RATU BAR BAR

RATU BAR BAR
Baiklah akan gue pikirkan


__ADS_3

“Apa syaratnya ” ucap lion penasaran.


“Jam kerja gue setelah pulang sekolah giman?” ucap ratu santai


“Apakah anda sedang bercanda nona? Kau tau sendiri kan bagaimana pekerjaan seorang asisten?.” ucap lion menaikkan sebelah alisnya.


“Astaga, lo itu sangat bodoh ternyata.” sinis ratu kepada lion.


“Kau mengatai saya bodoh?” ucap lion melototkan matanya mendengar ratu mengatainya bodoh.


“Kenyataannya memang lo itu bodoh, bagaimana gue bisa kerja 24 jam, sedangkan gue ini seorang anak sekolahan.” sinis ratu.


Lion terdiam sesaat setelah mendengar ucapan ratu. Memang ada benarnya ucapan gadis itu karena ratu saat ini masih sekolah. Jadi sangat tidak memungkinkan jika ratu bekerja selama 24 jam padanya.


“Kau pulang jam berapa?.” tanya lion setelah lama terdiam.


“Sore hari gue udah pulang, kecuali ada les yah bisa pulang malam.” ucap ratu santai menyandarkan badannya di sandaran kursi.


Lion terdiam cukup lama memikirkan bagaimana caranya.


“Bagaimana jika kau ikut tinggal bersamaku.” ucap lion


“Hei tuan gila, gue ini wanita baik-baik yah, jangan seenaknya minta gue tinggal sama lo.” ucap ratu marah karena permintaan si gila itu yang tidak masuk akal.


“Jauhkan pikiran kotor mu itu nona.” ucap lion menebak isi pikiran ratu


‘Bahkan si gila ini bisa menebak isi pikiran gue. Benar-benar cenayang gila.’ batin ratu.


“Cih, jangan sok tau jadi orang nanti berubah jadi monyet baru tau rasa lo” ucap ratu kesal karena lion bisa menebak isi pikirannya.


“Jadi bagaimana dengan penawaran saya.” ucap lion memastikan.


‘Hedeh, gimana yah, kalo gue terima bisa dicincang gue sama macam tutul.’ batin ratu


“Em, bisakah gue pikirin dulu.” ucap ratu


“Baiklah, saya berikan waktu sampai besok pagi.” ucap lion santai.


“Hah? Kenapa hanya sampai besok?.” komplain ratu.


“Saya tidak menerima penolakan.”


‘Gapapa deh biar nanti gue bicara sama ibu. Semoga saja di izinin dah. Lumayan kan 20 juta bisa kaya gue haha.’ batin ratu


Hedeh, si ratu mah mata duitan kali.


“Yaudah deh, gue balik dulu besok pagi gue hubungi.” ucap ratu berdiri dari kursinya.


Ratu berbalik meninggalkan lion yang masih menatapnya. Ketika ratu akan membuka pintu ia kembali berbalik melihat lion yang masih setia menatapnya.


“Eits, gimana caranya gue ngehubungin kalo nomer lo aja gue ga punya.” ucap ratu bersedekap dada di ambang pintu.


“Salah siapa tidak meminta.” sinis lion.


“Ck, tapi setidaknya lo itu menawarkan atau ngingetin gue.” kesal ratu.


“Apakah kau lupa jika kemarin saya memberikan kartu nama?” ucap lion.


“Kartu nama?”lirih ratu.

__ADS_1


“Astoge, gue lupa kalo gue punya kartu nama lo hehe.” ucap rindu cengengesan karena baru teringat jika tadi ia pernah di beri kartu nama.


“Okelah, nanti gue hubungi lo deh.” baru saja ratu akan berbalik tapi suara lion kembali menghentikan tangannya yang akan membuka pintu.


“Berhenti.” ucap lion datar.


Ratu menghentikan tangannya yang akan memutar gagang pintu.


“Haiiss,kenapa lagi sih.” ucap ratu kesal pasalnya dari tadi langkahnya selalu dihentikan.


“Kemari.” ucap lion


Dengan langkah malas ratu menghampiri lion dengan wajah kesal.


“Ada apa.” ucap ratu malas setelah sampai di depan meja lion.


“Mana ponsel mu?” tanya lion.


“Kau ingin apa?” tanya ratu heran.


“Kemarin kan saja ponsel mu.”


Ratu merogoh tas sekolahnya mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada lion.


‘Entah mau apa si gila ini’ batin ratu.


“Nih.” lion kembali menyerahkan ponsel ratu.


“Disitu ada nomor ku.” ucap lion


“Hah? Bukannya sudah ada di kartu nama lo.” ucap ratu heran.


“Itu untuk pekerjaan, sedangkan ini pribadi.” ucap lion santai.


“Di kartu nama itu hanya untuk klien ku. Sedangkan kau nanti akan menjadi asisten pribadi saya otomatis kau akan sering saya hubungi. Kau berbeda dari klien ku, mengerti.” ucap lion panjang lebar.


Wah ratu Daebak kali lah baru beberapa jam bersama lion tapi sudah membuat si lion yang irit bicara itu jadi cerewet.


“Oh yaudah,” Ucap ratu dan meninggalkan lion yang masih setia menatap punggung ratu yang menghilang dari balik pintu.


Kini ratu telah sampai dilantai satu dengan berjalan santai. Semua orang yang lalu lalang di lantai satu menatap ratu yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


“Apakah itu adik Presdir.”


“Siapa gadis itu.”


“Mungkin itu adik Presdir karena aku melihatnya masuk ke dalam ruangan Presdir.”


Yah, begitulah desas desus yang ratu dengar.


‘Apakah si gila itu memiliki adik yang seumuran dengan gue ’ batin Ratu.


“Ahhh gue udah kayak selebritis aja nih, pada diliatin haha.” gumam ratu.


Sesampainya di luar kantor ratu langsung naik ke ojek online yang sebelumnya sudah ia pesan sebelum turun, hingga pada saat ia sampai di lobi, ratu langsung menaiki ojek online yang ia pesan tadi.


Sesampainya di rumah dan jam sudah menunjukkan pukul 05:15 sore. Namun, baru ia akan membuka pintu tiba-tiba pintu terbuka menampakkan ibunya yang tengah berkacak pinggang dengan sorot mata seperti ingin membunuh.


“Hehe i..ibu as..assalamualaikum bu.” ucap ratu gugup.

__ADS_1


“Dari mana kamu.” ucap ibu garang.


“Hehe itu bu, tadi ratu itu bu anu emm ada urusan eh salah maksud ratu ada tugas penelitian dari sekolah karena besok akan di kumpul jadi ratu harus menyelesaikannya.” ucap ratu dengan segala tipu muslihatnya.


Hadeh, ratu banyak kali lah alasan kau ga takut dosa tuh.


Sedangkan ibu memicingkan matanya mendengar alasan ratu.


“Hem, kamu tidak bohong kan?” tanya ibu memicingkan matanya.


“E..enggak kok bu, beneran dah.” ucap ratu sembari mengangkat jarinya membentuk v.


“kalau gitu masuk!.” ucap ibu garang.


“Eh, i..iya bu, ratu masuk dulu hehe.” ucap ratu dan berlari memasuki rumah.


Sesampainya di kamar, ratu melempar asal tas sekolahnya dan membaringkan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur.


“Hedeh, gimana yah caranya ngasih tau ibu.” gumam ratu sembari menatap langit-langit kamarnya.


“Jangankan ngomong soalnya ini yang tadi aja udah kayak mau makan orang.”


“Tau ah nanti aja deh mikirin caranya gimana.” lirih ratu dan tak lama kemudian menutup matanya akibat kelelahan.


Malam pun tiba dan ratu masih asik di alam mimpinya.


Tok tok tok


“Ratu...” teriak ibu dari luar kamar.


“Ratuuu.”


“Kemana anak itu? Apa jangan-jangan dia tidur.” gumam ibu.


“RATU BANGUN” teriak ibu dari luar.


Ratu yang sedang asik menikmati mimpinya tiba-tiba langsung bangun akibat terkejut mendengar suara ibunya yang lebih keras di bandingan suara petir.


“Guntur, guntur awas berlindung.” kaget ratu sembari tiara di atas kasur nya.


“Ratuuu bangun” teriak ibu kembali.


“Eh, bukan guntur ternyata.” ucap ratu mengelus dadanya.


“Hedeh, suara ibu jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan suara guntur.” lirih ratu.


“Iya bu, ratu udah bangun kok.” teriak ratu.


“Cepetan mandi ibu tunggu di meja makan.” balas ibu dan meninggalkan pintu kamar ratu.


“Nanti setelah makan malam aku akan memberi tahu ibu.” gumam ratu dan berjalan kearah kamar mandi.


Selesai mandi, kini ratu tengah duduk di sofa bersama ibunya yang sedang menonton serial ikan duyung.


”Em, ibu ratu ingin mengatakan sesuatu.” ucap ratu sembari menatap takut pada ibunya.


Ibu ratu lebih menakutkan ketika marah di bandingan kan di marahi sekelurahan.


“Apa.” ucap ibu tanpa mengalihkan perhatian nya dari tv.

__ADS_1


“Itu bu, ratu ingin kerja di...” belum sempat ia menyelesaikannya ucapannya ibunya tiba-tiba berubah menjadi thor.


“APA”


__ADS_2