Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat

Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat
Part 20. Viscount yang Menyebalkan


__ADS_3

-o0o-


Upacara berjalan dengan lancar dan Freya kali ini sudah kembali ke istana. Terlanjur lelah ia memutuskan untuk mandi dan beristirahat, berendam air panas memang ampuh meredakan stress serta rasa letih seharian beraktivitas di luar.


"Biar kutebak, seseorang sedang melabrak mu lagi kan? Sekarang apa, apa dia berhasil menamparmu?". Seru Callista bersantai di atas ranjang dalam bentuk manusianya.


"Lebih tepatnya aku baru saja ditampar secara tidak langsung, mulut gadis itu benar-benar berbisa". Freya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


"Sayang sekali padahal aku berharap bisa melihat memar di wajahmu sebentar saja".


Freya mendengus kesal namun tidak ada tenaga untuk sekedar melempar seseorang dari lantai dua.


Tanpa sadar entah karena lelah atau syok yang masih tersisa, Freya terlelap begitu saja. Callista yang berada di sampingnya hanya bisa membuang nafas pasrah, walaupun dia bukan Freya yang sebenarnya tapi melihat kerja keras dan kesungguhan gadis itu membuat Callista tersentuh.


Gadis polos ini mengurus semua kekacauan Freya terdahulu tanpa mengeluh sedikitpun, lembut hatinya membuat para pria yang hanya dijadikan alat pelampiasan hasrat kini perlahan berubah bermartabat.


"Semoga dengan adanya kau disini bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik". Gumamnya sedetik kemudian menghilang entah kemana.


-o0o-


Seminggu kemudian situasi mulai terkendali dan Freya sudah membaik, sebelumnya selama lima hari para pelayan kewalahan membujuk Freya untuk makan karena dirinya hanya makan dua suap saja dan selesai.


Bahkan Ray ikut andil namun sama saja Freya tidak akan makan lebih dari dua sendok. Setelah berbagai macam rayuan dan pengobatan akhirnya Freya pulih.


Semua karena peristiwa itu, bayangkan saja kita nyaris mati tertusuk pisau. Jika saja Adam terlambat satu detik maka saat ini Freya sedang sekarat atau parahnya mati ditempat.


Pulihnya Freya langsung disambut dengan rapat penting melibatkan para menteri dan bangsawan, cukup lama memakan waktu sekitar lima jam.


"Astaga capeknya--". Lirih Freya berjalan di lorong melewati taman istana.


"Yang Mulia anda telah bekerja keras, pelayan sudah menyiapkan cemilan dan teh untuk anda".


"Elvis untuk selanjutnya kau urus semuanya, periksa kembali catatan pajak tiap bangsawan dan laporan padaku lusa".


"Baik Yang Mulia".


"Hm??". Tiba-tiba pandangan nya tertuju pada sekelompok manusia di bangku taman.


"Sepertinya itu Selir Hugo, ahhh dia bersama anak-anak dari pelayan istana". Elvis menyuarakan isi hati Freya.


Memang benar jika di sana Hugo duduk dengan buku di pangkuannya, sudah kebiasaan pria itu setiap pagi membacakan anak-anak buku cerita dibawah terik matahari yang menyehatkan. Kacamata membingkai mata elang membuat kadar ketampanan nya bertambah dua kali lipat.

__ADS_1



Mungkin insting yang tajam Hugo beraksi, menoleh saat merasakan seseorang sedang memperhatikan dirinya.


Seketika Freya bersemu dengan jantung berdebar kencang memompa darah dengan cepat sesaat setelah mata mereka bertemu. Apalagi senyuman Hugo bagaikan aliran listrik menyentrum dan mengacaukan kinerja tubuhnya.


Untuk kesekian kalinya Freya gagal bertahan dari pesona para selir yang tampannya kelewatan. Setelah berhasil menyadarkan diri Freya langsung berlalu pergi meninggalkan Hugo terkekeh geli melihatnya.


Elvis terus mengekor hingga sampai di ruang tamu karena seorang pria bertubuh gemuk menunggu dengan cemas.


"Ohooo lihat siapa ini, Viscount Hendrick ternyata".


"Hormat kepada Baginda kaisar, mohon maaf karena saya datang tanpa memberi surat pemberitahuan".


Tak merespon, Freya duduk dalam diam seolah-olah kehadiran Hendrick amat sangat mengganggu. Seketika pria paruh baya itu mandi keringat dingin.


"Yang Mulia hamba datang untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan putri saya, mohon berikan keringanan. Hamba memohon bebaskan putri hamba dan biarkan hamba sendiri yang akan menghukumnya".


"Istri hamba sedang sakit akibat mendengar kabar tersebut, hamba mohon Baginda mau membebaskan putri hamba". Hendrick membungkuk dalam, dalam hati ia mengutuk kesal karna harus melakukan hal bodoh seperti itu karena kecerobohan putrinya.


Sayangnya Freya bukanlah gadis bodoh, dia tidak akan termakan mini drama begitu saja.


"Viscount Hendrick Kelson".


"Menurutmu pantas atau tidak putrimu masuk penjara seperti ini?".


"Eh?".


"Putrimu mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada kaisar Freya Grizelle, dia bahkan memaki-maki di depan umum seolah-olah aku ini bukanlah orang yang berpengaruh di negara ini".


"Bahkan dengan lancangnya dia berniat merebut selirku dengan bujukan dan air mata palsunya. Menurutmu wajar atau tidakkah aku mengurungnya ke penjara bawah tanah?".


"Yang Mulia--".


"Kau itu seorang Viscount yang sudah setengah abad bekerja dalam dunia politik dan hukum, mana mungkin tidak tau tentang peraturan Imperial Palace".


"Bersyukurlah aku hanya mengurungnya ke penjara padahal seharusnya hukuman karena menghina dan mencoba membunuh kaisar itu adalah hukuman mati".


Deg!!


Suasana berubah dingin penuh aura gelap perlahan menggerogoti tubuh gemuk tersebut, mata merah Freya benar-benar menakutkan membuat siapa saja tidak akan berani menatapnya secara langsung.

__ADS_1


Freya bangkit melangkah pergi namun sebelum itu dirinya kembali melihat sosok Hendrick yang tertunduk takut lalu pegi meninggalkannya.


"Yang Mulia".


"Diamlah Elvis. Aku sedang tidak berniat untuk mendengar apapun".


"Baik".


Jika sudah seperti itu tidak akan ada yang berani menganggu atau sekedar mengeluarkan suara di depan nya. Freya Grizelle akan sangat beringas saat sedang dalam mood buruk, bahkan para pelayan masih mengingat dengan jelas masa dimana beberapa pelayan yang membangkang dengan berbuat hal yang membahayakan Kaisar berakhir dihukum mati dengan dipenggal atau gantung massal.


Walaupun akhir-akhir ini Freya berubah banyak namun mereka masih waspada tatkala sifat lamanya datang kembali maka tidak akan ada nyawa yang aman. Semua terancam membuat mereka sangat sulit untuk sekedar bernafas.


Setelah memastikan Freya berada di kamarnya, Elvis langsung pergi ke perpustakaan pribadi Freya mengambil bahan yang akan dibaca Freya besok.


"Penasehat Elvis". Seru sebuah suara membuatnya menoleh.


"Selir Adam".


"Bukankah sudah kubilang panggil Adam saja".


"Kau kan masih memanggilku penasehat, sepupu". Decih Elvis kembali fokus.


Adam tersenyum ikut membantu mengambil buku-buku tebal dan menyusunnya ke atas meja.


"Oh iya aku tidak menyangka kau bisa melindungi Yang Mulia seperti itu, tumben".


"Entahlah tubuhku bergerak sendiri".


"Cih alasan macam apa itu".


"Bukankah kau telah lama mengenalku, seharusnya kau tau sendiri alasannya. Kenapa malah bertanya".


Elvis terkekeh melempar buku geografi pada Adam dengan tujuan mengenai kepalanya namun pria itu kalah gesit karna Adam berhasil menangkapnya.


"Jadi kau memang jatuh cinta padanya. Kufikir hanya acting demi membalaskan dendam lamamu".


"Kau itu sudah tua, sudah saatnya menikah dan merasakan bagaimana mencintai seseorang yang sulit kau gapai".


"Sorry ya, kisah cintaku tidak seribet kamu. Cepat atau lambat aku akan menikah dan kau akan menjadi Paman tua".


"Berdoa saja kau tidak mandul karena biasanya pria sombong dan bodoh sepertimu susah mendapatkan keturunan".

__ADS_1


"KAU---".


__ADS_2