
...Happy reading guys❤️🍭...
...Duh maap nih baru up:( nih brain lagi beku soalnya:')...
..."Ohya, sampaikan salam ku kepada granfa. Beri tahu dia, semoga dia cepat-cepat pergi ke surga. Bye mom"...
...~...
6 Juni 2017
New York, Amerika Serikat
Skyla membanting pintu rumahnya. Dia berjalan menghentakkan high heels emasnya ke lantai rumah. Hingga terdengar deras. Rautnya masam. Biru lautnya terbesit kebencian.
Harry berjalan dibelakang dengan cepat menyesesuaikan tempo hentakan kaki Skyla.
"Sky, tunggu. Aku bisa jelaskan"
Skyla berhenti dan membalikkan badan, "Tidak perlu. Sekarang kau sudah berhasil membongkar identitasku kepada semua orang. Mengecap ku dengan sebutan 'Orang Kaya', dan ya.. adiknya Harry Styles Madison!" Desisnya dingin
"Astaga! Aku tidak bermaksud"
"Iya-iya. Aku juga tidak bermaksud begitu" ucap Skyla kesal
"Kau sungguh hebat!" Tuturnya melembut
"One more again, jangan pernah terlibat dengan urusanku. Itu musuhku. Bukan musuhmu. Jadi, jangan ganggu dia untukku, MENGERTI?" Sambungnya penuh penekanan di akhir kalimat.
Harry terpaku. Seperti tusuk sate yang menancap ke dasar bumi
Skyla berbalik, kemudian berlari menuju kamar. Membanting pintu hitam itu kuat.
BRAKK!
Masih dengan berdiri disana. Bahunya terkulai lemas. Hatinya kacau. Langkahnya melambat. Dia menaiki anak tangga dengan memegang pinggiran kayu.
Membuka pintu itu dan masuk ke ruangan hitam dominan.
Dia meraih sebotol wine morlet dari bawah tempat tidurnya dan meneguknya perlahan. Menikmati asam rasa buah nan memabukkan itu.
Pikirannya melayang. Jantungnya menari dengan kencang. Dia sangat suka suasana semacam ini. Yang sudah lama tidak dia rasakan. Masa bodoh dengan pertunjukkan langsung One Direction besok. Yang jelas dia ingin berenang dalam kolam anggur.
Skyla mengamuk. Mencampakkan beberapa buku yang semula tertata rapi di atas meja. Melempar bantal dan guling. Memukul tembok yang bahkan tidak bersalah. Dia berteriak. Mengacak rambut pirang panjangnya.
"SIALAN KALIAN SEMUA!!"
"TIDAK BERGUNA!!"
Dia mengumpat. Tanpa hentinya. Hatinya membuncah. Emosinya sudah diambang batas.
Pintu hitam itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita tua yang terlihat kaget dengan keadaan kamar Skyla yang berantakan. Wanita itu berlari memeluk Skyla. Berusaha menenangkan gadis itu yang sedang cegukan. Area matanya menghitam karena make-up yang luntur terkena air mata yang membasahi pipinya.
"Skyla, kau kenapa?" Tanya wanita itu seraya mengelus kepala Skyla
Gadis itu diam seribu bahasa. Masih dalam sakit hati yang sama.
"Baiklah. Kau tak perlu cerita" tuturnya lembut.
Bu Rose membimbing Skyla duduk di atas ranjangnya. Dan mulai membersihkan pecahan kaca gelas dan beberapa barang lainnya.
"Sebentar. Akan ku buatkan teh untukmu" ucap Bu Rose sebelum menghilang di balik pintu.
"Keluarga tidak berguna"
"Sampah!"
"Aku benci kau bahkan kakek! Aku tidak menganggapnya keluargaku"
Skyla bergumam dengan jelas. Aku rasa. Di balik dinding itu, Harry mendengar lontar kebencian Skyla. Dan sangat menyesali itu.
Sangat di sayangkan. Saat ini dia membutuhkan kedua pelita di sisinya. Kedua orang tuanya. Dia tidak butuh uang yang banyak atau barang-barang yang mewah. Dia hanya butuh mereka. Yang senantiasa memeluknya di kala dia sedih. Ikut tertawa di saat dia bahagia. Dan merasa bangga atas apa yang telah di capainya dengan jerih payahnya.
Sering merasa iri. Bahkan dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Terkadang merasa bahwa dia tidak memiliki kedua orng tua. Dan seorang kakak laki-laki. Hanya mempunyai seorang ibu asuh. Bu Rose. Hah. Dia sudah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri.
Kasih sayang yang dia limpahkan. Untuknya. Tidak jarang juga wanita itu ikut menangis jika Skyla menangis di depannya.
Aku katakan. Jangan sia-siakan orang yang ada di sekitar kalian. Yang ikut ambil kisah hidup kalian. Aku bersumpah. Jangan disia-siakan. Jika orang itu sudah tidak ada, baru kalian akan merasakan kehilangan. Dan itu sudah tidak ada artinya, sayang. Tetap berada di samping mereka. Lindungi. Sayangi. Beri kasih sayang yang lebih. Dan jangan pernah sakiti- (Skyla, 06 Juni)
Lantunan lagu 24K magic terdengar sampai ke luar kamar Skyla. Dan tidak di gubris gadis itu. Matanya masih terasa berat. Dan gaun yang dikenakannya tampak sangat kusut.
Nada dering itu terus menganggu gendang telinganya. Dengan ragu Skyla mengangkat panggilan itu.
Nomor yang tak dikenal
".... "
"Halo. Apa benar ini Skyla?"
"Ya"
"Ini dad"
"Ada apa?"
Hening. Hingga beberapa detik. Dan terdengar sedikit ada perdebatan di balik telekomunikasi itu.
".....Begini. Grandfa menyuruhmu untuk kuliah di sini. Dan melanjutkan perusahaan keluarga ini"
"Kurasa kalian sudah tahu jawabannya?"
"Sky, ketahuilah. Kau adalah pewaris dari perusahaan ini"
"Kau kira aku peduli?"
"Anak si-"
"Ahh Sky ini mom" kini Ibunya yang berbicara
"Hmm"
"Tolong mengertilah, sayang"
Skyla bangkit dari tidurnya dan menajamkan kata-katanya
"Dengarkan aku baik-baik. Jika kalian menginginkan penerus, kalian bisa mengadopsi anak lain. Jangan ganggu aku dan mimpiku. Seluruh dunia tahu bahwa aku membenci kalian"
"Ohya, sampaikan salam ku kepada granfa. Beri tahu dia, semoga dia cepat-cepat pergi ke surga. Bye mom"
"S-sky!!"
Panggilan itu diputus oleh Skyla. Bagaimana tidak? Dalam keadaan seperti ini saja orang tuanya hanya mementingkan bisnis!
"Ya-ya sialan. Telan saja bulat-bulat perusahaan Mr. Madison!"
"Hei! Apa benar ini rumahnya?" Tanya seorang pria berambut pirang berwajah imut itu
"Disini tidak tertulis nama keluarganya! Bagaimana kau bisa tahu?" Sambung berjambul pirang
Sebuah Range Rover Velar berdiam di depan rumah keluarga Madison. Tak lama, empat pria tampan berpakaian kasual keluar itu dan melangkah masuk ke dalam bangunan yang ada di depan mata mereka.
Niall melempar pandangan ke luasnya kebun dan tak sengaja menginjak kaki Liam
"Shit! Gendut yang benar saja!" Liam meringis kesakitan, "Hati-hati sobat"
"So sorry" timpal Niall dengan mulut penuh dengan keripik. Tak seharipun terlepas dari 'potato' nya.
"Ayo kita masuk. Jangan mengendap layak pencuri!" Tutur Louis yang sedari tadi ikut terjebak dalan rencana bodoh Zayn
Pintu coklat besar itu terbuka. Sebelum seorang gadis berpakaian 'kelaki-lakian' hendak keluar dari dalam rumah. Dan membuat keempat pria itu terlonjak kaget
Skyla mengerutkan alis, "eh?"
"Sedang apa, kak?" Tanya Skyla antusias
Tentu saja. Empat idola semua orang ada di depan matanya. Jika dia orang lain, pasti akan pingsan atau menjerit histeris.
"Eeee...." Liam menggantung kalimatnya kebingungan, "Apa ada Harry?"
Sejujurnya keempat pria itu segan dan sedikit takut menanyakan kabar kakak Skyla itu. Seperti pribahasa, jangan bangunkan singa yang sedang tidur.
__ADS_1
"Lihat saja sendiri!" Sambar Skyla pahit
"Baiklah. Kami akan kedalam" jawab Liam pelan
Raut Skyla berubah masam 180 derajat. Dengan malas, dia berjalan keluar melewati keempat pria yang masih berdiri di depan pintu coklat itu. Menuju garasi dan berangkat sekolah menggunakan sepeda motor sportnya.
"Aku agak menyesal menanyakan hal itu kepadanya" tutur Liam seraya memantau Skyla keluar dari pekarangan itu.
"Ayo kita kedalam"
Skyla berulang kali mendengus kesal sebelum sampai di depan sekolahnya. Dan mendapati seorang gadis di depan pintu parkiran. Sedang menunggu seseorang sambil menyilangkan tangannya. Dengan sifat tidak peduli, Skyla melewati garis itu dan memarkirkan sepeda motornya.
Skyla membuka helm hitam itu dan menaruhnya diatas kendaraannya, "Aha! Si jalang sedang menungguku" bbbisiknyasy? Si gadis yang tidak mempunyai urat malu! Oh Tuhan!
"Dengar, jika kau berbohong kau harus mentraktir ku makan di tempat yang kuinginkan! Akan ku telpon kak Zayn"
Glassy menyengir, "Silahkan saja"
Skyla mengeluarkan ponsel dan mulai mengotak-ngatik di atas layar itu dan mendekatkan benda itu ke telinganya
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi"
"Ya sial. Kau menang. Dia sedang melakukan pertunjukkan langsung dengan bandnya"
KRING.. KRING...
"Ayo! Kelas memanggil kita" seru Glassy girang
Ahh dia selalu seperti itu.
Angin berembus pelan nan menyejukkan. Padahal awan tidak berubah hitam. Membuat Skyla mempererat balutan kaus panjang dongkernya. Dan Glassy masih saja tidak peduli dengan keadaan cuaca. Rok mini dan baju tanpa lengan membalut kulit kuning Langsatnya.
"Aku agak menyesal meminum racun ini. Aku tak tahu kalau cuaca akan berubah dengan cepat" tutur Skyla seraya membuang botol plastik itu ke tempat sampah non organik yang berada di dekat ruang kelas mereka
"Bersyukurlah aku memberinya gratis" sembur Glassy kesal seraya mengunyah permen karetnya
"Apa kau menghitung berapa banyak kau memberiku Capuccino?" Skyla membuka pintu coklat itu, "Sungguh keterlaluan kau, Glase"
"Skyla! Aku tidak bilang begitu!" Rengek Glassy mengayun-ayunkan lengan Skyla layaknya bocah yang meminta permen
"Cukup, Glase. Aku tak tahan mendengar ocehanmu" kini gantian Skyla yang merengek, "Kau sudah hampir merobek gendang telingaku selama belasan tahun terakhir"
"Baik, Sky. Aku marah padamu!"
"Terserah"
"Kau tidak romantis, Sky!!"
"Aku tidak mau melakukan adegan romantis denganmu!"
"Kau kira aku mau?!"
"BAGUS SEKALI! Kalian berdua cepat keluar dari kelas saya dan berdiri di lapangan!"
Skyla menoleh ke sumber suara, dan benar! Itu adalah guru matematika mereka.
"Eh?"
Tamatlah riwayatku! Semua ini karena dia, ya Tuhan!, Batin Skyla
"Bu, saya bisa jelaskan ini semua-"
Kejelasan Skyla tak dihiraukan oleh guru itu, "Saya tidak ingin tau, sekarang cepat keluar sebelum saya yang menyeret kalian keluar"
"Ba-baik, Bu"
Dengan berat hati Skyla menggendong ransel hitamnya dan meninggalkan kelas bersama Glassy. Wanita itu menatap Skyla tak senang. Rasa malu membakar dirinya. Keduanya tertunduk seraya menuruni tangga dan berdiri tepat di depan tiang bendera Amerika Serikat itu.
Panasnya musim panas terpapar dari atas langit. Menunjukkan kekuatan sinar suryanya yang dalam sekejap mampu membuat orang kehausan.
"Haha! Kau pantas mendapatkannya!" Teriak seorang gadis dari lantai dua kelas bahasa
"Sial, Jeslyn! Lihat saja kau akan mendapatkan balasan dari ku!" Desis Skyla seraya melihat gadis itu dengan tatapan tajam
"Dan si anak mama. Duhh!!"
"Diam kau, jalang!" Teriak Glassy yang tak sanggup menahan ledekan Jeslyn
~
~
~
TBC woi
Maap bangettt udh 3 Minggu ga up:'((
Aku tau gaada yg rindu:') but gapapa de
Aku nulis juga karena hobi:)
But ilupyu💙
__ADS_1