
...Kenapa kau pulang? Karena tak ada tempatku untuk bersandar....
...Kenapa kau pergi lagi? Karena bahu itu yang membuatku sadar....
...Sadar untuk pentingnya mengetahui bahwa aku memang sendirian....
...Bluefla_21Mei...
...-...
...-...
...-...
6 Mei 2018
New York, Amerika Serikat
Hari Minggu adalah hari yang menyedihkan dalam hidup ku, baiklah mungkin terlalu berlebihan tapi aku pikir kalian tau bagaimana rasanya. Rasa sakitnya mencintai orang yang sudah menemanimu saat kau sendiri tak bisa lagi menjalani hari. Aku juga lupa, sudah berapa kali aku berjanji pada diriku sendiri. Dan aku tetap mengulangnya, melupakannya? Tak semudah membalikkan telapak tangan. It's hard, you know that. But, bisakah sehari saja, jangan munculkan bayangan dirinya dalam benakku dan pikiranku, aku mohon!
Alunan lagu More Than This - One Direction terdengar menyedihkan dan menyesakkan hati. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa menerjemahkannya sendiri. Hatiku lagi-lagi seakan dihantam oleh seribu anak panah. Bagaimana tidak? Didepan mataku dia berciuman dengan seorang gadis yang tidak lain adalah musuh bebuyutan ku sendiri.
Padahal aku membayangkan bahwa cinta itu indah dan sesuai dengan apa yang aku impikan selama ini. Tapi tidak dengan realita yg ku jalani saat ini. Bagi kalian yang merasakan hal yang sama, kalian hebat bisa menahan luka sedalam ini dan sesakit ini. Dan betapa bodohnya dengan kalian yang masih bertahan dengan situasi yang sama sepertiku.
Author POV
Setelah mengomel dalam hati selama 5 menit tanpa hentinya, kini gadis itu menutup buku hariannya, kemudian meraih segelas air putih lalu meneguknya sedikit demi sedikit lalu memijit pelipisnya yang sakit akibat terkena air hujan yang kini dia membenci baunya. Ya, dia mengutuk hujan atas apa yang telah dia alami. Memang terdengar bodoh, tapi itulah kenyataannya.
Dia menidurkan kepalanya diatas meja belajarnya, memejamkan matanya dan mengingat kejadian yang pahit itu lagi.
Flashback on
Sebuah sedan putih baru saja terparkir manis di depan sebuah toko buku. Sepasang kekasih yang tampaknya sedang tidak akur turun secara hampir bersamaan. Si pria memakai setelan celana jeans pendek dan kaos hitam, dan pacarnya memakai jeans pendek dan kaos coklat bigsize.
Pria itu menggeleng menahan malu ketika gadis berambut pirang itu masuk kedal toko dengan riang gembira. Mungkin bukan karena cinta, tapi karena ada sebuah alasan yang membuat pria itu bisa sampai memiliki pacar sepertinya. Dengan sikap yang acuh, gadis itu tidak menghiraukannya.
Pria itu tidak ikut masuk ke dalam toko buku melainkan duduk di muka mobilnya. Hari mulai gelap dan awan hitam pun tampak sudah menyelimuti hampir seluruh bagian kota tapi pria masih tetap memainkan benda persegi miliknya. Kurasa dia sedang sibuk menghubungi seseorang. Raut wajahnya menggambarkan kegelisahan dan kebencian yang bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya.
Tidak begitu lama, gadis tomboi itu keluar dengan membawa beberapa novel dan komik yang di belinya dari toko tersebut. Dengan perasaan gembira seperti seorang anak mendapatkan permen loli. Tak ada yang dipikirkannya selama di dalam toko, dan tak ada perasaan yang 'tidak enak' dalam benaknya.
Tapi ntah mengapa, langkahnya terhenti tanpa di perintah olehnya. Lengkungan bibirnya berubah masam dalam sekejap. Iris biru lautnya membesar, bukan karena melihat pemandangan yang indah namun dia melihat pemandangan yang mencekam dan tentu saja merobek hati kecilnya.
Novel yang semula di dekap dengan kedua tangannya, refleks jatuh dari dekapannya. Jantungnya berdetak kencang, sekujur tubuhnya bergetar seperti orang kedinginan. Dengan menahan air mata, dia menghampiri sepasang kekasih sedang duduk di muka mobil kekasihnya.
Dan yang lebih menyakitkan, mereka sedang berciuman mesra di depan matanya.
Menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di depan mereka, sang pria menoleh ke arah gadis itu, "Skyla...?" Ucap pria itu gelagapan.
Gadis yang bernama Skyla itu terkekeh pahit, " Ternyata benar dugaan ku selama ini. Ternyata kau seorang laki-laki bajingan, kenapa kau menyembunyikannya dari ku?" Tanya Skyla yang tampak menyembunyikan luka dengan menelan salivanya secara paksa.
"Hei, santai saja. Memang dia tak mencintaimu itu sudah cukup, kan? Lagi pula-"
Tak sampai gadis selingkuhannya menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Skyla sudah melayangkan tangan kanannya ke pipi kiri gadis itu.
__ADS_1
PARR!
Mendarat mulus namun menyakitkan, tapi sakit itu tak sepadan dengan luka yang diterima oleh Skyla, begitu sakit. Hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Jangan seolah-olah kau tersakiti olehku, Sky!" ucapnya dengan nada meninggi seraya meraih lengan gadis selingkuhannya dan memeluknya, "Kalau kau sudah tau, kenapa kau masih berpacaran denganku?"
"Kau? Jadi kau yang sakit? Mengertilah Nicholas, aku benar-benar sakit", alih-alih menyesal Skyla melototi mata selingkuhan Nicholas dengan tajam, "Kau tidak perlu tau alasan itu."
"Cuih!" Nicholas meludah di depan Skyla seolah-olah perkataan Skyla terdengar menjijikkan olehnya.
"Berani-beraninya kau meludah di depan ku, brengsek!"
PARR!
Tangan kanan Skyla kembali melayang di pipi kiri Nichol. Rasa kebas mulai memakan tangan Skyla, tapi rasa itu tak sebanding dengan apa yang diperbuat Nicholas kepadanya. Nicholas memegang pipinya yang bercap merah. Tangan kanannya mengepal geram.
"Sayang, ayo kita pergi. Tidak usah hiraukan wanita gila ini" sahut wanita berambut sebahu itu seraya merangkul lengan Nicholas manja dan dengan bodoh pria itu menurut.
"Kau yang gila, jalang!" Umpat Skyla kesal.
Tanpa pikir panjang mereka memasuki sedan putih Nicholas dan perlahan pergi meninggalkan Skyla yang kini hanya tersisa kenangan dan secercah harapan. Harapan bahwa semua kejadian itu hanyalah mimpi.
Skyla tertampar oleh hembusan angin yang kencang. Tampaknya dia tak menyadari bahwa kawasan kota kini kian gelap karena awan hitam menyelimuti hampir seluruh New York. Dia merasakan bahwa awan dan hujan pun turut berduka atas nya. Halilintar bergemuruh membuat Skyla tersadar dari lamunannya.
Butiran air mata perlahan jatuh ke pipinya. Sorot mata biru lautnya penuh dengan kebencian. Begitu juga air hujan yang keluar dari awan hitam tersebut.
Tuhan mengapa ini terjadi padaku, batinnya kecewa.
Skyla memungut novel dan komiknya yang agak basah karena rintikan gemiris dengan lemas. Berharap ada seseorang yang menolongnya, tapi tak ada seorang pun.
Hujan telah reda beberapa saat yang lalu. Skyla berjalan dengan tertatih-tatih, memegang erat novel dan komik itu. Sampai akhirnya Skyla berdiri di depan pintu rumah, ia tampak kacau, kedua mata biru lautnya tampak bengkak dan kosong.
TOK..TOK..TOK
Suara ketukan pintu terdengar deras hingga ke dalam rumah. Tapi tak seorang pun yang datang menyambutnya pulang. Dia sangat berharap ada yang membukakan pintu untuknya. Sejujurnya Skyla sudah linglung, kedua kakinya tak kuat lagi menahan beban tubuh dan rasa sakitnya. Bisa saja dia terjatuh, tapi dia tetap bertahan. Dengan perasaan kesal, gadis itu kembali mengetuk pintunya.
"Oh... Ayolah Harry! Aku mau masuk!" Teriak Skyla seraya memegang pintu coklat itu.
Derap kaki tegas terdengar dari dalam rumah. Pria itu berambut ikal gondrong dengan mata hazel dan lesung di pipi. Sama sekali tidak mirip dengan Skyla. Bahkan sifat mereka juga berbeda. Dengan hati-hati pria itu membuka pintu dan mengintip memperlihatkan ikalnya.
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Skyla lemas
"Aku tadi sedang di kamar mandi, kau kenapa, Sky?" Tanya Harry yang tampaknya sedikit khawatir.
"No problem, seperti biasa ini bukan urusanmu." cetus Skyla kesal.
"Ayo, ceritakan padaku, Sky."
"Stop it! Aku tak akan cerita masalah pribadi ku padamu."
"Why?"
"Karena itu tidak perlu!"
__ADS_1
Kata-kata itu membuat pria itu lemas. Dia tersadar dari rasa bersalah. Harry marah dan kecewa kepada dirinya sendiri. Entah kakak macam apa dia yang tak bisa melindungi adiknya sendiri.
Dengan langkah yang berat, Skyla masuk kedalam rumahnya tanpa memedulikan Harry. Kakaknya terpaku melihat raut wajah Skyla yang kacau. Sebenarnya dia ingin tau apa yang menyebabkan adiknya seperti itu. Tapi kalian tahu? Skyla tidak suka menceritakan masalah pribadinya ke orang, apalagi ke kakaknya. Menurutnya itu tidaklah penting, dia lebih suka memendam masalahnya walau dia tau itu sangat sakit. Tapi dibalik semua itu, ada alasannya.
Flashback off
Suara ketukan pintu kamar Skyla terdengar dari dalam. Dia tahu kalau kakaknya yang akan masuk dan mengucapkan pertanyaan beruntun kepadanya. Dan itu yang membuatnya malas melihat wajah pria ikal itu.
"Ma-masuk sa-ja!" Jawab Skyla yang masih sedikit menangis.
Pria berambut ikal itu mengintip kemudian masuk kedalam kamar Skyla dengan membawa secangkir teh camomile panas dengan maksud agar adiknya bisa beristirahat dengan nyenyak.
Dia meletakkan cangkir itu di meja dan berjongkok di sebelah Skyla, mata hazelnya tampak merasa bersalah. Seolah seorang ayah sedang memandang gadis kecilnya.
Pria itu memecah keheningan yang menyelimuti mereka, "Skyla, kau kenapa?"
Skyla mengusap air mata yang jatuh ke pipinya, "Aku baik." sambar Skyla dengan kesal.
Harry menghela nafas, "Aku membuatkan teh hangat untukmu." tanyanya dengan sabar.
Skyla berdecak kesal, "Aku tidak menyuruhmu."
"Ayolah! Jangan menganggap aku layaknya orang asing, Sky." desak Harry yang membuat Skyla ingin membunuh pria itu dengan senang hati.
"Tak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri." jawab Skyla singkat dan tegas.
"Ayolah, Skyla..." ucap lelaki itu memelas.
Skyla memukul dengan kuat, "Sudahlah! Tidak usah berlagak seolah-olah kau perhatian padaku! Sekarang keluar dari kamarku!"
Harry berdiri "Tidak bisa begitu, Sky..."
"Atau aku yang akan menyeretmu keluar!"
"But.."
"Keluar Harry!"
"Right..."
~
~
~
Hallo readers!
Salam kenal aku bluefla
You can call me fla or whatever
Lol, mon maap kalo ceritanya garing. Soalnya aku baru buat cerita pertamaku:'
__ADS_1
Mohon dukungannya ya, jangan jadi pembaca gelap loh!
Nantikan chapter 2 nya yaaa!!