
Skyla baru saja keluar dari rumah sakit, dia berdiri di depan rumah sakit sambil membawa koper kecil. Dia memakai Hoodie hitam, celana jeans selutut dan masker pun menutupi hidung dan mulutnya. Skyla melirik jam di ponsel yang sedang ia pegang juga tapi tak ada tanda-tanda orang tua atau Harry yang menjemputnya dari sana.
Skyla mengedarkan pandangannya, lalu lintas kian memadat mengingat Skyla keluar dari rumah sakit pada jam kerja. Taksi atau bis pun penuh dengan orang-orang berjas.
Skyla berdecak kesal, "Ya Tuhan, sampai berapa lama lagi aku harus menunggu?" gumamnya kesal.
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Skyla dan Skyla melihat itu secara terus terang.
Kaca mobil terbuka, "Hai!", sapa Nicholas dari dalam mobil kemudian pria itu turun dari mobil dan menghampiri Skyla yang masih terkejut.
"Ha..hai lagi. Sedang apa kau disini?" tanya Skyla.
Tanpa menjawab pertanyaan Skyla, Nicholas langsung mengangkat koper Skyla dan menaruhnya di bagasi belakang, kemudian membuka pintu mobilnya untuk Skyla.
"Ayo masuk" ajaknya seraya tersenyum.
"Tidak, aku akan duduk di belakang", Skyla hendak membuka pintu belakang mobil tapi tangannya di cegah oleh Nicholas.
"Tidak bisa. Ini mobilku, jadi aku yang menentukan, aku meminta mu untuk duduk di sebelah ku" sanggah Nicholas.
"Oke", Skyla menurut dan gadis itu masuk kedalam mobil disusul oleh Nicholas, "Tapi kau belum menjawab pertanyaan ku tadi", timpal Skyla ketika Nicholas melajukan mobilnya.
"Yang mana?" tanyanya.
Skyla menghela nafas berat, "Sedang apa kau disini?" tanya Skyla spontan.
Nicholas melirik Skyla yang sedang memanyunkan bibirnya ke depan, "Aku... kebetulan sedang lewat di sekitar sini" alibi Nicholas yang terdengar tak meyakinkan.
Skyla menatap iris kiri Nicholas, membuat pria itu gelagapan, "Ada apa?" tanya Nicholas yang mencoba fokus dengan setirnya.
"Semalam juga kau 'kebetulan' lewat disini, apa itu sebuah kebetulan juga?" tanya Skyla balik dan semakin memperdalam tatapannya.
"Semalam itu betulan karena aku ingin membeli buku eh..." Nicholas mengumpat di dalam hati seraya meremas setir mobilnya, "Ya.. hari ini aku ingin menjemput ibu ku di.. di rumah nenekku! Ya..." jawab Nicholas sedikit gugup.
Fla: (wkwk cun nya kalo si ganteng ini gugup)
Skyla masih menatap irisnya, "Hmm.. baiklah" timpal Skyla kemudian duduk seperti semula seraya memainkan ponsel miliknya.
Melihat Skyla sudah tak lagi menginterogasinya, Nicholas menghela nafas lega dan mengelus dadanya.
Sebenarnya dia sengaja membawa mobil dan lewat dari jalan itu, karena dia tahu Skyla akan pulang keluarganya tak akan menjemputnya. Kalian pasti tau dia mendapat informasi itu dari mana. Tentu saja dari si gadis berisik alias Glassy. Pria itu merasa sedikit iba ketika mendengar cerita dari sahabat Skyla. Sebegitu tidak menyangkanya dia bahwa Skyla tidak pernah bahagia dalam keluarganya.
Skyla memandang gedung-gedung tinggi dari balik kaca mobil, tampak terlihat tenang.
"Apa kau tau alamat rumahku?", tanya gadis itu tanpa memalingkan pandangannya.
"Tidak tau", jawab Nicholas.
Setelah jawaban dari Nicholas, keheningan semakin menyelimuti mereka. Nicholas tampak bingung apa yang hendak dia tanya lagi kenapa gadis itu. Sembari mengetuk jari telunjuk di setir nya, sesekali dia melirik ke Skyla yang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Hmm bagaimana jika kita... sarapan? Aku tau restoran terenak di daerah ini", tawar Nicholas.
Skyla menggelengkan kepalanya, "Maaf tapi aku tidak bisa", gadis itu mengalihkan pandangannya ke depan, "aku hanya ingin beristirahat".
__ADS_1
"Ti-tidak masalah, Sky. Maaf sudah memaksamu" timpal Nicholas cemberut.
"Hei, kau tidak memaksaku, baiklah kita aku akan menerima ajakan mu, tentu saja tidak hari ini", ucap Skyla
Wajah pria itu tampak bahagia, dia tersenyum miring. Tinggal beberapa langkah lagi, Skyla akan jadi miliknya. Begitu mudah bukan? Dan tak lama lagi permainan ini akan segera selesai lalu hadiahnya akan diberikan kepadanya. Mudah bukan?
"Sky... jika boleh tau, kenapa kau jadi seperti ini? apa penyebabnya?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Nicholas, tanpa alasan, padahal dia sudah mengetahui penyebab hal ini bisa terjadi.
Raut wajah Skyla menjadi masam, "Bisa tidak jangan menanyakan hal yang tidak perlu? Aku sedang tidak ingin membahas mereka!", jelas ada apa-apa dibalik kekesalan Skyla dan Nicholas menyadarinya sembari tersenyum miring.
"Maafkan aku, Sky", Nicholas bergumam penuh penyesalan. Dia sangat pandai berakting!
"Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah marah tidak jelas padamu", sergah Skyla kemudian dia menarik nafasnya, "Tapi maaf, bisa kau turunkan aku disini?"
Nicholas menginjak rem secara mendadak hingga menimbulkan bunyi, "Sky? Tapi kenapa?", Nicholas menahan pergelangan tangan Skyla, "Maafkan aku jika sudah terlalu ikut campur dalam masalahmu", Nicholas semakin mempererat cengkramannya.
Skyla memutar tangannya, berusaha agar pria itu sedikit mengendorkan tangannya, "Lepaskan aku, ini sakit", rintih Skyla yang tengah menahan air matanya. Sekarang, dia tak bisa membela diri atau hanya sekedar melepaskan rasa sakitnya, seluruh tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih terasa berputar.
Nicholas melepaskan tangannya dari sana, "Maafkan aku, Sky", kata itu terucap lagi untuk yang ketiga kalinya dalam satu waktu ini.
"Cukup, jangan meminta maaf lagi", ketus Skyla sembari membuka pintu mobil dan mengambil koper kecilnya dari bagasi belakang, Nicholas juga ikut turun untuk membatalkan niat Skyla.
"Jangan ikuti aku!" sembur gadis itu penuh amarah.
Skyla berjalan lemas dengan tangan kanan menyeret koper kecilnya. Emosinya tak terkendali sehingga tidak bisa berfikir jernih sepenuhnya. Dia tak bisa membaca situasi, jalanan yang dilewati dirinya sangat sepi, tak satu pun kendaraan melewati jalan itu. Bisa saja bahaya langsung mengancam dirinya yang tak bisa apa-apa saat ini. Ingin kembali kepada Nicholas? Never!
Dengan sangat terpaksa, dia menyeret benda itu dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya sibuk menutupi dahinya dari sinar matahari. Pandangannya mulai berkunang-kunang, semakin dia melangkahkan kaki semakin buram juga pandangannya. Kopernya terlepas dari genggamannya, mengguling sendiri dengan rodanya ingin sekali mengejar itu tapi....
Tubuh mungilnya terjatuh ke aspal yang panas dan ponselnya terlempar di dekatnya. Tak sanggup lagi menahan beban yang dia pikul tapi tak seorangpun bisa menolongnya saat ini. Sinar matahari menjadi saksi untuk kejadian yang tak terduga itu. Rasa panas dari pantulan matahari yang terkena kulitnya pun tak bisa dia rasakan lagi.
Skyla yang tengah berbaring di atas kasur, perlahan menyipitkan mata karena silaunya cahaya lampu mengenai tepat di atas bola matanya. Sayup-sayup terdengar suara dari balik ruangan yang sangat familiar baginya, dia menoleh kanan dan kiri dengan hati-hati. Dan benar saja, ini adalah ruangan pasien yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit lalu.
Sama seperti sebelumnya, Skyla berada di ruangan besar itu sendirian, sampai akhirnya seorang pria masuk dari balik pintu. Tidak, dia tidak mengenalinya dan tak pernah bertemu dengannya. Tapi kenapa dia berani masuk ke dalam ruang Skyla?
"Si-siapa kau?", tanya Skyla yang langsung menginterogasinya.
Pria itu menatap Skyla dingin, "Dasar tidak tau berterimakasih", jawabnya seraya menghampiri gadis yang tengah menatapnya.
Skyla mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu?!", sergah Skyla tak terima.
__ADS_1
Pria itu berdiri di samping kasur Skyla dengan tangan yang di selipkan ke kantong celana panjangnya, "Dengar Nona, jika bukan karena aku kau pasti sudah dijual di pasar gelap".
"A-aku masih tidak mengerti apa yang kau maksud!", ucap gadis itu kemudian.
Pria itu menggeleng dan pergi dari hadapan Skyla yang kebingungan karena terdapat banyak pertanyaan di kepalanya. Benar-benar pria berhati dingin, tatapannya saja sudah membuat Skyla sedikit menciut saat itu tapi dengan sekuat tenaga dia hilangkan cepat-cepat rada gemetar di tangannya.
Skyla menghembuskan nafas sambil mengusap dadanya berharap dia tak pernah bertemu dengan pria kulkas itu.
Skyla meraih ponselnya dan mengetik nomor Glassy, "Glass, bisa tidak kau menjemput ku?", Skyla melirik jam di dinding, "Tanyakan juga pada dokter apa aku boleh pulang hari ini", sambung Skyla dengan sedikit khawatir.
"*Sky?! Tapi... tadi Nicholas bilang dia sedang bersamamu dalam perjalan pulang*", Tanya Glassy dari telepon.
"Kau tak perlu tau, Glase."
"*Tapi Sky*..."
"Glase!", Skyla menghela nafas, "Tolong jangan tanyakan apa-apa dulu padaku"
"*Ok... Maafkan aku, Sky*"
"Tidak apa, Nona"
~
~
~
__ADS_1