
Freya kembali ke acara bertepatan dengan berakhirnya dansa ronde ke tiga. Setelah selesai menyapa para pasangan yang berhasil berkencan, Freya memutuskan untuk duduk di singgasana nya.
“Hahh melelahkan sekali”.
“Kau seharusnya tidak memaksakan diri, Yang Mulia”.
Dengan malas Freya melirik ke samping kirinya.
“Mau sampai kapan kau mengikutiku? Seingatku tugas para selir hari ini menemani para tamu”.
“Mau bagaimana lagi, bagiku lebih menyenangkan bersama anda daripada para gadis membosankan”.
“Mulutmu yang pedas bisa saja menyakiti hati wanita, kau bisa kehilangan jodoh nantinya”.
“Memangnya aku peduli”.
“Hahh dasar”. Pasrah Freya berusaha untuk tidak menghajar wajah tampan tapi menyebalkan itu.
Sekali tepukan seorang pelayan membawakan beberapa lembar kertas, Freya langsung mengambil lalu membacanya. Diam-diam Felix ikut melirik namun kening jadi berkerut.
“Bahasa macam apa itu? Sama sekali tidak bisa dibaca”.
“Tentu saja, kau kan bodoh”.
Sejujurnya ini salah satu taktik Freya, gadis itu sengaja menulis segala rencana dan strategi rahasia kedalam bahasa Indonesia bukan bahasa dunia novel yang tulisannya seperti tulisan kuno.
Tidak perduli tatapan membunuh dari sisinya, Freya membaca dengan teliti rencana yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia harus berusaha untuk membawa alur cerita yang melenceng kembali ke semula.
Tiap lembar dipenuhi oleh tulisan namun Freya dibuat bingung dengan satu kertas yang kosong tanpa setitikpun tinta. Ia membalik kertasbtersebut namun tetap saja kosong hingga Felix turun tangan menyentuhkan ujung jarinya ke sana hingga sihir pria itu memperlihatkannya.
“Itu adalah surat yang hanya bisa di baca menggunakan sihir”. Jelasnya.
Freya mengangguk mulai membaca.
‘Temui aku di balkon kamarmu nanti malam. 67’.
Deg!!
Jantung Freya seketika berdebar kencang, pertama isi surat yang menyuruhnya untuk bertemu nanti di balkon kamar. Iya yakin surat itu tidaklah dibuat oleh salah satu selir ataupun Arthur. Karena mereka sama sekali tidak akan bisa.
Kenapa? Walaupun kurang jelas tapi Freya sadar kalau surat itu ditulis menggunakan bahasa Indonesia.
__ADS_1
Mau dilihat beberapa kalipun tidak merubah fakta bahwa itu memang benar asli ada dan ditulis tangan, tapi siapa?
Seketika Freya memucat, pandangan kosong dan tangan bergetar hebat membuat Felix sadar dan langsung menggenggam tangan gadis itu.
“Freya sadar, aku di sini tenanglah”.
Freya merespon menatap Felix sayu.
“Felix”.
“Ini aku, tarik nafas lalu buang perlahan”. Freya patuh melakukan nya beberapa kali.
“Aku tidak tau apa yang tertulis di sana tapi percayalah kau akan baik-baik saja”.
“Tapi…”.
“Tidak ada tapi-tapian. Mulai sekarang aku akan selalu berada di sisimu, percayalah hal buruk yang kau fikirkan tidak akan terjadi karena ada aku dan yang lainnya”.
“Kami akan selalu ada untukmu, bahkan calon suami jelek mu itu tidak akan diam saja kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu”.
“Kalau dia memang tidak berguna aku akan membatalkan pernikahan kalian, jika perlu aku akan menyuruh Conan dan Ray mengenakan gaun wanita padanya”.
“Memangnya aku peduli, kau fikir aku siapa?”. Tawa Freya kembali menjadi membuat Felix ikut tersenyum karena berhasil mengalihkan pikiran gadis itu, baginya senyuman Freya lebih penting daripada ekspresi ketakutannya.
-o0o-
Hari bertambah larut saat acara selesai. Para pelayan membantu mandi dan mengganti pakaian Freya menjadi baju tidur. Setelah selesai semua pelayan pamit undur diri meninggalkan Freya sendirian di kamarnya.
Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya ia melangkah keluar menuju balkon. Baru satu langkah keluar tiba-tiba angin malam menerbangkan rambutnya, otomatis Freya menoleh ke samping sembari memperbaiki tata rambut.
“Akhirnya kau datang juga”. Seru sebuah suara mempercepat kinerja jantung Freya.
Ia dikagetkan oleh kedatangan seorang wanita berjubah menutupi wajahnya. Tinggi dan bentuk tubuh mereka sama hanya saja aura sosok misterius itu lebih dingin dan menakutkan. Sinar bulan menerangi malam tapi sosok itu seakan-akan memiliki aura lebih gelap.
“A, anda siapa?”.
“Aku adalah si pengirim surat itu, bukankah anda sudah membacanya, yang mulia Freya Grizelle”. Suara nya lembut namun terkesan sedikut serak.
“Ya saya membacanya. Bagaimana bisa anda melakukannya dan ada tujuan apa mencari saya sampai ke sini”. Sebisa mungkin Freya mengontrol ketakutannya.
__ADS_1
“Kita langsung saja karena aku tidak bisa berlama-lama”. Balasnya sembari mendekat hingga berhenti ketika jarak mereka hanya tinggal lima langkah.
Freya menatap wanita itu dalam diam, menunggu kalimat apa yang akan dikatakannya.
“Mari kita bekerja sama”.
“Eh?”.
“Aku tau kau bukan Freya yang sesungguhnya”. Freya tersentak kaget.
“Apa yang—“.
“Maaf tapi aku tidak bisa berlama-lama, dia akan tau aku di sini dan itu membahayakan keselamatan kita. Inti kedatanganku hanya untuk memperingatkanmu kalau sebentar lagi akan ada serangan susulan dari para penyihir namun kali ini mereka melibatkan penyihir suci kerajaan yang pikiran sudah dikendalikan”.
“Kusarankan kalian jangan fokus pada serangan tersebut, di tengah hutan sana ada kepala penyihir hitam yang bertugas mengendalikan peperangan, sebut saja para monster dan penyihir itu adalah boneka nya”.
“Tunggu dulu. Kalau memang itu benar terjadi kenapa kau repot-repot mengatakannya padaku. Bisa saja ini rencana licik kalian”. Sergah Freya.
Wanita itu memegang kepalanya bersikap seolah-olah situasi ini memang akan terjadi.
“Aku tau kau akan bingung namun percayalah. Jika serangan itu berhasil kalian kalahkan maka aku janji akan datang lagi besok lusanya. Di sini, tempat yang sama”.
“Tapi—“.
“Sudah jangan banyak tanya. Ini demi keselamatan mu dan juga kerajaan, aku akan mengawasi dari kejauhan”. Ucapnya tiba-tiba lenyap begitu saja sebelum Freya sempat menahan nya.
Sejenak Freya terdiam di tempat, mencerna segala kalimat yang dikeluarkan wanita misterius itu.
Entah kenapa ia menjadi dilema, ia tidak percaya namun di satu sisi dirinya merasa informasi itu memang benar karena ia harus selalu ingat jika ini adalah dunia novel, dimana segala yang mustahil akan selalu terjadi.
Segera ia berlari keluar kamar membuat para kesatria yang berjaga di pintu tersentak kaget.
“Yang mulia!”. Seru mereka mengikuti Freya yang berlari di lorong istana.
Jika orang lain lihat maka mereka akan mengatakan Freya gila karena keluar mengenakan gaun tidur dan tanpa alas kaki.
Dia terus berlari tanpa memperdulikan para kesatria dan pelayan yang mengikutinya dari belakang.
Saat ini yang ada di otaknya adalah orang itu. Satu-satunya orang yang mengerti dan memiliki jalan keluar dalam masalah ini. Kunci rahasia tidak seorang pun yang tau kecuali mereka berdua.
Tidak ada waktu lagi untuk merahasiakannya, situasi sangat terdesak dan keselamatan ratusan nyawa terancam dan Freya tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.
__ADS_1