
-o0o-
Siapa sangka satu minggu sejak kejadian di kediaman Duke Carlos, Freya direcoki dengan ratusan hadiah dan surat dari Arthur. Mulai dari gaun hingga perhiasan bahkan yang lebih parahnya adalah hadiah dalam bentuk sepasang kuda.
Sudah berbagai cara Freya lakukan untuk menghentikan aksi tersebut namun hasilnya nihil jawaban tak dapat, hadiah terus berdatangan. Benar-benar menguji kesabaran.
Emosi Freya semakin meningkat saat membaca deretan laporan dari Elvis.
“Apa maksud semua ini?!!”.
“Seperti yang anda lihat, jumlah prajurit yang gugur saat berperang di Pulau Bulan lumayan banyak. Kita harus merekrut lagi untuk bertahan, Yang Mulia”.
“Kenapa bisa sebanyak ini?”.
“Yang Mulia jika anda lupa maka saya dengan senang hati menjelaskan bahwa semua ini terjadi karna anda menolak turun ke medan perang dan memilih mengirim para prajurit tanpa pertahanan apapun”.
Kalimat Elvis berhasil membuat Freya membeku seketika. Mengutuk dirinya sendiri karna melupakan salah satu sifat buruk Freya sebagai tokoh antagonis.
Perlahan Freya menghirup nafas dalam sebelum melepaskan dengan kasar.
“Berapa lama perjalanan menuju Pulau Bulan?”.
“Sekitar dua minggu jika menggunakan kuda dan lima menit menggunakan batu teleportasi hanya saja perjalanan ke sana memakan waktu seharian”.
Batu Teleportasi adalah salah satu ikon milik Imperial Palace, kita bisa menggunakan batu tersebut untuk pergi kemana saja. Terletak di sisi perbatasan Imperial Palace dan dijaga oleh ketua menara sihir. Batu tersebut berukuran besar dengan diameter 5 meter, berwarna ungu gradasi merah, jika melihat lebih teliti terdapat motif burung api di tengah-tengahnya.
Tidak ada yang boleh menggunakan atau sekedar menyentuh Batu tersebut kecuali kaisar dan ketua menara sihir. Jika melanggar maka siap-siap kehilangan kepala.
“Baiklah. Elvis pergi rekrut beberapa prajurit baru, tidak perlu banyak-banyak cukup menggantikan mereka yang gugur saja. Juga berikan pemakaman yang layak dan juga uang pensiun untuk keluarga yang ditunggalkan”.
“Baik”.
“Sekalian panggilkan Chaiden untuk menemuiku di sini”.
“Baik, Yang Mulia”. Walaupun masih bingung namun Elvis bergegas pergi meninggalkan Freya yang meneliti setiap laporan dengan wajah serius.
Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka menampilkan sosok Chaiden masuk dengan wajah berkeringat. Menormalkan nafas lalu mendekati meja kerja Freya.
“Chaiden datang menghadap, Yang Mulia”.
Freya menoleh. “Hm? Kau kenapa?”.
__ADS_1
“Tuan Elvis mendatangi saya saat sedang berlatih bersama para prajurit, saya langsung berlari ke sini setelah mendengar panggilan anda”.
Freya mengangguk paham.
“Ku dengar kau sudah resmi menjadi ketua kesatria istana, selamat ya”.
“Suatu kehormatan bagi saya mendapatkan pujian dari anda”.
“Jangan terlalu formal. Oh ya karna kau sudah menjadi kesatria sejati maka kutugaskan untuk pergi berperang ke Pulau Bulan”.
“Maaf? S, saya?”.
“Prajurit kita sudah kewalahan di sana dan sangat membutuhkan bantuan. Kepalaku hampir meledak melihat banyaknya orang yang gugur. Karna itu kau akan pergi ke sana...bersamaku”.
“APA!!!”.
Bukan Freya maupun Chaiden tapi manusia yang baru saja berteriak adalah Elvis yang kebetulan baru kembali.
“Y, yang mulia. Anda baru saja mengatakan apa?”.
“Apa? Mengirim Chaiden ke medan perang?”.
“Setelah itu”.
“Astaga baru kali ini aku percaya jika keajaiban itu ada. Yang Mulia Freya baru saja mengatakan akan turun ke Pulau Bulan. Kuharap ini bukan mimpi”. Serunya duduk bersujud menatap langit dengan mata berbinar.
Sungguh dramatis.
“Chaiden sayang tunjukan bakatmu pada Yang Mulia dan buatlah Imperial palace menuju kemenangan. Merdeka merdeka!!!”.
Freya hanya bisa memandang malas tingkah Elvis yang kini memeluk Chaiden erat bahkan membenamkan wajah pria tampan itu ke dadanya. Dan juga, anehnya Chaiden hanya pasrah seolah-olah sudah terbiasa dengan tingkah ajaib Elvis, kadang bijaksana kadang gesrek.
-o0o-
Dua hari kemudian waktu keberangkatan pun tiba. Semua orang sudah berkumpul di depan istana bahkan rakyat sudah menunggu dengan ceria. Kereta kuda berbaris rapi lengkap dengan para prajurit dan beberapa kesatria.
Sorakan terdengar menggema senada dengan keluarnya Freya menuju kereta kuda. Sesekali ia melambai membalas sapaan rakyatnya, Chaiden mengekor di belakang membalas dengan tersenyum cukup ampuh melelehkan jiwa para gadis yang melihatnya.
Kereta kuda mulai berjalan setelah Freya masuk sedangkan Chaiden mengawal di depan menunggangi kuda hitam berotot besar.
__ADS_1
Semua orang mengantarkan pemimpin mereka keluar gerbang istana karna untuk pertama kalinya Empress turun langsung ke lapangan, jika pemimpin ikut andil otomatis pertahanan akan kuat dan efeknya tidak akan ada lagi prajurit yang gugur.
Apalagi Freya membawa beberapa kesatrianya termasuk Chaiden yang memiliki kemampuan tak terkalahkan sudah diakui dengan pengalaman mereka saat menjalankan misi.
Elvis? Pria itu melepas kepergian pasukan dengan air mata bahagia, menaburkan bunga sembari melompat-lompat layaknya kodok kegirangan saat turun hujan, berputar bak penari balet, dan masih banyak lagi karna cukup memalukan untuk dijelaskan secara detail.
Perjalanan berjalan lancar hingga pada malam hari mereka berhenti untuk istirahat dan mulai memasang tenda dan api unggun. Freya yang tidak tau harus berbuat apa memutuskan untuk jalan-jalan malam, menatap hamparan bintang menghiasi langit.
“Yang Mulia”. Sapa seseorang senada dengan jaket bulu mendarat di pundak Freya.
“Chaiden”.
“Anda bisa masuk angin, masuklah tendanya sudah siap”.
“Sebentar lagi, bukankah menyenangkan menikmati malam sambil menatap bintang? Terasa damai dan tentram padahal sebentar lagi kita akan memasuki tempat menyeramkan penuh dengan darah”.
Chaiden mengangguk paham lalu berbalik menatap Freya sebentar sebelum beralih memeluknya erat.
“Chaiden”.
“Saya senang anda telah berubah, Yang Mulia. Rasanya seperti mimpi yang akan hilang saat terbangun. Awalnya saya kira anda hanya berubah sementara dan akan kembali saat tujuan anda terkabul tapi.... saat anda memberikan pekerjaan untuk kami dan memberikan perhatian setelah sekian lama semuanya terasa jelas. Terima kasih”.
Mendengar kalimat panjang itu menghentikan niat Freya untuk sekedar mendorong tubuh kekar yang sudah lancang memeluknya.
Chaiden adalah selir pertama Freya, terlahir dari keluarga Viscount yang telah hilang akibat peperangan. Chaiden menjadi sebatang kara hidup di jalanan hingga Freya membelinya dari pelelangan manusia. Setelah mengeluarkan emas dua kantong, pelelangan tersebut ikut lenyap tertangkap oleh pihak keamanan. Kenapa? Bukan karna baik hati, Freya hanya kesal pada sang pemilik lelang yang tidak sopan dan berani menaruh harga setinggi langit.
Chaiden sempat syok karna berakhir menjadi selir melayani Freya yang memiliki kondisi sulit mengendalikan hasrat. Namun apalah daya, menolak pun tidak bisa. Pada akhirnya Chaiden hanya bisa menutup hatinya rapat-rapat serta menahan amarah saat Freya membawa pria lain menjadi selir-selirnya.
Selain memuaskan hasrat, Chaiden merasa bersyukur bahwa tidak ada tindakan kekerasan lainnya datang padanya. Freya memperlakukan para selir dengan berharga bahkan memberikan emas dan fasilitas dengan adil. Hanya itu, berita tentang kekerasan dan ketamakan yang selama ini beredar sama sekali tidak benar.
Bertahun-tahun kemudian dimana Freya pingsan karna keracunan makanan, istana menjadi kacau balau. Beruntung Chaiden dan Elvis berhasil menemukan pelaku yaitu seorang pelayan abal-abal utusan dari orang yang membenci Freya.
Chaiden berfikir kenapa dirinya mau untuk repot-repot mencari si pelaku, seharusnya dia nerasa senang berharap gadis itu mati perlahan namun tetap saja hati kecilnya memberontak.
Bagaimanapun juga kalau bukan karna Freya telah membelinya mungkin selamanya Chaiden akan disiksa atau bahkan diperlakukan tidak wajar oleh orang lain yang berniat membelinya. Bukankah bersyukur adalah tindakan yang benar? Pantang bagi Chaiden melupakan jasa seseorang padanya.
Saat berita bangunnya Freya tersebar dengan cepat Chaiden mendatangi kamar, langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan para pelayan bahwa Freya bertingkah aneh tidak seperti biasanya. Saat di cari tahu memang benar banyak sekali keganjalan.
Tidak ada lagi Freya yang sombong dan egois, semua pekerjaan yang tidak pernah ia sentuh kini telah selesai dengan baik. Memecat semua pelayan pemalas dan pemberontak lalu merekrut lagi pelayan yang lebih sportif dan kompeten.
Bahkan Chaiden nyaris gila saat Freya memutuskan untuk memperkerjakan para selir saat sebelumnya dia tidak memperbolehkan mereka sekedar keluar istana. Wajar jika dirinya meragukan segala perubahan tersebut hingga kata ‘percaya’ timbul sesaat setelah keputusan terjun ke medan perang datang. Menjadi pemimpin kesatria dan berperang bersama Freya, bohong jika Chaiden tidak senang.
__ADS_1
Ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, pergi ke tempat yang jauh bersama Freya. Gadis yang ia cintai dan hormati melebihi dirinya sendiri. Memantapkan diri bahwa bagaimanapun dan apapun yang terjadi nantinya Chaiden akan melindungi Freya walaupun harus mempertaruhkan nyawanya.
Camkan itu.