ReBeLove

ReBeLove
Chapter 17 : Feel


__ADS_3

Glassy menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia merasa heran dan sedikit cemas. Kenapa tiba-tiba Skyla memintanya untuk menjemputnya dari rumah sakit? Yang dia tau pasti ada masalah dibalik ini semua. Glassy meraih kunci mobil dari meja dan bergegas menjemput sahabatnya itu.


Sesampai dirumah sakit, Glassy jalan dengan terburu-buru melewati setiap lorong hingga menimbulkan bunyi dari suara high heels cream yang dia pakai. Semua pandangan sampai tertuju padanya. Sesekali gadis itu memohon maaf atas keributan yang dia buat kepada para pasien maupun perawat.


Glassy membuka pintu itu dengan cepat, dia melihat Skyla tengah mengotak-atik ponsel miliknya seraya mengunyah sebuah apel yang dia dapat dari meja.


"Sky? Kau baik-baik saja,kan?", tanya Glassy yang masih memburu oksigen di sekitarnya.


"Aku baik"


"Bukankah seharusnya kau pulang hari ini? Tapi kenapa...?"


Skyla menatap gadis itu, "Jangan berlagak seolah kau bukan pelakunya Glase".


"A-apa maksudmu?", timpal Glassy yang kelihatan linglung.


"Aku tau apa yang kau sembunyikan Glase"


Glassy kelihatan mulai panik saat Skyla semakin menatapnya, "T-ta-tapi aku bisa... aku bisa jelaskan Sky".


"Cukup!", bentak Skyla sambil memukul kasurnya, "Kenapa tidak kau ceritakan 'dongeng' ku kepada semua orang saja? Atau kau mau bekerja sebagai reporter yang menayangkan berita tentang kehidupanku?", kekesalan Skyla semakin membara.


"Apa kau merasa kasihan padaku?", sambung Skyla.


"Tidak Sky, dengarkan aku dulu"


"Bahkan aku belum mengenal pria itu dengan baik", Skyla menghela nafas berat hingga membuat bulu kuduk Glassy sedikit merinding, "Kalian semua gila, aku serius. Pulanglah Glase", ucap Skyla dengan nada mengusir, jelas terasa sakit hatinya.


"Tapi tadi kau yang menyuruhku untuk menjemputmu...", tutur Glassy seraya menundukkan kepalanya.


"Ya terimakasih dan sekarang aku menyuruhmu pulang"


"Hanya karena hal itu kau mengusirku Sky?"

__ADS_1


"Hei, 'Hanya karena hal itu?' kau bilang? Astaga! Dimana kau meletakkan pikiranmu Glase?! Itu masalah ku sekaligus rahasia ku, kenapa dengan seenak hati kau menceritakannya kepada orang lain?! Aku memberitahumu karena aku percaya padamu!", sanggah Skyla dengan nada tinggi. Sontak membuat Glassy mundur kemudian mulai meneteskan air matanya.


Glassy mengusap air matanya dan melangkah pergi dari hadapan Skyla yang masih tertegun diatas tempat tidur.


"Sialan!", umpat Skyla.


Disisi lain, Glassy berjalan cepat seraya mengusap air matanya. Kali ini, amarah Skyla terasa sakit dihatinya. Bukankah itu terlalu berlebihan? Mengingat Glassy hanya menceritakan itu kepada kakak kelasnya. Dadanya sesak, jantungnya seperti mendesak ingin keluar, dia tak tau harus apa sekarang dan hendak kemana setelah ini.


Glassy berjalan ke taman yang berada di belakang rumah sakit, sepi tak ada orang disana. Dia duduk dan mulai termenung disana ditemani dengan angin yang membawa daun-daun kering berwarna coklat tua. Suasana itu semakin membuat Glassy tak lagi sadar akan sekitarnya.


"Hei?", seorang pria muncul dan melambaikan tangannya dihadapan Glassy, dia berfikir gadis itu sudah gila.


Glassy tergelonjak kaget tapi dia masih berusaha tenang saat itu, "Ya Tuhan", gumamnya.


Pria itu menyodorkan sebotol air mineral, "Air?", tawarnya kemudian.


Glassy menggeleng tanda tak terima.


...~~~...


Dengan setelan jas serta rok span yang membaluti kaki panjangnya, Bella berjalan menuju kantor Direktur utama. Pandangan serta sapaan sopan pegawai bersahut-sahutan kala mereka bertemu dengannya. Masih menjadi tanda tanya, kenapa dia masih kelihatan muda padahal sudah berumur kepala 5 tapi dia terlihat seperti anak gadis yang berusia 20 tahunan. Sekali lagi, dia terlihat seperti gadis 20 tahunan sampai-sampai pandangan para pria tak bisa lepas darinya.


Skyla dikaruniai fisik yang mirip dengan Ibunya, itu aneh karena kebanyakan anak perempuan mengikuti gen Ayah mereka. Tak jarang pula Skyla mendapat pengakuan cinta sejak dia masih duduk di sekolah dasar. Apa itu cinta? Masih sekolah saja sudah cinta-cintaan!


Fla: (Aku anjurkan jangan bersumpah, yang aneh-aneh jika tidak kau akan kemakan omonganmu sendiri!)


Bella menggeser pintu dengan hati-hati, bahkan pintunya saja merupakan pintu yang antik! Sangat disesuaikan dengan selera orang tua. Ya, kakek Skyla duduk disana, masih mengenakan jas hitam dan tengah membolak-balik beberapa dokumen.


"Selamat pagi, Ayah", sapa Bella membuat pemilik marga Gilbert itu menoleh.


Sam mengangguk, dan mempersilahkan menantunya duduk.


Masih dengan pandangan yang belum lepas dari dokumen, Sam membuka pembicaraan, "Sejak kapan kalian kembali kesini?", celetuk Sam dan Bella membelalakkan matanya, sudah begitu lama kah mereka tidak kembali ke kampung sendiri sehingga Ayah mertuanya menanyakan hal itu?

__ADS_1


"Belum lama ini Ayah, kebetulan Delbert sedang ambil cuti"


Sam berhenti dari kegiatannya, "Aku dengar Delbert telah melukai cucuku...? Benarkah?", tanya Sam.


Bella kaget tak karuan mendengar pertanyaan dari Ayah mertuanya, bagaimana dia bisa mengetahuinya, "Ba-bagaimana Ayah mengetahui itu?", tanya Bella tampak terlihat gugup.


Sam menatap dingin iris hazel itu kemudian membanting dokumen yang dia pegang tepat di depan Bella sampai menggema ke luar dan membuat Bella kaget, "Sudah berapa kali saya bilang? SUDAH BERAPA KALI?!", Sam beranjak dari kursinya, "Kenapa kalian masih pulang ke sini? Bagaimana bisa kalian meninggalkan pekerjaan kalian disana?"


Bella hanya diam tak berkutik mendengar ocehan dari Ayah mertuanya, "Ayah tidak menghawatirkan Skyla?".


Sam menggeleng, "Untuk apa aku mengkhawatirkan dia? Aku tidak perlu cucu perempuan, kenapa kau sampai melahirkan dia?", jelas Sam, "Tak perlu aku mengulanginya lagi, sekarang letak berkas itu, kemudian keluar dan kembali ke Amerika Utara, jalankan kembali perusahaan ku".


(Fla: Lihat, bagaimana keluarganya membencinya?)


"Baik, Ayah", balas Bella sambil menyerahkan berkas yang dimaksud dan bergegas pergi dari ruangan yang mencengkam itu.


Resepsionis melirik ke arah Bella kala wanita itu menutup pintu antik milik Ayah tirinya kemudian menunduk ketika Bella menatap tajam gadis itu. Ya, sebentar lagi dia akan menjadi bulan-bulanan para karyawan disana. Hahh.. bergosip tentang wanita tua muda, bukankah itu hanya iri semata atau mereka merasa kasihan kepada putri sulungnya?


Ntah kenapa hati Bella seperti tertusuk duri, bagaimana bisa kakek kandung anaknya berkata demikian? Bukankah terlalu tidak punya hati? Atau hanya sekedar punya hati tapi tidak dengan perasaan? Memikirkan tentang bagaimana anak perempuannya tumbuh tanpa sekalipun disentuh olehnya selama bertahun-tahun. Dia tidak bisa memilih antara suami dan pekerjaan atau anak yang dia sayangi. Sama sekali tidak. Dia hanya berfikir harus memilih pekerjaan agar anak-anaknya bisa hidup dengan nyaman dan tercukupi.


Bella membuka pintu mobil yang baru saja berhenti di depannya, "Kita ke rumah sakit", ucap Bella dan supir pribadinya mengangguk paham.


~


~


~


TBCಠ︵ಠ


Readers : Thor cepat update dong! ntar kalo gantung kita gatau jalan ceritanya!!


Fla : Iya beb, Fla usahain rajin up, Fla juga lagi sibuk buat kuliah huhu maafin ya. Tapi Fla harap kalian tetap bakal stay disini! ILuvU(◕દ◕)

__ADS_1


__ADS_2