Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
RUH 38


__ADS_3

Kendra diam berdiri menunggu jawaban Papanya yang tampak tergagap dan berhati-hati sekali memberikan jawaban.


"Papa mau aku kerja di kantor sebagai apa? Penjaga cafetaria? atau tukang masak?" tanya Kendra sinis.


"Maksud Papa bukan seperti itu, Ken Papa minta kamu jadi asisten Papa, sambil belajar tentang seluk beluk perusahaan."


"Satu-satunya ilmu yang aku kuasai dan minati hanya bidang kuliner, Pa, dan aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis perdagangan yang Papa geluti. Papa bisa berikan itu semua pada anak Papa yang satunya lagi, aku tidak berminat," tolak Kendra seraya membalikan badan lalu berjalan menjauh.


"Keras kepalanya tidak berubah." Pak Bram menggumam. Kepalanya menggeleng dan menatap sedih pada Kendra yang berjalan semakin jauh.


"Jangan terlalu memaksanya kalau tidak ingin dia tambah menjauh. Kamu tahu dia tidak ingin masuk ke dalam kehidupanmu dan merusak keluargamu," ucap Mama Kendra.


"Aku tahu, mungkin aku yang terlalu menggebu karena terlalu bahagia kalian sudah berada di sampingku lagi. Bagiku, kamu dan Kendra itulah keluargaku yang sebenarnya," ujar Pak Bram seraya menggamit mesra pinggang Mama Kendra.


Sadar akan hubungan mereka yang tak pernah ada status resmi, Mama Kendra melepaskan tangan Pak Bram dari pinggangnya lalu berjalan cepat mengikuti Kendra. Ia takut jika ada mata yang melihat kedekatan mereka dan mengangkat beritanya ke publik.


Menyadari kesalahannya Pak Bram menghela nafas berat, lalu berjalan membuntuti Kendra serta Mamanya.


"Ken, maaf kalau Papa mungkin terkesan memaksamu. Papa hanya inginkan yang terbaik untukmu," ucap Pak Bram saat ketiganya berdiri berjajar menunggu sopir Pak Bram mengambil mobil.


"Aku bisa mengatur hidupku sendiri, Pa. Tak perlu khawatir. Kami sudah bisa hidup sendiri dan mandiri, ya 'kan Ma?" Kendra menyeringai tipis.


Sekali lagi Pak Bram menghela nafas panjang. Ia tahu sindiran itu bentuk kekecewaan Kendra akan statusnya sebagai anak tanpa ayah.


"Teman Papa ada yang baru buka usaha restoran. Kalau kamu mau, kamu bisa belajar dengan keponakannya yang mengelola."

__ADS_1


"Restoran itu punya Papa?" tanya Kendra menyelidik.


"Bukan, teman Papa baru merintis usaha kuliner. Bagaimana kalau kita makan siang di sana sekalian kamu lihat restorannya?"


Kendra berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. Pak Bram tersenyum lega, penawarannya disambut baik oleh Kendra. Usahanya untuk semakin dekat dengan putra keduanya ini, ada sedikit jalan terbuka lagi.


Sepanjang perjalanan menuju restoran yang direkomendasikan Papanya, Kendra memilih diam menikmati kenangan kota kelahirannya. Kota di mana ia pertama merasakan cinta dan kehilangan cinta sekaligus.


Saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah, sepasang anak muda berboncengan motor yang juga ikut berhenti menarik perhatiannya. Si pria terlihat menggoda wanita yang duduk di belakangnya, lalu wanita itu tampak marah dan cemberut lantas mencubit pinggang si pria. Tak lama tangan si pria terangkat mengusap pipi si wanita untuk meminta maaf, lalu menarik kedua tangan si wanita untuk semakin memeluk tubuhnya.


Sungguh romantis, tapi menyakitkan di mata Kendra. Baru saja mendarat di Indonesia, ia sudah diperlihatkan oleh pemandangan yang mengingatkannya beberapa tahun silam. Mau tak mau ingatannya melayang saat Maura marah, cemberut dan kesal karena sering ia goda. Jika seperti itu, ia akan mencubit hidung Maura lalu mengacak-acak rambutnya. Dan untuk permintaan maaf, ia dengan senang hati akan memasak apapun untuk gadisnya itu.


'Gadisnya' Kendra tertawa miris dalam hati saat sebutan itu melintas di dalam pikirannya. 'Kakak ipar', mungkin sebutan ini yang akan ia sematkan untuk Maura nantinya. Tawa Mamanya dan pria yang ia sebut Papa di bangku belakang, semakin menambah pening kepalanya.


"Kita sudah sampai," ujar Pak Bram. Restoran yang dimaksud Papanya ini tergolong cukup besar tapi terkesan hangat.


"Wah hebat sekali kamu, terakhir saya kemari bagian ini belum ada," ujar Pak Bram seraya menunjuk deretan gazebo yang mengelilingi sebuah kolam besar. Kendra dan Mamanya memandang sekitar dengan kagum lalu mengangguk setuju.


"Om bisa aja. Terima kasih. Ini anak Om yang diceritakan di telepon tadi?" Reno menunjuk Kendra.


"Iya, namanya Kendra. Kendra dan Mamanya baru saja saya jemput dari bandara langsung saya ajak kesini biar belajar sama kamu." Kendra sedikit terkejut dan panik saat Papanya mengenalkannya sebagai anak. Ia khawatir bagaimana pandangan orang lain terhadap Mamanya nanti? Namun sepertinya pria yang menjabat tangannya saat ini terlihat tidak mempermasalahkan ataupun bingung dengan statusnya.


"Waduuh, terbalik Om. Seharusnya saya yang awam ini belajar dari lulusan Le Cordon Blue." Reno menepuk keningnya sendiri.


"Mas Reno jauh lebih keren bisa punya usaha sebesar ini, kalau saya hanya tukang masak," timpal Kendra merendah.

__ADS_1


"Kamu juga bisa malah dua kali lipat lebih besar dari ini, tinggal colek Papamu aja," bisik Reno berkelakar.


"Kalian berdua bisa saling belajar dan bekerjasama. Reno pandai dalam management, Kendra pandai dalam resep olah makanan." Pak Bram menepuk bahu keduanya.


"Mari kita berbincang sambil makan ya. Saya sudah sediakan menu andalan dari restoran ini. Tolong di review ya, Ken, tapi jangan terlalu jujur saya belum siap mental maklum baru merintis." Reno melucu dengan memasang wajah melas.


Melihat putra bungsunya dan Keponakan kawannya tampak akrab, Pak Bram tersenyum puas. Kendra tampak nyaman dan sesekali tertawa dengan gurauan Reno.


"Mas Reno luar biasa masih muda sudah sukses. Makanannya enak semua, tempatnya nyaman." Puas menikmati hidangan, kepala Kendra berputar mengagumi interior dan karyawan yang cekatan melayani pelanggan.


"Benar? Kalau ada yang kurang kasih tahulah, kamu jangan sungkan. Aku juga masih banyak belajar karena basic pendidikanku bukan di bidang FnB soalnya."


"Oh ya?" Mata Kendra menyipit heran.


"Aku ini tergolong manusia yang beruntung, bingung cari kerjaan kesana kemari ga ada yang mau terima, Om ku tawari untuk kembangkan usaha restorannya. Aku di sini sih hanya kacung." Reno tergelak merasa geli dengan ucapannya sendiri.


"Reno ini terlalu merendah, dia ini sebenarnya pakar IT bosan kerja dari rumah terus, lalu ingin coba dunia baru," celetuk Pak Bram.


"Berkat Om Bram juga saya belajar banyak tentang dunia bisnis."


"Mmm," sahut Kendra datar. Aneh rasanya mendengar Papanya tampak hebat di mata orang lain.


"Ayo aku tunjukan kitchen-nya." Membaca situasi yang tidak enak, Reno mengalihkan perhatian Kendra, "Deg-deg an bawa chef beneran masuk ke dapur nih," celetuk Reno, "Kata Papamu, kamu sedang mencari pekerjaan sambil belajar mendalami usaha restoran?" tanya Reno sembari menemani Kendra berkeliling dapur restorannya.


"Iya." Kendra mengangguk, "Mas Reno ga merasa aneh dengan statusku sebagai anak Pak Bram?" Kendra menoleh ke Reno yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2