
Pagi yang cerah, para pelayan sibuk hilir mudik mengerjakan tugas mereka, beberapa prajurit ikut berpatroli secara bergantian, tukang kebun membersihkan serta menata tanaman dengan telaten.
Kerajaan Imperial Palace kembali stabil setelah kehebohan seminggu yang lalu.
Masyarakat mulai menerima kaisar baru mereka walaupun masih terkejut dengan pertukaran mendadak namun tetap mempercayakan semua keputusan pada pihak kerajaan.
Banyak mentri dipecat secara tidak hormat beserta bukti-bukti kelicikan mereka, tidak butuh waktu lama bagi Elvis mencari pengganti yang cocok.
Memang selama seminggu tenaga Elvis dan Morgan terkuras habis, mulai dari mengurus tugas kaisar baru sampai mencari bukti hingga menangkap para penghianat kerajaan.
Seperti sekarang ini, kesatria sibuk melakukan latihan dibawah kepemimpinan Chaiden.
Dia kembali menjadi ketua kesatria atas perintah kaisar baru karena akan diadakan pengetatan keamanan.
Sesekali pria tersebut menoleh ke arah gedung besar di seberang tempat berhuninya Freya Grizelle.
"Chaca~". Seru sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Berhenti memanggilku seperti itu, Conan".
"Tidak mau". Kekeh pria berwajah imut tersebut.
Conan memberikan sebuah kantong berukuran kecil menyebabkan satu alis Chaiden terangkat.
"Apa itu?".
"Pesanan Morgan untukmu".
Masih bingung namun Chaiden mengambil benda tersebut lalu mengintip isi dalamnya.
"Batu mana?".
"Semua orang juga dapat, katanya Yang Mulia Freya yang suruh kita untuk menyimpannya".
"Yang mulia?".
Conan mengangguk sembari memperlihatkan batu mana warna biru menggantung indah di lehernya.
"Aku juga dapat, kira-kira kenapa Yang Mulia memberikan benda ini pada kita?".
"Entahlah".
"Apapun itu aku tidak keberatan, lagian batunya cantik". Conan bersorak senang.
"Berisik".
"Oh ya sebentar lagi pria-menyebalkan- itu pulang".
"Kata siapa?".
"Morgan. Sudah melewati perbatasan, mungkin besok atau lusa sudah bisa melapor".
Terdiam sejenak Chaiden kembali bersuara.
__ADS_1
"Yang mulia sudah tau?".
"Sudah kuberitahu". Pria itu mengangguk paham sembari menoleh ke gedung yang sejak tadi ia perhatikan.
"Rencana apa lagi yang akan dia lakukan".
-o0o-
Dari dalam istana tampak seorang pelayan wanita datang mendorong troli makanan menuju salah satu ruangan.
Terdapat segala jenis makanan berat, buah-buahan sampai makanan penutupnya lengkap tersusun rapi.
Tangan mungil itu mengetuk pintu emas besar tersebut sembari berseru.
"Yang mulia makanan nya sudah siap".
"Masuk". Balasan dari dalam.
Perlahan pintu itu terbuka lebar menampilkan pria paruh baya berstelan jas hitam, pria paruh baya tersebut mengkode si pelayan untuk segera masuk.
Si pelayan menata makanan ke atas meja, berusaha mengabaikan suasana mencengkam antara sepasang manusia yang duduk berseberangan.
Di lantai sudah berserakan beberapa kertas serta tumpukan dokumen menjulang tinggi.
Setelah menyelesaikan tugas, pelayan itu undur diri hingga diruangan tersebut hanya tinggal mereka bertiga.
"Waktunya makan Yang mulia, anda sudah bekerja keras tanpa henti dan sekarang saatnya untuk beristirahat". Morgan memecahkan keheningan.
Sepasang manusia yang tidak lain dan tidak bukan ialah Freya dan Felix membuang nafas kasar kemudian menyantap makanan tersebut.
"Jangan konyol".
"Cih, berhenti ketus seperti itu. Kau sebenarnya kenapa ha? Mengambil keputusan tanpa diskusi padaku seperti itu, kau mau membuatku terkena serangan jantung!!".
"Jantung mu itu sudah layak berhenti jika aku tidak menyelamatkanmu saat itu".
"Astaga tega nya, apa kau benar-benar saudari ku?".
"Maunya sih tidak tapi apa boleh buat".
Ingin rasanya Felix mengacak wajah cantik itu saking kesalnya namun bagaimanapun juga dirinya tidak bisa berbohong jika wajah itu sangat imut dan manis untuk sekedar di sentuh.
"Kau membuatku kembali belajar setelah sekian lama, amat sangat membosankan".
"Aku tau kau itu jenius dan merupakan penyihir terhebat, namun etika dan kepribadian ganda mu itu harus diluruskan".
"Kenapa tidak kau saja yang terus menjadi kaisar dan menyelesaikan semuanya".
Freya terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Karena tidak mungkin ia mengatakan fakta bahwa dia bukanlah Freya yang asli dan tau alur yang akan terjadi di masa depan karena dunia itu tidak lain adalah dunia novel.
Bisa jadi dirinya akan di cap bodoh dan gila. Memangnya siapa yang akan percaya dengan semua itu?
__ADS_1
Walaupun tindakan nya saat ini memang merubah beberapa alur namun di lain sisi kejadian yang terjadi sesuai dengan apa yang tertulis di dalam novel.
Setelah selesai makan, dua insan tersebut kembali melanjutkan kegiatan dengan berkecimpung tumpukan dokumen hanya saja kali ini Elvis ikut serta.
"Elvis, bagaimana dengan persiapan pesta perayaan kaisar baru?".
"Sudah hampir selesai Yang Mulia, tinggal mengirimkan undangan saja".
Freya mengangguk. "Jangan lupa siapkan kursi untuk 5 orang".
"Yang mulia, jangan-jangan anda...".
"Ya, aku akan datang bersama para selir".
Ucapan Freya berhasil membuat Felix berseru sembari bertepuk tangan kagum, keberanian gadis itu bukan main-main.
Pasalnya dia belum pernah membawa selir formasi lengkap ke acara manapun sebelumnya.
"L, lalu bagaimana dengan Kaisar Arthur?".
"Dia juga akan datang".
"Sendiri?".
"Tidak. Bersamaku".
Kali ini Elvis ikut bertepuk tangan mengikuti Felix yang tak hentinya berdecak kagum.
Tak terbayangkan bagaimana ekspresi semua orang melihat kombinasi unik itu nantinya.
Dilain sisi Freya menatap selembar kertas di tangannya serius namun sebenarnya gadis itu sedang memikirkan hal lain. Apa itu hanya dia yang tau.
-o0o-
Segera setelah tugas selesai Hugo dan Adam langsung menuju istana masing-masing, karena berada di istana yang bersebelahan lah alasan mengapa mereka selalu bersama dan menjadi akrab.
Hugo si play boy selalu menyerang kaum wanita menggunakan pesona miliknya untuk menggoda atau memanfaatkan nya dalam misi tertentu.
Jika kebablasan bergaul maka sudah tugas Adam menjadi pawangnya.
Wajah malaikat itu akan mengalihkan perhatian para wanita lalu dengan dingin membubarkan semua orang dengan mudahnya.
Alhasil Hugo jadi kalah tanding dengan pesona maut Adam, dia sudah capek-capek merayu sedangkan Adam cukup diam maka wanita akan datang sendiri padanya.
"Kau sudah siap untuk datang ke pesta nanti?". Tanya Hugo yang datang mengujungi istana Adam membawa beberapa peralatan pesanan pria tersebut.
"Sudah, kau?".
"Sudah juga sih, hanya saja aku masih tidak percaya Yang Mulia akan menghadirkan kita semua. Selama ini hanya beberapa dari kita saja yang pergi".
"......". Adam diam tapi mendengarkan.
Hugo menghempaskan diri ke sofa empuk tersebut senada dengan seorang pelayan masuk membawakan cemilan.
__ADS_1
"dua hal yang ku cemaskan menjadi alasan mengapa yang mulia melakukan itu. Apa yang dia rencanakan dan Apa yang akan terjadi nanti di pesta besar itu".
Hugo menerawang ke langit-langit kamar sedangkan Adam sudah berdiri di jendela menatap bayanganya yang terpantul di kaca.