
..."Aku suka padamu" bisik seorang pria tepat di telinga Skyla ketika gadis itu baru saja membuka helm hitam dari kepalanya, "Sangat"...
...~...
"Iya, ya, dan YA! Dia berhasil mengolokku. Si jalang kurang ajar!" Desis Skyla geram seraya meremas bungkus keripik kentang rasa jagung bakar yang masih terlihat banyak, "Ah! Kapan aku bisa membalasnya?!"
"Jika saja, membunuh itu tidak mencatat dosa dan tidak masuk penjara, dengan lapang dada, akan kubunuh dia dengan cara memotong dagingnya kecil-kecil dan ku beri makan paus putih ku" ucap Glassy penuh amarah
"Tunggu, kau punya paus, Glase?" Tanya Skyla dengan wajah polosnya
"Bodohnya anak ini, ya Tuhan! Tentu saja tidak"
"Ayo pulang, aku capek seharian penuh harus berdiri dengan paparan sinar matahari" ucap Skyla
Glassy membuang bungkus keripik kentang itu ke dalam tempat sampah dan menutup pintu mobil mewah itu dengan kesal. Hati nya masih terbakar hingga ke ubun-ubun melihat wajah Jeslyn yang tampak senang meledek Skyla dan dirinya.
Skyla memasang helm hitam itu di kepalanya, dengan perlahan mengeluarkan Kawasaki miliknya dari parkiran dan menancap gas mengikuti jalan mobilnya Glassy.
Almondine, at 03.17pm
Kedua kendaraan itu terparkir dengan baik di depan Almondine. Skyla dan Glassy beristirahat sejenak di sebuah kafe yang terkenal dengan croissant choc nya yang enak. Di meja bundar disana sudah tersaji dua potong croissant choc, makaron berbagai macam warna dan dua gelas Capuccino dingin yang sudah kehilangan krim vanilanya.
"Mengapa kau mengajakku kesini?" Tanya Skyla yang sedang melahap kue kering berwarna biru itu.
"Aku tau kau lapar", jawab Glassy meraih gelas itu dan meminum Capuccino nya, "Dan hatimu sedang tidak enak juga, kan?"
"Sial, itu karena kau!"
"Itu ulah kita, jangan salahkan aku saja! Ohiya, liburan tahun baru, kita mau kemana?" Tanya Glassy mengalihkan topik pembicaraan. Karena dia sangat tidak suka ketika disalahkan atas apa yang dia lakukan
"Aku tidak punya jadwal. Ya paling hanya kursus memasak dan musik aku tambahkan menjadi jadwal harian" jawab Skyla
"Aku tidak pernah melihatmu mengikuti kursus itu"
"Apa aku harus memberitahumu segala?"
"Tidak, sih. Apa kau berencana masuk di universitas yang ada jurusan memasaknya?"
"Ya, mungkin?" Skyla sedikit mengangkat bahu, "Tapi sepertinya, iya"
Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Terhanyut dalam pikiran masing-masing dan ada rasa tidak ingin membuat teman terbebani. Skyla menopang dagu kecilnya dan menghela nafas berat.
"Permisi"
Pria. Suara seorang pria membuyarkan pikiran jenuh mereka. Dan keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Ya?" Sahut Skyla dengan sopan
Pria berambut coklat tua dengan mata yang tampak selaras dengan Skyla sedang berdiri di samping Skyla. Dengan pakaian pegawai yang dibalut dengan celemek berwarna putih itu tangannya memegang sebuah nota pembayaran. Padahal Skyla maupun Glassy belum memintanya.
"Maaf, ada apa, ya?" Tanya Glassy yang masih terlihat bingung dengan sikap pria itu.
"Ini" pria itu meletakkan nota pembayaran di meja Skyla, tepat di depan Capuccino dinginnya, "Saya hanya ingin menyerahkan ini"
"Kami belum memintanya" Skyla menggelengkan kepala keheranan, "Apa kau bermaksud mengusir kami?"
"Tidak. Bukan begitu, tapi.."
"Berapa?", Tanya Glassy melihat nota pembayaran itu dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada pelayan pria itu, "Selesai? Sekarang pergilah!"
"Baik. Maafkan saya" ucap pria itu seraya menunduk kemudian mengambil semua uang Glassy yang tergeletak di meja mereka.
"Oke. Jangan mengulah lagi. Kalau tidak aku akan melapor kepada manager mu" desis Glassy tak senang
Pria itu mengangguk pelan dan berjalan ke dapur.
"Apa kau tidak merasa aneh, Sky?" Tanya Glassy yang sedang menguyah waffle coklat di kamar dominan putih itu.
"Ntahlah, kurasa tidak. Sebentar lagi pelatih musikku akan masuk kelas. Aku tutup, ya?"
"Baiklah. Good luck!"
Panggilan diputus
Hari ini jadwal kursus musik Skyla. Sejujurnya dia tak terlalu mahir memainkan alat musik baik gitar maupun piano yang kelihatannya mudah. Dia hanya mampu bernyanyi menyesuaikan nada dalam lagu. Walaupun, suaranya tidak terlalu bagus. Tetapi Skyla tetap hobi bernyanyi.
Seorang wanita yang tampak seumuran dengan ibu Skyla memasuki ruangan kedap suara itu. Rambut coklat tuanya terkucir satu dengan poni belah dua di dahinya. Iris biru nya tampak menenangkan jika dipandang lebih lama. Dia menggendong sebuah gitar coklat dan duduk tepat di depan Skyla.
Hari ini tidak banyak yang mengikuti kursus. Tidak tahu sebabnya. Dan tanpa keterangan yang jelas.
"Selamat sore, anak-anak" sapa nya hangat diiringi dengan senyum manisnya.
"Selamat sore, Bu" sahut para siswa serentak.
"Baiklah. Saya akan mengetes kalian satu persatu, saya ingin lihat seberapa mampukah kalian memainkan sebuah alat musik. Kalian bebas memilih alat musik mana yang menurut kalian mudah atau yang kalian suka? Juga boleh. Tapi ingat, nada dan iramanya harus pas" wanita itu meletakkan gitarnya di atas meja Skyla, "Ayo saya beri waktu 20 menit"
"Baik, Mam" jawab para siswa lalu mereka berhamburan mencari alat musik untuk mereka sendiri. Suasana berisik menyelimuti ruangan itu.
Skyla menyeritkan alisnya, "Kenapa kau meletakkan nya disini?"
Wanita itu menggeleng pelan, meraih gitar coklat itu lalu memberikannya kepada Skyla. Skyla tampak menimbang-nimbang untuk menerima pemberian wanita itu sebelum akhirnya menerimanya dengan ragu.
"Ini untukmu, khusus" ucapnya lembut seraya mengusap rambut pirang Skyla.
Sudah lama sekali semenjak beberapa tahun terakhir, dia tak pernah lagi merasakan sentuhan seorang ibu. Skyla berfikir pasti keluarga wanita ini sangat beruntung mempunyai istri dan ibu yang lembut sepertinya.
"Te-terima kasih, Mam" jawab Skyla sedikit malu. Kemudian mulai memainkan alunan nada lagu Secret Love Song - Little Mix ft Jason Derulo. Dan mulai bernyanyi mengikuti alunan nada itu.
*When you hold me in the street and you kiss me on the dance floor*
*I wish that it could be like that*
*Why can't it be like that*
'*Cause I'm yours*
*We keep behind closed doors*
*Every time I see you, I die a little more*
*Stolen moments that we steal as the curtain falls*
*It'll never be enough*
*It's obvious you're meant for me*
*Every piece of you, it just fits perfectly*
__ADS_1
*Every second, every thought, I'm in so deep*
*But I'll never show it on my face*
*But we know this, we got a love that is homeless*
*Why can't you hold me in the street*?
*Why can't I kiss you on the dance floor*?
*I wish that it could be like that*
'*Cause I'm yours*
*When you're with him, do you call his name*
*Like you do when you're with me, does it feel the same*?
*Would you leave if I was ready to settle down*?
*Or would you play it safe and stay*?
*Girl you know this, we got a love that is hopeless*
*Why can't you hold me in the street*?
*Why can't I kiss you on the dance floor*?
*I wish that it could be like that*
'*Cause I'm yours*
*And nobody knows I'm in love with someone's baby*
*I don't wanna hide us away*
*Tell the world about the love we making*
*I'm living for that day*
*Someday*
*Why can't I hold you in the street*?
*Why can't I kiss you on the dance floor*?
*I wish that we could be like that*
'*Cause I'm yours, I'm yours*
*Oh, why can't you hold me in the street*?
*Why can't I kiss you on the dance floor*?
*I wish that it could be like that*
*Why can't it be like that*?
'*Cause I'm yours*
*Why can't I say that I'm in love*?
*I wanna shout it from the rooftops*
*I wish that it could be like that*
'*Cause I'm yours*
*Wish we could be like that*
Prok..prok..prok
Suara tepukan tangan mengisi kekosongan ruangan kedap suara itu. Bukannya mulai berlatih, tetapi mereka menonton sebuah pertunjukan gratis Skyla. Gadis itu tak menyadarinya dikarenakan terlalu fokus kepada lantunan nada dan alunan musik yang ia bawa sendiri. Membuat pipinya bersemu.
Tak jarang, pipinya tidak bisa diajak kerja sama. Selalu bersemu disaat yang tak ia inginkan.
Guru musik itu berbinar kagum kemudian mengelus rambut pirang Skyla dan mencubit pipi yang masih kemerahan itu.
"Te-terima kasih, Bu" Skyla memberi gitar itu kembali kepada wanita itu dan dia menerimanya dengan senang, "Terima kasih, kalian semua"
"Sama-sama, nona Madison" tutur wanita itu
"Panggil Skyla saja, Nyonya..?"
"Haha Lily. Namaku Lily"
Skyla tertunduk dan tersenyum malu.
Skyla menghempaskan badannya di atas tempat tidur bergambar langit malam penuh bintang itu. Tas selempang hitam dan sneaker putihnya masih belum tersusun rapi di tempatnya. Letih, lemas, dan gerah dia rasakan. Dan membuatnya ingin berendam lebih lama di bathtub yang penuh dengan busa beraroma lavender.
Dia beranjak dari tidurnya dan meraih sebuah handuk Dongker di dalam lemari berwarna putih nan besar itu. Lalu masuk kedalam kamar mandi dan merendam seluruh tubuhnya di dalam bak besar disana.
Knop pintu hitam Skyla terbuka. Tampak Bu Rose membawakan makan malam berupa spaghetti, bakso, sosis, keju mozzarella dan beberapa brokoli dan kentang rebus, serta secangkir Capuccino.
Jujur, aku tak tahu, sudah berapa kali aku mengetik kata 'Capuccino' dan itu membuatku hampir muak. Dia sangat menyukai minuman itu. Tiada hari tanpa Capuccino. Huh! Yang benar saja!
"Sky, apa kau didalam?" Tanya Bu Rose seraya mengetuk pintu kamar mandi itu.
"I-iya, Bu. Ada apa?" Jawab Skyla yang bergelagak kaget mendengar suara wanita itu
"Ibu sudah membuatkan makan malam, ada di atas meja belajarmu, ya?"
"Siap, Ibu!"
Bu Rose berbalik dan tidak sengaja melihat barang Skyla yang berantakan. Dia menggeleng kesal. Dan membiarkan itu semua. Bukan tidak mau membereskan itu, hanya saja Bu Rose tidak mau Skyla menjadi anak yang manja dan tidak bisa mengerjakan apa-apa dengan tangannya sendiri.
Tak berapa lama, Skyla keluar dari kamar mandi itu dengan balutan piyama hitam putih pendek. Iris birunya berbinar-binar ketika melihat sepiring spaghetti komplit dan secangkir Capuccino panas menyambut dirinya hangat.
Skyla menempatkan bokongnya di lantai dan mulai menyantap makanan itu, "Sungguh, ini sangat enak" tuturnya girang
"Aku suka padamu" bisik seorang pria tepat di telinga Skyla ketika gadis itu baru saja membuka helm hitam dari kepalanya, "Sangat"
Skyla melihat ke sampingnya, seorang pria sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Tak ada rasa bersalah di mata maupun wajahnya setelah membuat jantung Skyla berdebar. Selama lima detik. Ya, itu karena kaget. Dan bukan karena cinta! Iya sekali karena cinta?
__ADS_1
"Huh!" Skyla menghembuskan nafas dengan kesal, "Tolonglah" ucapnya menatap tajam iris coklat itu, "Ini masih pagi!"
"Hahaha" pria itu tertawa lebar, "Kau lucu saat marah"
Skyla segera turun dari sepeda motornya dan berdiri di depan pria yang masih tertawa itu, "Apa yang kemarin masih kurang?"
Pria itu menggeleng dan berhenti tertawa.
"Ini masih pagi, aku minta tolong padamu, jangan membuat mood pagi ku berantakan" Skyla tersenyum masam, "Apa perlu aku berlutut di kakimu?"
"Kau hanya perlu kencan denganku, setelah itu aku tak akan mengganggumu" ucap pria itu santai seperti hendak menawarkan sebuah barang.
"Apa?! Tidak!"
"Itu tidak akan terjadi" desis Skyla kemudian meninggal pria itu tanpa menoleh ke belakang.
"Sky!" Glassy berteriak dari lorong itu setelah dia mengobrol dengan beberapa gadis seraya melambaikan tangan kepada Skyla
"Ya, aku datang" Skyla berjalan kearah Glassy balas melambai kearahnya, "Kapan kau datang?"
"Sejak tadi. Aku akan ke kantin. Kalian ingin ikut?" Tanya Glassy kepada dua orang gadis itu
"Tidak. Kami akan ke kelas" balas gadis berambut hitam itu
"Baiklah. Sampai jumpa!"
"Dah, Sky!" Kedua gadis itu melangkah pergi meninggalkan Glassy, dan Skyla yang masih merasa heran
"Hei, ada apa?" Glassy menggandeng lengan Skyla, "Ayo kita ke kantin"
Skyla mengangguk pelan
"Aaa... Glase, sejak kapan kau mengobrol dengan mereka? Dan dari mereka tau namaku?"
Glassy tertawa pelan melihat ekspresi yang tergambar di wajah sahabatnya itu, "Oh ayolah, kawan! Siapa sih yang tidak kenal dengan Skyla?"
"Apa aku membuat ulah sehingga aku begitu terkenal disini?" Tanya Skyla masih dengan penuh tanda tanya
"Gadis yang berani melawan Nicholas dan Jeslyn? Tentu saja seluruh siswa tau kau"
"Ya Tuhan. Seburuk itukah?"
Glassy memegang bahu Skyla dan membiarkannya duduk dengan rasa penasarannya, "Tunggu disini. Aku akan memesan makanan"
Skyla mengangguk setuju dengan tak fokus.
"Bu, tolong dua sandwich dan Capuccino hangat" Glassy mengeluarkan beberapa lembaran uang dan memberikannya kepada penjual itu, lalu menerima dua sandwich dan dua cangkir Capuccino hangat di atas nampan.
"Ku dengar tadi kau bertengkar lagi dengan Nicholas?" Glassy menempatkan bokongnya di sebelah Skyla lalu menyodorkan sepotong sandwich kepada Skyla
"Makasih"
"Okey. Bagaimana? Itu benar?"
"Ya, tidak bertengkar, aku hanya berteriak padanya" Skyla melahap sandwich daging itu, "Dia bilang dia mencintaiku, apa itu tidak gila?"
"Terdengar gila sih"
"Dan dia mengajak ku berkencan. Gila! Bukan kah dia sudah berkencan dengan Jeslyn?"
"Kudengar dia putus dengan Jeslyn" Glassy meneguk Capuccino itu dengan hati-hati, "Coba saja, Sky. Kau belum pernah berkencan dengan seorang pria, kan? Selama ini kau hanya berkencan denganku"
Skyla memukul dahinya pelan, "Glase! Itu bukan berkencan! Memangnya kau pernah berkencan dengan seorang pria?" Cetus Skyla
"Sekali sih. Hehehe tapi setidaknya pernah"
Selagi Glassy dan Skyla memulai perdebatan mereka, sepasang iris coklat tua sedang menatap gerak-gerik Skyla sambil sesekali tersenyum kecil tapi licik. Hasrat akan memiliki Skyla telah membuncah dalam dirinya. Segala macam cara akan dia lakukan agar gadis itu menjadi miliknya. Walau hanya sementara.
"Tidak akan ada seorang gadis pun yang menolak untuk singgah ke permainanku, Skyla" bisiknya tajam
~
~
~
TBC woi hehe
Maap ya up ga sesuai jadwal:'( lagi banyak tugas😭
__ADS_1
Oke. Makasii buat kamu yang udh setia menanti cerita ini!!
Ilupyu💙