
"Kamu masih sering dihubungi sama Mamanya Harvey?" Pak Bram, Papa Harvey dan juga Kendra, bertanya seraya melirik sekilas pada Maura yang duduk di hadapannya tanpa mengangkat kepala dari berkas yang sedang ditandatanganinya.
"Masih, Om. Tante minta saya datang lagi menjenguk Harvey walau hanya sekedar antar makanan," ujar Maura.
"Lalu kamu mau?" Pak Bram mengangkat kepalanya dan memandang Maura dengan senyuman tipis.
"Mmm ... Hanya sekali saja. Maaf Om, bukannya saya menolak karena kondisi Harvey yang sekarang. Saya juga bukan bermaksud melupakan semua kebaikan Harvey dan meninggalkannya di saat dia dalam kondisi sulit seperti sekarang ini. Hanya ... Saya tidak mau kalau Harvey terlalu bergantung pada saya dan menaruh harapan yang sudah jelas tidak bisa saya berikan." Maura tertunduk dalam. Ia khawatir dengan apa yang diucapkannya ini dapat membatalkan rencana Papa Harvey mempekerjakan dirinya sebagai mahasiswa magang di kantornya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Saya mengerti, lagipula hubungan kalian memang sudah berakhir jauh sebelum kejadian ini. Seperti yang pernah saya bilang kemarin, andaikan kamu anak saya, saya juga tidak mengijinkan kamu untuk dekat dengan Harvey," ucap Pak Bram sembari menyodorkan selembar kertas yang baru saja ia tandatangani, "Ini kamu bawa ke bagian personalia, nanti mereka yang arahkan kamu harus kemana."
"Terima kasih, Om." Maura memandangi kertas tugas itu dengan senyum lebar.
"Eh, Maura. Tolong Tante jangan sampai tahu kamu bekerja di sini ya," ujar Papa Harvey sebelum ia keluar dari ruangan.
Maura berjalan pelan ke arah ruang personalia. Matanya menyapu semua ruangan yang ia lewati. Harapannya sangat besar bisa menemui sosok yang ia tuju di gedung ini. Namun sampai sore ia selesai bekerja, wujud Kendra tak pernah ditemuinya.
"Kendra sebenarnya kerja di sini atau perusahaan Pak Bram yang lainnya ya? Masak iya aku tanya sama Pak Bram tentang Kendra?' Maura memijat tengkuknya yang pegal karena seharian menunduk untuk menggambar sebuah design interior rumah.
Sementara itu, Pak Bram mulai melancarkan aksinya untuk membawa Kendra pulang ke tanah air. Berbagai foto Maura dari segala sisi yang sedang bekerja di kantornya, dikirim tanpa pesan apapun ke ponsel Kendra.
Putra keduanya itu sedang menyetir saat menerima pesan dari Papanya. Begitu membuka foto pertama, ia langsung meminggirkan mobilnya ke tepi jalan. Foto kedua dan selanjutnya membuatnya candu dan semakin penasaran. Lama tak bertemu dan melihat Maura, ternyata tak membuat rasa cintanya surut. Malah rasa rindu semakin menggelora.
Ia semakin gemas saat menanti pesan selanjutnya yang tak kunjung dikirimkan Papanya. Papanya hanya mengirimkan beberapa foto tanpa keterangan, seolah ingin memancing reaksinya. Siapakah yang kuat bertahan?
Kendra memutar kemudinya dan meluncurkan dengan cepat menuju apartemen yang ditinggalinya bersama dengan Mamanya.
"Sudah pulang? Tidak jadi makan malam dengan Victoria?" tanya Mamanya.
"Tidak ada rencana makan malam, Ma. Aku hanya mengantarkannya untuk beli bunga," jawab Kendra sekenanya.
__ADS_1
Victoria, gadis yang disebut Mamanya adalah putri pewaris restoran besar dimana dia yang menjadi kepala chef-nya. Gadis keturunan Indonesia dan Belanda itu, jatuh cinta padanya dan ingin selalu dekat dengannya.
"Itu berarti dia ingin kamu belikan bunga untuknya," timpal Mama geli. Kendra ikut tertawa seraya menggelengkan kepalanya, "Dia cantik, ramah, suka sekali sama kamu kalau Mama lihat. Kurang apa coba?"
"Kurang cinta," tukas Kendra lugas.
"Hmm, jual mahal. Nanti kalau sudah ditinggal menyesal, cari di mana cewek cantik seperti itu yang mau sama kamu di sini," ucap Mama menggoda.
Senyum Kendra menyusut, ia teringat dengan Maura saat ia pergi tanpa pesan dulu. Apakah gadis itu mencarinya? Atau bahkan tak menyadarinya karena dia memang tidak ada artinya di hidup Maura.
"Hei, malah melamun. Sudah sadar sekarang? Ayo kejar kembali sebelum menyesal."
Senyum Kendra terbit kala Mamanya mengucapkan kalimat untuk menggodanya. Ia tahu gadis yang dimaksud Mamanya itu Victoria, tapi yang dibenaknya adalah Maura.
"Ma, Papa ada hubungi Mama hari ini?" tanya Kendra berpura tak acuh.
"Tumben tanya Papamu." Mama melirik curiga.
"Papa setiap hari hubungi Mama," ucap Mama singkat.
"Ngobrolin apa?" kejar Kendra gemas.
"Yaah, tanya kesehatan, kabar. Tanya kamu juga."
"Mama bilang apa?"
"Mama bilang apa adanya. Kalau kamu bekerja dengan baik di sini. Dipercaya jadi kepala chef restoran ternama dan bakal jadi mantu pemilik restoran itu juga," ujar Mama disertai tawa geli.
"Lalu Papa bilang apa?"
__ADS_1
"Papa ga bilang apa-apa, cuman ow, gitu saja. Papa juga bilang kalau kamu juga suka, ya lanjut. Kenapa, kamu minta Papa datang kemari untuk melamar Victoria?"
"Eh, kenapa ke arah sana sih?!" Kendra menoleh cepat.
"Ya kalau sudah sama-sama suka, tunggu apa lagi? Kelamaan pacaran bisa jadi dosa."
"Siapa yang bilang aku dan Victoria pacaran? Aku dan dia tidak ada hubungan apapun selain atasan dan bawahan," ucap Kendra tegas.
"Lalu kenapa kamu tanya tentang Papa?"
"Mamaku sayang, aku tidak pernah tanya tentang kabar Papa dibilang tidak peduli, sekali aku tanya tentang Papa, Mama tanya balik." Kendra memeluk Mamanya gemas.
"Mama hanya ingin kamu punya pasangan yang baik dan berkeluarga, takut kamu terjerumus pergaulan yang tidak benar di sini."
"Mama tenang saja. Aku pasti menikah dengan wanita yang aku pilih sendiri, doakan ya." Kendra mencium pipi Mamanya lalu melesat masuk ke dalam kamar.
Ia semakin penasaran dengan maksud Papanya mengirimkan foto Maura. Sesampainya di dalam kamar, dilihatnya lagi pesan masuk di ponselnya. Masih belum ada kelanjutan pesan dari Papanya. Kendra menggenggam erat ponselnya. Ia sedang berusaha meruntuhkan egonya untuk menghubungi Papanya terlebih dulu.
"Oke Papa, kamu menang." Kendra mulai mengetik pesan balasan di ponselnya.
'Siapa ini?.' Dua kata aman yang dipilihnya. Tidak terkesan terlalu menggebu, tapi cukup memancing percakapan selanjutnya.
Pak Bram di seberang lautan sana mengangkat dua sudut bibirnya membaca pesan masuk dari putranya. Sudah sangat jelas, kalau Kendra tertarik dengan foto yang ia kirimkan. Putranya itu hampir tak pernah menghubunginya lebih dulu ataupun sekedar membalas pesannya. Semua yang ingin Kendra sampaikan padanya, selalu lewat Mamanya.
'Menurutmu siapa? apakah kamu kenal dengannya, karena dia mengatakan kalau sangat mengenal kamu,'
'Seperti Maura, temanku di kampus dulu. Papa ketemu di mana dengan dia?'
Walau hanya berupa tulisan, sebutan Papa untuknya membuat hati Pak Bram bergetar hebat. Air matanya menggenang secara tiba-tiba. Tekadnya semakin kuat untuk membawa putra bungsunya kembali ke tanah air.
__ADS_1
'Dia magang di kantor Papa. Kamu kapan pulang, Papa butuh kamu di sini.' Kendra mematung membaca pesan Papanya.
...❤️🤍...