Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Pantang menyerah Harvey


__ADS_3

"Aku mau pulang ke rumah saja." Selepas dari pengamatan kawan-kawannya, Maura baru berani menyentak pegangan tangan Harvey.


"Baiklah, aku antar ya." Dengan senang hati Harvey membuka pintu mobil untuk Maura.


Di dalam mobil, Maura melipat kedua tangannya dan terus menatap ke arah luar jendela mobil. Hatinya geram mengingat lancangnya Harvey menghubungi Mamanya yang sedang berada di luar kota.


"Masih ngambek?" Harvey mencolek dagu Maura dan dengan kasar Maura langsung menampik tangan pria itu, "Nah seperti ini yang aku bilang sama Mamamu, 'Maura itu sekarang mudah marah, Ma'," ucap Harvey berusaha menggoda kekasihnya.


"Mudah marah? Kamu sadar ga sih karena apa aku marah? aku heran, kamu masih punya muka dan nyali menghubungi orangtuaku setelah apa yang kamu perbuat? Ga habis pikir aku." Maura mengomel sembari menggelengkan kepalanya.


Harvey hanya tersenyum penuh arti. Maura bertambah geram melihatnya. Hubungan Harvey dengan orangtuanya terutama Mamanya, sangat dekat sekali. Selain Harvey anak yang sopan dan bisa dipercaya sebelum kejadian tunangan pemuda itu, Harvey memang pandai bertutur kata sehingga mampu membuat oranglain percaya dan terkesima dibuatnya.


Andaikan kedua orangtuanya ada bersamanya dalam satu kota dan perusahaan mereka sedang tidak mengalami masalah besar, ia tentu sudah akan menceritakan bahwa selain bertunangan, Harvey juga sudah sering berbuat zinah dengan perempuan itu. Ia hanya menahan lidahnya, agar tidak menambah beban pikiran orangtuanya.


Harvey tersenyum simpul, sebelum memutuskan untuk mendekati Maura kembali ia sudah terlebih dulu menghubungi dan menjalin keakraban dengan orangtua gadis itu. Ia teringat pembicaraannya dengan Mama Maura malam itu lewat sambungan telepon.


'Selamat malam, Ma,' ucapnya dengan nada sedih dan sedikit terisak.


'Malam, Harvey. Ada apa,' sahut Lea, Mama maura datar. Sejahat-jahatnya pemuda ini bagi putrinya, Harvey tetaplah seorang anak dan dia sebagai orangtua tetap harus bisa menguasai emosinya.


'Saya minta maaf, Ma.'


'Ya, tak apa sudah terjadi. Kalian masih pacaran, putus itu sudah biasa. Berarti kalian tidak berjodoh.'


'Tapi, Ma, saya masih mencintai Maura. Pertunanganku kemarin itu, Papa yang meminta untuk menyelamatkan perusahaannya. Aku sebenarnya tidak mau, Ma. Maura juga tahu itu.' Harvey mulai terisak. Apa yang diucapkannya itu memang dari sudut hatinya yang terdalam. Soal apa yang dilakukannya dengan Reva, itu nafsu yang berperan.


'Sudahlah, Harvey, saya dan Papinya Maura sudah menerima. Maura juga, Mama lihat dia sudah bisa menerima keputusanmu.'


'Tidak, Ma. Saya masih mau melanjutkan hubungan dengan Maura. Soal pertunangan, aku sudah berniat memutuskannya, Ma. Ternyata aku tidak bisa hidup tanpa Maura, berat untukku.'

__ADS_1


'Lalu kamu mau apa, Harvey. Apa gunanya kamu bilang semua ini pada saya?' Lea mulai gerah tapi juga ada rasa iba.


Ia juga sebenarnya kecewa jika pemuda itu tidak jadi dengan putrinya. Sepanjang hubungan mereka berjalan, sekalipun Harvey tidak pernah menyakiti Maura. Sikap dan tabiatnya sangat sempurna untuk dijadikan seorang menantu. Namun, jika memang bukan jodoh apa boleh buat.


'Aku hanya meminta Mama untuk merestui dan mendoakan hubungan kami berdua agar terjalin baik lagi.'


'Kalau Mama, apa yang terbaik untuk Maura, Mama akan dukung. Bagaimana dengan Maura sendiri? Mama tidak mau anak Mama jadi sakit hati lagi dengan perbuatanmu Harvey.'


'Maura sudah mulai mengerti, saya juga sudah meminta pengertiannya untuk bersabar sedikit lagi dan memberikan aku waktu untuk menyelesaikan hubunganku dengan anak dari teman Papa itu.'


'Selesaikan hubunganmu dengan wanita itu dulu, baru bisa bicarakan hubunganmu dengan Maura,' ucap Lea tegas.


'Baik, Ma. Doakan supaya keadaan keuangan perusahaan Papa kembali pulih dan saya bisa mengatasi masalah ini.'


Harvey menutup ponselnya dengan helaan nafas panjang yang lega. Senyum kecil terbit dari sudut bibirnya, jika Maura tidak bisa ia kendalikan setidaknya langkahnya sedikit terbuka lewat jalur restu orangtua Maura. Soal Reva, tunangannya itu terlalu cinta mati dengannya. Diminta untuk menahan diri untuk tidak bertemu dan menyembunyikan hubungannya dengan Maura dari orangtua mereka pun, wanita itu menurut saja.


Sementara itu sang Ibu dari kekasihnya menutup ponselnya dengan hati gamang. Wanita bertubuh kecil itu duduk di bangku kayu depan tempat tinggal bersama suaminya, selama mereka mengawasi perkembangan proyek perusahaan yang sudah tertunda sekian lama.


"Semoga," sahut Lea pelan sembari memegang dadanya.


"Kalau hatimu tak tenang, kamu bisa pulang duluan."


Lea menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa meninggalkan Abang di sini sendirian."


Raymond terdiam, situasi mereka juga dalam keadaan genting. Ada masalah besar yang harus mereka hadapi, jika keluar dari area itu sekarang ia akan dituduh melarikan diri dan langsung dipidana. Ia juga tak tega membiarkan istrinya pulang sendirian melewati rute yang berbahaya dan memakan waktu seharian penuh perjalanan darat dan sungai yang berliku.


"Aku minta maaf, seharusnya tidak membawamu kemari."


"Tempatku memang di sini menemani Abang. Anak-anak sudah dewasa mereka bisa saling menjaga, kita hanya bisa bantu lewat doa." Lea merebahkan kepalanya pada bahu lebar suaminya. Lain di mulut, lain juga di hati, inginnya ia pulang dan menemui anak-anaknya yang sedang mengalami masalah, tapi suaminya pun membutuhkan kehadirannya di sini.

__ADS_1


...❤️...


"Sayang, kamu nanti menginap di rumah atau pulang ke apartement?" Maura hanya menjawab dengan gerakan bahu saja, "Baiknya kamu menginap saja ya, karena maaf aku tidak bisa menemanimu selama di rumah nanti dan mengantarmu kembali ke apartment. Papa memintaku untuk datang ke kantornya sore ini."


"Aku tidak memintamu untuk menemani ataupun mengantarku. Tidak ada kewajiban kamu untuk mempedulikan aku, kita tidak ada hubungan apapun." Maura menegaskan sekali lagi.


Harvey tak menimpali apapun, pemuda itu hanya tersenyum tipis. Bukan karena alasan Papa memintanya untuk datang ke kantor ia tidak mau menemani Maura di rumahnya, tetapi ia menghindari kakak laki-laki Maura serta adik perempuannya. Kedua orang itu tidak seperti Mamanya yang berhati lembut dan mudah jatuh kasihan hanya dengan cerita sedih. Jika berani muncul sekarang di hadapan kakak beradik itu saat situasi masih panas, bisa dipastikan ia akan dibantai oleh kedua orang itu.


Harvey menurunkan Maura di depan rumahnya. Pria itu hanya melambai sebentar lalu segera menekan pedal gasnya sebelum saudara Maura menyadari kehadirannya.


"Dasar pengecut!" geram Maura di depan pagar.


...❤️...


Beberapa puluh kilometer dari kediaman Maura, Kendra duduk termenung dalam rumahnya yang sederhana di tengah pemukiman yang padat. Suara batuk Mamanya dari dalam kamar, membuatnya tersadar dan langsung beranjak menghampiri Mamanya.


"Ma, masih sakit?" tanyanya mengintip dari celah pintu kamar yang ia buka sedikit.


"Darah rendah Mama kambuh, pusing sedikit. Ada apa, Nak?"


Kendra berjalan mendekat lalu duduk di sisi pembaringan Mamanya, "Kalau aku nanti sekolah di ... Prancis, Mama ikut ya."


...❤️🤍...


Yang kangen sama pasangan Raymond dan Lea, muncul dikit tuh mereka tapi dalam mode serius 😁


...🤍❤️🤍...


Mampir yuk ke karya temanku

__ADS_1



__ADS_2