
Rasa penasaran Maura tersiksa seperti tahunan menunggu kabar dari Papa Harvey. Sesuatu yang dinantinya, Pak Bram menghubunginya dan mengundangnya untuk makan siang di dekat kantornya. Maura jelas tak mau melewatkan kesempatan itu, ia sangat berharap menemukan Kendra duduk di samping Papa Harvey.
"Selamat siang, Om, maaf saya terlambat." Maura menunduk sopan, ujung matanya mencari-cari sosok Kendra di sekitar restoran yang tampak ramai siang itu.
"Kamu tidak terlambat Maura, saya yang terlalu cepat. Tak apa duduklah." Pak Bram menunjuk bangku yang ada di depannya, "Bagaimana kabarmu? saat bertemu di depan apartemen, kita tidak bisa berbincang banyak ya. Kamu mau pesan apa?" Pak Bram menyodorkan buku menu saat pelayan mendekati meja mereka.
"Mm, air mineral saja," ucap Maura sambil tersenyum canggung. Sekian lama berhubungan dengan Harvey dulu, baru ini ia berbicara langsung dan hanya berdua dengan Pak Bram.
"Orange juice satu," ucap Pak Bram pada pelayan yang menunggu di samping meja mereka, "Jangan malu-malu seperti itu, kamu itu sudah saya anggap seperti anak sendiri, dulu hampir saja menjadi menantu saya." Pak Bram tersenyum getir.
"Bagaimana keadaan Harvey, Om?" Tak enak seperti tidak menganggap mantan kekasihnya, Maura berbasa-basi menanyakan perihal Harvey.
Pak Bram menarik nafas lalu menghembuskannya dengan sangat berat, "Harvey harus menanggung dosa yang telah Om perbuat. Om sendiri juga tidak tahu harus bagaimana untuk memulihkannya dan mengembalikannya seperti dulu. Untuk menjenguknya pun, Om merasa malu akan diri Om dan sangat bersalah sekali. Andaikan Om bisa menggantikan dirinya ada di ruang pesakitan semacam itu, Om mau." Pak Bram memandang Maura dengan mata berkaca.
"Saya sebenarnya ingin menjenguk Harvey, Om, tapi ...."
"Om mengerti. Keluargamu sudah melakukan hal benar. Jika Om jadi orang tuamu, Om tentu akan membawamu pergi jauh dari pria seperti Harvey." Mengatakan hal itu, Pak Bram teringat akan tujuan awalnya mengundang Maura untuk bertemu.
"Kamu sudah lulus, Maura?" lanjut Pak Bram mulai membelokan arah pembicaraannya.
"Belum, Om lagi menyusun tugas akhir."
"Di tempat Om menerima mahasiswa magang, kamu suka design 'kan?" eh, Om tahu di tempat Papamu jauh lebih bagus, tapi apa salahnya mencoba di luar dari lingkungan keluarga."
Ingin rasanya Maura menanyakan, 'apakah Kendra juga bekerja di kantor yang sama nantinya?', tapi tentu sangat tak sopan menanyakan seorang pria lain pada orang tua dari mantan kekasihnya.
"Boleh, Om, tapi saya belum terlalu mahir."
"Tak apa, justru Om yang bingung harus bayar berapa sama anak bos besar ini." Pak Bram terkekeh puas, "Tapi tentunya kerjaan ini tidak boleh mengganggu kuliah kamu ya," tambahnya.
__ADS_1
"Baik, Om, kapan saya mulai kerja? Dan ... Di kantor yang mana ya?" Maura harap-harap cemas menanti jawaban Pak Bram.
"Karya Elang Nusantara yang di jalan Pramuka, kamu tahu 'kan?" Maura mengangguk cepat, siapa yang tidak tahu kantor megah yang berada di pusat kota.
"Kapan pun kamu siap, silahkan datang menemui saya di sana," lanjut Pak Bram.
"Baik, Om."
"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" Pak Bram menelisik wajah Maura yang seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
"Kendra juga magang di sana, Om?" Maura tak peduli lagi jika Papa Harvey berpikir ia gadis yang tidak punya hati. Di saat Harvey berada di balik jeruji besi, ia malah menanyakan tentang pria lain.
"Kendraaa ... Dia lagi tugas di luar kota," jawab Pak Bram setelah berpikir sejenak, "Tapi dia sering datang ke kantor yang di jalan Pramuka juga," tambah Pak Bram saat wajah Maura terlihat kecewa.
"Ow." Maura mengangguk samar.
"Kamu cukup dekat dengan Kendra?"
"Bagaimana menurutmu Kendra sekarang, apa masih cuek atau berubah setelah di bangku kuliah."
"Eh .. Ehm, berubah sih, Om." Tangan Maura saling meremas di bawah meja. Ia merasa seolah sedang diinterogasi oleh Harvey.
"Apa Harvey dan Kendra dekat di kampus dan sekolah dulu?"
Maura menggeleng cepat, apakah dia harus menjawab kalau kedua pemuda itu nyaris saling membunuh karena dia?
"Sepertinya tidak, Om,. Karakter mereka bertolak belakang," ucap Maura lirih.
"Hhh, Sayang sekali ya." Pak Bram menghela nafas berat. Matanya menerawang jauh, merenungi sesuatu yang disesalinya.
__ADS_1
"Kamu tak ingin menjenguk Harvey, Maura?, sebagai teman," tambah Pak Bram ketika Maura tampak berat untuk menjawab.
"Saya ingin menjenguk Harvey, Om, tapi saya khawatir dengan kedatangan saya nanti, keadaan Harvey semakin parah dan itu akan memperpanjang proses hukumnya."
"Om tidak memaksa ataupun memohon, tapi Om berharap siapa tahu dengan kamu memberi perhatian pada Harvey, dia jadi lebih semangat menjalani proses hukumnya."
"Baik, Om, saya nanti akan mampir menjenguk Harvey."
Janji yang terlanjur diucapkan akan menjadi hutang walau tak pernah ditagih. Siang itu selepas bertemu dengan Pak Bram, Maura menghubungi Hera untuk menemaninya menjenguk mantan kekasihnya.
"Kalau bukan karena sahabat dan khawatir kalau kamu diapa-apain sama Harvey, ogah aku jenguk pembunuh," ujar Hera kesal sembari menekan pedal gas mobilnya dalam.
"Sebentar saja, aku sudah terlanjur janji sama Papanya."
"Ngapain juga kamu janji? Kalian itu sudah tidak ada hubungan apa-apa sebelum ada tragedi itu, jadi kamu ga ada kewajiban untuk tahu keadaan anaknya. Apa jangan-jangan kamu masih sayang sama Harvey? Kalau saja kamu balik lagi sama dia setelah keluar dari penjara, ku blokir semua hubungan kita," seru Hera tegas.
"Astaga, ga ada pikiran sedikitpun ke arah sana, Her." Maura tentu tidak memberi tahu sahabatnya, kalau alasannya mengikuti permintaan Pak Bram untuk menjenguk Harvey sebagai bentuk ucapan syukur atas kemajuan satu langkah mengetahui keberadaan Kendra.
Sampai di tempat penahan Harvey atas rekomendasi dari Pak Bram, Maura tak mengalami kesulitan untuk masuk meski jam berkunjung sudah lewat.
"Gila, sampai di sini pengaruh Papa Harvey terasa juga," bisik Hera geli.
"Sstt, Harvey bukan di tahan di sel biasa, tapi di ruangan khusus karena katanya kesehatan mentalnya terganggu, jadi dipisahkan agar tidak mengganggu tahanan yang lain."
"Mental terganggu? maksudmu stress? Wooah, tambah ngeri ini Maura. Sudah pembunuh, gila pula! Kalau tahu seperti ini, aku nolak temani kamu kemari. Mana ga bisa mundur lagi." Hera mondar mandir dalam ruang tunggu dengan gelisah.
"Ssstt, duduk dulu. Kita juga ga langsung ketemu hadap-hadapan kok." Maura menarik tangan Hera agar ikut duduk di sampingnya.
"Selamat siang, Mba. Mas Harvey akan segara di bawa kemari, silahkan Mba-nya masuk ke dalam ruangan itu." Seorang petugas mengarahkannya ke dalam ruangan kecil yang terhubung dengan ruangan lain.
__ADS_1
...❤️🤍...