
Hari dimana kedatangan Arthur ke istana telah tiba. Kereta kuda berhenti tepat di depan istana, tak lama kemudian pintu kereta terbuka senada dengan kaki panjang mengenakan sepatu kulit mahal turun dengan mulus.
Arthur mendongak saat menyadari bahwa Freya sudah berada di atas tangga, gadis itu merona melihat Arthur mendekat dengan senyuman di wajahnya.
Ayolah siapa yang tidak terpesona melihat betapa indahnya senyuman dari pria tampan seperti Arthur? secepat mungkin Freya menyadarkan dirinya sebelum terlanjur kena serangan jantung. Ingatkan dirinya untuk menjauhkan aura sexy Arthur darinya, amat sangat tidak baik untuk kesehatan.
Tak lama kemudian dari belakang sepasang kaki kecil melompat dari kereta sedetik kemudian berlari menaiki tangga.
" Ibuuuu". Begitulah teriakan itu terdengar satu detik setelah tubuhnya berhambur memeluk Freya.
"Berbahaya lari seperti itu, Ray".
Ray hanya menampilkan senyuman manisnya membuat Freya menggeleng pasrah.
Sret..
"Oi setan kecil, bukankah aku sudah melarangmu bermanja seperti itu". Gumam Arthur sembari mengangkat tubuh mungil itu dengan menarik kerah belakang bajunya.
"Aku tau, ayah. Tapi ibu mengizinkanku kok, cepat turunkan aku".
Arthur berdecik kesal menurunkan Ray yang kembali mendekap Freya erat.
'Ibu? Sejak kapan mereka akrab?'. Batin Arthur kesal.
"Masuklah, pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk kalian". Ucap Freya memecahkan keheningan.
"Tidak perlu, aku hanya mengantarkan dia. Aku harus segera pergi".
"Eh? Kemana?".
"Selama tiga bulan kedepan kami harus pergi berperang ke negara tetangga, aku titip Ray bersamamu karena dia menangis ingin bertemu".
"Aku tidak menangis!!".
"Baiklah aku ralat, lebih tepatnya merengek untuk tinggal bersamamu".
"Hey!!".
__ADS_1
Arthur tidak memperdulikan kalimat tidak terima Ray dan memilih mendekati gadis cantik tersebut, tanpa siapapun sadari Arthur mendaratkan kecupan di pipi Freya.
Seketika suasana berubah hening, baik Ray sampai para pelayan yang melihat kejadian tersebut tak sanggup bersuara. Terlalu syok untuk sekedar berteriak kaget.
Jika Freya terbelalak mematung lain halnya dengan Arthur yang terkekeh melihat reaksi lucu tersebut. Baginya melihat respon polos seorang Freya Grizelle menjadi hobi barunya dan akan berubah menjadi favorit.
"Aku pergi, jaga ANAK KITA dengan baik". Bisik nya sebelum meninggalkan Freya yang masih terdiam dengan wajah merona.
Setelah kereta kuda Arthur menghilang barulah Freya sadar dan dengan kecepatan penuh berlari masuk dengan Ray di gendongannya.
-o0o-
Saat makan malam selesai, waktunya tidur. Freya dan Ray tidur bersama di atas ranjang kingsize tersebut. Setelah memastikan malaikat tampan itu tertidur perlahan Freya bangkit lalu melangkah keluar kamar.
Freya membuang nafas berat karena kelelahan sebab Ray sangat aktif bermain kesana-kemari padahal saat pertemuan pertama mereka Ray terlihat pemalu dan introvert. Walaupun demikian Freya merasa senang karena dapat melihat wajah bahagianya.
"Yang Mulia?".
"Morgan".
"Ada apa, kenapa anda belum tidur?".
"Baik Yang Mulia".
Freya memasuki ruang kerjanya dan langsung duduk di beranda. Pemandangan dari sini begitu indah karena menghubungkan langsung dengan taman istana lengkap dengan kolam ikan hias berbentuk sungai. bahkan ada jembatan kecil di sana.
"Sudah beberapa hari sejak aku berada di dimensi ini, sampai sekarang belum satupun petunjuk untuk kembali". Ekspresi sedih tampak jelas di wajah Freya.
"Jujur saja aku sangat merindukan kehidupan ku yang dulu, setidaknya aku tidak perlu memikirkan masalah politik atau ikut perang. Haaa bagaimana kabar Denada sekarang? Apa dia baik-baik saja?".
"Yang Mulia". Freya menoleh saat seseorang menyapanya.
" Chaiden?".
"Apa anda baik-baik saja? Wajah anda pucat tidak seperti biasanya. Aku akan memanggilkan dokter".
"Aku tidak apa-apa, sudah selesai latihan?".
Chaiden mengangguk. "Sudah hanya saja semua orang mulai heboh karena kedatangan tuan muda".
__ADS_1
"Ray? Tidak aneh lagi bukankah sampai sekarang tidak ada yang menyangka jika baginda mereka membawa seorang anak. terlebih lagi wajah mereka sangat mirip tanpa manipulasi apapun".
"Jika anda tidak nyaman saya akan menghentikan mereka".
" Tidak perlu. Mereka akan diam juga nantinya, biarkan saja".
"Baik Yang Mulia".
Tidak lama kemudian Morgan datang langsung menyajikan teh ke atas meja. Pria paruh baya tersebut tampak masih kuat bahkan punggung tegapnya membuat salut padahal tahun ini Morgan memasuki usia 88 tahun.
"Morgan, aku penasaran apa kau tidak berniat untuk pensiun?".
"Saya?".
"Iya. Bukankah kau sudah terlalu tua untuk jadi kepala pelayan, kalau mau aku dengan senang hati mengeluarkan surat pensiun beserta gaji tahunan mu".
"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia untuk orang rendah seperti saya. Tapi, sampai saat ini saya tidak berniat untuk pensiun karena bagi saya keluarga kerajaan adalah nomor satu. Saya bekerja bukan semata-mata untuk uang tapi sejak pertama kali Baginda terdahulu memperkerjakan saya di sini, Imperial Palace sudah menjadi keluarga yang harus saya lindungi".
Freya tersenyum senang melihat betapa tegas dan setianya Morgan, padahal dirinya hanya ingin pria tua itu istirahat saja. Selain telaten, Morgan juga pintar bahkan dia sering membantu Freya saat kewalahan bergelut dengan kertas-kertas tersebut.
"Baiklah. Lakukan apa yang kau inginkan, terima kasih".
Kalimat akhir Freya berhasil membuat pria tua itu tersentak namun sedetik kemudian tersenyum lembut. Baginya ini pertama kali Freya berterima kasih padanya, seketika Morgan menjadi emosional.
"Semoga Imperial Palace mencapai kejayaan abadi".
-o0o-
Seminggu kemudian masyarakat mulai memenuhi lapangan tepi hutan karena hari ini semua bangsawan berkumpul dalam rangka Hari Berburu Nasional.
Puluhan tenda sudah berdiri kokoh bahkan beberapa prajurit sibuk merawat kuda yang akan dinaiki nantinya.
Acara ini diadakan sekali setahun dan sudah menjadi rutinitas favorit. Bagaimana tidak, barang siapa yang bisa berburu hewan buas dia akan menang dan semakin buas maka semakin hebatlah dia.
Terakhir kali rekor dipegang oleh Arthur karena berhasil menangkap beruang dengan tinggi sepuluh kaki. Karena Arthur tidak bisa datang maka semua bangsawan mulai bersemangat merebut rekor tertinggi tersebut.
Semua orang berkumpul tidak jauh dari tenda idolanya, tidak terkecuali tenda merah berukuran besar dimana itu adalah tenda milik Freya. Kenapa? Alasannya masih sama karena ini pertama kalinya gadis itu ikut berburu padahal selama ini jangankan menggunakan panah memegang saja tidak pernah.
Tidak lama kemudian suara terompet terdengar menandakan rombongan Imperial Palace telah datang. Sontak saja mereka membuat barisan rapi memanjang menuju tenda.
__ADS_1
Tanpa siapapun sadari dari kejauhan bersembunyi dibalik pohon rindang, bayangan hitam mengintai dengan hawa dingin yang menyeramkan. Sepasang mata terfokuskan pada keramaian menanti target datang. Benda silver perlahan keluar dari sarungnya sesaat setelah sosok Freya yang duduk di atas kuda tampak dengan jelas.