
Malam hari tepat dimana pesta ulang tahun Freya Grizelle diadakan, ruangan mulai dipenuhi oleh para tamu berserta jajarannya. Para pelayan sibuk melayani mereka sebaik mungkin bahkan si tua Morgan tampak lihai padahal usianya lebih dari setengah abad.
Hal yang berbeda kali ini adalah kehadiran tamu yang bukan hanya dari kalangan bangsawan namun juga masyarakat biasa, ya semua adalah ide Freya tentunya. Tidak mau membedakan kasta dihari bahagianya tersebut.
Meja panjang di sisi ruangan sudah penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman, kerja keras para koki kerajaan tidak bisa dianggap remeh tentunya. Buktinya sejak tadi para tamu sudah tidak sabar untuk segera mencicipi hidangan tersebut.
“Her Royal Highness Freya Grizelle memasuki ruangan!!”. Prajurit mengumandangkan kedatangan sang tuan rumah.
Sontak saja semua orang berbaris rapi membungkuk dalam saat gadis cantik masuk mengenakan stelan resmi kerajaan bersama beberapa kesatria mengikuti dari belakang.
Seketika ruangan dipenuhi oleh pesona seorang Freya Grizelle, baik pria maupun wanita terpana akan keindahan ciptaan tuhan tersebut. Salah satu kebanggan bagi mereka memiliki kaisar cantik dan mempesona.
Sesaat sampai di singasana Freya mulai memulai acara..
“Terima kasih kepada para tamu yang terhormat telah hadir di acara ulang tahun saya ini, semoga kalian menikmatinya karena kita semua sama tanpa memandang gelar atau pangkat apapun”. Seru Freya langsung disambut sorakan bahagia sebagai awal pembukaan acara.
Seutas senyuman terukir di wajah Freya melihat ekspresi senang rakyatnya. Biasanya pesta seperti ini hanya di hadiri oleh kalangan atas namun kali ini semua dapat menikmatinya.
Bahkan Elvis tidak kalah senang karena para gadis membawanya pergi, Freya menggeleng pasrah membayangkan betapa mengenaskan nasib Elvis nanti jika ketahuan oleh kekasihnya.
Selama satu jam Freya hanya diam menonton, entah kenapa rasa bosan menggerogotinya. Padahal sejak tadi pria bangsawan berniat untuk mengajaknya berdansa namun tidak berani mendekat melihat wajah datar tersebut.
“Yang mulia”. Sapa seseorang mengalihkan pandanganya.
“Morgan”.
“Itu, saya ingin melaporkan bahwa-“.
“His Royal Highnes Arthur memasuki ruangan!!”. Potong kesatria yang bertugas menjaga pintu depan.
Seketika semua orang termasuk Freya tertegun menoleh ke satu titik fokus yang sama. Jantung mulai berdebar kencang sesaat setelah seorang pria masuk dengan gagahnya. Mata bulat itu membulat sempurna bahkan mulutnya menganga saking kagetnya.
Di sana, Arthur datang menyebarkan aura positif bagi semua orang. Mata elang itu menatap tepat ke arah Freya yang duduk di singasananya, menyebabkan kedua ujung bibirnya tertarik ke atas.
“Arthur”.
Perlahan tapi pasti Arthur melangkah mendekat, satu langkah kakinya dibalas dua kali debaran jantung Freya. Bahkan wajah cantik tersebut mulai merona.
Perasaan senang bercampur lega timbul dihati Freya, pasalnya pria itu berhasil kembali dari medan perang tanpa cacat sedikitpun. Tidak ada aroma darah melainkan tercium saat jarak mereka hanya berkisar sepuluh kaki.
Arthur membungkuk dalam sembari mencium punggung tangan Freya.
“Selamat ulang tahun mawar kecilku”.
“Arthur”.
__ADS_1
“Maaf karena tidak memberikan pemberitahuan, aku hanya ingin memberikan kejutan kecil”. Gumamnya bangga membuat rona merah bersarang pada pipi Freya.
“S, Selamat datang, senang melihat kau baik-baik saja”.
“Ohoo apakah aku membuatmu khawatir? Terima kasih aku sangat senang”.
“B, bukan begitu-“.
Belum sempat Freya menyelesaikan kalimatnya, ia sudah berada di dalam dekapan Arthur. Tubuh mungilnya tertutupi oleh besarnya tubuh Arthur, aksi mereka mendapatkan sorakan antusias semua orang.
“A, Apa yang kau lakukan. Semua orang melihat”.
“Memangnya kenapa? Memeluk calon istri sendiri bukanlah suatu kesalahan kan?”.
Freya merengut kesal karena kalah debat, namun dari dalam hati dirinya sangat nyaman dipeluk seperti itu.
“Terima kasih”. Ucap Freya membenamkan wajahnya di dada Arthur.
“Hm?”.
“Terima kasih telah kembali- terima kasih untuk tetap hidup”.
Kalimat sederhana namun berhasil menimbulkan kehangatan bagi Arthur. Senang karna rasa rindunya selama ini terbalaskan, jujur saja Arthur belum pernah seperti ini pada seorang wanita apalagi Freya. Dan itu bukanlah suatu hal yang buruk.
Baik Freya maupun Arthur mulai merasakan perasaan yang sama, mereka menikmati pesta dengan berdansa bersama diikuti oleh pasangan lainnya, membuat suasana semakin meriah.
“Akhirnya sampai juga”. Gumamnya sembari melangkah masuk.
Di lain sisi Freya dan Arthur istirahat di balkon, menikmati taburan bintang yang disinari bulan purnama nan indah. Angin malam bertiup membuat Arthur memakaikan jasnya pada Freya.
“Aku tidak menyangka kau akan kembali lebih cepat, seharusnya tinggal dua bulan lagi kan?”.
“Entahlah, aku juga tidak mempercayainya. Semua selesai lebih cepat, mungkin karna kami berhasil menemukan titik lemah mereka”.
Walaupun bingung Freya tetap mengangguk.
“Syukurlah kalau begitu, jujur saja Ray sudah merengek merindukan ayahnya”.
“Benarkah? Hanya Ray saja?”.
Freya menoleh “Apanya”.
Arthur menatap Freya intens bahkan jarak mereka semakin dekat. Tangannya meraih dagu Freya mempersempit jarak mereka.
“Apa hanya Ray yang merindukanku?”.
__ADS_1
Seketika Freya kehabisan kata-kata, merutuki mulut bodohnya yang berkoar seenak jidatnya.
“Aku sangat sedih jika memang benar hanya Ray yang merindukanku. Padahal selama berperang aku hanya memikirkan calon ibunya”.
Blush~
Sayang sekali Freya tidak bisa menahan rasa malu, hati kecilnya tersentuh menyebabkan sensai aneh datang begitu saja. Mengakibatkan dirinya menjadi salah tingkah.
“Aku itu- anu”.
“Hm? Aku tidak mendengarnya, suara anda terlalu pelan”. Dengan sengaja Arthur mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
“Aku juga- merindukan anda”. Gumamnya sepelan mungkin hingga-
Cup!
Sepersekian detik bibir mereka bersatu, Freya terbalak kaget bahkan jantungnya nyaris copot. Arthur menciumnya. Tidak sampai disitu saja, pria itu mulai bermain dengan ******* lembut bibir yang menurutnya terasa sangat manis.
Lima menit hingga tautan itu terpisah. Arthur terkekeh melihat Freya mematung dengan wajah merah padam, bibirnya yang merah menjadi semakin merona karena perbuatannya.
“Maaf tapi saya terlalu senang mendengar ucapan anda”.
Tidak ada respon. Freya masih mematung tak berkedip membuat Arthur kembali menggodanya dengan beberapa kali kecupan di wajah.
“Hentikan”.
“Ahh sudah sadar ternyata”.
“Apa yang kau lakukan, kenapa tiba-tiba-“.
“Aku tidak menyangka kau akan semerah ini, apa bisa lebih merah lagi jika saya menciumi bagian yang lainnya”.
“Apa sih dasar mesum!!”. Freya kesal sembari memukul lengan Arthur.
“Aww sakit sayang, tega sekali pada suami sendiri”.
“Jangan lakukan lagi, bagaimana jika dilihat orang lain”.
“Jadi kalau tidak ada orang anda tidak keberatan?”.
Skak mat.
Freya tersudut dan dengan kesal menendang Arthur tepat di tulang keringnya sebelum berlalu pergi.
“Akhhh sakit, mau kemana- aduhhh”.
__ADS_1
“Toilet!!!”.
Pria itu kesakitan namun bibirnya masih sempat mengeluarkan senyuman karna menganggap bahwa saat ini Freya terlihat sangat manis dan menggemaskan. Bahkan tendangan mautnya juga tidak kalah imut.