Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Berita mengejutkan


__ADS_3

William melirik sebal pada adiknya yang masih menangis di sampingnya.


"Heran aku sama kamu, sudah tahu laki model seperti itu masih saja ditempelin! Apa bagusnya si kacamata kampret itu, sampai kamu tidak bisa melihat kebusukannya! Apa kamu tunggu dilecehkan dulu baru terbuka isi kepalamu!"


Bukannya mereda, tangis Maura semakin pilu mendapat hardikan dari William. Ia tahu, kemarahan William itu karena kakaknya sayang dan peduli padanya, tapi yang William tidak tahu ia menangis bukan karena dipisahkan dengan Harvey, tapi ia rindu serindu-rindunya pada seseorang yang sangat sulit digapai.


William menggelengkan kepalanya geram, tapi ia juga merasa iba melihat adiknya yang tampak kacau malam ini.


"Jangan sampai aku lihat kamu berhubungan dengan kacamata kampret itu lagi. Dia itu calon suami orang, Maura!"


"Aku tahu," ucap Maura lirih.


"Kalau tahu, kenapa kamu masih berhubungan dengan dia? Kenapa kamu menangisi dia?"


"Aku sudah tidak ada hubungan apapun sama dia, aku juga tak menangisi dia, Kak!" jawab Maura di sela tangisnya.


"Lalu kenapa kamu masih menangis? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang buruk sama kamu?" Mata William melotot, tapi sedetik kemudian mereda setelah Maura menggelengkan kepalanya.


"Kak William ga bakal ngerti."


"Heh, memang yang namanya perempuan itu aneh!" umpat William.


"Kak Willi ga perlu khawatir, aku baik-baik saja. Tolong jangan ceritakan kejadian tadi sama Mama dan Papi."


"Asal kamu tidak gila lagi jalan sama kacamata kampret itu. Satu lagi, semua barangmu sudah aku bawa, jadi tidak ada alasan kamu datang ke apartement itu lagi. Kalau kamu masih bandel, untuk selanjutnya tidak ada yang menjamin si kampret itu akan berhasil melecehkanmu."


Maura bergidik mendengar ancaman William. Ia tidak menyangka kalau Harvey akan berbuat senekat itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika kakaknya datang terlambat satu menit saja.


Ia masih bertahan di apartement itu, bukan karena ia ingin menantang bahaya atau masih berharap Harvey mendatanginya seperti tadi, tapi ia takut kalau Kendra tiba-tiba datang mencarinya dan tidak menemukannya di tempat biasanya.

__ADS_1


Sekarang sepertinya harapannya itu sudah sirna. Kendra tak kunjung ada kabarnya lagi, begitu juga dia sudah tak dapat lagi berharap pemuda itu datang mengetuk pintu apartementnya seperti biasa.


Sampai di rumah, William menyerahkan Maura pada Kanaya, adik perempuannya yang terakhir.


"Temani kakakmu, dia sedang patah hati akut. Jangan sampai punya pikiran gila untuk bunuh diri." Kanaya mengangguk lalu menyusul Maura masuk ke dalam kamar.


William mengusap wajahnya yang penat, di saat sedang mempersiapkan keberangkatannya menjemput kedua orangtuanya yang sedang dilanda masalah, ia dihadapkan dengan permasalahan adiknya yang tak kalah memusingkan.


Untung pulang kantor tadi ia sempatkan mampir ke apartement Maura, karena diminta oleh Kanaya yang khawatir dengan keadaan saudaranya itu. Niat hanya ingin berkunjung dan menyampaikan kepergiannya beberapa hari kedepan, ia malah mendapati adiknya itu hampir dilecehkan oleh mantan pacarnya. Beruntung ia masih bisa menahan emosi dan pria itu tidak sampai mati ditangannya.


...❤️...


Satu bulan berselang, Maura menerima kabar buruk yang membuatnya tidak percaya kalau belum membaca sendiri berita yang beredar di media sosial.


'Seorang wanita hamil ditemukan meninggal dalam sebuah apartement.'


'Wanita dengan initial R ditemukan tak bernyawa di apartement calon suaminya yang berinitial H.'


"Benar ini Harvey yang dimaksud, Maura! Apartementnya sekarang di segel polisi!" Hera yang sebelumnya mengabarkan berita lewat ponsel ia abaikan, datang langsung ke rumah dan menunjukannya secara langsung berita yang ada di ponselnya.


Kepala Maura berputar dengan huruf di ponsel berterbangan tak tentu arah. Ia tak dapat membaca jelas berita yang ada di ponsel milik Hera. Foto apartement yang pernah ia tinggali terpampang sangat jelas di sana. Foto dengan sejumlah polisi dan garis kuning sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi di dalam sana.


"Harvey bunuh calon tunangannya?" lirih suara Maura.


"Iya! Di kampus berita ini sudah ramai sekali. Aku lega sekali kamu lepas dari pria toxic macam dia, Mauraaaa. Aku ga bisa bayangkan kalau kamu yang berada di posisi tunangannya itu." Hera menghambur dan memeluk Maura dengan sangat erat.


Sebuah kenyataan yang mengejutkan. Ia tak mampu lagi berpikir, benar apa yang dikatakan Hera. Jika ia masih bertahan di apartement itu, bukan tidak mungkin namanya yang tercantum sebagai korban.


"Dia sekarang di mana?" tanya Maura.

__ADS_1


"Harvey? Penjaralah. Kenapa? Jangan bilang kamu kasihan dan mau menjenguk? Tidak boleh! Nanti dia nangis-nangis di kakimu mengundang simpati lalu kamh luluh lagi. Ow, bodoh itu namanya." Hera menyentil kening Maura gemas.


"Aku cuman tanya saja. Ada rasa kasihan sih, gimana-gimana dia pernah jadi bagian hidupku cukup lama, Her, tapi bukan berarti aku ada niat balikan sama dia." Maura mengusap-usap keningnya.


"Ya sudah, bagus! Jangan kasih celah rasa kasihanmu jadi simpati ya. Ingat dia dulu baru pacar bukan suami. Tidak ada kewajibanmu untuk menghiburnya. Lagian dia itu sekarang pembunuh, Maura."


...❤️...


Di sisi lain, Ibu Harvey yang masih belum menerima kenyataan kalau anak tunggal kebanggaannya ditangkap polisi atas dasar pembunuhan, menjerit histeris menyalahkan suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu, Pa! Kamu mengorbankan anak kita hanya untuk perusahaanmu yang tak jelas itu!"


"Ini bukan sepenuhnya salahku! Apa kamu sebagai ibu tahu kalau selama ini anakmu menderita depresi? Kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu!"


"Dia depresi gara-gara kamu! Kamu yang memaksanya menikahi anak dari temanmu! Sekarang apa? Harvey kehilangan semuanya, Pa!"


"Omomg kosong! Kalau dia tidak suka dengan Reva, kenapa wanita itu sampai hamil? Harvey sendiri yang mencari masalah." Bramantyo melengos geram.


"Kamu selalu merendahkan anakmu sendiri. Apa yang selama ini Harvey lakukan untuk membuatmu bangga dan senang, sama sekali tak kamu hiraukan. Kamu malah lebih peduli dengan anak haram itu!"


"Jangan sebut anakku, anak haram!" Bramantyo berdiri dari duduknya dan memukul meja dengan kepalan tangannya, "Kendra itu anak kandungku, sama seperti Harvey mereka darah dagingku."


"Bagiku lain, anak itu tetap anak haram. Ibu dari anak itu masih tidak tahu malu meminta nafkah yang bukan haknya." Dahlia, Ibu Harvey berdecih sinis.


"Urusanku memberi nafkah untuk Kendra. Aku tidak mengambil sedikitpun dari bagianmu dan Harvey, jadi tutuplah mulutmu itu."


Bramantyo keluar dari kamar dan mengunci diri dalam ruang kerjanya. Ia tidak menyangka sama sekali, putranya yang tampak selalu tenang, cerdas dan pendiam menyimpan gejolak dalam dirinya.


Kasus yang dialami Harvey, bukanlah hal yang sederhana. Orangtua Reva masih berusaha menyeret putranya itu untuk dihukum mati.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2