ReBeLove

ReBeLove
Chapter 15 : Go!


__ADS_3

..."Jika dilihat dari dekat, ternyata dia sangat cantik walau tidak tersentuh oleh riasan. Sial! Apa yang sedang kupikirkan!?"...


...~~~...


Rumah sakit, 01.12 pm


Harry terlihat mondar-mandir tak menentu di koridor rumah sakit dengan wajah yang khawatir, sedangkan Bella duduk di sebelah Delbert dan sesekali wanita itu mengusap air matanya, kedua matanya sembab dan sayu.


Setelah beberapa menit yang lalu Harry dan Delbert bertengkar dirumah sebelum Skyla dibawa ke rumah sakit. Harry hampir saja melayangkan tangannya untuk menghajar Delbert karena merasa sangat kesal setelah mendengar penjelasan dari Delbert. Hati Harry sangat terpukul, dia ingin menguliti orang yang sudah membuat Skyla seperti ini. Tetapi mati-matian Harry menahan amarahnya.


Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan tempat Skyla dirawat, Delbert dan Bella bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri dokter itu.


"Kondisinya sudah membaik, dia pingsan karena kelelahan dan banyak pikiran ditambah lagi hidungnya terkena pukulan dan menyebabkan kepala dan telinganya berdengung" dokter itu menjeda kalimatnya, "Tapi jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Beberapa menit lagi dia akan siuman. Saya permisi" ucapnya kembali.


"Baik. Terima kasih, dokter" balas Delbert lalu tersenyum simpul.


Bella kembali duduk di kursi dengan wajah yang murung, bibirnya tak mampus lagi memarahi Delbert atau sekedar berterimakasih kepada dokter itu. Delbert memutar knop pintu kamar itu, tampaknya dia ingin melihat keadaan putrinya, tetapi niatnya dikubur dalam-dalam oleh Harry. Harry menahan tangan pria itu dan menatap irisnya tajam. Seolah mengisyaratkan, 'Jangan sampai dia bertemu denganmu untuk pertama kali'.


Delbert mengurungkan niatnya dan kembali duduk di samping istrinya. Menenangkan wanita itu dalam dekapannya. Delbert berfikir, dia tak pantas menjadi seorang ayah dan suami. Dia sudah menyakiti Skyla dan 'menghantam' hati Bella.


"Agh" desis Harry seraya mengacak rambut ikalnya, "Jika dia terkena penyakit yang lebih dalam, aku akan menghajarmu dan anak buahmu yang terlibat. Camkan itu ayah!" Ucap Harry pelan.


Sinar matahari menyinari ruangan yang serba putih,membuat suhu ruangan menjadi sedikit hangat. Skyla yang tengah terbaring dengan tenang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Nafasnya tampak tak teratur dan kepalanya masih saja berdenyut. Skyla membuka kedua matanya dengan hati-hati, dan benar, tak seorang pun berada di sampingnya maupun yang duduk di sofa menunggunya siuman.


Skyla menghela nafas panjang, seakan sudah terbiasa dengan semua itu. Skyla menekan bell Nurse call yang berada di samping tempat ia terbaring. Dan tak lama seorang perawat dan dokter masuk ke dalam ruangannya disusul dengan ketiga anggota keluarganya. Skyla membuang muka saat ayahnya menghampirinya.


"Bagaimana kondisimu, Nona Madison? Apa kepalamu masih sakit?" tanya dokter itu seraya memasang stetoskop dan mulai mengecek keadaan Skyla.


"Aku sudah membaik sekarang. Hanya aku perlu beristirahat" dokter sudah selesai mengecek keadaan Skyla, "Apa aku bisa pulang sekarang?" timpal Skyla kembali


Delbert menggeleng, "Tidak, Sky-"


Skyla segera memotong kalimat Delbert dengan tatapan sinis, "Jadi kapan aku bisa pulang, dokter?"


"Hmm.. a- besok, kau boleh pulang besok" jawab dokter itu spontan. Kemudian dia meminta izin untuk meninggalkan ruangan bersama dengan perawat itu.


"Skyla, apa kau baik-baik saja?" Tanya Bella yang mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Skyla. Gadis itu hanya diam tak berkutik dengan tatapan dingin.


"Baiklah, tidak apa-apa. Delbert, minta maaflah kepadanya" sambung Bella dengan eskpresi memelas.


"Tidak. Yang seharusnya meminta maaf itu adalah dia, mengapa dia mengikuti kelas memasak tanpa seijin ku? Itu tidak perlu, dia hanya perlu fokus ke perusahaan ayah saja" sangkal Delbert yang menentang perkataan istrinya terang-terangan.


BUGH!


"Dad bilang 'itu perlu'?" Skyla mengulang kata itu dengan penuh penekanan, "Sudah


berulang kali aku bilang, bahwa aku tidak mau meneruskan atau bekerja di perusahaan kakek! Apa kalian tidak mengerti?" timpal Skyla dengan kedua tangan yang mengepal, matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa kalian tak mengerti? Aku hanya ingin melakukan apa yang ku suka"


"Tapi perusahaan kakek lebih menjamin ke-"


Harry kembali mengacak rambutnya asal, "Stop! Daddy stop! Mengertilah dia sedang sakit sekarang dan itu karena ulah mu! Kenapa kau tidak meminta maaf saja kepadanya?" ketus Harry dengan kesal kemudian menempatkan diri di sofa yang berada di sudut ruangan.


"Tidak perlu, itu tidak perlu. Akan ku pertegas, aku akan melakukan apa yang ku suka dan tidak melakukan apa yang tidak ku sukai" Skyla sedikit menggerakkan tubuhnya, "Jika kalian tidak suka, itu urusan kalian. Lagi pula aku juga bukan keturunan dari keluarga ini" sambung Skyla asal dan membuat Delbert semakin marah.


"Skyla jaga ucapan mu! Jika tidak aku akan mengusir mu dari rumah!"


"Aku juga akan pergi dari rumah itu jika aku sudah siap! Aku juga sudah muak dengan kalian!" Jawab Skyla membenarkan perkataan Delbert. Sontak saja ketiga orang dewasa itu terkejut.


Skyla meraih ponselnya yang berada di meja dan menghubungi Glassy.


"Halo, Sky?"


"Glase, aku... sedang berada di rumah sakit.."


"APA?"


Suara Glassy berhasil membuat Skyla sedikit menjauhkan speaker ponsel dari telinganya, "Pelankan suaramu! Tuhan..."

__ADS_1


"Maaf, tapi bagaimana itu bisa terjadi?"


"Kau bisa datang kesini dan mendengarkan cerita ku, Glase?"


"Baik, aku kesana sekarang. Kau ini merepotkan ku saja"


"Glassy!"


Panggilan diputus oleh Glassy, tampaknya gadis itu sangat khawatir dengan keadaan Skyla sekarang.


"Kau menelpon siapa, Sky?" Tanya Bella sambil mengamati gerak Skyla yang sedang mengotak-atik ponselnya.


"Glassy, mom. Jelas-jelas tadi aku menyebut namanya, jangan kan sahabatku, mungkin kalian mom juga sudah lupa tentang ku"


"Bukan begitu" sangkal Bella


"Sudahlah, mom. Aku sedang tidak ingin berbicara pada siapapun"


Kalimat yang diucapkan Skyla semakin memperkeruh keadaan dan membuatnya canggung. Bukan sebuah keluarga yang harmonis bukan? Ya, rasanya seperti tinggal sendirian di dunia yang hampa ini padahal ketiga anggota keluarganya berada di depan mata Skyla.


Skyla melirik Bella yang tengah mengupas apel dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Harry dan Delbert sibuk dengan ponsel masing-masing.


Pintu berwarna coklat itu terbuka setengah, Glassy sedikit mengintip sebelum menapakkan kakinya ke dalam ruangan tempat Skyla di rawat. Skyla yang masih belum menyadari Glassy datang, pandangannya belum terlepas dari jemdela yang tirainya menari karena angin.


Glassy mendatangi Delbert dan Harry dan menyapa mereka dan dibalas dengan senyuman hangat oleh mereka berdua. Setelah itu, Glassy menghampiri Skyla dengan senyum mengembang di wajahnya seraya membawa satu keranjang kecil buah-buahan.


Glassy memeluk Skyla dari samping sampai Skyla menoleh kearah gadis itu dan membalas pelukannya, "Kau tau, aku mengkhawatirkan mu!" cetusnya memasang wajah cemberut.


"Aku tau, Glase. Duduklah, dan tolong ambilkan buah untukku, ya?" jawab Skyla dan Glassy menurut.


Glassy mengambil kursi dari samping Bella dan menariknya ke sisi lain, "Sore Tante" sapanya kepada Bella yang sedang memakan apel yang baru saja selesai ia kupas.


"Sore, Glase. Apa kabarmu?" tanya Bella kemudian.


"Baik. Oh ya, Sky!" Glassy mendudukkan kursi yang diambilnya lalu membuka keranjang buah dan memberikan sebuah apel merah kepada Skyla, "Ada seseorang yang ingin menemui mu juga" kata Glassy dengan hati-hati.


"Maafkan aku, Sky. Tapi dia terus saja membuntuti ku dan aku menyuruhnya menunggu diluar agar aku bisa meminta izinmu dulu" Glassy memperjelas hal yang tidak diminta kejelasan oleh Skyla.


"Baik, biarkan dia masuk"


Glassy mengangguk, "Hei! Masuklah!" ucap Glassy sedikit meninggikan suaranya.


Pintu coklat itu kembali terbuka dan orang itu mengintip dan sedikit mengendap ketika kakinya sudah menapaki bagian dalam ruangan serba putih itu. Pria itu tersenyum kepada Delbert, tetapi tidak kepada Harry karena pria itu sedang sibuk dengan ponselnya.


Nicholas mengembangkan senyum manisnya kepada Skyla dan Bella ketika hendak menghampiri mereka. Dahi Skyla mengkerut, dan seolah tampak tak percaya apa yang dia lihat di depan matanya. Sedangkan Glassy sibuk memainkan ibu jarinya dengan gelisah seakan siap di terpa amukan Skyla.


Nicholas melambaikan tangan kepada Skyla, "Hai?"


"Oh, hai? Sedang apa kau disini?"


"Aku hanya kebetulan lewat dan melihat temanmu hendak masuk ke rumah sakit, jadi aku memaksa ikut masuk setelah tau bahwa kaulah yang dirawat di sini" jelas Nicholas.


"Benar, Sky. Nicholas lah yang memaksa untuk ikut. Kau tidak marah padaku kan?" timpal Glassy dengan takut.


Skyla menggeleng seraya tersenyum kepada Glassy dan Nicholas lalu mempersilahkan Nicholas duduk di samping Glassy.


Konsentrasi Harry masih belum terpecahkan sampai akhirnya pria itu mendengar sebuah nama yang baru saja disebut Glassy. Harry menegakkan kepalanya dan mendapati Nicholas sedang mengobrol sambil tertawa dengan Skyla.


Sebersit kejadian terngiang di kepalanya yang membuat dia mengepalkan tinjunya untuk pertama kalinya di depan umum. Harry mendatangi Nicholas dan Skyla dengan raut wajah yang kesal.


"Apa benar itu kau? Pria yang-"


"Harry! Tutup mulutmu!" Skyla memotong perkataan Harry sebelum Bella dan Delbert mengetahui kejadian buruk yang ditimpa Skyla karena ulah Nicholas.


"Tapi, Sky, kau masih membela dia?" bantah Harry tak percaya.


"Ada apa, Hazz?" Tanya Delbert yang masih dalam posisi duduknya.


"Tidak apa-apa, Mr. Madison. Dan Harry, jangan pernah mengungkit itu lagi" cetus Skyla tidak suka.

__ADS_1


Bella hanya duduk diam melihat pertengkaran kecil yang terjadi saat itu, sebenarnya ingin sekali dia menenangkan dan meyakinkan Skyla atas kesalahpahaman yang terjadi, tetapi gadis itu selalu membantah tidak ingin mendengar apa yang Bella katakan. Selalu menghindari 'family time' dengan mereka.


Tak lama setelah itu, Delbert mendapat panggilan telepon oleh seseorang sehingga mengharuskan Delbert keluar untuk mengangkatnya. Harry juga beranjak dari duduknya, sepertinya dia juga ingin kembali ke studio untuk berlatih.


"Mom, aku akan berlatih di studio bersama Alena dan keempat sahabatku" ucap Harry dan Bella mengangguk setuju.


Setelah beberapa detik saat Harry keluar, tak lama Delbert juga masuk ke dalam ruangan dengan tangan yang masih menggenggam ponsel miliknya. Dia meraih kunci mobil dari meja dan memberikan isyarat kepada Bella bahwa mereka harus pergi mengurus beberapa pekerjaan.


Bella mengangguk mengerti, "Sayang, mom dan dad harus mengerjakan beberapa pekerjaan penting" ucap Bella dan Skyla mengangguk kecil sebelum akhirnya Bella benar-benar pergi dari ruangan itu.


"Sky, bagaimana kau bisa 'akur' dengannya?" tanya Glassy pelan bermaksud agar Nicholas tidak mendengar apa yang dia katakan, tentu saja Nicholas mendengarnya tetapi pria itu hanya tersenyum kecil.


"Ya.. kami saling meminta maaf?" jawab Skyla singkat


"Mengapa kau bertanya kembali kepadaku?" Glassy berdecak kesal, "Tapi, bagaimana bisa kau sampai seperti ini?" tanya Glassy, kali ini raut wajahnya terlihat jelas oleh Skyla.


Skyla tersemyum kecil dan menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Hati Skyla sudah mulai tenang dan dia siap menceritakan apa yang terjadi kepada Glassy, dan gadia itu sepertinya sangat tertarik dengan apa yang dia dengar. Tak hanya sekali, Glassy dan Nicholas mengangguk tanda setuju.


Tapi di tengah cerita, Nicholas mulai salah fokus. Bukannya mendengarkan kejadian yang ditimpa Skyla, pria itu malah memandang wajah Skyla yang tampak antusias menceritakan kejadian itu kepada Glassy dan kepadanya. Bibir ranum Skyla yang terus mengoceh membuat Nicholas sedikit tertawa. Anak rambutnya yang menari mengikuti alunan angin dan menyapu wajah cantiknya.


"Jika dilihat dari dekat, ternyata dia sangat cantik walau tidak tersentuh oleh riasan. Sial! Apa yang sedang kupikirkan!?"


"Mr. Madison yang sangat kejam! Sky, aku kasihan padamu!" rengek Glassy seraya menggenggam tangan Skyla dan mengelusnya dengan lembut.


"Glase, lepaskan tanganku. Aku merasa geli" kini Skyla yang merengek kepada Glassy.


Nicholas tertawa melihat percakapan kedua gadis itu, "Kalian ini seperti anak kecil saja"


Skyla juga terkekeh melihat Nicholas yang tertawa lebar didepannya. Biasanya di sekolah, pria itu benar-benar menjaga image di depan para penggemarnya. Ya, itu wajar dilakukan oleh idolanya para gadis di sekolah. Yang paling membuat Skyla sebal adalah, Nicholas yang bersikap angkuh ketika berhadapan dengannya di sekolah. Apalagi jika sudah bergabung dengan teman-temannya tampan nan bodoh itu.


"Maaf, Sky, Aku harus kembali, tadinya aku hanya izin untuk membeli buku dan di perjalanan aku bertemu Glassy dan disinilah aku, yang lupa membeli barang yang akan ku beli" jelas Nicholas, pria itu beranjak dan mengelus tangan Skyla.


"Get well soon, Sky" sambungnya sebelum pergi.


"Oke, terimakasih" balas Skyla.


Glassy mengawasi Nicholas sampai pria itu membuka pintu dan keluar meninggalkan mereka, "Sky, jangan bilang kau suka padanya?" tanya Glassy dengan polos dan wajah lugunya.


Skyla membelalakkan matanya, "Glase, dari mana kau mengambil kesimpulan seperti itu" sanggah Skyla kesal.


"Kau berbicara dengannya, Sky! Bahkan kau tidak marah ketika dia menyentuh tanganmu", Glassy memijit pelipisnya, "Pokoknya, Sky, aku sudah pernah bilang kepadamu, kan? Kalai dia itu playboy." timpal Glassy yang masih bingung dengan sikap Skyla.


"Aku ingat akan hal itu, Glase. Tenanglah, aku tidak akan jatuh cinta kepadanya"


"Kalau begitu, baguslah"


Sudah hampir malam, dan Glassy harus pulang karena dia akan pergi ke acara keluarga yang tak bisa dia hindarkan. Dan Glassy berulang kali meminta maaf kepada Skyla karena tidak bisa menemani gadis itu sampai besok. Bahkan ketika sampai di rumah, Glassy langsung mengirim pesan kepada Skyla untuk meminta maaf lagi. Skyla hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Glassy yang terkadang mampu membuat suasana hatinya membaik.


Bulan purnama bahkan sudah menongol dari balik awan, angin yang masuk tapa izin dari ventilasi jendela dan membuat udara di ruangan bernomor 57 itu menjadi sedikit dingin. Skyla mengentakkan sendok diatas tempat makan yang berisi, nasi, salmon dengan kuah krim, sup labu dan pisang, tersisa tinggal setengah.


Jujur saja, Skyla merasa mual melihat dan mencium makanan itu. Jika saja ada Rose, wanita itu akan menyuapi Skyla makan agar makanannya cepat habis. Ya, gadis itu hanya seorang diri di sana. Tak ada siapapun, bahkan mungkin orang tuanya lupa untuk kembali ke rumah sakit. Tapi Skyla sedikit bersyukur, dia benar-benar tidak mengharapkan keberadaan orang tuanya saat itu.


Kesokan paginya, Skyla terbangun secara tiba-tiba ketika cahaya matahari pagi masuk melewati celah tirai jendela dan menyinari sebagian ruangan itu. Dia lupa menyuruh Glassy untuk menutupnya padahal dia masih tidak kuat untuk menapakkan kakinya ke lantai.


Skyla tersenyum miring, "Tidak ada orang", ucapnya dalam hati yang merasa kasihan pada dirinya sendiri.


Dengan bersusah payah Skyla mengumpulkan tenaganya untuk bangun dan membasuh muka di kamar mandi. Dengan sangat hati-hati, Skyla memapah tubuhnya dengan berpegangan pada benda yang ada di sebelahnya. Skyla membuka pintu kamar mandi dan dengan perlahan membasuh mukanya yang tampak sedikit pucat.


"Bahkan mereka tidak menjemputmu hari ini" Skyla berbicara di depan cermin dan meratapi nasibnya yang malang.


~


~


~


TBC!!


Jangan lupa tinggalkan jejak ya beb❤️🍭

__ADS_1


__ADS_2