Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat

Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat
Part 42. Dilema


__ADS_3

-o0o-


Sembari membawa suasana ceria, Conan berjalan menuju dapur istana.


"Hai hai semua, aku datang lagi~".


Suara cempreng tersebut mengalihkan perhatian para koki dan pelayan awalnya sibuk menyiapkan makan siang.


"Ohoo~ si imut kita sudah tiba, duduklah kue-kue ku akan segera siap". Kepala koki yanh usianya sudah menginjak 56 tahun berseru senang.


Sudah biasa bagi Conan mengunjungi dapur seperti ini, baginya terdapat kesenangan tersendiri bisa mencicipi sekaligus berbincang macam-macam di sana.


Tentu saja hari pertama kedatangannya mengakibatkan kekacauan dan kepanikan para pekerja namun berkat energi positif pria itu mereka bisa akrab seperti sekarang.


Sembari berbincang tak lama kemudian tersaji beberapa kue dan minuman segar di depan Conan, pria itu langsung berbinar antusias.


"Wahh kalian benar-benar yang terbaik" Serunya melahap kue tersebut senang.


Jika Conan senang maka semua orang disekitarnya juga tertular, lihatlah ekspresi penuh senyum menghiasi wajah mereka.


"Oh ya kudengar anda dan para selir akan hadir di pesta penyambutan nanti, apa benar?". Tanya salah satu koki.


Conan mengangguk.


"Aku jadi tidak sabar".


"Wahh pastinya akan seru, apa anda sudah siap-siap?". Koki yang sepertinya baru 2 tahun bekerja di sana ikut nimbrung.


"Belum sih , rencananya nanti aku dan Chaiden pergi ke pusat kota untuk belanja sekaligus patroli".


"Patroli? Sejak kapan anda terlibat ke lapangan".


Sejenak Conan terdiam, wajah imut itu berubah serius membuat yang lain mulai merasa gugup.


"Sejak Yang Mulia Freya membebaskan kami untuk bekerja, saat itulah aku memutuskan untuk melindunginya walaupun harus mempertaruhkan segalanya".


Tidak ada kebohongan di setiap kata Conan, dia sangat bertekad untuk itu.


"Kalau kalian akan melakukan hal sama jika jadi aku kan?".


"T, tentu saja".


"Baguslah, kalau begitu aku pergi dulu. Chaiden pasti sudah menunggu, da~". Wajah nya kembali ceria berlalu sembari melambaikan tangan.


Disepanjang jalan Conan kembali memikirkan perkataan para pelayan tadi.


Musibah terus saja datang sejak Freya berubah dari kaisar berhati dingin menjadi hangat seperti sekarang.


Semua seakan berubah hanya dalam hitungan detik mengakibatkan lingkungan sekitar ikut terkena efeknya.

__ADS_1


Dari mana datangnya semua masalah tersebut?


Bagaikan air hujan yang jatuh membasahi bumi, terlalu banyak air hingga kita kesulitan untuk sekedar mencari tempat berteduh.


Cara satu-satunya adalah melawan dan itulah yang dilakukannya sejak beberapa waktu yang lalu.


Sebenarnya apa tujuan dari penyerangan itu?


Tanpa pemberitahuan apapun, bahkan Imperial Palace tidak menyerang atau memprovokasi negara manapun.


Lalu siapa sebenarnya maga kecil yang selalu mengikuti Freya kemanapun dia pergi?


Awalnya Conan berfikir jika Freya tidak sengaja memungut atau menyelamatkannya di hutan


Namun melihat betapa dekat nya mereka bahkan dia ikut berperang melindungi Freya, sepertinya naga itu bukan hanya peliharaan semata.


Bug!!


"Aww".


Conan merasakan nyeri pada kepala bagian belakangnya.


"Beraninya kau membuatku menunggu lama, bocah tengik". Geram Chaiden dengan tangan terkepal.


"Chaca~ kau tega sekali, kepalaku salit tau" .


"Jangan merengek, cepat jalan". Kesalnya berlalu pergi.


-o0o-


Di perpustakaan istana, tampak seorang gadis cantik berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan suasana siang hari nan cerah.


Mata indah tersebut menatap langit biru berhias burung berterbangan sana-kemari tampak bebas dan bahagia.


Timbul perasaan iri dari dalam hatinya, sejak kedatangan ke dalam dunia novel ini dirinya lebih sibuk daripada dikehidupan nyata.


Terlalu banyak bahaya yang harus dilewati, mengincar nyawanya kapan saja, untuk sekedar tidur nyenyakpun terasa sangat sulit.


Kemanapun kau pergi akan banyak pasang mata yang mengintai, walaupun banyak yang akan melindungi tapi tetap saja rasa bersalah itu ada karena mereka rela mengorbankan nyawa demi dirinya.


Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkam saat masih menjadi seorang Veronica.


Dia senang tentu saja bisa hidup sebagai bangsawan, hanya saja lambat laun semua terasa berlebihan dan dirinya tidak mau terlalu larut dan melupakan fakta sebenarnya.


Dia harus kembali mencari cara untuk segera pulang, ya tentu saja itu alasan mengapa dirinya sudah bekerja keras sampai saat ini.


Hanya saja, mari berimajinasi suatu saat nanti dia berhasil mendapatkan cara tersebut maka pertanyaanya adalah apakah dia rela meninggalkan semuanya?


Pergi meninggalkan para kesatria yang setia padanya, para pelayan bekerja 24 jam demi melayani semua kebutuhan, Morgan si tua pekerja keras, Elvis si cerewet, para selir nan setia, Ray putra angkatnya dan Arthur sang tunangan yang sebentar lagi menjadi suaminya.

__ADS_1


Mereka memberikan cinta dan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan selama menjadi Veronica, namun berbeda saat menjadi Freya Grizelle.


Bohong jika dia tidak menyukai dirinya saat ini, menerima banyak cinta seperti ini merupakan salah satu impiannya.


Cuma pantaskah dia mendapatkannya?


Jika tidak mengatakan fakta bahwa dirinya bukanlah Freya yang asli, rasanya dia telah membohongi mereka.


Tapi, apakah yang akan terjadi jika dia melakukannya?


Konsekuensi apa saja yang akan datang?


Apakah dia mereka akan tetap menerima dirinya?


Atau malah berakhir dengan pengusiran atau lebih parahnya dia akan dieksekusi!!


Saat ini Freya memohon kepada siapa saja yang bisa memberikan masukan dan saran padanya, otaknya saat ini benar-benar buntu.


Berharap ada keajaiban datang membawanya pergi dan mengembalikan Freya yang asli ke tubuhnya.


Jika tau seperti ini dia berharap dirinha tidak pernah terlibat dalam urusan istana dan bertemu mereka tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi.


Freya membuang nafas berat kemudian tanpa sadar tubuhnya runtuh terduduk di lantai, seketika melemah kehilangan tenaga.


"Sakit". Rintihnya senada dengan mata yang memanas dan mulai berlinang.


"Sakit... hiks.. Kenapa sakit sekali...hiks..hikss".


"Yang mulia?".


"Elvis".


Elvis mendekat dengan wajah panik, ini kali pertama baginya meluhat gadis itu menangis seperti ini.


Tanpa basa-basi pria itu mendekat lalu mendekap tubuh mungil Freya setelah memastikan tidak ada luka di sana.


Terdiam sejenak dengan perilaku Elvis namun Freya sama sekali tidak berniat melepaskan dekapan tersebut, terasa hangat dan nyaman.


"Elvis...hiks El..Elvis Hwaaaa~!!".


Freya melepaskan semua dengan menangis hebat sedangkan Elvis hanya diam mengeratkan pelukannya.


Baginya saat ini biarkan Freya melepaskan semua kegundahan hatinya dengan menangis, untuk sementara mari kesampingkan puluhan pertanyaan yang tidak akan terjawab dalam kondisi seperti ini.


Setelah puas menangis, Elvis membawa Freya yang tertidur kembali ke kamarnya.


Perlahan membaringkan ke atas tempat tidur dan menyelimutinya, setelah memastikan semua aman dia keluar tidak lupa memerintahkan kesatria yang berjaga di pintu untuk mengetatkan keamanan.


Elvis kembali berjalan pergi namun baru beberapa langkah dia berhenti karna seseorang datang dari arah berlawanan.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini, Cleve?".


__ADS_2