ReBeLove

ReBeLove
Chapter 12 : Mom


__ADS_3

...Happy reading❤️ Untuk yang masih nungguin karya Fla padahal up nya 3 hari sekali, Fla sangat berterima kasih sama kalian. I MISS U GUYS(╥﹏╥)...


..."Aku bangga padamu, Sky. Kau tumbuh besar, cantik dan kuat tanpa diriku"...


...~~~...


  


"Apa kau ingin menjadi pacarku?" Kata Nicholas menggunakan pengeras suara seraya berlutut di halaman sekolah dan membuat para siswa berkumpul untuk melihat apa yang terjadi.


   "Skyla Alfa Madison!" Nicholas merentangkan kedua tangannya, "Terimalah aku, sayangku"


     Sang empu sedang berlari terpogoh-pogoh dari kantin bersamaan dengan Glassy, Jeslyn dan Alice. Hingga sampai di halaman sekolah dan keempatnya kaget melihat aksi Nicholas. Untung tak banyak siswa yang menonton karena sudah tidak ada jadwal kelas alias sudah pulang. Beberapa siswa mengurungkan niat untuk hangout demi menyaksikan apa yang akan terjadi.


   Skyla mendatangi Nicholas dan mencengkram kerah kaus hitamnya, "Sial apa maumu?" Bisiknya tepat di depan wajah Nicholas. Hanya berjarak sekitar 5 cm.


   "Bukankah aku sudah memberitahu mu? Kau hanya perlu kencan denganku" jawab Nicholas mengalihkan pandangannya ke arah Jeslyn yang terlihat marah besar


   "Nichol! Apa maksudmu!? Jadi kau meminta putus denganku hanya karena si gadis ibu ini?!" Teriak Jeslyn sambil berjalan ke arah Nicholas


   Skyla melepaskan cengkramannya, "Jaga bicaramu, senior! Aku tidak akan sudi berkencan dengannya!" Desis Skyla yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Jeslyn


   "Diam! Aku tidak menyuruhmu berbicara!"


   "Aku juga tidak menyuruhmu mengoceh" balas Skyla mengulang kalimat dan logat centil Jeslyn


   "Tidak ada gunanya kau marah, Jes. Sekarang aku akan menjadi milik Skyla seorang" ucap Nicholas yang masih terlihat santai


     Kata-kata yang keluar dari mulut Nicholas memiliki dampak yang besar bagi telinga dan detak jantung Skyla. Jantungnya seakan memperotes ingin keluar, telinga gadis itu memerah dan panas. Begitu pula dengan pipinya, bersemu.


     Sebuah tamparan kecil mengenai rahang Nicholas dan membuat tulang itu terasa kebas seakan tak bisa digerakkan.


   "Itu hadiah kecil dari ku. Terima kasih" Jeslyn tersenyum masam kepada Nicholas kemudian pergi dari hadapan Nicholas dan Skyla.


     Kedua insan itu hanya terpaku diam, terutama Skyla. Dia tak menyangka, bahwa kekuatan Jeslyn yang sedang patah hati lebih seram daripada membangunkan seekor singa yang sedang tidur.


Bahkan dia lebih kuat daripada pria ini, gumam Skyla kagum.


   "Wah! Dia terlihat kuat dari pada kau" Skyla berbalik membelakangi Nicholas, "Kau bahkan tidak bisa melawanku" sindirnya tajam seakan meruntuhkan kembali harga diri Nicholas di depan siswa lain


     Sial! Aku dipojokkan olehnya. Lihat saja, siapa yang akan membuatmu patah hati dan yang menangis sepanjang malam, gumam Nicholas yang sedang memikirkan rencana busuk di otaknya.


   "Dan jangan pernah berharap untuk menjalin hubungan denganku, karena aku benci sebuah hubungan" sambung Skyla sebelum benar-benar menuju parkiran bersama Glassy.


   "Aku tidak bisa membiarkan mu lolos dengan mudah. Lihat saja, bagaimana sifatku ini akan menyakiti hati kecilmu, nona Madison" tutur Nicholas yang masih bersembunyi dalam rasa malunya.


Kediaman keluarga Madison


     Skyla meneguk sisa air putih dinginnya lalu lanjut menulis tugas fisika. Hari ini dia izin tidak pergi ke tempat kursus dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan oleh para guru yang mempunyai hobi membuat para siswa menderita.


     Sepasang earphone bertengger di telinganya mengeluarkan alunan lagu mellow. Dengan penuh konsentrasi dan ketelitian, gadis itu mengerjakan pertanyaan demi pertanyaan. Dan berhasil dia tuntaskan. Tak ada yang mengganjal di hatinya. Tapi di relung itu terasa seperti kekurangan oksigen. Sebuah benda tumpul terlempar mengenai luka yang telah lama ia pendam. Sesak pun mulai dia rasakan. Sklera itu memerah dan dipenuhi air mata yang ingin keluar.


     Bulir pertama mengenai pipi kirinya dan bulir lainnya ikut tumpah. Cepat-cepat dia mengusap air itu, tapi semakin tak bisa dibendung olehnya. Skyla melepaskan earphone itu lalu mencampakkannya asal.


   "Aku membenci ini Tu-Tuhan. Kenapa harus sekarang? Hiks hiks" Skyla melipat kedua lututnya dan menyenderkan kepalanya, "Aku tau, siapapun tak pantas untukku. Tapi setidaknya buatlah aku bahagia dengan kesendirianku. Dan kenapa aku semakin menderita!"


   "Mereka yang salah, dan Kau menghukum ku atas kesalahan mereka" bisik Skyla seraya mengacak-acak rambut pirangnya.


   "Tolong...putar waktu. Kembalikan waktu, ketika usiaku menginjak satu tahun. Sekali saja! Aku ingin merasakan sentuhan hangat seorang ayah dan sentuhan lembut seorang ibu!"


   "Hancurkan perusahaan mereka. Dan kembalikan mereka padaku! Aku bersumpah tidak akan membantah lagi.." ucap Skyla lirih, kata-kata itu ikut larut dalam kekosongan hatinya.



     Harry duduk terpaku diam seribu bahasa. Pandangan hazel itu tampak kosong dan sayu. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Segala upaya dia lakukan, tapi semua sia-sia. Bahkan hampir setiap hari dia memikirkan Skyla. Hampir setiap hari menahan air mata menetes di saat dia menyanyikan lagu mellow One Direction di alas panggung.



     Pria itu masih memegang cup kopi dingin yang esnya sudah mencair dan tampak tak enak lagi untuk di minum. Di sela istirahat di jadwal mereka yang padat, tak kerap dia memojokkan diri untuk merenungi kesalahannya. Bahkan kekonyolan Louis dan Liam pun tak sanggup membuatnya tersenyum



   Harry menghembuskan nafas berat, "Ntah lah, mungkin dia benar-benar membenciku. Haha" bisiknya kepada dirinya, "Aku tidak tega menceritakan perjalanan hidupku selama tinggal di tempat kakek" gumam Harry seraya memijit dahinya.



   Dari balik pintu, Zayn memapah sekotak donat berbagai macam rasa bersama ketiga sahabatnya bermaksud ingin membuat Harry tertawa walau sekilas. Tak henti-hentinya mereka berusaha.



   Liam membuka pintu dan masuk disusul ketiga sahabatnya, "Harry! Sekotak donat dan 5 cola untuk merayakan kesuksesan pertunjukkan kita hari ini!" Teriak ke kempatnya membuat Harry menutup telinganya rapat-rapat.



   Harry memanyunkan bibirnya dan berbalik membelakangi mereka, "Kalian pergilah, aku ingin beristirahat" balas Harry dan sontak keempat sahabatnya bergumam kecewa.



   "Ayo lah kawan. Kau hanya tidak perlu memikirkannya sehari saja" tutur Niall dengan begitu polosnya



   Harry hanya diam, yang tidak ingin membuat dirinya semakin tak terkendali.



   "Dia akan memaafkanmu, percayalah. Tak usah hiraukan dia" sambung Niall yang berhasil memancing kemarahan Harry



     Telinga Harry terasa panas setelah mendengar kata yang tak sepantasnya seorang sahabat ucapkan. Refleks, dia bangkit dari sofa disana lalu mencengkram kerah kaus dalam Niall yang berwarna putih. Dan berniat mengangkat anak polos itu.


__ADS_1


   "Jika kau menganggap ku sahabatmu, kenapa tidak kau bantu aku dalam menyelesaikan masalah ini? Dan malah membuatnya semakin rumit dengan kata-kata bodohmu itu?!" Cetus Harry kesal seraya melototi Niall yang terlihat menelan saliva nya.



   "Harr-Harry. Tidak begini caranya" timpal Liam yang berniat memisahkan kedua sahabatnya.



   "Diam!" Harry melepaskan cengkraman itu lalu kembali duduk di sofa dengan tangan masih mengepal menahan emosi, "Tolong biarkan aku sendiri. Aku yang keluar atau kalian? Jika aku yang keluar, aku akan meninggalkan pertunjukkan ini dan pergi sesuka hatiku" ucapnya kemudian sebelum memalingkan wajah agar tidak terlihat menyedihkan di depan para sahabatnya.



   "Ma-maafkan aku, Haz" bisik Niall dengan penuh penyesalan dan pergi meninggalkan Harry sendiri bersama ketiga sahabatnya.



   "Sial! Kenapa bisa aku marah padanya! Tuhan, padahal aku sangat lapar"



Di ruangan istirahat kedua



   


   "Aku tidak menyangka dia akan mencekik leherku" ucap Niall yang tampak memegang lehernya seraya mengunyah kentang goreng



   "Itu juga kesalahanmu, tidak seharusnya kau memperkeruh keadaan. Sekarang lihat dia sudah tidak bersemangat untuk pertunjukkan selanjutnya" jawab Zayn, tercetak kekesalan di wajahnya dikarenakan ulah polos nan bodoh Niall.



     Knop pintu ruangan itu terbuka memperlihatkan Alena di baliknya. Gadis itu tampak cantik dengan balutan casualnya dengan rambut pendek yang dikucir setengah. Tangan kirinya mendekap beberapa lembar kertas yang sangat penting di waktu itu.



Liam yang semula sedang meneguk cola , tersedak karena Alena tiba-tiba membuka pintu itu seperti orang kesetanan.



   "Haha, sorry boy. Ayo lima menit lagi kalian akan tampil. Segera habiskan makan siang kalian" ucap Alena seraya tersenyum sebelum meninggalkan keempat laki-laki itu yang masih penuh dengan kebingungan.



  "Aa..Al-" Zayn bangkit dari tempat duduknya kemudian berlari keluar mengerjai Alena, "Al"



Alena menoleh kebelakang




   "Loh? Kenapa tidak kalian saja?"



   "Soalnya... Kami sedang sedikit canggung"



   "Benarkah? Baiklah akan kucoba" ucap Alena terakhir kali sebelum akhirnya dia menuruti ucapan Zayn.



     Di dalam ruangan istirahat itu, Harry masih dalam kesunyiannya. Dan masih dalam rasa penyesalan yang menghantuinya belakangan ini. Kegelisahan terpancar dari raut wajahnya yang masih dalam tangkupan kedua telapak tangannya yang besar.



     Knop pintu itu kembali terbuka, Alena muncul bagai bidadari yang akan menyelamatkan dirinya, walau tidak sepenuhnya.



   Alena berjongkok di depan Harry yang sedang tidur di sofa bagai udang. Dia menaruh beberapa kertas itu di lantai dan mulai mengusap rambut ikal nan lembut Harry. Setelah itu, dengan perlahan menggeser telapak tangan itu dari wajahnya. Harry hanya diam tidak melawan.



   "Haz? Are you okey?" Bisik Alena tepat di telinga Harry dan membuat telinga itu memerah, "Sorry..."



   "I'm fine" Harry bangkit dari tidurnya tetapi masih enggan menatap langsung iris sugar gray itu karena keadaannya yang sangat kacau, "Aa.. Al, mengapa kau disini?"



   "Oh kalian akan tampil, ayo. Jangan membuat para directioners menunggu" cetus Alena dan membuat Harry memanyunkan bibirnya.



   "Ayolah. Kau tampak seksi seperti itu hahaha" goda Alena sebelum akhirnya Harry pergi ke panggung sendirian dengan perasaan malu



   "Dia bisa malu juga ternyata? Haha lucu juga"



Terra blues, at 09 pm


     Segelas wine beralkohol sedang berwarna merah dan teh lemon tertata rapi dia atas meja bundar disana sebelum akhirnya seorang pelayan menunduk dan pergi meninggalkan seorang pria dan seorang wanita itu. Sang pria dengan rambut coklat tua menyesap wine itu, ntah dengan maksud apa dia datang ke tempat itu dengan wanitanya.

__ADS_1


      Sang wanita dengan rambut panjang berwarna pirang dengan iris hijau lumut sedang menatap pria yang tampak mempunyai ikatan dengannya. Sebuah ikatan pernikahan dan ikatan cinta.


   "Apa kau sudah puas minum, sayang?" Ucap wanita itu melihat prianya sudah setengah mabuk


   "Ya, bisa kita pulang?" Balas pria itu dengan muka memerah


   "Baiklah. Aku akan membantumu berjalan" wanita itu berdiri lalu membantu suaminya berjalan ke depan, dan sebuah Hyundai Equus Limousine terparkir manis disana.


     Seorang supir turun lalu membuka pintu belakang mobil dan membantu pria itu duduk, diikuti oleh sang wanita. Di dalam mobil, wanita itu membiarkan pasangannya tidur di pundaknya. Begitu pulas dengan raut wajah wibawanya yang terlihat sangat lelah.


   "Kita jalan, Pak" ucap wanita itu sebelum akhirnya ikut tertidur bersama dengan pria itu.


   "Baik, Nyonya" balas supir itu kemudian mengijak pedal gasnya dan meninggalkan halaman parkir bar itu.


 


Kediaman keluarga Madison


     Limousine hitam itu berhenti tepat di depan pagar besar kediaman Madison yang kelihatan sangat sunyi dengan pancaran cahaya bulan yang ikut menyinari kebun sayur dan buah Bu Rose. Melihat Limousine itu berhenti, seorang penjaga langsung membukakan pagar itu mempersilahkan kendaraan itu masuk.


     Sesampai di depan rumah, pasangan itu turun secara hampir bersamaan. Dan dengan perlahan mengetuk pintu coklat itu. Tak lama, Bu Rose membukakannya dan mempersilahkan mereka masuk.


   "Selamat datang Tuan dan Nyonya Madison" tutur Bu Rose pelan seraya sedikit menunduk depan mereka


   "Dimana Skyla dan Harry?" Pasangan itu berjalan dengan bergandengan tangan, "Apa mereka dikamar?" Tanya wanita itu lagi


   "Skyla sedang tidur, Nyonya. Dan Harry belum pulang selepas pertunjukkannya" balas pembantu itu, "Saya siapkan air hangat di bathub, Nyonya?"


   "Iya, suamiku akan mandi dahulu. Aku akan mengecek Skyla di kamar"


   "Baik. Permisi" ucap Bu Rose sebelum pergi untuk mengatur air di bathub


   "Kau mandi saja, aku kan melihat keadaan Skyla. Aku tahu anak itu masih kecewa seperti biasanya" kata wanita itu pelan dan pergi menaiki lantai dua


   "Baiklah, Arabella"


      Knop pintu hitam itu terbuka. Seorang gadis sedang mendekap di bawah selimut Dongker bercorak langit malamnya. Tidurnya tampak nyenyak dan tidak menyadari bahwa seorang Ibu kandungnya akan datang untuk melihat keadaannya. Tangan Arabella mengusap lembut rambut pirang Skyla yang tampak sama persis dengan warna rambutnya. Tak bisa di pungkiri, sebagian besar dari diri Skyla ada di dalam diri Arabella.


     Dan Skyla bolak-balik menyangkal kenyataan itu. Itu tidak masalah bagi Arabella, asalkan putrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. Iris hijau itu menatap wajah mungil Skyla. Bagian mata Skyla membengkak dan tampak kemerahan sehabis kejadian sore tadi.


   "Aku bangga padamu, Sky. Kau tumbuh besar, cantik dan kuat tanpa diriku" bisik Arabella yang mulai tak bisa menahan penyesalan dan kesedihannya, "Maafkan Ibumu ini, nak"


     Skyla diam tak berkutik dan masih dalam tidur lelapnya.


   "Baiklah. Mom akan turun dan tidur" Arabella mengecup kening Skyla, "Selamat malam, bulanku" bisik wanita itu lagi lalu pergi keluar dengan hati-hati.




     Sinar matahari pagi dari balik tirai mengenai wajah Skyla dan membuat gadis itu tampak silau. Skyla membuka matanya, kepalanya berputar-putar karena sinarnya. Bahkan dia bangun lebih cepat sebelum alarmnya berbunyi Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mulai membersihkan diri.



     Setelah selesai, dia membuka tirai putih itu dan meraih tas ransel hitam dan melingkarkan headset hitam di lehernya. Dia membuka pintu lalu menuruni anak tangga dengan riang gembira. Aroma Capuccino hangat tampak menggoda dirinya.



   Skyla bersenandung ria sebelum akhirnya nada itu terhenti tepat ketika dia berada di depan pintu dapur. Pupilnya tampak membesar dan raut wajahnya penuh dengan tanda tanya.



   "Dad? Mom?" Ucap Skyla pelan dan membuat tawa mereka terhenti. Disana juga ada Harry yang sedang meneguk secangkir teh miliknya.



   "Skyla. Sini, say-" balas Arabella seraya berdiri hendak menjemput Skyla



   "Oya? Kalian masih ingat dengan keluarga ini? Dengan mudahnya datang kemari setelah berapa tahun? Iya! Lima tahun yang lalu hahaha"



   Skyla menggeleng, "Tidak, ini tidak benar! Aku pergi dulu"



   "Skyla" sahut Bu Rose yang tampak khawatir dengan ekspresi yang ditunjukkan Skyla.



   "Sky! Kemari lah" timpal Delbert pandangannya tak lepas dari Skyla



   Skyla tidak merespon mereka dan segera melingkarkan headset itu di telinganya sambil berjalan ke garasi. Dengan tangan yang bergetar dia melepas headset dan memasang helm itu di atas kepalanya. Paginya kacau lagi. Hatinya berdetak hebat sambil menahan tumpahnya air mata. Terlintas dipikirannya, apakah yang aku lakukan sudah benar, gumamnya.



~


~


~


TBC woi hehe


Maaf ya lama up:(


Ikuti terus kisah merekaa


Ilupyu❤️🍭

__ADS_1


__ADS_2