Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat

Reinkarnasi Menjadi Tokoh Utama Wanita Jahat
Part 24. Sahabat


__ADS_3

-o0o-


"Yang Mulia saya datang membawakan selimut anda". Seru seorang gadis sembari memasuki tenda besar berwarna hitam.


Meletakkannya ke atas kasur kemudian membungkuk sopan.


"Apa ada yang diperlukan lagi, Yang Mulia?". Serunya pada pria yang sejak satu jam yang lalu masih menekuni peta membentang sepanjang meja


"Tidak ada, kau bisa kembali Scarlet".


"Baik Yang Mulia".


Sepeninggalan gadis yang menjadi tangan kanannya selama bertahun-tahun tersebut membuat Arthur membuang nafas berat. Dibaliknya peta besar itu memperlihatkan beberapa kertas berisi laporan keseharian Freya dan Ray selama dirinya tidak ada.


Jangan pernah mengatakan bahwa Arthur tidak peduli dengan keadaan mereka karena bagaimanapun juga Freya dan Ray sangat berharga bagi seorang Arthur. Mengirimkan kesatria bayangan mengawasi mereka dan diam-diam melaporkan padanya bukanlah tindakan kriminal, wajar saja bukan?


Beberapa kali Arthur nyaris kembali saat mengetahui tentang penyerangan yang membahayakan nyawa dua insan tersebut namun berkat 'nasehat' Scarlet pupus sudah semuanya.


Gila memang jika saja Arthur memaksa kembali maka 100% mereka akan kalah telak. Kehadiran Arthur sangat berpengaruh karena memiliki segudang strategi dan taktik mematikan. Berterima kasihlah pada Scarlet.


"2 Minggu lagi, tunggu aku. Kita akan segera berkumpul dan tidak akan kubiarkan seorangpun menyentuh kalian". Gumamnya tersenyum miring.


"Yang Mulia". Sapa seseorang membuat Arthur dengan cepat menyembunyikan kertas tersebut.


"Masuk".


Tak lama kemudian sosok Scarlet kembali tampak namun kali ini terdapat sebuah kotak panjang di tangannya.


"Sahabat anda sudah sampai".


Dengan semangat Arthur bangkit mengambil alih kotak tersebut. Membukanya sepekan mungkin mengingat sudah lama sejak terakhir kali benda tersebut digunakan.


Sing!!

__ADS_1


Dari dalam kotak tampak sebilah pedang bersarung emas dengan motif naga pada bagian gagangnya. Bentuknya masih bagus seperti baru berbeda dengan kotak yang sudah tua dan keropos.


Scarlet tau jika Arthur meminta sahabatnya tersebut maka pria itu berniat untuk mengakhiri perang dengan cepat. Kenapa? Karena pedang itu bukanlah pedang biasa.


Dragon Eyes. Itulah nama pedang panjang nan tajam yang menjadi pusaka kerajaan. Memiliki Magic Stone di bagian gagangnya dan akan berfungsi saat pedang tersebut bebas dari sarungnya.


Sudah diwariskan secara turun temurun namun baru dua kali digunakan. Pedang itu akan berfungsi jika penggunanya memiliki energi yang kuat dan tentunya pengguna harus percaya pada pedangnya, jika tidak maka pedang tersebut tidak akan berfungsi dengan baik.


Selain itu pengguna harus berlatih ekstra mengingat beratnya pedang tersebut saat berada di tangan manusia. Kelemahannya adalah mudahnya situasi dimana pedang tersebut diambil alih, tidak terkecuali orang jahat sekalipun. Syarat nya hanya kuat dan percaya, sudah itu saja.


Jika sudah maka kalian bisa melenyapkan ratusan musuh hanya dengan sekali ayunan. Bagi musuh, tidak akan ada kesempatan bagi mereka jika sempat melihat maupun melawannya. Luar biasa namun sangat beresiko tinggi.


"Yang Mulia sepertinya anda sangat merindukan Yang Mulia Freya sampai-sampai membawa pusaka kerajaan ke Medan perang". Seketika lamunan Arthur buyar mendengar ocehan Scarlet.


"Diam kau".


"Tidak ada yang melarang untuk merindukan seseorang namun membawa pusaka bukankah tindakan curang?".


"Curang atau tidak bukan urusanmu. Panggilkan ketua pasukan untuk menemuiku secepatnya".


"Scarlet!!".


"Iya iya saya mengerti". Dengusnya berlalu pergi sedangkan Arthur menggeleng pasrah.


-o0o-


Dilain sisi Imperial Palace sedang heboh karena Ray dengan asyik nya mendandani semua kesatria, mengikatkan pedang mereka dengan pita merah muda dan mahkota bunga.


Bahkan para pelayan ikut menjadi korbannya, bukan tanpa alasan karena hari ini merupakan hari ulang tahun Freya Grizelle, ibunya.


Freya menyukai bunga dan merah muda, itulah mengapa Ray melakukan semua kekacauan tersebut. Morgan pelayan tertua tidak terkecuali bahkan kini dengan tenangnya ia menemani Ray merangkai mahkota bunga bersama para pelayan lainnya.


"Jangan sampai salah ya, nanti ibu sedih". Oceh Ray seraya menunjuk pelayan pria yang sama sekali tidak berbakat merangkai bunga.

__ADS_1


"B, baik tuan muda".


"Mumpung ibu sedang rapat dan kembali nanti sore, kita bisa menyiapkan dekorasi yang cantik. Semua orang harus ikut".


Walaupun lelah namun semua orang bahagia menemani tuan muda nan imut dan penuh aura tampan penuh kesempurnaan. Membuat siapa saja tidak mengenal apa itu kata bosan.


"Kakek apa kue nya sudah selesai?". Tanya Ray pada Morgan.


"Sebentar lagi tuan muda. Para koki sedang menghiasnya secantik mungkin, juga menyiapkan makanan sesuai perintah anda".


"Baiklah, terima kasih kakek". Balasnya kembali fokus merangkai.


"Hati-hati jangan sampai melukai diri anda, tuan muda. Yang Mulia akan sedih jika melihatnya". Ingat Morgan karena sejak tadi Ray bersemangat bahkan nyaris melukai jarinya saat berniat memetik bunga.


"Astaga betapa manisnya tuan muda, dia sangat menyayangi Yang Mulia". Kagum salah satu pelayan wanita.


"Benar, bahkan pagi tadi dia bangun sendiri bahkan sudah selesai mandi. Padahal sebelumnya malaikat kita terus bermimpi indah sampai Yang Mulia membangunkannya". Sambung pelayan lainnya.


"Rasanya aku ingin segera menikah dan memiliki anak seperti tuan muda".


"Sepertinya kau harus memikirkan jodoh dulu baru anak". Kekeh salah seorang pelayan pria membuatnya merengut kesal.


"Kau itu merusak mimpi orang saja".


"Huss diamlah, kalian berisik sekali". Lerai Morgan membungkam semuanya.


Di lain sisi Ray tersenyum bahagia melihat hasil karyanya, meletakkan ke atas kain dan beralih memotong pita. Otaknya membayangkan betapa kaget dan terharunya Freya saat melihat kerja keras selama seharian penuh. Membayangkan Freya memeluknya dengan wajah yang tersenyum lembut.


Ingin rasanya mempercepat waktu hingga malam karena saat itu istana mengadakan perayaan ulang tahun besar-besaran. Membayangkannya saja menyenangkan.


Setelah selesai dengan karangan bunganya, Ray langsung membagikan nya pada anak-anak seusianya. Ya selama berada di Imperial Palace Ray selalu bermain dengan mereka karena Freya sengaja membawa anak-anak dari klan bunga untuk bermain di istana.


Setidaknya Ray tidak akan kesepian karena Freya sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang kaisar. Bukanya lari dari tanggung jawab, Freya bahkan bela-belain main bersama Ray sampai jam tidur tiba walaupun sebenarnya tubuh mungil itu serasa remuk namun berkat Ray semua terkendali dengan baik.

__ADS_1


Klan bunga kebetulan memiliki anak-anak yang sebaya dengan Ray, itulah mengapa Freya memilih mereka karena selain banyak mereka juga termasuk anak-anak yang ramah.


Jadi tidak perlu cemas tentang kasus pembullyan atau semacamnya, kalau memang terjadi mereka pasti sudah tau siapa dan apa yang akan terjadi jika berurusan dengan anggota kerajaan. Pastinya harus berfikir dua kali untuk melakukannya, apalagi Ray adalah putra semata wayang dari Kaisar Arthur, masalahnya bisa bertambah dua kali lipat lebih rumit dan mematikan.


__ADS_2