RATU BAR BAR

RATU BAR BAR
Ternyata


__ADS_3

“Hah? Maksud lo?” tanya ratu bingung.


“Saya sebenarnya.” ucap lion sembari menatap dalam mata ratu.


“Sebenarnya apa?” tanya ratu penasaran.


“Em tidak apa-apa, kalau begitu saya pulang dulu.” ucap lion berdiri dari duduknya.


“Oh yaudah, pulang sana dan gausah balik lagi.” ucap ratu kesal karena lion menggantung jawabannya.


Mobil mewah lion perlahan menjauh dari halaman rumah ratu. Sedangkan ratu masih terlihat kesal.


“Apa apaan tuh si monyet, bikin gue penasaran aja.” gerutu ratu sambil berjalan menuju kamarnya.


“Lion udah pergi?” tanya ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.


Ratu yang saat itu ingin membuka pintu kamarnya terpaksa berhenti.


“iya bu, dia udah pergi.” ucap ratu dengan malas.


“Oiya, kamu beneran ada hubungan sama lion?" tanya ibu.


“Beberapa jam yang lalu sih ngga, tapi sekarang iyah.” ucap ratu dengan malas.


“Nak lion itu sepertinya baik, ibu suka.” ucap ibu tersenyum.


“Kalo ibu suka nikah aja tuh sama si gila itu.” ucap ratu


“Apa kamu bilang! Dasar anak durhaka kamu yah.” ucap ibu marah dan berjalan kearah ratu. Tapi ratu buru-buru masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya.


Tok tok tok


Bruk bruk bruk


“RATU BUKA PINTUNYA, DASAR ANAK DURHAKA KAMU YAH.” Teriak ibu dari luar sembari menggedor gedor pintu kamar ratu.


“Maafin ratu bu, tadi ratu keceplosan.” teriak ratu dari dalam kamar.


“Awas kamu yah, ibu cincang kamu.” ucap ibu galak dan meninggalkan pintu kamar ratu.


“Hufftt, sepertinya ibu sudah pergi, hampir aja gue di mutilasi sama ibu hehe.” ucap ratu cengengesan.


“Hedeh, si singa gila itu nambah beban gue aja.” Ucap ratu kesal.


“Oh iya, siapa yah nama gadis itu? Sepertinya gue harus cari tau dulu deh latar belakang tuh cewek.” gumam ratu.


“Muka nya aja yang polos, tapi sebenarnya dia ngga lebih dari wanita licik.”


“Oiya, apa jangan-jangan dia mau ngejebak si reza itu yah.” gumam ratu.


“Besok aja deh gue cari tau nama tuh cewek.” ucap ratu sembari berjalan menuju kamar mandi.


Keesokan harinya ratu kini tengah menuju kelasnya dan tiba-tiba ia berpapasan dengan gadis itu.


“Tunggu.” ucap ratu menghentikan langkah gadis itu.


Gadis itu menatap ratu dengan tatapan takut sembari meremas buku yang ada di tangannya.


“A..ada a..apa yah kak.” ucap gadis itu takut.


“Gladis ananda.” gumam ratu melihat nama gadis itu di bajunya.


“Gladis, nama lo gladis kan?” tanya ratu.


“I..iya kak, na..nama saya gladis.”ucap gadis itu terbata-bata.


“Gue mau ngomong sesuatu sama lo.” ucap ratu menarik tangan gladis menuju taman belakang sekolah.


“A..ada apa yah kak, ke..kenapa kakak bawa aku kesini?” tanya gladis takut.


“Tenang aja gue ngga akan apa-apain lo, tapi lo harus jawab jujur ke gue.” ucap ratu menatap tajam kearah gadis itu.


“I..iya kak.”

__ADS_1


“Lo ada hubungan yah sama reza?” tanya ratu.


Gadis itu sontak saja menatap tajam kearah ratu membuat ratu sedikit tersentak kaget.


‘Benar dugaan gue.’ batin ratu.


“Ada apa kakak menanyakan hal itu.” ucap gladis yang masih menatap ratu. Tatapan tajam itu sudah hilang berganti tatapan berani.


“Gue cuma nanya sama lo, ada hubungan apa lo sama reza. Karena kemarin gue liat lo di bully sama dina karena lo dekat dengan reza. Makanya gue tanya ke lo langsung.” ucap ratu.


“Sebenarnya reza adalah anak pemilik panti tempat aku tinggal sekarang. A..aku udah berteman sejak kecil dengan reza. Hingga suatu hari kami me..melakukan..” ucap gladis terhenti dengan wajah berkaca-kaca.


“Melakukan apa?” tanya ratu penasaran.


“Me..melakukan... Tapi kakak janji kan tidak akan membocorkan rahasia ini?” tanya gladis takut jika ratu membocorkan hal ini.


“Iya, gue janji sama lo.” ucap ratu serius.


“Sebenarnya kami sudah melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan hiks hiks. Ke..kemarin aku meminta pertanggungjawaban dari reza tapi dia..dia ngga mau tanggungjawab. Dia malah akan menggugurkan bayi yang tak berdosa ini.” ucap gladis dengan tatapan marah.


Sungguh, ratu sangat terkejut mendengar pengakuan dari gadis didepannya ini. Jujur, dalam hatinya ia merasa kasihan dengan gadis ini. Namun, masih ada pertanyaan yang mengganjal dihatinya.


“Maaf yah, kemarin gue dengar pembicaraan kalian di sini.” ucap ratu dan membuat gladis kembali menatapnya.


“Dan gue juga dengar lo sedang berbicara dengan seseorang di telpon.” tambah ratu.


“Kakak dengar semuanya?” tanya gladis dan dibalas anggukan oleh ratu.


Gladis menghela nafas panjang dan kembali menatap ratu.


“Kak, sebenarnya aku ingin balas dendam dengan keluarga reza karena keluarganya sudah membantai habis keluarga ku.” ucap gladis dengan tatapan penuh dendam.


Ratu tersentak mendengar apa yang di katakan gadis di depannya ini.


“Be..benarkah?” tanya ratu dan dibalas anggukan oleh gladis.


“Saat itu aku masih kelas 2 SMP, aku pulang ke rumah sudah mendapati kedua orang tuaku dan juga adikku bersimbah darah dari dilantai.” ucap gladis menyeka air matanya.


“Aku mengetahui jika papa reza adalah orang yang sudah membunuh keluargaku sebulan lalu, saat keluarganya mengunjungi panti asuhan. Awalnya, aku terkejut mengetahui fakta bahwa ayah sahabat ku adalah pembunuh keluargaku. Maka sejak itu pula aku putuskan jika aku akan balas dendam melalui reza, anak mereka.” ucap gladis dengan mata yang di penuhi dendam.


Ratu yang mendengar pengakuan gladis langsung saja memeluk gadis itu. Dengan tubuh yang bergetar gladis menumpahkan segala kesedihannya di pelukan ratu.


“Gue tau bagaimana rasanya kehilangan keluarga, bapak gue juga udah meninggal akibat kecelakaan dan sekarang gue hanya tinggal dengan ibu. Mungkin gue sedikit beruntung dari lo.” ucap ratu mengelus punggung gladis.


“Ma..maaf kak, aku harap kakak tidak membocorkan rahasia ini pada siapapun.” ucap gladis mengurai pelukannya.


“Gue janji ngga akan membocorkan rahasia ini. Tapi bagaimana dengan kehamilan lo cepat atau lambat perut lo akan membesar.” ucap ratu.


“Aku tau kak, tapi sebelum perut aku membesar dan di ketahui oleh orang-orang, aku akan menyelesaikan segalanya.” ucap gladis tersenyum.


“Oiya, orang yang ngomong sama lo di telpon siapa.” tanya ratu


Gladis terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaannya ratu.


“Dia adalah seseorang yang bernasib sama seperti ku kak, keluarganya juga dibantai oleh keluarga reza hanya karena kekuasaan” ucap gladis.


Lagi-lagi ratu tersentak kaget, ternyata keluarga reza sangat berbahaya.


‘Sepertinya gue udah ngga mau lagi terlibat dengan masalah ini.’ batin ratu.


“Yaudah,kalau gitu aku ke kelas dulu yah kak, sebentar lagi bel masuk.” ucap gladis meninggalkan ratu.


“Hedeh, ternyata kasus ini harus gue tutup deh.” gumam ratu dan meninggalkan taman menuju kelasnya.


Sesampainya dikelas, ratu menemukan bunga mawar di atas mejanya. Ratu mengerutkan keningnya menatap heran bunga yang di depannya ini.


“Ndah, ini bunga siapa?” tanya ratu kepada indah yang sibuk dengan ponselnya.


“Gue ga tau, gue kira itu bunga lo.” jawab indah mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap bunga di tangan ratu. Bunga mawar itu memang sudah ada di atas meja ratu sebelum ia masuk ke dalam kelas.


“Oh atau jangan-jangan itu bunga dari penggemar rahasia lo.” ucap indah menerka-nerka.


“Ah masa sih.” bantah ratu.

__ADS_1


Karena tidak ingin terlalu memusingkan masalah siapa pengirim bunga ini, ratu memilih mengabaikannya.


Sepulang sekolah, lebih tepatnya di parkiran, ratu melihat kerumunan cewek-cewek yang sedang histeris.


“Itu kenapa pada ramai-ramai yah.” gumam ratu.


Karena penasaran ratu menghentikan salah satu murid yang melewatinya.


“Eh, di situ ada apa sih ramai banget” tanya ratu pada siswa laki-laki itu.


“Ngga tau juga kak.” jawab siswa laki-laki itu.


“Oh yaudah deh, makasih yah.” ucap ratu.


Ratu menghampiri kerumunan itu dan langkahnya terhenti karena ia mengetahui siapa yang sedang dikerumuni itu.


‘Buset dah, kenapa si gila itu bisa ada disini.’ batin ratu.


Kedua mata lion menangkap sosok yang ia cari dan segera menghampirinya. Sedangkan ratu hanya diam membeku melihat lion semakin mendekat kearahnya.


‘Mati gue, ngapain sih dia mendekat, Ini lagi kaki gue kenapa ga bisa di gerakin sih.’ batin ratu.


“Hai sayang.” ucap lion membuat semua siswi perempuan itu kembali histeris.


‘Sialan lo lion.’ umpat ratu dalam hatinya.


“Wah ternyata itu pacarnya ratu.”


“Gimana bisa sih, ratu punya pacar super tampan begitu.”


“Gue ga percaya, ini pasti mimpi kan.”


Begitu lah desas desus siswi perempuan yang melihat ratu di dekati oleh lion.


Ratu tersadar kembali dari keterkejutannya dan menatap tajam kearah lion, detik selanjutnya ratu tersenyum paksa mendengar lion memanggilnya “sayang”.


“Ngapain lo kesini sih hah.” ucap ratu dengan pelan sembari tersenyum paksa.


“Saya kesini ingin menjemput kekasih saya.” ucap lion dengan wajah tanpa dosa.


Karena tidak ingin lion semakin membuatnya malu, buru-buru ratu menarik tangan lion dan masuk kedalam mobil lion.


“Lo kenapa sih,pake acara datang segala ke sini hah.” marah ratu.


“Emang ada yang salah yah.” ucap lion dengan santai.


“Berapa kali sih gue harus bilang, gue bukan pacar lo.” kesal ratu dengan pipi yang kembang kempis menambah keimutan di wajahnya.


“Kemarin kita sudah pacaran.” bantah lion


“Tapi gue belum bilang iya.”


“Nah, itu kamu bilang iya.” ucap lion santai.


“Oiya, jangan manggil gue lo lagi kalo sama aku. Panggilnya aku kamu atau sayang.” tambah lion yang terus memperhatikan wajah imut ratu.


“Gue ngga mau dan ngga akan pernah. Sana lo minggir, gue mau keluar.” ucap ratu, tapi sayang lion sudah mengunci mobilnya dari dalam.


“Buka ngga.” kesal ratu.


“ngga.”


“Buka lion.” bentak ratu.


“Ngga berarti ngga. ”ucap lion datar dan melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.


“Lo mau bawa gue kemana sih hah.” ucap ratu yang masih kesal dan marah.


“Aku mau membawamu ke rumah ku.” ucap lion tanpa mengalihkan tatapannya dari depan.


“APA, GILA LO YA” bentak ratu.


Ratu benar-benar di buat marah dengan tingkah lion yang sangat seenaknya saja.

__ADS_1


__ADS_2