Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat

Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat
Part 21. Pemandangan Indah


__ADS_3

-o0o-


Hari ini para kesatria sibuk berlatih di markas mereka, terletak tidak jauh dari istana hanya berjarak tiga bangunan saja. Lapangan berlantai tanah berhias abu karena mereka bergerak bebas di sana.


Namanya juga latihan maka tidak akan jauh dari kata kebisingan. Gerakan bela diri senada dengan dentingan benda tajam saling beradu satu sama lain terdengar menciptakan intonasi menarik.


Setidaknya begitu menurut Freya yang sejak tadi menonton dengan mata berbinar. Baginya para kesatria yang berlatih dengan kondisi topless benar-benar memanjakan mata. Bahkan Callista yang kini berganti bentuk menjadi seekor kucing tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.


"Astaga betapa indahnya pemandangan ini". Gumam Freya untuk kesekian kalinya.


"Sudah lebih dari 100 tahun sejak terakhir kali aku melihat tubuh kontak-kotak itu". Tanpa sadar Callista ikut nimbrung.


Saat dua gadis itu menikmati aksi mereka, Ray, Elvis, Adam dan Hugo berekspresi datar.


Pagi tadi Freya melempar semua pekerjaannya sembari bersorak untuk segera pergi camping, tentu saja dirinya harus beradu argumen dengan Elvis walaupun pada akhirnya Freya menang dan langsung memerintahkan pergi camping ke taman istana bersama-sama.


Tapi siapa sangka letak taman istana begitu dekat dengan lapangan para kesatria. Alhasil satu jam lamanya mereka duduk menonton segerombolan manusia telanjang dada.


"Ibu sampai kapan kita akan begini". Suara Ray berhasil mengambil alih perhatian Freya.


"Maafkan ibu Ray, godaan itu sangat sayang untuk dilewatkan". Kekehnya mendapatkan tatapan yang-benar-saja dari tiga pria di belakang Ray.


"Kalau begitu ayo kita makan, kue-kue buatan koki kita sangat enak lho".


"Hey lepaskan aku". Kesal Cal karena gadis itu dengan seenaknya mengangkat tubuh kucingnya.


Alhasil mereka mulai makan dan menyeruput teh hijau tersebut tanpa menyadari bahwa sejak tadi Adam sesekali melirik Freya dengan wajah datarnya.


"Ehem jangan lupa berkedip, Adam". Bisik Hugo membuyarkan lamunan Adam.


"......"


"Cih kau ini, kalau ada yang mau dikatakan langsung saja. Pakai lirik-lirik segala".


Bug!!


Satu detik saja ejekan Hugo berakhir dengan pukulan telak tepat di kepala bagian belakang, Game Over.


"Salam kepada Yang Mulia". Seru sebuah suara mengalihkan pandangan mereka.

__ADS_1


"Ada apa, Morgan?".


"Viscount Hendrick dan istrinya datang dan ingin bertemu dengan anda".


"Lagi? Tanpa surat pemberitahuan?". Elvis mengeluarkan suara dibalas anggukan Morgan.


Perlahan Freya menoleh ke sampingnya dimana Adam berdiri.


"Baiklah suruh mereka menemuiku di sini".


"Baik Yang Mulia". Balas Morgan berlalu pergi dan tak lama kemudian kembali bersama sepasang manusia paruh baya.


Freya yang kini sudah berada di bangku taman menyilangkan kaki dan melipat tangan di dada. Adam, Hugo, Elvis dan Ray duduk di sisi meja meminum segelas teh dengan santai.


"Hormat kepada Baginda Kaisar, semoga Imperial Palace mendapatkan berkah selama lamanya". Seru mereka kompak.


"Duduklah". Ucap Freya menunjuk dua kursi di sisi kanan meja.


"Terima kasih Yang Mulia". Sejenak suasana hening membuat Hendrick dan istrinya mulai berkeringat dingin.


"Speak". Hendrick tersentak padahal Freya berbicara sangat pelan.


"Intinya saja Hendrick".


"B, Baik". Hendrick menyenggol lengan istrinya.


"Yang Mulia saya mohon untuk menerima surat permohonan pembebasan putri kami". Ucapnya sembari memperlihatkan selembar surat berbentuk gulungan.


Elvis mendekat mengambil surat tersebut lalu memberikannya pada Freya setelah memeriksa isinya. Sudah tugas Elvis untuk selalu memeriksa dokumen atau surat apapun sebelum berada di tangan kaisar.


"Setengah saham Viscount sebagai jaminan? Kupikir putri kalian tidak akan menyukainya". Freya tersenyum miring mengingat betapa boros dan manjanya Delaren putri semata wayang seorang Viscount.


"Dia akan setuju jika itu untuk kebebasanya, Yang Mulia mohon pengertian anda".


Freya menatap datar wanita paruh baya tersebut yang sejak tadi tidak menampilkan ekspresi 'memohon' seperti suaminya. Bahkan sejak tadi dia melirik Adam, mungkin dia kesal karena pria itu tidak memperdulikan kehadiran mereka.


"Adam sayang, bagaimana menurutmu?". Seketika Adam menoleh kaget.


"Yang Mulia".

__ADS_1


"Otakku sedang tidak bisa bekerja dengan baik saat ini. Jadi, kuserahkan segela keputusan padamu".


Freya bukanya tidak sengaja, dia memang merencanakan ini sejak awal. Mulai dari kurungan sampai alur kedatangan keluarga Viscount. Sudah waktunya meluruskan semua keadaan.


Freya menatap Adam yang sedang berfikir keras. Menunggu dengan sabar keputusan yang akan keluar dari bibir itu, jika saja Adam memutuskan untuk membebaskan gadis itu maka mari simpulkan bahwa ia masih mencintainya dan Freya mau tidak mau merelakan untuk melepas Adam dari sisinya.


Tidak ada gunanya menahan orang yang tidak ingin bersama kita, hanya akan menjadi beban pikiran dan juga dosa besar karena menghalang orang lain untuk bahagia.


Hendrick dan istrinya membujuk Adam untuk melepaskan Delaren dengan segala kalimat. Saat ini Adam berada dalam situasi DILEMA.


"Adam?".


"Yang Mulia saya--".


Freya memiringkan kepalanya menatap Adam lebih dalam, sedetik kemudian ia terkejut karena tiba-tiba Adam membungkuk dengan tangan menyentuh dada kirinya, kepala tertunduk serta mata terpejam.


"Saya mohon bebaskan Lady Delaren". Freya terkejut seketika merasakan sesak di dadanya. Kalau begitu artinya....


Wajah sepasang manusia paruh baya tersebut menjadi cerah dengan mata berbinar-binar.


"Lalu izinkan saya tetap berada di sisi anda, selamanya". Sambungnya sembari menoleh.


"Bebaskan Lady Delaren dengan syarat tidak pernah menginjakkan kaki ke Imperial Palace, saya tidak mau ada gangguan yang membahayakan orang yang saya cintai".


"Adam".


"Sir Adam KAU---". Hendrick mendekat namun kesatria menghalangi dengan uluran pedang yang berada tepat di depan lehernya.


"Saya mencintai anda lebih dari segalanya, tidak bisa saya bayangkan hidup tanpa anda, Yang Mulia. Walaupun pada awalnya keberadaan anda bagaikan berada di dalam neraka namun siapa sangka saya menjadi terbiasa dan tanpa sadar perasaan ini timbul begitu saja".


Adam meletakkan kepalanya tepat di atas lutut Freya yang sejak tadi kehilangan kata-kata. Merasakan hawa hangat menjalar dari jantung ke seluruh tubuh, ingatkan dia untuk memanggil tabib istana selepas ini.


Seutas senyuman manis timbul pada bibir mungil nan sexy tersebut, matanya melembut dan perlahan bibirnya mendarat di kepala Adam membuat pria itu terbelalak kaget.


"Terima kasih". Gumamnya sembari membelai wajah tampan tersebut.


Freya menoleh ke depan dengan senyum penuh kemenangan.


"Kalian dengar itu? Morgan akan membawa kalian ke tempat lady Delaren berada, setelah itu pergilah dan mulai saat ini Lady Delaren dilarang memasuki Imperial Palace, jika tidak maka terima saja konsekuensi yang tidak akan pernah kalian bayangkan sebelumnya". Perintah Freya tegas.

__ADS_1


Dengan wajah penuh amarah nyonya Hendrick pergi begitu saja diikuti oleh suaminya. Keputusan sudah dibuat maka berfikir dua kali lah sebelum melanggarnya.


__ADS_2