Rumah Tanggaku Hancur

Rumah Tanggaku Hancur
1. Awal Mula


__ADS_3

Perkenalkan nama saya Anti. Saya bekerja sebagai ASN dan saya sudah menikah. Saya mempunyai 2 orang anak perempuan berumur 10 dan 14 tahun, suami saya juga seorang ASN yang merantau dari kampungnya kemudian bertemu dengan saya dan setelah berpacaran selama 6 bulan, kami memutuskan untuk menikah.


Saat saya menikah umur saya 27 tahun dan umur suami 33 tahun. Awal pernikahan sampai lahir anak pertama semua baik - baik saja, meskipun kami masih mengontrak rumah namun kehidupan kami bahagia. Setelah anak pertama kami berumur 3 tahun lebih, saya kembali di beri rejeki untuk mengandung anak kedua. Kehidupan rumah tangga kami mungkin bisa dibilang harmonis, meskipun suami tidak romantis tetapi dia selalu menjaga perasaan saya dengan baik.


Suka dan duka kami jalani dengan ikhlas dan tabah, saya selalu ingat pesan kedua orang tua saya apabila sudah berumahtangga nanti harus taat pada suami dan menjaga kehormatan suami dan diri sendiri. Meskipun saya sudah memiliki pekerjaan tetap dengan masa depan yang cerah tetap tidak membuat saya melupakan kodrat saya sebagai seorang istri dan ibu dari anak - anak saya nantinya yang akan selalu memberikan kenyamanan dalam rumah tangga saya. Saya selalu mengingatkan kepada kedua anak saya untuk selalu berbuat baik kepada orang lain dan selalu percaya bahwa apabila kita menanam kebaikan pada orang lain maka kita akan menuai kebaikan pula nantinya.

__ADS_1


Setelah melahirkan anak kedua kami, rejeki suami mengalir sehingga kami bisa membeli rumah sendiri. Saya merasa sangat bahagia dengan kehidupan yang selama ini saya jalani, meskipun saya sudah tidak mempunyai kedua orang tua lagi tetapi suami saya sangat perhatian pada saya. Kisah percintaan kami tidaklah seperti yang di film - film, suami saya orangnya tidak romantis mungkin karena umurnya yang sudah matang sehingga pemikirannya sudah jauh ke depan. Maka setelah 6 bulan masa pacaran, suami langsung ajak menikah.


Pada saat kedua anak saya sudah masuk sekolah dasar, suami saya menduduki jabatan yang bergengsi di kantornya yang membuat dia hampir setiap bulan mendapat tugas keluar kota maupun keluar daerah. Begitu juga dengan karir saya yang mulai naik, akan tetapi saya tetap membatasi diri saya agar selalu menemani kedua anak saya di rumah tanpa melibatkan baby sitter atau pembantu. Meskipun kadang anak - anak sering merindukan momen liburan bersama ayahnya, tetapi kami selalu memberikan pengertian kepada mereka bahwa yang kami lakukan adalah untuk membahagiakan mereka nantinya.


Saya sangat bersyukur dengan semua hal yang terjadi pada rumah tangga saya, memiliki suami yang baik dengan karir yang bagus pula dan saya pun memiliki karir yang menjanjikan untuk kesejahteraan anak - anak kami. Meskipun kami terlihat sibuk di luar rumah, kami tetap berkomitmen untuk tetap selalu menomorsatukan anak - anak di banding hal lainnya karena kami sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yag berharga.

__ADS_1


Semenjak karir suami saya naik sehingga dia bisa menduduki jabatan yang bergengsi di kantornya, dia mulai ditugaskan untuk sering keluar kota ataupun keluar daerah yang memakan waktu lumayan lama sehingga membuat anak - anak sering merindukan sosok ayahnya. Dan ternyata disinilah letak bencana yang menimpa pada rumah tangga saya.


Karya pertama saya...


Mudah - mudahan suka ya...

__ADS_1


Jangan lupa di like, coment n vote..


🙏🙏


__ADS_2