ReBeLove

ReBeLove
Chapter 13 : Finding Problems


__ADS_3

Skyla semakin menancapkan gas dan menaikkan gigi Kawasaki nya dengan penuh kekesalan dan air mata memenuhi pipinya kembali. Gadis itu memberhentikan kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan yang sudah seminggu tidak dia datangi. Rainbow private. Tulisan warna-warni itu terpampang manis di atas pintu masuk yang berwarna biru langitnya.


Skyla memutar knop pintu itu dan menapakkan kakinya disana. Aroma permen loli pun tercium samar-samar. Dia masuk ke sebuah ruangan tempat dia biasa bermain musik bersama dengan anak-anak lain.


Jangan tanya mengapa dia bolos hari ini. Demi apapun, hatinya tersayat kembali. Dengan mudahnya mereka masuk ke kediaman yang dia anggap sebagai istananya. Tidak jelas maksud dan tujuannya. Ingin membawa Harry kembali ke Amerika Utara? Silahkan saja, dengan senang hati Skyla mengantarkan mereka ke bandara dan memberikan sebuah senyuman mematikan sebagai perpisahan terakhir.


Skyla langsung menempatkan bokongnya di kursi yang biasa dia tempati dan meraih sebuah gitar yang ada disampingnya. Gitar milik Mam Lily. Wanita yang penuh kasih sayang, Skyla yakin akan sangat-sangat bersyukur bisa memiliki Ibu seperti dirinya.


Dia memetik kunci Dm dan mulai melanjutkannya menjadi sebuah nada dari lagu Grenade - Bruno Mars. Perasaannya mulai membaik seiring petikan demi petikan itu di mainkan dan bibir ranumnya ikut bernyanyi dalam melodi itu.


Grenade - Bruno Mars


Easy come, easy go, that's just how you live oh


Take, take, take it all, but you never give


Should have known you was trouble from the first kiss


Had your eyes wide open


Why were they open?


Gave you all I had and you tossed it in the trash


You tossed it in the trash, you did


To give me all your love is all I ever asked 'cause


What you don't understand is I'd catch a grenade for ya (yeah, yeah)


Throw my hand on a blade for ya (yeah, yeah)


I'd jump in front of a train for ya (yeah, yeah)


You know I'd do anything for ya (yeah, yeah)


Oh oh, I would go through all this pain


Take a bullet straight through my brain


Yes, I would die for ya baby


But you won't do the same


No, no, no, no


Black, black, black and blue


Beat me 'til I'm numb


Tell the devil I said 'hey' when you get back to where you're from


Mad woman, bad woman


That's just what you are


Yeah you'll smile in my face then rip the brakes out my car


Gave you all I had and you tossed it in the trash


You tossed it in the trash, yes you did


To give me all your love is all I ever asked


'Cause what you don't understand is


I'd catch a grenade for ya (yeah, yeah)


Throw my hand on a blade for ya (yeah, yeah)


I'd jump in front of a train for ya (yeah, yeah)


You know I'd do anything for ya (yeah, yeah)


Oh oh, I would go through all this pain


Take a bullet straight through my brain


Yes, I would die for ya baby


But you won't do the same


If my body was on fire


Oh you'd watch me burn down in flames


You said you loved me you're a liar 'cause you never


Ever, ever did baby


But darling I'll still catch a grenade for ya (yeah, yeah)


Throw my hand on a blade for ya (yeah, yeah)


I'd jump in front of a train for ya (yeah, yeah)


You know I'd do anything for ya (yeah, yeah)


Oh oh I would go through all this pain


Take a bullet straight through my brain


Yes, I would die for ya baby


But you won't do the same


No, you won't do the same


You wouldn't do the same


Oh, you'll never do the same


No, no, no, no


Iris yang persis dengan Skyla itu sedang menatapnya dari luar ruangan dengan kaca yang tembus pandang seraya menajamkan pendengarannya. Iraman jantungnya tampak berdetak seirama dengan petikan gitar Skyla.


Dia ingat benar suara itu, sangat ingat dan masih tak bisa dilupakan. Hampir belasan tahun dia tak pernah mendengar tawa gadis itu. Biru laut milik Skyla, tampak memancarkan kesedihan yang terbuka kembali dan membuat hati wanita itu sedikit sesak. Rambut pirang yang sama persis dengan milik ibunya diikat ekor kuda dengan sedikit rambut pendek tergerai jatuh di dahinya.


Lagu berakhir, Skyla meletakkan gitar itu kembali dan memasang headset hitamnya di telinga dan membesarkan volume lagu itu. Dengan berat hati dia menyilangkan tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya disana. Membiarkan masalah yang dia hadapi terberai bersamaan dengan denyut nadinya.


Dan iris biru laut Lily masih menatap setiap gerak-gerik Skyla seakan tahu benar masalah yang dihadapi gadis itu. Benda persegi yang sedari tadi di genggam Lily berbunyi. Dilayar tertulis My prince. Lily menerima panggilan itu dan mendekatkan ponsel itu di telinganya.


"Ya?"


"Iya, Mom akan kesana" Lily mengangguk pelan, "Baiklah. Tenang saja"


"Mom menyayangimu" ucap Lily terakhir. Dia melangkah pergi menyisakan beberapa potong kenangan dan pertanyaan yang tidak sempat dia tanyakan kepada Skyla yang masih dalam rangkulan kesedihan.


Skyla menangkat kepalanya seraya menghapus sisa air mata itu dengan asal. Perutnya melilit dan dia kesakitan karena belum diisi sepotong roti di dalam sana. Dengan malas, Skyla bangkit dari duduk nya dan berniat pergi kesebuah kafe favoritnya dengan headset terlepas dari telinganya. Nada dering 24k Magic terdengar dari saku celana jeans-nya, buru-buru Skyla langsung menerima panggilan itu. Nama kontak Glase🍭. Dia akui, dia sangat suka memakai emotikon, karena dari emot dia bisa menggambarkan ekspresi atau suasana hatinya pada saat itu.


"Ya, Glase?" Tanya Skyla seraya berjalan keluar dan membalas senyuman hangat salah satu pegawai tempat kursus itu.


"Kau dari mana saja? Aku sudah menunggumu selama kurang lebih 30 menit! Apa kau bolos!?" Skyla menjauhi ponselnya dari telinga, jika terlambat bisa saja gendang itu bisa pecah mendengarkan ocehan Glassy, "Kenapa kau bolos!? Katakan!"


"Astaga, Glase tenanglah. Aku ada sedikit masalah di rumah. Jadi-"


"Jadi kau bolos dan meninggalkanku menghadapi pria gila itu!?"


"P-pria siapa lagi...?"


"Calon kekasihmu! Sialan. Ya sudah, kita akan bertemu di kafe biasa jam 9, aku akan kesana segera. Dan aku harus pintar mencari alasan"


"Kau juga ingin bolos?"


"Iya, astaga Neptunus. Itu semua gara-gara kau. Selain cantik kau juga bodoh ya, Sky?


"Jangan, gl-"

__ADS_1


Panggilan diputus Glassy yang tampak kesal dengan sikap bodohnya. Skyla memukul jidatnya. Dia sudah bodoh tapi kenapa Glassy juga ikut bodoh bahkan lebih bodoh darinya.




Glassy memutus panggilan itu dengan sedikit kesal seraya berfikir keras, alasan apa yang akan dia pakai untuk bolos hari ini. Huh. Skyla yang merepotkan selalu saja seenaknya.



Glassy tampak mondar-mandir di dalam toilet wanita karena jam pelajaran telah dimulai dan dia izin ke kamar mandi untuk buang air besar. Terdengar menjijikkan tapi ini semua karena ulah Skyla.



"Ayo, Glase. Berfikirlah dengan sedikit cerdas hari ini. Skyla membutuhkanmu. Cepatlah" Glassy memukul atas kepalanya berharap otak itu bekerja dengan sedikit cepat, "Hmm... Ah aku tau!"



Dengan cepat Glassy keluar dari tempat itu dan langsung menuju ke ruangan wali kelasnya. Sesampai di depan pintu, gadis itu mengelus perutnya dan merubah ekspresinya seperti orang kesakitan. Terlihat lihai memainkan perannya. Glassy memutar knop pintu itu dan menghampiri pria tua yang sedang membaca beberapa lembar kertas di atas mejanya.



"Hmm selamat pagi, Pak" ucap Glassy masih dalam ekspresi kesaktiannya



"Ada apa, nona Edison?" Balas pria itu pandangannya masih tak lepas dari kertas yang masih ia pegang



"Ketika di kamar mandi, tiba-tiba perut saya sakit, Pak. Saya menelpon Ibu saya dan beliau menyuruh saya segera kerumah sakit untuk memeriksanya" tutur Glassy lancar tanpa ada gugup sedikit pun.



"Baiklah. Ini suratnya dan silahkan pulang. Semoga kau baik-baik saja" ucap pria itu seraya memberi secarik kertas permohonan pulang kepada Glassy.



"Terima kasih banyak, Pak. Saya permisi" ucap Glassy sopan dan dibalas dengan anggukan kecil pria yang pandangannya masih tak lepas dari lembaran kertas itu.



Glassy menutup pintu itu dengan perlahan, dan berjalan ke kelas dengan girang. Tentu saja, dengan akal cerdiknya, dia berhasil lolos dengan sangat mudah.



"Tunggu aku, Skyla" bisiknya senang



Little Collins at 8. 14 am



Kawasaki kesayangan Skyla terparkir tepat di depan matanya. Gadis itu sudah sampai di kafe favoritnya dengan pandangan yang tak lepas dari alat transportasi itu dan pikirannya dipenuhi dengan lirik lagu yang sedang di putarnya. Makanan sudah dia pesan tapi tak kunjung di antar oleh pegawai mereka.



Aku belum makan dari pagi, sial. Kenapa lama sekali, gumam Skyla kesal.



"Permisi, ini pesanannya, nona" kata sang pegawai seraya memapah nampan berisi secangkir Capuccino dingin dan spaghetti daging lalu meletakkannya di atas meja



Skyla menoleh, "Kenapa kau lama sekali? Tidak tahu aku sudah kelaparan dari tadi?" Ucapnya dingin sambil menatap setengah wajah pegawai itu ketika menaruh pesanannya.



"Maaf, tadi ada sedikit kendala di dapur" balas pria bermata coklat tua itu lalu menunduk tanda permohonan maaf, "Saya permisi" sambungnya sebelum pergi mengantar pesanan lain



Slyla tidak menggubris perkataan pria itu dan langsung melahap makanan itu, perutnya sudah sakit selama perjalanan ke kafe dan sampai di kafe dia harus menunggu lama lagi. Skyla meneguk minumannya berharap perasaannya bisa larut dalam aliran kopi itu.




Bunyi bel yang terpasang di atas pintu masuk, menandakan akan bertambahnya pengunjung yang akan menempati kafe ini selama beberapa menit. Skyla melirik ke depan, sepeda motornya masih terparkir dengan aman di sebelah sedan putih yang tak ia kenal.



Tiga orang pria duduk di sebelah tempat Skyla yang semula kosong tidak ditempati oleh siapapun. Skyla masih tidak peduli dengan itu. Ponselnya berbunyi dan langsung menerima panggilan itu.



"Ya?"



"Aku sedang di jalan, kau ditempat biasa, kan?"



"Iya, apa perlu aku memesan untukmu? Karena aku menunggu cukup lama tadi"



"Oke, tolong toast alpukat, kentang goreng, waffle coklat, secangkir eskrim vanila coklat, dan air mineral"



"Glase, disini aku yang sedang badmood dan kau yang memesan banyak makanan?" Tanya Skyla bingung dengan tingkah sahabatnya



"Diamlah, pesankan saja. Aku sedang menyetir, sampai nanti!"



"Anak ini! Baiklah"


.


Skyla memutuskan panggilan itu dan melambaikan tangan kearah pegawai yang melayaninya tadi. Pria itu menurut, dan langsung mendatangi Skyla dengan mendekap catatan kecil di tangannya. Skyla hanya mengerutkan dahi melihat gerak pria itu.



"Ada yang bisa saya bantu?" Tutur pria itu ramah



"Toast alpukat satu, waffle coklat satu, kentang goreng dua, dua es krim vanila coklat dan air mineral satu"



"Baik, mohon di tunggu"



Skyla tersenyum masam kepada pria itu dan melanjutkan makan pagi yang sempat tertunda. Iris biru laut itu melirik ke kiri, tempat dimana tiga pria itu masuk. Sangat berisik dengan tawa konyol mereka. Skyla memalingkan wajah ketika tau siapa mereka dan berpura-pura memainkan ponselnya seraya meneguk sisa minumannya.



"Kenapa mereka ada disini? Apa mereka juga bolos? Jika aku ketahuan, aku bisa tiada!" Skyla memandang ke arah Kawasaki nya, "Bagaimana jika dia datang dan membuat mereka mengenali kami!"



Dan benar, firasat Skyla sangat tepat. Glassy datang, memarkirkan mobilnya di sebelah sepeda motor Skyla. Gadis itu menekan rem tangan mobil dan keluar dengan wajah yang gembira seraya mengandeng dua buku paket sekolah.



"Sial, dia sedang senang!"


__ADS_1


Kesenangan Glassy sekarang, bisa jadi menjadi malapetaka Skyla. Glassy akan masuk ke kafe dan pasti spontan berteriak memanggil nama Skyla dan membuat orang beralih kepadanya.



Ekspetasi yang sesuai dengan kenyataan. Glassy membuka pintu kafe itu dengan senyum bahagia, Skyla hanya bisa memasang wajah gelisah seraya memejamkan kedua matanya. Glassy melambaikan tangan kearahnya. Dan bibir nya mengeluarkan satu kata yang sangat menggangu telinga orang.



"Skyla!" Ucap gadis itu kuat lalu berjalan kearah Skyla. Sontak semua orang melihat ke arah mereka termasuk ketiga pria itu.



Skyla memukul jidatnya pelan dan meletakkan jari telunjuk nya di depan bibir ranumnya, "shtttt"



Glassy berhenti tepat di depan Skyla, tapi matanya sedang melihat tiga pria yang ada di samping meja Skyla.



"Sky, apa kau juga mengundang si pecundang?" Tanya Glassy dengan polos lalu menempatkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Skyla.



"Glase, berhentilah berbicara yang tidak-tidak!"



Nicholas menghentakkan meja itu dan semakin membuatnya menjadi pusat perhatian. Malu tercetak jelas di wajahnya, iris coklat itu memancarkan kemarahan. Dia mendatangi Glassy dengan angkuh dan menatap tajam wajah polos Glassy. Gadis itu diam tak berkutik.



"Jika kau seorang pria, pasti sudah ku bantai habis" tutur Nicholas tajam



Tidak bisa diam melihat sahabatnya di pojokan oleh pria itu, Skyla berdiri dari duduknya dan mendorong bahu Nicholas. Iris coklat itu bergantian menatap tajam Skyla.



"Apa? Kau ingin membela gadis bodoh ini?" Tanya Nicholas dengan nada tinggi. Para pegawai hanya bisa melihat kejadian itu dan enggan memisahkan mereka



"Siapa yang kau bilang bodoh? Jaga ucapanmu, sialan. Apa kau belum puas dengan satu pukulan dari ku?" Balas Skyla ikut menyombongkan diri



"Kau hanya beruntung!" Nicholas mendorong kedua bahu Skyla dengan kuat sehingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke lantai



"Kau..." Nicholas mendekati Skyla dengan mengepal kedua tangannya dengan geram, "Kau pantas untuk mendapatkan ini!" Ucap Nicholas sebelum tangan kirinya yang mengepal melayang ke arah wajah Skyla



Skyla memejamkan matanya ketakutan. Dia tak bisa melawan karena kepalanya terbentur kaki meja dengan kuat hingga tak bisa terelakkan. Skyla tidak merasakan apapun, padahal dalam hitungan detik pasti satu pukulan itu sudah mengenai wajahnya.



"Dia bukan tandinganmu, jangan sakiti seorang gadis" ucap seorang pegawai itu sambil menahan pukulan dari Nicholas



Dia menghempaskan tangan Nicholas dari wajah Skyla dan mengulurkan tangannya kepada Skyla. Skyla menerimanya dengan ragu. Tangannya begitu besar dan kokoh. Tak sebanding dengan tangan Skyla.



"Te-terima kasih" ucap Skyla pelan seraya menghisap kepalanya yang masih sedikit sakit



"Apa kepalamu baik-baik saja?" Tanya pria itu lembut



"Ya" balas Skyla malu, dengan rasa bersalah Skyla terlah berburuk sangka terhadapnya



"Itu juga sebuah keberuntungan mu, jika tidak sudah ku balas perbuatan mu" sambung Skyla jengkel



Nicholas berdiri dengan menanggung malu lagi, lalu kembali ke meja tempat dia dan kedua temannya duduk. Kemarahan masih terukir di wajahnya. Dan kedua temannya juga tidak ikut membantu atas keinginan Nicholas sendiri.



Glassy berdiri dan mendatangi Skyla, menuntun gadis itu berjalan dan duduk di kursinya semula. Di meja petak disana sudah tersedia makanan yang dia pesan. Pria pegawai itu mendatanginya lagi, kali ini dengan penuh kekhawatiran.



"Silahkan nikmati pesanannya" ucap pria itu seraya tersenyum hangat dan berbalik membelakangi mereka, "Atas semua yang terjadi tadi, saya mohon maaf. Silahkan menikmati hidangan kalian lagi" sambungnya seraya membungkuk dengan rasa bersalah.



Melihat itu, Skyla juga ikut merasa bersalah kepadanya. Pria itu berjalanke dapur melanjutkan pekerjaannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Skyla. Keadaan kafe sudah mulai membaik, bahkan ketiga pria itu diam tidak berkutik. Dia berfikir apakah harus meminta maaf atau tidak. Glassy sang pembuat masalah, dengan santai dia melahap toast alpukat itu.



"Glase! Mengapa kau makan dengan begitu tenang seolah-olah tidak terjadi masalah! Bahkan wajahmu tidak seperti orang yang merasa punya kesalahan" tutur Skyla geram, "Demi apapun, aku menyesal mengundangmu kemari"



Glassy menatap iris biru laut itu tajam, "Diamlah, dan makan saja kentang goreng mu" semprot Glassy kemudian melanjutkan makannya.



"Glase, tapi aku merasa bersalah kepada-"



Suara kursi tergesek lantai terdengar nyaring di telinga Skyla. Nicholas bersama Delano dan Kevin hendak beranjak dari tempat mereka lalu meletakkan beberapa lembar uang dan pergi meninggalkan kafe. Skyla menghembuskan nafas lega, ruangan itu tidak lagi sesak baginya.



Pria pegawai itu berjalan ke arah meja yang semula di tempati Nicholas untuk mengambil beberapa uang sebelum dia kembali ke kasir. Dengan cepat Skyla mengikutinya dari belakang, Glassy melihat itu tapi dia tidak memperdulikannya.



"Aa... Hai" Skyla memukul pelan pundak pria itu hingga dia menoleh ke belakang, "Aku ingin meminta maaf dan berterima kasih padamu" ucap Skyla kemudian tersenyum simpul



"Tak masalah, sudah menjadi tugasku menjaga keamanan kafe ini" balas pria itu



"Sekali lagi terimakasih" kata Skyla seraya sedikit membungkuk kepada lawan yang ada di depannya



"Hei, jangan begitu, para pegunjung sedang melihat ke arah kita. Dan aku harus segera mengantar pesanan lagi, jadi maaf, ya?"



~


~


~


TBC woi hihihi


Penasaran banget pria bermata coklat itu siapaaa😭


Ikutin terus kisah mereka!

__ADS_1


Ilupyu readersku❤️🍭


__ADS_2