ReBeLove

ReBeLove
Chapter 9 : In The Room


__ADS_3

...HI! Fla balik ni! huhu maaf ya udah 10 hari ga up karena kuota Fla abis huhu. Jadi happy reading beib!≤3...


"KAU!? Kau si pria gila itu, bukan?"


"Aku mempunyai nama, sayang"


...~~~...


5 Mei 2017


Parker Collegiate School


     Sebuah Rolls-Royce Wraith hitam berhenti di depan aula sekolah yang terkenal di daerahnya. Setelah melakukan beberapa drama dan pemaksaan yang cukup rumit. Akhirnya Glassy berhasil membujuk Skyla.


     Mendandaninya. Dari mulai wajah, rambut, hingga aksesoris yang akan dikenakan gadis itu. Sempurna!


     Seorang pria memakai setelan jas formal turun dari mobil itu dan membuka pintu belakang mempersilahkan kedua gadis yang berada didalam turun.


     Sepasang sepatu hitam berkilau keluar. Dengan gaun silver, kalung emas bercorak bunga dan sebuah topeng silver melekat pada wajahnya. Turun dengan anggun. Menatap dekorasi pesta yang begitu mewah. Banyak siswa lain yang berdatangan dan bergiliran masuk.


     Disusul dengan Skyla. Dengan gaun Dongker, sepatu emas, dan topeng emas menepati wajah mungilnya. Dia terlihat sempurna! Jika saja dia tak memakai topeng. Pasti para pria sudah menggodanya. Dan wajah mereka sudah hancur dipukul Skyla. Aku jamin itu.


     Glassy menggandeng lengan Skyla. Menuntunnya masuk. Udara luar membuatnya ingin memakai sweeter kesayangannya.


Tak sedikit siswa yang turut ikut dalam pesta itu. Minuman dan makanan terjejer rapi di meja sudut ruangan.


     Mereka pergi ke pojok ruangan yang tersedia sofa yang empuk, lalu menempati diri disana. Pesta belum berlangsung. Tapi sudah banyak siswa berhamburan dan sibuk mencari pasangan dansa mereka.


     Jantung Skyla berdetak kencang. Tak tahu apa sebabnya. Pikirannya melayang. Dia merasa sesuatu akan terjadi. Dan itu yang akan mengubah hidupnya.


Glassy meraih dua gelas minuman dari meja sebelah. Memberinya kepada Skyla lalu meneguknya perlahan. Dia mendesah nikmat.


   Skyla menggeleng pelan, "Tidak, Glase. Trims"


   "Nikmatilah, Sky. Bersenang-senang" ucap Glassy. Iris hitamnya memandang langit-langit bercorak bunga. Dia tersenyum miring.



     Tiga orang pria memakai setelan jas formal berdiri di depan aula. Dikerumuni banyak gadis cantik. Dengan topeng hitam mereka. Angin malam berhembus pelan menambah suasana romantis sekolah itu.



     Mereka masuk dari pintu depan. Tanpa atau dengan topeng pun, para penggemar 'prince' sudah mengetahui bahwa mereka adalah pangeran impiannya. Pangeran dengan setengah akal. Dan otak.



     Ketiganya tersenyum. Menebarkan pesona mereka pada malam itu. Membuat suasana jadi begitu berisik



   "Wah! Kak Nichol tersenyum padaku!!"



   "Kak Delano! Aku cinta padamu!!"



   "Kevin! Dambaan hatiku!!"



   Delano merapikan jas abu tuanya lalu berpaling ke arah Kevin


"Dimana Quincy?"



   Kevin tersenyum licik, "Sebentar lagi akan sampai"



   "Kita duduk saja dulu. Di pojok sana" timpal Nicholas yang sedari tadi sudah menargetkan sasaran empuknya



     Nicholas tahu betul bahwa kedua gadis yang sedang duduk itu Skyla dan Glassy. Karena gaya Skyla berbeda dari gadis lain. Menarik sekali, bisiknya.



     Lagu dansa telah diputar. Banyak siswa yang sudah mendapatkan pasangan segera berdansa di tengah ruangan yang disediakan. Lagu dansa slow romantis. Sangat indah. Bergerak sesuai melodi dan harmoni lagu.



   "Hooh mangsa sudah didepan mata" bisik Delano kepada Nicholas yang sedang memikirkan rencana liciknya



   "Ayo kita mulai permainannya!" Ucap Nicholas membara



     Mereka bertiga berjalan dari pinggir ruangan. Dan menempati dirinya tepat di depan sofa Skyla dan Glassy. Menyilangkan kaki dan tangan agar terlihat tetap keren. Nicholas tersenyum licik melihat gadis di depannya tidak bernafsu. Seraya memainkan ponselnya. Tampaknya dia tak menyadari ada sepasang mata coklat yang sedang melihatnya serius.



   "Quincy datang! Dia datang!" Bisik Kevin bersemangat lalu berbalik menghadap ke pintu masuk.



   Gerakan dansa sebagian pasangan terhenti. Lontaran kekaguman bergema jelas di langit aula.



     Seorang gadis yang berhasil menjadi salah satu idaman para pria sekolah. Seorang gadis dengan rambut coklat, gaun pendek berwarna peach, sepatu yang senada dengan gaunnya, dan sebuah topeng coklat melekat pas di wajahnya.



Dengan anggun dia berjalan ke arah 3 pangeran (setengah akal). Memancarkan senyuman terbaiknya.



     Kevin melompat bangkit dari duduknya tatkala gadis itu semakin dekat dengan mereka. Hanya Glassy dan Skyla yang tidak begitu tertarik dengan kejadian itu.



   Kevin mengulurkan tangan kanannya seraya berlutut dihadapan gadis itu


"Dapatkah aku menjadi pasangan dansamu?" Ucap Kevin dengan percaya diri



   "Tentu saja" jawab gadis itu lembut meraih ukuran tangan Kevin



     Kevin menuntun Quincy ke tengah ruangan. Memegang pinggul Quincy dan dibalas dengan baik olehnya. Keduanya menari mengikuti melodi lagu. Disusul oleh pasangan lain.



     Disisi lain, Nicholas dan Delano tampak kesal dengan adegan itu. Hawa mereka tampak panas padahal cuaca ruangan itu sejuk. Dengan cepat Nicholas memutar (setengah) otaknya. Memikirkan agar seorang gadis taruhannya mau berdansa dengannya.



     Sedangkan sang empu, terlihat sudah mulai menikmati pesta itu. Kepalanya bergerak mengikuti lagu romantis itu.



   Glassy menguap sambil menutup mulutnya, "Sky, ayo berdansa"



   "Kau bahkan tidak mempunyai pasangan" Jawab Skyla cepat



     Delano mendengar persis apa yang mereka bicarakan. Pikirannya langsung berputar jelas dan cepat. Ini adalah kesempatannya. Kesempatan besar. Yang tak boleh disia-siakan. Pria itu bangkit dengan tersenyum tulus. Menghampiri Glassy lalu mengulurkan tangan dan berlutut kepada gadis itu.



     Glassy kaget tak karuan. Dia sama sekali tidak mengenali pemuda itu. Tetapi itu tidak masalah baginya.



   "Bisa kita berdansa, nona?" Tanya Delano mengedipkan mata coklatnya. Salah satu jurus dari puluhan jurus yang ia punya



   Glassy tersenyum malu. Menyikut lengan Skyla pelan, "Lihat. Pasangan dansaku" bisik Glassy nakal kepada Skyla. Skyla hanya bisa tersenyum miring melihat ekspresi Glassy dibalik topeng itu.



   "Tentu saja, tuan" jawab Glassy membalas uluran tangan Delano. Dan mereka berjalan menuju tengah ruangan.



     Tak ada yang bisa menerka. Takdir apa yang akan ditulis di dalam hidup mereka. Yang pasti Skyla sedang menjamunya dengan cukup baik saat ini.



     Kalian juga tahu, hanya Skyla dan Nicholas yang tersisa di kusri itu. Canggung. Menyelimuti suasana malam itu. Sebenarnya Nicholas tidak berniat berdansa seperti sepasang kekasih yang dilakukan oleh banyak orang. Padahal mereka bukan sepasang kekasih.



     Nicholas menyilangkan kedua tangannya seraya memainkan jarinya seperti ketukan. Dia masih memandang gadis yang sama. Dan tampaknya gadis itu sudah mulai bosan. Berniat meninggalkan pesta.



     Dengan cepat Nicholas menarik pergelangan tangan Skyla dan membawanya ke tengah ruangan. Lantas Skyla memberontak tak senang.



   "Lepaskan tanganku!" Desis Skyla



   "Ayo kita berdansa sekali saja, nona"



     Skyla tampak berusaha melepaskan cengkraman Nicholas yang kuat dan membuat tangannya kesakitan



   "Sialan! Tanganku sakit"



   "Kumohon" timpal Nicholas. Lalu menarik pinggul Skyla dalam genggamannya



   "Aku tidak mau membuat keributan disini, bajingan! Jadi lepaskan!"



   "Tidak sampai lagu selesai, Skyla"



     Gadis itu tertegun sementara tubuhnya tergerak mengikuti melodi. Dari mana pemuda ini tau namaku? Batinnya



Dia berfikir keras. Siapakah pemuda ini yang tahu namanya?



Ayolah Sky!



     Seluruh sekolah tau siapa dirimu. Gadis yang berani melawan Jeslyn. Dan gadis yang suka membuat onar jika ada yang mengganggunya.



   "KAU!? Kau si pria gila itu, bukan?"



   "Aku mempunyai nama, sayang"



   "Aku tidak peduli siapa namamu! Lepaskan aku!"

__ADS_1



   "Tidak akan"



     Marah. Skyla langsung menginjak kaki Nicholas dengan sangat kuat memakai high heel emasnya. Ada sedikit perasaan lega yang datang pada dirinya



   "Aw! Sial. Apa masalahmu?"



   Skyla membuka topeng dan mencampakkannya di depan Nicholas


"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa kau memaksaku berdansa dengan pria sepertimu?!"



     Delano dan Glassy berhenti dari dansa mereka dan menghampiri Skyla. Glassy juga kaget ketika Delano mengikutinya. Seharusnya dia tahu bahwa pasangan dansanya adalah teman dari Nicholas. Dia berlari sambil mengumpat tak jelas kepada dirinya.



   "Sky?"



   "Nic?"



Sahut mereka serentak



     Glassy menarik bahu Nicholas dengan kasar. Lalu mencengkram kerah jas Nicholas. Pria itu tampak pasrah dengan balasan yang ia dapatkan.



   "Glassy. Lepaskan dia!" Desis Delano



Glassy menurut


"Uh! Membuat orang kesal saja!"



   "Hei. Ada apa?" Sahut Kevin penasaran, tangan kanannya tampak menggenggam lengan Quincy



   "Kau tanya saja dengan temanmu yang tidak berguna dan sepenuhnya gila itu" sambar Skyla sorot mata biru lautnya terlihat tajam



   "Aku? Gila? Tergila-gila kerenamu" jawab Nicholas tersenyum miring, topeng hitamnya belum terlepas dari wajah tampannya



   "Cuih!"



Quincy tersenyum manis kepada Skyla ketika kedua mata mereka bertemu.



Prok! prok! prok!



   "Wah wah wah! Luar biasa!" Ujar dua orang gadis seraya menepuk tangan dan berjalan kearah mereka



Skyla bergidik geli



   "Apalagi masalahmu?" Tanya seorang gadis berambut hitam itu



   "Masa bodoh denganmu, jalang! Ayo Glase kita pergi dari sini" jawab Skyla masih memandang jijik kearah dua gadis itu



Glassy menurut, karena otaknya sudah benar-benar kacau malam itu. Ingin sekali mencakar wajah mereka.



     Langkah Skyla terhenti tatkala bahunya dicengkram kuat oleh tangan yang besar. Dia berbalik dan memandang mata coklat itu dengan tajam dan ditatap dengan perasaan iba



   "Sekali saja..."



   "Jika aku berkata tidak, berarti tidak sama sekali!"



     Cengkraman itu semakin kuat dan membuat Skyla terpaksa mengepalkan jari-jarinya dan melayangkan satu tumbukan yang membuat pemuda itu kesakitan



   "Sial! Tanganku! Skyla!!"



PARR



Sebuah tamparan keras berhasil lolos di pipi Skyla. Sangat keras. Menyebabkan kepalanya berdenyut.




   "Skyla!"



      Dan membuat pandangannya buyar. Tubuhnya terhempas ke tanah. Hanya suara jeritan Glassy yang didengarnya sebelum matanya terpejam.



   "Sky! Tuhan! Tolong!"



Harry mengangguk pelan. Tubuhnya merasakan sentuhan hangat. Ketika Alena sedang memeluknya secara spontan.


Sudah lebih dari satu jam One Direction selesai latihan. Dan jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Udara malam tidak begitu dingin baginya. Hatinya seakan gelisah tak menentu.


Dia meneguk kopi hitam yang sudah dingin hingga tersisa sedikit. Tetapi masih saja dia berfikir untuk tidak pulang saat itu.


Sepasang sugar gray sedang menatapnya dari tadi dan dia tak menyadarinya. Sambil memutar gelas berisi teh lemon panas yang sudah kosong dan sebuah piring berisi sedikit krim coklat.


Pria itu meraih ponsel dan mengotak-ngatik beberapa aplikasi yang tidak ada notifikasi.


Dia kaget tatkala lagu Best Song Ever berbunyi diantara mereka berdua. Gadis itu menoleh bingung seraya menaikkan kedua alis hitamnya.


Harry menerima panggilan itu, dari teman adiknya, Glassy.


"Ya halo? Ada apa Glase?"


"Iya kak Harr!"


"S..Sk..Skyla kak!"


"Ada apa dengannya?"


"Dia tergeletak di depan aula sekolah"


"Bagaimana bisa!?"


"Harry, pelankan suaramu" bisik Alena


"Dia ditampar oleh Nicholas, si playboy gila itu! Cepat datanglah kemari!"


"Ba-baik-baik aku segera kesana"


Harry memutuskan panggilan dari Glassy. Dan buru-buru mengambil kunci mobilnya. Melihat itu, Alena tampak bingung.


Iris hazel itu memerah tatkala Alena memaksa untuk ikut. Mengetahui apa yg terjadi.


Tanpa sepatah kata, gadis itu sudah tau apa yang membuat Harry sampai menangis.


Keduanya masuk kedalam mobil. Dan mulai meninggalkan kafe itu.


"Harry. All is well" ucap Alena berusaha menenangkan Harry. Pria itu tampak semakin kacau.


Harry mengumpat dalam hati. Bersumpah akan membalas pria yang sudah menyentuh adik kecilnya. Tapi itu semua tidak berhasil.


"Ba-bagaimana ji-jika d-dia terluka, Al?" Jawab Harry terbata-bata.


"Dia akan baik-baik saja. Percayalah padaku"


Harry mengangguk pelan. Tubuhnya merasakan sentuhan hangat. Ketika Alena sedang memeluknya secara spontan. Darahnya berdesir cukup deras. Jantungnya begitu berisik. Tapi gadis itu tampak tenang-tenang saja.




Sebuah Lexus GS F hitam menerobos masuk kedalam sekolah dengan kecepatan standar. Sampai tepat di depan aula. Sedan itu berhenti.



Harry langsung melompat turun, begitu pula Alena. Keduanya tampak kaget dengan keadaan Skyla saat itu. Di pipinya, tergambar telapak tangan besar kemerahan.



Harry berjongkok, memegang kepala Skyla dan langsung menggendongnya lalu meletakkan tubuh mungil itu dengan hati-hati di belakang mobil.



"Dimana orang yang melakukan ini? Dimana!" Tanya Harry seraya mendobrak pintu belakang itu



"Di-dia di dalam, kak" jawab Glassy gugup



Harry memberikan kunci mobil kepada Alena dan menyuruhnya membawa Skyla ke rumah sakit. Tetapi Alena melarangnya



"Dengar Al, Skyla tidak akan suka aku berada di sampingnya. Pergilah bersama Glassy. Aku akan membereskan masalah ini. Mungkin ini yang bisa aku lakukan untuknya" ucap Harry lembut seraya menatap Skyla dari balik kaca mobil



"Tapi Harry. Kau bisa saja masuk penjara"



"Aku tidak peduli soal itu. Siapa yang menyentuh adikku dia akan bermasalah denganku!"



"Segeralah. Aku akan kedalam. Dan segera menyusul kalian ke rumah sakit"



Ketiganya mengangguk setuju. Alena menurut dengan Harry. Dan segera membawa Skyla ke rumah sakit terdekat.



Sang empu terlihat marah besar. Dia memungut topeng hitam yang tergeletak di samping Skyla tadi dan memakainya. Dia tak mau, para siswi berteriak karena melihat dirinya dan menghancurkan rencana balas dendamnya.

__ADS_1



Dia membetulkan setelan kasualnya, yang jauh berbeda dengan tema pesta itu. Membersihkan debu yang menempel di celana dan sepatunya. Lalu masuk ke dalam ruangan mewah itu.



Iris hazel itu tidak diam. Melirik kesana-kemari. Memastikan tidak ada yang mengenalnya.



Dia mendekati seorang gadis yang sedang duduk di pojok ruangan dan menyapanya


"Hai cantik"



"Hai" jawab gadis itu



"Kau sendirian?"



"Seperti yang kau lihat"



"Bisa aku bertanya sesuatu?"



Gadis itu mengangguk pelan



"Apa kau mengenal yang Nicholas?"



"Oh! Tentu saja. Dia most wanted di sekolah ini!"



"Bisa aku bertemu dengannya?"



"Boleh. Tapi aku tidak bisa mengantarmu. Terlalu banyak gadis di sekelilingnya. Maaf"



"Tidak masalah, cantik"



Gadis itu tersipu untuk kedua kalinya.



Dan menunjuk ke arah Nicholas dengan telunjuknya. Harry mengangguk. Mengucapkan terima kasih seraya mencium tangan gadis itu.



Harry berjalan kearah seorang pria jangkung berambut coklat itu. Yang sedang mengobrol dengan beberapa gadis di sekelilingnya. Dan dua orang pria berada di sampingnya.



Iris hazel dan coklat tua itu bertemu ketika Harry berdiri tepat di samping pria itu. Senyuman maut terpancar di bibir ranumnya. Tanpa rasa bersalah tentunya.



Silahkan tersenyum, sebelum bibir itu membiru. Gidik Harry geram



"Ada apa sobat? Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Nicholas kemudian meneguk minuman yang berwarna kemerahan itu



"A-ha? Tak ada. Apa kau kenal Skyla?"



"Si gadia gila itu? Hampir seluruh sekolah mengenalnya" jawab pria itu seraya meningkat kejadian beberapa menit lalu.



Ada perasaan sedikit gembira dalam dirinya.



"Apa dia benar-benar gila?" Tanya Harry lagi



"Tentu saja! Dengan berani dia meninju jari-jari ku. Dan keberuntungan berpihak kepadaku"



"Aku berhasil menamparnya!! Haha!!" Sambung Nicholas yang tampak puas



"Haha!!" Sahut Delano dan Kevin



Harry tertawa masam. Hatinya membuncah hebat. Jari panjangnya mengepal. Giginya terkatup geram. Suhu tubuhnya panas



Dengan satu kedipan, tangannya berhasil melayang tepat di pipi Nicholas. Gelas minuman itu ikut terlentang ke lantai bersamaan dengan tubuhnya. Topeng hitamnya terlepas. Memperlihatkan darah keluar dari ujung bibirnya.



Seluruh ruangan menjadi hening. Tujuan mereka terfokus kepada Nicholas dan si pelaku. Sedangkan kedua temannya, diam tak berkutik.



Nicholas mengusap aliran darah itu kemudian berdiri dengan sempoyongan. Menyesuaikan keseimbangan. Dan berhasil berdiri tegak. Ntah kekuatan macam apa yang ada dalam diri Harry. Sampai membuat kepalanya hampir terlepas.



Harry membuka topeng hitamnya dengan kasar


"Aku. Akulah kakak dari seorang wanita yang kau tampar!!"



"Harry?"



"Itu benar dia?"



"Dia kakak Skyla?"



"Dia pujaan hatiku!"



Bisikan terdengar dari heningnya ruangan itu. Tapi tak seorang pun yang berani mendekati Harry.



"Kau Harry Styles Madison? Personil One Direction? Dan anak dari Delbert Madison. CEO di perusahaan Wells Fargo? " Tanya Nicholas tak kalah terkejut



Nicholas terkekeh seperti orang gila"Oh! Haha dan sayangnya aku tidak peduli itu hahaha!"



"Tapi disini. Aku seorang kakak yang adiknya kau tampar hingga dia pingsan. Jika sesuatu terjadi padanya-"



Harry berjalan ke arah Nicholas dengan tangan yang masih mengepal. Sontak pria itu menahan takut. Tapi dia berusaha mati-matian menyembunyikan itu.



"Ini-" Harry mengacungkan telunjuk ke wajah Nicholas



"Aku bisa membuatmu tidak dikenali semua orang" bisik Harry. Berhasil membuat Nicholas menelan ludah.



"Ya. Silahkan saja! Aku akan menunggunya!" Sahut Nicholas menurunkan telunjuk Harry dari pandangannya



Tinju kedua kembali melayang. Membuat Nicholas sempoyongan kembali. Tak mau kalah, pria itu membalas. Dan terjadi berulang kali. Sampai seorang gadis menarik kerah jas Nicholas dan menamparnya dengan keras.



"Cukup Harry. Ini urusanku" sambar Skyla masih dengan memegang kerah Nicholas



"Dan kau brengsek berotak udang! Aku akan-"



Jeslyn berlari menghampiri Skyla. Memaksa lepas kerah jas Nicholas.



Skyla tersenyum geli melihat Jeslyn yang sudah terjerat umpan Nicholas. Dan sekarang gadis itu cinta mati dengan Nicholas. Benar-benar perasaan bodoh.



"Cinta mati, ya?" Ejek Skyla



"Skyla!!" Suara teriakan gadis dari pintu masuk aula terdengar nyaring. Dia tampak kelelahan. Dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.



"Kau gila, ya? Hah.. Do-dokter bilang kau h-harus haa.. istirahat" ucap Glassy ngos-ngosan.Dia menghampiri Skyla. Dan berusaha menariknya keluar aula.



"Apa dia kabur?" Tanya Harry



"Kubilang diam! Kita selesaikan besok brengsek! Wajahmu akan hancur!!" Ancam Skyla. Mata biru lautnya menatap Nicholas tajam.



"Semakin kau menjauh, semakin kau dekat denganku!" Jawab pria itu. Masih belum kapok.



"Tak usah banyak bicara. Kau buktikan saja" sahut Harry. Nicholas mengartikannya dengan 'Jika kau mengganggunya. Kau akan tamat'.



~


~


~


TBC


Suasana tegang nih:v minum dulu.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak beb🌟


Ditunggu Minggu depan chap selanjutnya. Karena aku up tiap kami ko👉👈


__ADS_2