
Seperti yang dijanjikan Dion pada Anti bahwa dia akan menghubungi Anti setelah berbicara dengan kedua orang tuanya, maka Dion menelepon tunangannya tersebut sambil berbaring di kasurnya yang empuk karena saat ini dia akan menginap di rumah orang tuanya. "assalamualaikum sayang" sapa Dion via telepon. "waalaikumsalam mas,," jawab Anti. "kamu belum tidur kan sayang?" tanya Dion. "belum mas, aku nungguin telepon kamu dari tadi jadi aku gak bisa tidur" balas Anti. "mas udah bicara dengan orang tua mas, bulan depan kita nikah. Semua persiapan pernikahan mama yang urus, mas udah kasih nomor hp kamu sama mama jadi nanti kamu bisa sharing soal pernikahan kita. Mas percaya sama kamu kalo kamu pasti ingin yang terbaik buat pernikahan kita" kata Dion panjang lebar. Anti sangat terharu sampai meneteskan air matanya dan hanya terdiam tanpa bisa membalas kata - kata tunangannya itu. "sayang,,, kamu dengar mas bicara kan?" tanya Dion khawatir karena cukup lama tidak mendengar suara Anti. "hiks,,, aku denger mas" jawab Anti sesegukan menahan suara sendunya. "sayang,,, kok kamu nangis? Mas salah ngomong ya sayang,,, kamu gak apa - apa kan? Apa mas kesitu sekarang aja sayang? Jangan bikin mas khawatir donk.." tanya Dion beruntun. "hehe,,, aku gak apa - apa mas. Banyak amat sih mas pertanyaannya" kata Anti sambil tertawa kecil sambil menghapus air matanya. "huh,,, kamu buat mas deg - degan tau gak? Sekarang bilang sama mas, kenapa kamu nangis tadi sampe gak jawab pertanyaan mas?" tanya Dion kemudian. "aku terharu sama perhatian mas apalagi orang tua mas, aku seneng banget mas karena udah lama gak pernah ngerasain kasih sayang orang tua apalagi mama. Makasih banyak mas buat semuanya" jawab Anti dengan nada sendu. "sudah,,, kamu gak perlu ngerasa seperti itu lagi karena bulan depan kamu akan dapat semua kasih sayang dari mas dan orang tua mas. Jadi sekarang bidadari mas tidur ya, besok sudah mulai persiapan pernikahan kita sekalian ngatur kerjaan kita di kantor" balas Dion penuh perhatian. "iya mas,, aku istirahat dulu ya. Mas juga tidur ya, besok ketemu di kantor" jawab Anti. "siap sayangnya mas,,, love you" kata Dion sambil tersenyum. Anti yang kaget mendengar perkataan Dion hanya bisa membalas "selamat tidur mas,, jangan lupa berdoa dan mimpi indah ya". "iya sayang,,, love you" ulang Dion. "iya mas,,, assalamualaikum" jawab Anti canggung. "kok udah salam sih? Di balas donk kata cintanya mas, mas ulangin ya. Love you sayang,," kata Dion dengan gemas. "ehmm,,,lov..lo..love you too masku" jawab Anti terbata - bata. "gitu donk sayang,, mulai sekarang biasakan ya ngomongnya" kata Dion kemudian. "iya mas,, aku usahain" jawab Anti. "ya udah mas tutup telponnya, love you sayang. Assalamualaikum" kata Dion lagi. "iya mas, love you too mas. Waalaikumsalam" jawab Anti spontan.
Keesokan harinya, Dion dan Anti bekerja seperti biasanya hanya saja Anti harus pulang lebih cepat karena calon ibu mertuanya mengajak untuk melihat desain undangan pernikahan dan juga catering yang akan di pakai saat resepsi nanti. Setelah selesai makan siang Anti sudah dijemput oleh ibunya Dion di depan kantor kemudian mereka pergi ke tempat yang telah dijanjikan untuk melihat desain undangan. Ibunya Dion sangat antusias dengan acara ini karena memang dari dulu ia ingin melihat anak sulungnya itu menikah dan sekarang dia sudah tidak sabar menantikannya. Selepas memilih undangan yang telah disepakati oleh Anti dan Dion, mereka menuju tempat catering yang telah dipesan oleh calon ibu mertunya dan mereka testing food yang akan disajikan saat resepsi nanti. Tentunya semua itu tak lepas dari keinginan calon kedua mempelai, karena Anti tidak mau semua hal hanya dengan pengamatannya saja meskipun Dion telah menyerahkan sepenuhnya pada pilihan Anti tetapi Anti tetap menanyakan pendapat calon suaminya itu. Hampir menjelang malam keduanya selesai, kemudian ibunya Dion mengajak Anti ke rumah mereka untuk makan malam bersama.