tiba matanya membelalak dan hatinya meleleh seketika.


" Wahh ternyata kakak kalau begitu tambah tampan aja."


" Oh iya makasih Puspa. Tuh dengar baik-baik kata teman kamu. Aku itu bukan laki-laki aneh tetapi tampan."


Karena saking kesalnya Senja berdiri begitu saja langsung berjalan tanpa melihat kursi disebelahnya. Senja terjatuh karena menabrak kusi itu. Dia terjatuh ke lantai dan kakinya begitu sakit apa lagi tadi kakinya habis diinjak Puspa. Semua itu membuat rasa sakitnya semakin terasa.


" Ya ampu Senja hati-hati dong." Puspa yang begitu khawatir langsung menolongnya untuk berdiri tetapi kakinya terasa sakit untuk jalan.


" Ah sakit sakit Pus sakit." Senja kembali mendudukan dirinya kelantai karena tidak kuat untuk berjalan bahkan berdiripun terasa sakit


" Ya terus kalau sakit aku harus gimana kalau tidak di bawa ke doker. Aku gak kuat gendong kamu."


Hati Ardian begitu sakit melihat Senja kesakitan dan mengeluarkan air matanya. Dia masih sama saja menjadi anak cengeng. Sebenarnya Ardian menahan dirinya untuk tidak menolong Senja karena dia tahu pasti akan ditolak mentah-mentah.

__ADS_1


" Sudah tidak bisa ini dibiarkan kasian dia dan walaupun ditolak aku akan memaksanya." ucapnya dalam hati.


Ardian segeral berdiri dan tanpa meminta ijin dia menggendong tubuh Senja untuk dibawa ke dokter. Senja terus memukul mukul bahu Ardian dan meminta untuk di turunkan bahkan dia semakin memberontak. Namun untungnya segera sampai di dalam mobilnya. Tanpa memperdulikan Senja yang terus memberontak Ardian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di Rumah Sakit


" Lepas lepasin aku Kak lepas."


" Pukul aja terus tak apa asal dapat meredam rasa sakit di kakimu."


" Ya ampun Ja kasina kak Ardian kamu pukulin bahunya. Kamu bisa diam gak sih. Kalau tidak aku suruh kak ardian buanh kamu ke tong sampah di depan itu."


" Ide bagus Puspa. Sekarang terserah kamu. Kamu mau sembuh atau berakhir di tong sampah." Setelah di ancam Senja nurut juga dan berhenti memukul bahu Ardian.


" Bagaimana keadaan kakinya dok?"


" Tidak apa-apa ini mas ini cuman retak sedikit nanti saya gift. Nanti satu minggu sudah sembuh insyallah asal jangan jalan terlalu jauh dan harus dibatu tongkat untuk jalanya."


" Oh iya terimakasih dok."


" Ini semua gara-gara kamu Ardian aneh."


" Loh kok jadi aku yang salah kan yang jalan gak hati hati kamu."


" Iya terserah kamu aja. Nanti akau tanggung jawab semuanya. Tenang aj kamu"


Mendengar pertengkaran kedua bocah itu dokter yang menangani Senja hanya senyum-senyum sendiri.


" Mas ini pasti suaminya ya. Baik banget sih mas ngalah sama istrinnya. Maklumi saja mas kalau orang sedang sakit begitu wajar kok."


mendengar kata kata yang keluar dari mulut dokter itu membuat Senja seamkin kesal saja.


" Iya dok ini memang istri saya tapi sayangnya galak banget dan dingin orangnya." Hehehehehe.


" Bukan dok jangan dengerin dia ngaco ya kamu."


" Honey kamu jangan gitu lah. Hais kasian nanti kalau calon momynya suka marah-marah." Sambil membelai rambut Senja.


" Ya udah saya keluar dulu ya. Nanti dilanjut dirumah mesraanya." Mendengar itu semua membuat Senja begitu malu dan kesal. Bahkan kini mukanya sudah memerah.


Mfep buahaha buaha hahahaha. Setelah dokter itu pergi akhirnya Ardian sudah tak dapat menahan tawanya begitu juga dengan Puspa yang melihat Senja begitu malu dan kesal. Tetapi apalah daya kini untuk bangun saja butuh bantuan seseoarang karena kakinya masih sakit dan di gift.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan administrasi Ardian kembali ke ruangan Senja dan kembali menggendongnya untuk segera dibawa pulang. Kali ini Senja hanya menurut saja atas semua perlakuan Ardian terhadapnya.


Diperjalanan pulang Senja tertidur di dalam mobilnya dan kini Ardian menepikan mobilnya karena tidak mengetahui tempat tinggalnya.


" Oh iya Puspa dimana tempat tinggalnya?"


" Eh anu itu sebenranya dekat kok dati sini tetapi tempatnya ada di lantai tiga dan kata dokter tadi dia gak boleh jalan jauh atau menuruni tangga yang tinggi jadi lebih baik ke kosan aku aja. "


" Dimana?"


" Ini putar balik kak dua kilonan lagi lah."


setelah berpikir beberapa menit dan mengingat apa yang dikatan Puspa ada benarnya juga. Ardian mengurungkan niatnya untuk membawanke tempat kosan milik Senja. Lebih baik jika dia membawanya pulang karena dirumah ada bibi juga yang membantu merawatnya.


Tanpa berkata apa-apa pada Puspa dia melajukan mobilnya ke arah rumah miliknya. Hal itu membuat Puspa bingung tetapi dia tidak berani bertanya dan akan bertanya jika nanti sudah sampai tempat tujuan.


Di rumah Ardian


Ardian yang baru saja sampai di halaman depan rumahnya yang faham mendapat tatapan dari Puspa seakan dimana dia dan Senja dibawa sekarang.


" Ini adalah rumahku tidak mungkin aku mambawanya ke kosanmu nanti tidak ada yang menjaganya kalau disini ada bibi."


" Oh i i iya kak tapi...." Sambil menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup.


" Tidak usah khawatir kamu. Nanti kalau mau pulang biar diantar pak sopir aja aku. Saya begitu capek hari ini."


Puspa hanya mengagguk.


Ardian segera membuka pintu mobilnya dan menggendong Senja ke dalam rumahnya. Dia menaruh Senja di kamar tamu bawah karena tak mungkin membawanya ke atas ke dalam kamarnya. Ardian yang melihat senja masih tertidur pulas karena obat tidur yang diberikan oleh doker sudah bereaksi sejak dari tadi. Bahkan dalam tidurpun Senja sempat tersenyum dan dia begitu cantik menurut Ardian.


" Kak kalau gitu aku pulang dulu ya. Aku pesan Ojol aja."


" Jangan aku tadi udah bilang ke sopir suruh mengantar kamu sampai kosa dengan selamat."


" Ya udah kak titip Senja ya. Nanti buku kuliahnya biar aku titipkan ke pak sopir."


" Ya." Dingin banget tapi kalau sama Senja kenapa dari tadi debat mulu ya. Tapi walau dingin dingin gitu dia perhatian juga. Dalam hatinya Puspa berfikir bahwa Senja beruntung bisa dirawat kak Ardian tetapi kenapa setiap melihat Kak Ardian Senja selalu menatapnya dengan tatapan macan membunuh.


" Ah sudahlah masa bodo."


" Kenapa Nona?" tanya pak sopir yang mengantarnya pulang.

__ADS_1


" Hmm eh anu Pak bukan apa-apa kok." sambil menunjukan giginya.


" Saya kira kenapa Non. Ya udah kalau begitu." Puspa hanya mengangguk saja tanpa mengelurkan sepatab kata lagi karena malu.


__ADS_2