
Suara gebrakan pintu berhasil mengheningkan suasana, salah seorang prajurit mendekati pria penuh luka di wajahnya tersebut dengan ekspresi panik.
“.......”.
“APA??”.
“Ada apa? Kenapa berteriak?”.
“Tuan, tahanan kita berhasil melarikan diri bersamaan dengan istana selir dibobol dengan mudah. Semua selir anda menghilang”.
Bagaikan disambar petir siang bolong, wajah Thomas memucat sedetik kemudian berubah garang menatap gadis yang sejak tadi hanya berdiri dengan tenang.
“Kenapa kau melakukan itu, Freya Grizelle!! Bukankah kita sama-sama untung bahkan seharusnya Imperial Palace berterima kasih pada kami”.
Freya menatap tajam Thomas.
“Sejauh ini aku sama sekali belum menemukan keuntungan dari tindakan kalian. Jika bisa hancur kenapa harus dipertahankan”.
“Kau....”.
“Sir Thomas, tindakan anda sudah keterlaluan bahkan anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang. Menculik dan menjual manusia adalah tindakan kriminal, hukumannya sangatlah mengerikan bahkan saya yakin anda juga sudah tau”.
“Awalnya hukuman untuk anda tidak lebih dari kurungan selama 10 tahun tapi karna ketidaksopanan anda yang bahkan berani melantangkan nama seorang Kaisar tepat di hadapannya maka hukuman anda berubah menjadi kurungan seumur hidup”.
Tanpa siapapun sadari Thomas sudah mengepalkan tangan kuat terbukti dengan darah yang mengalir dari sela-sela jarinya.
“Kau bertanya kenapa melakukan semua ini? Karna aku tau bahwa menangkap anak dan istrimu tidak akan mempengaruhi apapun mengingat kau sama sekali tidak memperdulikan mereka. Hanya mementingkan harta dan hawa nafsu”.
“Kekayaan yang kau dapat hasil dari pelelangan manusia ini sama saja dengan milikku, bukan? Kau hanya menumpang hidup tapi lupa berterima kasih. Sebagai Kaisar yang memiliki wewenang tertinggi maka kuputuskan mulai sekarang Pulau Bulan menjadi bagian dari Imperial Palace!!!”.
Seruan lantang Freya berhasil membuat Thomas mencapai puncak amarahnya. Secepat kilat pria itu merebut pedang dari salah seorang prajurit kemudian berlari mendekati Freya, berteriak mengayunkan pedangnya hingga suara dentingan terdengar keras.
Suasana hening seketika.
Freya? Gadis itu sama sekali tidak bergerak satu centi pun, kondisinya masih sama hanya saja di hadapannya saat ini adalah sosok Chaiden berdiri menghadang pedang Thomas menggunakan besi pelindung tangannya.
__ADS_1
“Kau...”.
“Berani sekali kau menyerang, Yang Mulia”. Suara yang penuh penakanan dengan hawa dingin menyebar kesegala arah.
“Siapa kau... Jangan ikut campur, dasar kesatria rendahan”.
“Kalau aku jadi kau maka mulutku akan berhati-hati dalam bicara”. Kekeh Freya sedetik kemudian Chaiden mengayunkan pedangnya menghabisi setiap musuh tanpa terkecuali.
Saat Chaiden bergerak maka prajurit lainnya juga beraksi. Baku hantam dan dentingan benda tajam menjadi alunan musik horor, siapapun pasti tidak akan berani mendengarkannya.
Hingga dua jam kemudian perangpun berakhir dan Pulau Bulan kini berada di bawah kepemimpinan Freya Grizelle.
Semua orang bersorak senang, melempar semua antribut mereka layaknya mahasiswa yang melempar toga setelah berhasil wisuda.
Malam harinya Istana Pulau Bulan menjadi lokasi pesta para prajurit. Mereka mengadakan pesta makan-makan sepuasnya bahkan rakyat Asli Pulau Bulan pun ikut merayakan kebebasan mereka. Semua tertawa bahagia kecuali Freya yang terduduk lemas dengan wajah pucat di bawah pohon besar tidak jauh dari istana.
“Astaga sungguh menakutkan. Kupikir nyawaku akan berakhir di sini”. Ocehnya tak karuan.
Sebenarnya sejak langkah awal memasuki lokasi, Freya sudah gila karna stress bercampur takut. Perempuan mana yang tidak panik saat memikul tanggung jawab besar seperti itu. Banyak nyawa berada di genggamannya salah bertindak maka nyawa melayang.
“Aku mau pulang”. Rengeknya sembari duduk memeluk kedua lututnya.
“Di sini sangat menakutkan, lututku bahkan tak sanggup lagi untuk berdiri”.
“Maka saya akan menggendong anda, Yang Mulia”. Seru sebuah suara membuat Freya sontak menoleh ke belakang.
“Chaiden?”.
“Saya mencari anda kemana-mana, ternyata di sini”. Balasnya mendudukan diri tepat di depan Freya.
“A. Apa yang kau lakukan di sini?”.
“Saya tidak menemukan anda di sana, jadi tanpa sadar saya berkeliling istana mencari-cari”.
“Kenapa? Seharusnya kau menikmati pesta”.
__ADS_1
“Jika anda tidak berada di sana maka pesta itu bukanlah apa-apa”.
Oh ****. Lagi-lagi Freya luluh dengan kalimat manis pria tampan. Saatnya untuk mengendalikan diri karna saat ini freya ingin berhambur memeluk dan mencubit gemas pipi berahang tegas itu.
“Yang Mulia”.
“Hm?”.
Tiba-tiba Chaiden membungkuk dalam dengan satu tangan menyentuh dadanya, Freya yang terkejut hanya bisa diam menunggu.
“Terima kasih telah memungut budak ini dan memperlakukannya dengan baik. Tidak pernah sekalipun saya menyesali bisa mendapatkan peran sebagai selir anda, justru saya sangat berterima kasih karna bisa selalu di sisi anda”.
“Terima kasih juga telah memberikan pekerjaan pada saya. Saya berjanji akan menjadi pria yang berguna, namun izinkan saya menjadi kesatria pelindung anda, Yang Mulia”.
“Kesatria pelindung?”.
“Saya ingin melindungi Yang Mulia yang sangat berharga bagi saya. Menjadi pemimpin kesatria tidaklah berarti jika saya tidak bisa melindungi orang yang saya cintai dengan benar, dengan berada di sisi anda membuat rasa cemas saya bisa hidup dengan tenang”.
“A, apa kau yakin?”.
“Kupertaruhkan seluruh jiwa dan raga untuk anda Yang Mulia”. Balas Chaiden sembari mengecup punggung tangan Freya.
Lama Freya terdiam sebelun menganggukan kepal.
“Baiklah. Mulai sekarang kau adalah kesatria pribadiku, aku akan mengirimkan surat pada Elvis besok”.
Udara segar langsung memenuhi paru-paru Chaiden setelah mendapatkan persetujuan tersebut. Bunga-bunga bermekaran diperutnya bahkan jantung itu berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Terima kasih telah mengabulkan permohonan saya Yang Mulia. Saya bersumpah akan melindungi anda dan tidak akan ada yang berani melukai anda selama saya masih hidup”.
Freya tersenyum senang mendengar kesungguhan dari nada suara Chaiden, bahkan dia tidak meyadari bahwa saat ini ekspresi yang ditampilkan sayangatlah imut. Mata berbinar dan rona merah muda memenuhi pipi hingga telinga.
Setelah berbincang lama mereka memutuskan untuk bergabung dengan prajurit lain, menikmati pesta kemenangan bersama. Freya bahkan melupakan kecemasannya tadi, bagaimanapun juga takdir sudah menentukan dan mau tidak mau dirinya harus bisa menyesuaikan diri dengan baik. Berusaha untuk mengubah alur cerita menghentikan dirinya terbunuh sia-sia sesuai dengan cerita dalam novel yang nyaris setiap hari ia baca.
Posisinya saat ini memang sulit karna hidup sebagai ratu kekaisaran dengan segudang masalah tapi Freya yakin ia bisa melalui itu semua. Karna di dunia ini ia tidak sendiri, setidaknya masih ada orang yang peduli dan perhatian tentang dirinya dan semua itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
Sesuai rencana, Freya hanya perlu mengubah sedikit alur. Menjodohkan dua tokoh utama hingga mereka bisa menikah dan hidup dengan bahagia, dan si tokoh antagonis secara perlahan mundur dan memulai hidup baru sendiri. Ya rencana yang bagus.