
Semua orang bekerja keras memperbaiki rumah dan gedung yang hancur. Penyihir dan rakyat biasa saling bahu-membahu memberi kesan betapa kompaknya rakyat Imperial Palace. Anak-anak membagikan beberapa buah untuk para pekerja sesekali ikut membantu sekedar mengantar material bangunan.
Di satu sisi saat ini Freya duduk memperhatikan ditemani semangkuk sup buah. Pipinya merona setiap suapan masuk ke mulutnya, disisinya Elvis dan Conan ikut menikmati dengan ekspresi yang sama.
“Hahhh sepertinya anda bersikeras ingin ikut hanya untuk makan daripada memantau pekerjaan, yang mulia”. Gumam Chaiden membuang nafas pasrah.
“Jangan begitu Denden, kau akan hanyut juga dengan rasa manis ini. Ayo buka mulutmu aaaaa”. Seru Conan mendekat menebarkan aura cerianya.
“Tidak mau, menjauh dariku”.
“Ayolah ini segar lho, ayo buka aaaa”.
“Sudahlah Conan, dia tidak akan pernah tau bagaimana rasanya menikmati hidup karena memang sudah takdirnya menjadi seorang pria kaku dan dingin”. Elvis mendrama.
“Benar juga. Denden ibu jadi sedih mendengarnya, mau sampai kapan kau hidup seperti ini hikz”. Conan nimbrung membuat Chaiden menahan kekesalan.
Bagaikan menonton bioskop, Freya menonton aksi mereka sambil melahap makanannya. Mengagumi betapa indahnya tuhan menciptakan manusia sesempurna mereka walaupun sifat nya sedikit melenceng namun terkalahkan dengan visualnya.
Tanpa sengaja pandangan Freya jatuh pada gadis yang bersembunyi di gang kecil, penampilannya biasa dan sepertinya dia bekerja di kebun. Terbukti dengan beberapa peralatan di keranjang kerjanya.
Freya mengikuti arah pandangannya lalu tersenyum, seorang pengagum rahasia baru saja debut. Wajah nya merona sesekali membuat Freya membenarkan analisisnya, gadis pemalu dan juga manis.
“Apa yang lucu yang mulia”. Sapa Elvis membuyarkan lamunannya.
“Tidak ada. Oh ya buatlah undangan pesta teh untuk lusa, sudah lama sejak aku mengadakannya di istana”.
“Eh? Anda bercanda yang mulia? Disaat seperti ini anda malah memikirkan pesta teh”.
“Buat saja dan juga cantumkan persyaratan agar membawa pasangan mereka”.
“Yang mulia kegilaan anda harus berhenti di sini, sejak kapan pesta teh yang seharusnya khusus wanita kini dihadiri laki-laki”. Elvis memprotes sembari menahan emosinya.
“Ahh saya tau, pasti yang mulia ingin mengadakan biro jodoh kan? Romantisnya~”. Potong Conan berbinar.
“Kalau begitu ganti saja dengan pesta khusus perempuan dan laki-laki lajang, bukan hanya bangsawan tetapi rakyat biasa juga hadir dengan begitu anggap saja sebagai ajang silaturahmi”. Freya menyimpulkan keputusannya.
__ADS_1
“Elvis segera buat undangan dan persiapannya, sediakan juga makanan enak, semua orang akan bersenang-senang kali ini”. Freya bersorak senang berputar-putar bahagia bersama Conan.
-o0o-
Benar saja pengumuman pesta datang membuat semua orang antusias, mereka mulai mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta minggu depan. Menurut keputusan acara akan diadakan di Istana karena luasnya hall mampu menampung banyak orang.
Semua orang sibuk mencari pakaian yang bagus termasuk perhiasan sedangkan bagi yang kurang mampu akan ditanggung oleh istana.
Yang berbeda kali ini adalah ketatnya keamanan mengantisipasi serangan atau penyusup setelah kejadian waktu itu. Prajurit dan kesatria berjaga selama 24 jam secara bergantian sampai hari H tiba tak terkecuali para penyihir menara.
Bagian internal istana juga tidak kalah sibuk. Para pelayan mendekorasi hall seindah mungkin membangun suasana romantis bagi siapa saja yang datang. Koki profesional saling berdiskusi apa saja yang akan dimasak nanti apalagi saat ini mereka baru saja menerima banyak bahan mentah lengkap.
Tukang kebun menata berbagai macam bunga yang sudah mereka rawat sebaik mungkin ke lokasi pesta dan beberapa masih sibuk memangkas dan merapikan tanaman.
Lalu bagaimana dengan Freya? Akibat keputusan nya tersebut ia disambut pekerjaan segunung tanpa henti selama dua hari tiga malam, efeknya ia hanya tidur selama tiga jam saja.
Hingga tanpa terasa hari H pun tiba, satu persatu para tamu datang memenuhi hall. Freya memantau dari jendela ruang kerjanya, setengah jam yang lalu dandanan mautnya telah selesai tinggal menunggu semua tamu hadir.
“Kenapa juga aku ikut, merepotkan”. Kesal seseorang sembari memasuki ruangan dimana Freya berada.
“Wahh siapa ini? Bukankah sudah kubilang kau itu sangat cantik jika berpenampilan seperti ini, Callista”. Oceh Freya sembari bertepuk tangan bangga.
Callista mendengus sebelum mendudukkan diri ke sofa.
“Sudah kubilang jangan libatkan aku dengan ide gila mu itu”.
“Rencana ku sudah tersusun dengan rapi, jadi bertahanlah kali ini. Oh ya kau akan pergi menemani Conan nanti, jangan sampai bocah imut itu menempel padaku sepanjang acara. Bisa-bisa semuanya gagal”.
“Cih alasan”.
“Tenang saja, tidak akan ada yang tau kalau gadis cantik ini adalah ratu rubah putih. Percayalah padaku”. Callista tidak menjawab memilih untuk diam melahap buah di atas meja.
Tok…tok…tok
__ADS_1
“Yang mulia”.
“Morgan”.
“Sudah saatnya anda datang”.
“Baiklah. Dimana Elvis?”.
“Penasehat Elvis sudah di sana bersama kekasihnya”.
“Ohh ternyata jadi juga dia membawa gadis toko bunga itu, ya sudah ayo pergi”. Kekeh Freya kemudian berlalu pergi.
Di pintu utama lima pria sudah menunggu kecuali Arthur karena pria itu terpaksa lebih tepatnya dipaksa pulang oleh Freya karena terlalu lama meninggalkan Ray, putranya. Setelah memastikan semuanya siap Freya mulai masuk.
Suasana seketika hening oleh pengumuman kedatangan Freya dan para selirnya. Aura ruangan seketika berubah karena Freya masuk dengan anggun bersama lima selir tampannya. Perjalanan menuju singgasana menjadi hiburan tersendiri bagi para tamu karena bisa menikmati pesona sang tuan rumah.
Freya duduk disinggasana sedangkan para selir berdiri di sisinya, seketika posisi mereka bagaikan sebuah lukisan langka yang sangat indah.
“Selamat datang para tamu yang terhormat. Terima kasih telah hadir, ku hargai semua perjuangan dan pengorbanan kalian untuk hari besar ini”.
“Pesta ini memiliki tujuan yang mulia yaitu menjalin silaturahmi, disini kita bebas berbincang dengan siapa saja tanpa memandang pangkat, gelar maupun tahta”.
“Kalau begitu silahkan menikmati pestanya”. Ucap Freya mengakhiri pidato pembukaan nya.
Semua orang membungkuk hormat kemudian mulai berpencar, teriakkan histeris terdengar saat menyadari bahwa para selir istana bangkit bergabung dengan mereka. Ya semua sudah menjadi rencana Freya.
Callista sejak tadi berada di barisan belakang langsung maju menjadi gadis pertama yang berani mendekati Selir bungsu Freya. Conan.
Conan yang memang sudah tau siapa gadis itu mau tidak mau menerima ajakan Callista padahal ia ingin berlama-lama bersama Freya.
Tindakan Callista berhasil memotivasi beberapa gadis untuk berbincang dengan selir istana lainnya, dan tentu saja disambut baik dan hangat.
Freya? Gadis itu diam mengamati hingga ia mendapati sosok familiar muncul di ujung sana, perlahan ia mengode Morgan untuk segera beraksi, pria tua itu mengangguk paham segera melesat pergi.
“Show time”.
__ADS_1