
“Tan … Tante?” Maura tergagap. Ia gagal menyembunyikan wajah di balik masker dan jaketnya. Mama Harvey lebih dulu menyapanya, bahkan turun dari mobil dan menghampirinya. Wanita yang dulu pernah ia panggil Mama itu, memegang kedua pipinya dengan wajah sedih.
“Bagaimana keadaanmu, Sayang? Lama tak ada kabar, Mama rindu sekali. Kamu sehat, Nak?” Tampak wajah Mama Harvey terlihat kecewa ia memanggilnya dengan sebutan tante, bukan Mama seperti dulu.
Maura tersenyum kecut mendengar pertanyaan Mama Harvey, tapi ia tidak berniat menjawab apalagi menumpahkan rasa kecewanya pada orang tua Harvey. Lagipula masa itu sudah berlalu, perasaannya pada Harvey sudah terkikis seiring waktu dan perlakuan yang diperbuat Harvey padanya.
“Keadaan saya baik, Tante,” jawab Maura singkat dengan senyum tipis di bibirnya.
Kanaya pun ikut tersenyum tapi dengan tangan mencubit pinggang Maura. Kanaya memberi kode pada kakaknya, agar segera mengakhiri percakapan dan pergi dari sana sebelum ada polisi atau wartawan yang melihat kedekatan mereka.
“Harvey masih mencari mu, dia selalu menyebut namamu. Datanglah sesekali menjenguknya. Kamu kemari pasti merindukannya juga.”
Rupanya Mama Harvey tidak mengijinkan mantan kekasih putranya itu cepat pergi dari hadapannya. Wanita berpenampilan sosialita itu, memegang erat tangan Maura.
“Kak, sudah jam empat sore,” ujar Kanaya menyela.
“Heh? Memangnya kenapa?” bisik Maura heran.
“Bilangnya tadi mau kencan sama Kak Hendra, yuk nanti keburu orangnya datang Kak Maura belum siap-siap.” Kanaya memainkan kedua matanya, kode yang selalu digunakan saat kecil jika ingin mengecoh kedua orang tua mereka.
“Ah, iya Hendra mau datang,” sahut Maura cepat.
“Kamu sudah punya kekasih baru?” Raut kecewa wajah Mama Harvey tak bisa disembunyikan.
Pertunangan putranya dulu dengan Reva, dialah yang pertama menentangnya. Namun keadaan keuangan perusahaan yang dalam batas krisis, membuatnya menerima keputusan yang diambil suaminya.
“Hendra itu pacar Kak Maura," tambah Kanaya menegaskan dengan wajah ceria.
“Andaikan Harvey tak melepas mu demi ambisi gila Papanya, mungkin semua tidak seperti ini.” Mama Harvey terisak, “Maura, tolong hibur Harvey. Datanglah sesekali menengok Harvey, dia pasti senang dan kembali semangat,” pinta Mama Harvey dengan tangan semakin menggenggam erat lengan Maura.
“Ma … Ma, sudahlah. Jangan menekannya.” Papa Harvey ikut keluar dari dalam mobil lalu memutari mobil menghampiri keduanya, “Masuklah, kita harus segera kembali ke Lapas.” Pak Bramantyo membuka pintu mobil dan menggiring istrinya untuk masuk ke dalam.
Setelah memastikan istrinya tenang di dalam mobil, Pak Bramantyo kembali menghampiri Maura yang sudah bersiap akan pergi.
__ADS_1
“Tunggu sebentar, Maura. Sebelumnya Om minta maaf, karena sudah membuat hubunganmu dengan Harvey berantakan. Sejak pertunangan Harvey, kita sudah tidak pernah bertemu lagi. Saya berharap kamu mengerti situasinya mengapa saya melakukan itu semua, bukan karena saya tidak menyukaimu atau tidak merestui hubungan kalian berdua tapi ….” Papa Harvey menggantung kalimatnya.
Lidahnya mendadak kelu dihadapan gadis seusia putranya. Gadis yang berdiri di hadapannya ini jelas sakit hati atau bahkan membencinya. Namun gadis ini juga yang menjadi tambatan hati kedua putranya.
“Tidak apa-apa, Om, saya mengerti. Semua sudah terjadi, semoga Harvey bisa segera bebas,” ucap Maura.
“Benar kamu sudah punya kekasih?” tanya Papa Harvey tak kalah kecewanya dengan istrinya. Bukan karena Harvey, tetapi ia kecewa karena putranya yang lain terancam kehilangan kesempatan meraih hati wanita pujaannya.
“Eh, iya, Om.” Maura mengangguk canggung.
“Mm, Maura, apa kamu mengenal Kendra? Dia dulu pernah satu tingkat dengan Harvey di fakultas kedokteran."
Tubuh Maura menegang saat nama orang yang dirindukan disebut, tapi mengapa harus Papa Harvey?
"Kenal, Om," sahut Maura cepat.
"Ah, apa kalian dekat?" Pak Bramantyo tersenyum lega.
"Mm ... tidak terlalu." Maura memilih ungkapan yang aman untuk menggambarkan hubungan mereka berdua. Akan malu sekali kalau Kendra mengatakan tidak mengenalnya.
"Tidak, Om. Memangnya ada apa ya?" tanya Maura tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ow, tidak apa-apa. Beberapa waktu yang lalu, Kendra kehilangan kehilangan ponselnya. Dia kesulitan menghubungi teman-temannya," ucap Pak Bramantyo memberi alasan.
"Memangnya Kendra sekarang di mana ya, Om? sepertinya Om tahu betul keadaannya sekarang," kejar Maura. Ada secercah harapan untuk bertemu dengan Kendra. Ponsel pria itu hilang, itu berarti Kendra bukan dengan sengaja menghindarinya.
"Dia ... Bekerja di perusahaan saya," sahut Pak Bramantyo cepat.
"Benarkah? Di kantor mana, Om? Boleh minta nomer baru Kendra?" Mata Maura membesar senang. Mata penuh harap itu ditangkap oleh Papa Harvey. Seorang pria matang yang penuh pengalaman seperti Pak Bramantyo, tentu tahu kalau gadis dihadapannya ini juga punya rasa pada anak keduanya.
"Begini saja, kamu berikan nomer ponselmu pada saya biar dia yang menghubungimu duluan. Saya tidak enak jika menyebar nomer ponsel orang tanpa seijin yang punya." Pak Bramantyo memberi alasan. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, memastikan istrinya tidak mendengar percakapan mereka.
"Boleh, Om." Dengan cekatan Maura mengetikkan deretan nomer ponsel pada ponsel Papa Harvey.
__ADS_1
"Baiklah, saya pergi dulu." Pak Bramantyo memandang puas layar ponselnya, lalu kembali masuk ke dalam mobil sebelum istrinya meneriakinya.
"Kendra siapa, Kak?" tanya Kanaya seraya memandang Maura yang tersenyum lebar.
"Teman," sahut Maura asal.
"Ingat pesan Kak Willi, jauhi keluarga Harvey, ini malah kasih nomer ponsel ke Papanya, gimana sih?" sungut Kanaya.
"Beda urusan ini, anak kecil ga bakalan sampai mikirnya." Maura menyalakan mesin motornya agar adiknya tak bertanya lagi., Eh, si Hendra tuh siapa?" tanya Maura sembari menjalankan motornya.
"Nama cowok yang sering disebut Kak Maura kalau nangis diam-diam. Huhuuu Hendraaa, kamu di manaaa, aku kangeenn Hendraaaa." Kanaya menirukan suara tangisan Maura ketika meraung di dalam kamar. Spontan tawa Maura semakin keras sampai mengundang perhatian pengemudi lainnya.
"Bukan Hendra, tapi Kendra, o'on!" seru Maura masih dengan tawa kerasnya.
"Oww, jadi Kendra yang dimaksud Papa Harvey tadi yang sering ditangisi Kak Maura? Pantes sekarang bahagia betul," olok Kanaya.
Tawa Maura seketika hilang tertelan angin. Ia tak sengaja membuka rahasia lewat mulutnya sendiri. Permasalahannya, sebuah rahasia akan menjadi pembahasan umum jika sampai di telinga Kanaya.
Sementara itu Pak Bramantyo mulai menyusun rencana untuk menyeret Kendra untuk pulang kembali ke tanah air. Ia gagal merayu anak keduanya itu untuk pulang setelah hampir dua tahun bersekolah di luar negeri.
Kendra benar-benar tidak ingin kembali menginjakkan kakinya lagi di Indonesia. Pemuda itu sudah tak punya harapan dan tujuan lagi di negara kelahirannya. Namun semenjak kasus Harvey, Pak Bramantyo hanya punya harapan pada Kendra untuk meneruskan usahanya.
...❤️🤍...
Lama ya?
Maaf ya 🙏🙏🥹🥹🥹
__ADS_1