
“Tentu saja, dia pasti memberikan cinta yang besar untuk itu”.
“Oh ya? Aku tidak sabar menantikannya”.
Perdebatan berakhir saat suara MC terdengar nyaring.
“Aduhh sepertinya saat ini acara kota jadi kacau, bagi yang sudah memenangkan aset bisa diambil ke belakang panggung. Acara selesai sampai di sini”. Ucapnya cepat mengarahkan mereka kembali.
“Tunggu”.
“Apa lagi? Jika kau ada urusan sebaiknya tuan penyihir menemui kami di belakang”. Oceh MC menahan amarahnya dan berusaha tetap tersenyum.
“Tidak bisa. Saat ini tugasku berubah, berikan semua anak-anak itu padaku dan kalian boleh pergi”.
“Apa?”. Seketika tawanya menggema.
“Jangan bercanda. Kau hanya penyihir amatir berani memerintah majikan? Cih dasar bodoh”.
“Wahh kau dipanggil bodoh”. Gumam Arthur mendapatkan pukulan ringan dari Freya.
“Kalau begitu maaf karna aku harus menggunakan cara kasar dengan sihir AMATIR ku”. Balasnya sedetik kemudian tubuh tinggi tersebut melayang diudara.
Jubah putih itu seketika terbakar habis membuat kita bisa melihat dengan jelas penampilan sebenarnya dari pria tersebut.
Api merah memenuhi tubuh kekar dengan rambut hitam dan mata elang merah. Wajah tampan yang ternyata alasan mengapa semua gadis mengidolakannya, tersembunyi dibalik jubah dan hanya sesekali terlihat.
“Kau- jangan-jangan”. Gagap sang MC tak sanggup berkata-kata.
“Panggil aku Felix”. Ucapnya sembari tersenyum miring membuat siapa saja merasakan hawa aneh mengelilingi mereka.
“Cepat bawa mereka pergi!!”. Bentak MC pada anak buahnya.
Namun sebelum para penjahat bergerak, api panas Felix datang membakar mereka hidup-hidup dan menjalar mengelilingi anak-anak.
__ADS_1
Para penonton berhamburan pergi menyelamatkan diri namun sayangnya di tiap pintu utama maupun jalan tikus telah menunggu para prajurit Imperial Palace. Alhasil mereka tertangkap dan dibawa pergi.
“Kau- apa yang kau lakukan?!! Tempat ini bisa hancur, hentikan”.
“Memang itu tujuanku, neraka kecil ini harus lenyap. Menghilangkan hama adalah salah satu keahlianku”. Felix menyombongkan diri.
“Dan juga aku harus mendapatkan perhatian istriku tentu nya”. Kekehnya namun terkesan mengerikan.
Freya? Gadis itu duduk dengan tenang memperhatikan, bisa setenang itu karna sejak awal dirinya sudah menyadari bahwa tuan penyihir yang awalnya ia curigai merupakan salah satu selirnya.
Felix. Hanya dia satu-satunya keturunan penyihir yang memiliki takdir pheonix dan aura biru merupakan salah satu keahlian penyembuhannya. Tidak ada yang tau kecuali pihak kerajaan dan juga Arthur, tunangannya itu benar-benar mengetahui segala seluk beluk dirinya.
Sekali dorongan Felix menghajar semua musuh hingga mereka tak sanggup lagi untuk sekedar menggerakan kepala. Membunuh? Tidak. Felix memang kejam tapi dia tidak pernah mengotori tangannya dengan mengakhiri nyawa orang lain. Sama sekali bukan dirinya.
Berhati-hatilah dengan rambut panjang mengeluarkan bunga api, jika kena maka kulit akan melepuh dan membusuk.
Hanya dalam hitungan menit semua hangus terbakar sedangkan anak-anak berhasil diselamatkan.
“Apa yang akan kita lakukan dengan mereka, Yang Mulia? Dilihat dari fisik mereka kena guncangan mental”. Felix bertanya saat mereka sudah berada diluar.
“Mereka akan dibimbing dengan baik sebagai pemulihan dan juga panti asuhan desa akan menampung mereka dengan senang hati”.
“Astaga istriku memang baik hati”.
“Lepas, kau membuatku sesak”.
Plak!!
“Awww”. Felix meringis kesakitan meniup tangannya yang memerah.
“Baginda Arthur, anda keterlaluan”. Rintihnya meniup tangan dengan wajah sayu.
Arthur? Pria itu malah menatap garang Felix sembari memeluk erat Freya. Bagaikan seorang anak yang marah saat ibunya di peluk orang lain.
“Sudah kubilang jangan sentuh sembarangan”.
__ADS_1
“Lihat siapa yang mengoceh? Dia bahkan memeluknya padahal aku cuma merangkul saja”. Bisik Felix kesal.
“Apa kau bilang?”.
“T, tidak ada”.
“Sudah kalian ini berisik sekali. Ayo kembali sebelum Elvis mengamuk memberikan segunung pekerjaan sebagai balas dendam”. Lerai Freya sembari memasuki kereta kuda.
Mereka pulang bersama sesekali membahas tentang masalah yang selama ini dilalui Felix. Sejak diberikan kebebasan bekerja Felix adalah pria yang rela melakukan apa saja demi membantu pekerjaan Freya.
Mendapatkan misi mata-mata juga salah satu tugasnya. Entahlah, berada jauh dari istana membuatnya tidak nyaman. Mungkin sudah terlanjur lama tinggal di sana atau pengaruh dari keberadaan Freya.
Berbeda dari selir lainnya yang selalu patuh dan taat pada Freya, justru Felix sebaliknya. Pria itu satu-satunya yang terkadang seenaknya dan lancang menganggu gadis cantik tersebut. Tidak takut sedikitpun saat dimarahi atau diancam, bahkan hal itu menjadi batu loncat baginya sebagai seorang penganggu ketenangan Freya.
Saat semua orang takut menatap mata Freya maka Felix akan menjadi pemandu sorak untuk berani melawannya. Jika orang takut sekedar bersalaman maka Felix dengan seenak jidatnya memeluk, mencium dan menjitak Freya yang notaben seorang kaisar.
Anehnya, Freya seperti sudah biasa dan pasrah akan sifat tak sopan Felix. Baginya jika pria itu bersikap baik dan santun maka sebaiknya tabib istana segera memeriksa apakah tidak ada gejala atau penyakit yang dideritanya. Sangat tidak wajar.
Langit nyaris berubah terang saat mereka sampai di istana. Freya yang tertidur digendong Arthur masuk sedangkan Felix sudah diseret Elvis menuju istana selir.
Entah karna kelelahan bercampur penat, Freya tertidur begitu saja padahal biasanya ia akan bangun saat kereta kuda berhenti atau seseorang berada di sekitarnya namun kali ini dia bahkan tidak sadar kalau Arthur menggendongnya ala bridal style.
Perlahan Arthur membaringkan ke atas ranjang tak lupa menyelimuti hingga batas dada. Freya bergerak mencari posisi nyaman lalu mendengkur halus menandakan dirinya sudah terlelap nyenyak.
“Ck dasar. Kenapa saat kau berambisi menjadi seperti singa betina namun saat selesai wujudmu akan kembali menjadi kucing menggemaskan”. Kekeh Arthur sembari merapikan rambut yang menutupi wajah cantik tersebut.
“Tidurlah yang nyenyak, istriku. Kau hanya miliku seorang”. Sambungnya menghadiahkan kecupan di kening Freya setelah itu berlalu pergi.
Arthur berjalan melewati lorong menuju istana selir, kakinya berayun ringan hingga berhenti saat berada di depan pintu besar berwarna merah.
Cklek
Tanpa basa-basi masuk seolah-olah dirinya sudah familiyar dengan tempat itu. Ruangan yang didesain ala Jepang ini didominasi warna merah dan hitam, lilin sebagai sumber penerangan, beberapa lukisan Jepang kuno, nyaris 90% bertemakan adat Negeri Sakura tersebut.
Suasana sedikit remang bahkan cahaya bulan masih sanggup masuk sebelum cahanya digantikan oleh matahari. Aroma mint menyeruak menusuk hidung namun berkat alunan musik klasik membuat kita merasa tenang dan damai.
__ADS_1
Arthur masuk lebih dalam sembari menelusuri setiap sisi ruangan, mencari si penghuni kamar sesekali menyentuh beberapa barang antik dan unik menurutnya.
“Ohooo akhirnya datang juga”.