
Acara berlangsung lancar dan meriah, apalagi beberapa dari tamu sudah ada yang langsung akrab dan jadi dekat. Peran para selir ikut menjadi lucky box dalam pesta, untungnya mereka bisa berbaur dengan baik.
Masuk ke malam puncak yaitu berdansa. Semua orang termasuk Freya ikut menari dan pasangan dansanya adalah Chaiden. Tidak berlangsung lama karena mereka harus berganti pasangan mengikuti alur tarian.
“Opps”. Freya bersuara melihat Chaiden berganti pasangan dengan pengagum rahasianya.
“Ada apa yang mulia”. Freya menoleh pada pasangan menarinya.
“Hugo”.
“Hal menarik apa yang membuat anda sampai terkekeh seperti itu”.
“Hmmm rahasia”. Freya tertawa kecil menari dengan semangat hingga lagu berakhir dilanjutkan dengan lagu selanjutnya.
Karena lelah Freya memutuskan untuk istirahat di beranda, menghirup udara segar memang menenangkan. Bulan purnama bersinar terang membuat pemandangan malam terlihat dengan jelas, udara sejuk walaupun sedikit dingin tidak masalah.
“Tunggu dulu, ini terlalu damai”. Gumam Freya.
“Ini kan dunia novel dan permasalahan atau konflik akan selalu datang disaat seperti ini, melibatkan banyak orang dan juga pesta istana, aku harus tetap waspada”. Sambungnya menoleh ke sekeliling namun semua tampak baik-baik saja.
“Mencari siapa hm?”. Seru sebuah suara sontak saja Freya tersentak kaget.
“Felix”.
“Yo”. Balas Felix ternyata sudah menghuni beranda sejak satu jam yang lalu.
Pria itu mendekati Freya kemudian memeluknya erat.
“Hangatnya~”.
“Apa yang kau lakukan di sini?”. Tanya Freya melepaskan diri.
“Sama seperti mu, di dalam sangat sesak dan membosankan”.
“Hahh ya sudah kalau begitu”. Freya kembali memandang ke depan tak lagi memperdulikan jika dirinya saat ini dipeluk dari belakang.
Jujur saja ia menikmati dekapan tersebut karena terasa hangat apalagi aroma tubuh Felix yang wangi seperti wewangian lilin aroma terapi. Jadi untuk sementara biarkan saja seperti itu.
“Tidak terasa kamu sudah sebesar ini, waktu memang berjalan dengan cepat”. Gumam Felix membenamkan wajahnya di sela tengkuk Freya.
“Enak saja”.
__ADS_1
“Kenapa? Aku kan cuma berkata apa adanya”.
“Memangnya kau ayahku, berhenti mengoceh”.
“Yahh aku memang bukan ayahmu tapi posisiku saat ini lebih dekat dari itu, iya kan?”.
“Terserah kau saja”.
Felix tertawa atas kemenangan beradu argumen dan Freya adalah lawan yang menyenangkan baginya.
“Hey!!”. Kesal Freya saat tubuh mungilnya melayang ke udara dan berubah posisi duduk di pagar pembatas, pandangannya bertemu dengan Felix.
Perlahan Felix meraih lengan kanan Freya kemudian menyatukan jari mereka, tak ada yang bersuara hingga keluar cahaya biru safir keluar dari sela jari mereka.
Freya langsung merasakan hawa hangat mengalir ke dalamnya, bunga-bunga perutnya beterbangan, debaran jantung semakin cepat membuat kinerja aliran darah dua kali lebih cepat.
“F, Felix”.
Seketika Freya merasakan sesak di dadanya, keringat mulai bercucuran bahkan tubuhnya mulai melemah dan terjatuh di dekapan Felix. Pria itu tetap melakukan aksinya dan berhenti saat tubuh gadis itu kembali normal.
Walaupun masih tersengal namun Freya sudah bisa menegakkan tubuhnya. Wajah cantik itu tidak pucat lagi bahkan bibir mungil itu sudah kembali berwarna merah muda.
“Memang dasarnya kau itu lemah. Jangan berdalih dengan menyalahkan ku”. Freya mendengus melipat tangan di dada, bibirnya manyun membuatnya terlihat imut.
Tiba-tiba wajah menyebalkan Felix berubah serius, matanya menatap Freya intens seolah-olah saat ini ia sedang bertarung dengan pikirannya.
“Freya”.
“Hm? Apa”.
“Kau itu… sebenarnya siapa?”.
“Eh?”.
-o0o-
Di lain sisi saat ini Chaiden berdiri menyandar pada dinding besar bermotif sembari meneguk segelas wine. Mengabaikan pertarungan Conan dan Callista yang lebih seperti pertengkaran anak kecil di depannya.
Hugo tampak sangat menikmati acara sebab dikelilingi para gadis cantik, melakukan berbagai macam pose ‘pria idaman’ sebagai taktik memikat.
Tidak jauh dari sana Adam juga menemani beberapa gadis hanya saja ia tidak se antuasis Hugo, ia tipe melayani dalam ketenangan. Lebih tertib daripada Hugo yang berfoya-foya.
__ADS_1
“Salam kepada selir pertama”. Seru sebuah suara mengalihkan perhatian Chaiden.
“Itu, Saya Sovia menyapa selir pertama Chaiden”. Sambungnya membungkuk dalam.
“Angkat wajahmu nona”. Balas Chaiden membuat gadis itu merona hanya dengan mendengar suara berat tersebut.
“Itu, saya ingin berterima kasih karena tuan bersedia berdansa dengan saya tadi. S, suatu kehormatan bagi saya tuan”.
“Sudahlah nona sudah tugas saya melayani tamu sesuai perintah yang mulia kaisar. Jadi santai saja”.
Sovia mengangguk mantap. “Baiklah tuan”.
Chaiden mengangkat alis sebelah melihat gadis di depannya masih berada di sana diam menunduk sembari memainkan jari nya gugup. Mata bulat itu pada akhirnya menoleh kemudian bersuara dengan nada sedikit dipaksa kan.
“K, kalau anda tidak keberatan. Bersediakah tuan pergi ke taman bersama saya?”.
“Hm?”.
“I, itu- hmm itu saya ingin mengajak anda jalan-jalan di taman bersama”. Jelasnya dengan nada pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Chaiden.
Chaiden tau butuh keberanian besar baginya untuk mengatakan hal tersebut, bagaimana tidak ia baru saja mengajak selir pertama kekaisaran padahal orang lain takut padanya, namun gadis itu bisa mendekat dan mengajaknya seperti itu bukankah luar biasa?
“Baiklah”. Balas Chaiden mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Sovia, alhasil mereka berlalu pergi meninggalkan lokasi pesta.
Taman istana memiliki berbagai macam bunga, pepohonan rindang dan juga beberapa hiasan air menambah kesan romantis bagi para pasangan yang sedang kasmaran.
Di sinilah Chaiden dan Sovia berada, mereka duduk di salah satu air mancur sibuk berbincang membahas hal-hal ringan sebagai awal perkenalan. Sesekali sovia tertawa riang membuat Chaiden terdiam selama beberapa detik namun kembali berbincang.
Mereka tampak asik bahkan tidak menyadari jika sepasang mata menatap mereka dari kejauhan. Memancarkan aura dingin dan menakutkan, memancarkan hawa gelap namun hebatnya tidak disadari oleh Chaiden yang memiliki kepekaan yang sensitif.
Sosok misterius itu menghilang sedetik setelah kedatangan Felix dan Freya, padahal sepasang manusia itu hanya menyapa namun entah kenapa sosok misterius itu terlalu nekat untuk berlama-lama di sana.
Sayangnya Felix sudah terlanjur menyadari kehadiran nya. Pria itu menoleh ke atas pohon dengan tatapan membunuh sedetik kemudian tanpa siapapun sadari aura merah Felix melesat menuju sosok tersebut namun berhasil dihindari. Secepat mungkin ia kabur dan menghilang membuat Felix berdecih kesal.
“Kau kenapa, Felix?”.
“Tidak ada apa-apa, yang mulia. Hanya saja ada seekor lalat menjengkelkan terbang, dan aku sangat BENCI makhluk menjijikan”.
Walaupun bingung namun Freya tetap mengangguk kemudian kembali ke dalam setelah berpamitan dengan Chaiden dan Sovia, dirinya merasa bersalah telah menganggu PDKT mereka.
Sebelum menyusul gadis itu Felix menatap Chaiden hanya beberapa detik kemudian pergi, dan di sini kepekaan Chaiden kembali muncul. Hanya ditatap seperti itu ia bisa mengerti maksud dari Felix seolah-olah mereka baru saja berkomunikasi dengan telepati.
__ADS_1