Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Berusaha tegar tanpamu


__ADS_3

Setelah kepergian Kendra yang tanpa kabar, Maura menjalani hari-harinya hampa tanpa tujuan . Bibirnya mengulas senyum seadanya dan hanya seperlunya saja. Di tengah keramaian ia bisa saja tertawa di tengah teman-temannya, tapi setelah sampai di apartment tangisnya kembali pecah.


Ia berupaya menghindari bertemu dengan orang lain, karena berat rasanya harus terus bersandiwara terlihat baik-baik saja. Pulang kuliah, ia lebih suka berada di dalam apartment, mencoba resep baru atau hanya sekedar membuat cemilan ringan.


Saat Kendra pulang nanti, Maura ingin memperlihatkan pada pemuda itu jika ia bukan gadis manja dan pemalas lagi. Ia juga sudah pandai memasak dan rajin mencuci piringnya sendiri.


Namun setiap masakan yang ia olah, hanya sedikit yang sanggup ia telan. Apapun yang ia masak, mengingatkannya pada Kendra.


Maura memandang sepiring besar berisi ikan berbumbu merah. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi Kanaya, adiknya, "Aya, kakak masak ikan rica, mau ga?"


"Waaahh, meluncuuuurrrr." Tanpa basa-basi, Kanaya menutup ponselnya dan langsung mengarah ke apartment kakaknya.


Maura menyesal, mengapa ia sering memasak menu yang pernah dibuatkan Kendra. Seolah otaknya memerintah tangannya untuk berbelanja dan mengolah masakan yang sama berulang kali. Ia menaruh kepalanya di atas meja dengan mata kembali mengalirkan air.


Kepergian Kendra tanpa kabar dan alasan, membuat hatinya teramat sakit karena ada rasa yang belum sempat tersampaikan dan ada cinta yang belum sempat dibalas.


Suara tombol sandi pintu apartmentnya berbunyi, Maura tergesa menyusut air matanya. Ia tidak ingin seorangpun tahu, kalau ia tidak bahagia dan sedang terpuruk. Namun terlambat, Kanaya sudah sempat melihat mata kakaknya yang sembab.


Maura segera berbalik membelakangi Kanaya dan berpura-pura mencari kotak makan untuk adiknya bawa pulang.


"Aku bawa semua?" tanya Kanaya terkejut, melihat kakaknya menumpahkan semua isi piring ke dalam kotak yang akan dibawanya pulang.


"Iya, aku sudah makan tadi."


"Di rumah aku juga makan sendirian. Kak Willi sama istrinya sekarang jarang di rumah. Paling aku makan hanya sama bibik, itu aja masih terlalu banyak."


"Ga apa-apa, simpan di lemari pendingin. Kamu bisa hangatkan lagi kalau mau makan."


"Kak, makanan kemarin yang Kak Maura masak aja, masih belum ku buka. Ini mau ditambah lagi. Kalau tahu ga bakal habis, kenapa harus masak begini banyak sih, Kak?"


"Kamu mau ga? Kalau ga mau ya buang aja di tempat sampah!" sembur Maura.

__ADS_1


Kanaya terhenyak mendengar kakaknya marah hanya karena ocehannya. Setelah sedikit tenang, ia berjalan mendekati kakaknya yang sedang mencuci piring.


"Aku bantu?" tawarnya. Maura hanya menggeleng, "Maaf ya, aku mau kok masakannya. Aku cuman kasihan sama kakak, capek masak tapi sepertinya makan juga sedikit. Kakak juga kelihatan tambah kurus," lanjut Kanaya pelan.


Tak disangka Maura menghentikan kegiatannya mencuci piring lalu kembali menangis. Kanaya tanpa banyak bertanya, ia mendekat lalu memeluk kakaknya dari samping.


"Pulang yuk, Kak. Aku juga kesepian di rumah. Sekarang rumah sepi, Papa sama Mama lama ga pulang, Kak William meski satu rumah tapi juga ga pernah ketemu." Kanaya ikut menangis, tanpa tahu apa yang ditangisi oleh kakaknya.


"Kakak tidak apa-apa, maaf ya. Kakak cuman capek aja, lagi persiapan tugas akhir. Kakak juga kangen sama Mama dan Papi. Kakak pasti pulang, tapi bukan sekarang. Kamu juga jangan ikut-ikutan jarang ada di rumah ya." Kanaya mencubit kedua pipi adiknya.


Menangis sambil berpelukan dengan orang terkasih, memang dapat meredakan emosinya. Ia jauh lebih tenang setelah bertemu dengan adiknya.


"Kamu pulang sekarang, bawa makanannya. Kamu juga bisa bawa ke kampus makan ramai-ramai sama temanmu." Maura memberikan tas berisi kotak makanan dan menggiring adiknya keluar dari apartement.


"Kakak yakin tidak apa-apa?" tanya Kanaya dengan mata memicing. Ia ingin meyakinkan sekali lagi sebelum benar-benar keluar melewati pintu.


"Kakak baik-baik saja," ucap Maura cepat.


Maura diam dengan dagu terangkat. Sudah tak tersisa lagi rasa untuk pria itu. Sikap yang dingin serta ketus Maura membuat Harvey menyerah dan kembali lagi ke sikap awalnya. Pemuda itu lelah dengan sikap dingin Maura, ia butuh kehangatan dan itu ia dapatkan dari Reva.


Harvey membiarkan gadisnya itu bersikap sesuka hatinya, karena saingan terberatnya sudah jauh di seberang lautan lepas.


"Maura, menunggu siapa?" tanya Harvey dengan senyum yang ia anggap dapat memukau Maura. Tangannya yang semula melingkar di pinggang Reva, ia lepaskan begitu melihat kekasihnya berdiri di depan pintu.


"Tidak sedang menunggu siapa-siapa," jawab Maura datar.


"Kami baru saja membeli sate, kamu mau makan bersama?" tawar Harvey.


Maura mendecih sinis. Bagaimana bisa pemuda itu tak punya rasa malu atau bahkan otak menawarkannya makan bersama, sedangkan ada tunangannya berdiri disampingnya. Reva tampak tak suka, bibirnya mengkerucut tapi tak berani menyela.


"Aku sudah makan sama adikku, terima kasih atas tawarannya. Kalian nikmati saja berdua satenya, cepatlah masuk tunanganmu sepertinya sudah lapar," ucap Maura tenang seraya menatap Reva yang seperti ingin mencabik-cabiknya.

__ADS_1


Tak menunggu pasangan itu berlalu dari hadapannya, Maura langsung masuk dan menutup pintu apartmentnya.


"Sengaja mau buat aku marah?"


"Emang aku ngapain?" Tanpa merasa bersalah, Harvey mengambil piring dan meletakan makanan yang ia bawa di atasnya.


"Kamu ngapain ajak dia ikut makan sama kita? Kalau dia tadi terima ajakanmu, bagaimana?"


"Ya kita makan sama-sama. Aku tadi beli makanan cukup banyak, lalu kenapa kalau aku ajak Maura makan di sini? Ini apartmentku," ucap Harvey santai.


"Kamu sekarang tambah keterlaluan, sudah tidak peduli dengan perasaanku." Reva menghentakan kakinya dengan bibir mengkerucut.


"Sayang, bukannya kita sudah sepakat soal ini? Kamu sudah mengijinkan aku untuk tetap menjalin hubungan dengan Maura. Kamu juga pernah bilang, kalau aku menikahi Maura kamu tidak keberatan asal kamu jadi yang pertama." Harvey menggenggam tangan Reva dan menariknya mendekat, "Aku akan berusaha adil dengan kalian," tambah Harvey seraya menempelkan kepalanya di perut Reva.


"Harvey, apa kamu mencintaiku?" tanya Reva sembari mengusap kepala pria itu.


"Tentu, berapa kali kamu menanyakan hal itu?" jawab Harvey masih dengan mengendus-endus perut Reva.


"Jika kamu diminta memilih satu diantara kami berdua, siapakah yang kamu pilih?"


"Pertanyaan apa itu? Jangan menjebakku, aku tidak mau menjawabnya, Sayang."


"Aku hamil," tandas Reva.


Kepala Harvey yang semula bergerak-gerak, seketika berhenti lalu menengadah keatas menatap tunangannya yang berdiri dihadapannya.


"Apa kamu bilang? Hamil? Jangan bilang kamu sengaja lupa minum obat itu, Reva?"


...❤️🤍...


__ADS_1


__ADS_2