
Maura hampir tak tertidur hanya untuk menunggu jawaban pesan dari Kendra. Sama seperti waktu pertunangan Harvey, ia juga menanti penjelasan pria itu, tapi malam ini terasa lebih menyiksa.
Maura tak hanya menanti, ia menangis hampir semalaman, alhasil ia bangun dengan mata sembab. Besok paginya dengan penuh harap ia berangkat ke kampus dan ingin segera menemui Kendra.
Sayangnya waktu dan masa tidak berpihak padanya. Ia tidak menemukan Kendra di manapun. Lahan kampus yang besar, ia telah susuri hampir setengah hari, tapi sosok pemuda tinggi bermata coklat teduh itu seolah lenyap tanpa bekas.
Kendra bukan mahasiswa yang pandai bergaul. Ia tidak suka akan basa basi dan aktivitas perkumpulan mahasiswa yang menurutnya membuang waktu. Hidupnya hanya kerja agar dapat terbebas dari kekangan orang yang ia sebut Papa.
Ia ingin menunjukan pada Papanya, jika ia bisa mandiri tanpa bantuan dana dari Papanya. Tak banyak cakap dan bergaul, membuat ada atau tidaknya Kendra di lingkungan kampus tidak membuat teman-temannya merasa kehilangan. Sehingga saat Maura menanyakan keberadaan Kendra, mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala atau bahkan tidak peduli.
Maura duduk bersandar pohon di atas rumput. Ia mengusap keningnya yang berkeringat karena lelah berjalan kesana kemari mencari Kendra. Ia memeriksa ponselnya entah sudah untuk yang keberapa kali, tapi tetap tidak ada yang berubah dari kiriman pesan terakhir kalinya.
"Hai, Sayang lama kamu tidak kemari, kangen ya. Mau nonton sekarang?" Tanpa mengangkat kepalanya, ia sudah tahu siapa pemilik sepatu coklat yang berdiri dihadapannya.
Maura melengos lalu berdiri dan berjalan membelakangi Harvey. Tangan pria itu menarik lengannya hingga tubuhnya kembali menghadap mantan kekasihnya itu.
"Kamu cari dia? Kamu sudah tertarik dengan dia? Atau hanya pelarian karena sakit hati denganku?"
Maura mengibaskan lengannya, tapi tangan Harvey mencengkram kuat pergelangan tangannya, "Lepas, Harvey. Ini bukan urusanmu, kita sudah tidak ada hubungan apapun."
"Kata siapa kita tak ada hubungan apapun. Aku tidak pernah memutuskan hubungan kita, kamu tetap calon istriku."
"Kata tunanganmu!" Maura menyentak tangannya semakin keras hingga cengkraman Harvey terlepas.
...❤️...
Sakit kepala Harvey menghadapi gadisnya yang dulunya polos dan penurut berubah menjadi pemberontak dan berani menentangnya. Ia tetap tak mau melepaskan Maura. Ia berencana akan menikahi Reva terlebih dulu, selanjutnya Maura ia nikahi juga. Kalaupun ia terpaksa harus menikahi Reva dan melepaskan Maura, setidaknya kekasihnya itu bukan menjadi milik saudara tirinya. Ia tidak akan pernah rela.
Harvey mendatangi kantor Papanya, berusaha mengajukan penawaran lain.
__ADS_1
"Pa, tidak adakah cara selain aku menikah dengan Reva?"
"Di depan Papa dan kedua orangtuanya, Reva mengatakan kalian sudah sering tidur bersama. Cara bagaimana lagi yang kamu inginkan!" Papanya menatap geram pada putranya.
Harvey terkesiap, ia tidak menyangka Reva membuka hal memalukan itu pada orangtua mereka. Wanita itu benar-benar tidak mau melepaskannya juga.
"Kamu itu pakai otak sebelum melakukan sesuatu! Gara-gara perbuatan kalian, pernikahanmu akan dipercepat!"
Harvey terhenyak di atas kursinya. Ia tidak menyangka kedatangannya ke kantor Papanya untuk bernegosiasi, malah mendapatkan berita yang mengejutkan seperti ini.
"Tapi aku belum selesai kuliah."
"Lupakan kuliahmu, gelar kedokteranmu tidak akan berguna di perusahaan kita."
Harvey memukul meja didepannya dengan geram, "Ini semua gara-gara Papa! Kenapa bukan anak haram itu yang Papa korbankan demi perusahaan ini!"
"Aku tidak pernah mengakuinya sebagai saudara. Sekarang bagaimana nasibku dengan Maura, Pa? Aku masih mencintainya. Papa tahu, gara-gara perjodohan ini anak yang Papa sayangi itu merebut Maura dariku!" Harvey berdiri dari duduknya dan mengacungkan jari telunjuknya seolah Kendra ada di hadapannya.
"Andaikan kamu bisa menahan nafsumu, hubunganmu dengan pacarmu itu masih bisa dipertahankan. Sekarang apa yang bisa Papa katakan pada Om Maryono, sedangkan putrinya sudah kau tiduri berkali-kali!" Tuan Bramantyo tampak geram dengan kelakuan putranya.
"Baik, aku akan menikahi Reva, tapi aku minta sesuatu dari Papa."
Tuan Bramantyo memicingkan matanya menanti lanjutan kalimat dari putranya yang sore ini terlihat berantakan.
"Jauhkan Kendra dari kota ini. Papa mau bawa dia kemana saja, terserah! Asal dia tidak bisa mendekati Mauraku lagi."
Tuan Bramantyo mendengus mendengar permintaan Harvey yang terkesan egois dan kekanakan.
"Apa lagi yang kau harapkan dari gadis itu? Mana mau dia menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti?"
__ADS_1
"Itu urusanku, tugas Papa hanya bawa pergi anak kesayangan Papa itu sejauh-jauhnya dan aku akan menyelamatkan perusahaan ini."
Resah berganti menghinggapi Tuan Bramantyo, Pria usia awal 60tahun itu mengerutkan keningnya dalam. Benar apa kata Harvey, ia lebih sayang dan perhatian pada Kendra meski mereka tidak pernah tinggal dalam satu atap yang sama, karena anak keduanya itu lahir dari rahim wanita yang paling dicintainya. Hadirnya Kendra atas dasar cinta, bukan sekedar nafsu.
Namun menghadapi Kendra tak semudah yang dikira, putra keduanya itu memendam rasa tak suka padanya sejak dulu. Sebanyak apapun ia mencurahkan perhatian berupa hadiah dan kekayaan, Kendra tetap dingin jika bersamanya.
"Nanti Papa usahakan," ucap Tuan Bramantyo akhirnya.
...❤️...
Pulang dari mengantar barang sebagai kurir, Kendra menemukan Papanya sedang duduk di teras bersama Mamanya.
"Ken, salam dulu," tegur Mamanya ketika ia hendak masuk ke dalam rumah begitu saja.
Ia hanya sekilas mencium tangan Papanya yang sudah tampak keriput.
"Sudah malam, Ma. Tidak baik dilihat orang, wanita duduk berdua dengan pria semalam ini," ujar Kendra menyindir.
"Papa datang kemari ingin berbicara denganmu, Ken."
Kendra tak menghiraukan ucapan pria itu, ia tetap akan masuk ke dalam rumah, tapi permintaan Mamanya menghentikan langkahnya.
"Duduk dulu, Ken. Bersikap sopanlah, ini Papamu."
Kendra menghembuskan nafas dengan keras lalu berbalik dan duduk berseberangan dengan Papanya.
...❤️🤍...
__ADS_1