
Kendra berdiri bersandar pada pilar yang menyangga bangunan megah bandara Internasional. Ia memandang hampa pesawat yang hilir mudik naik dan turun bergantian dari balik kaca besar yang membatasi ruang tunggu dan landas pacu pesawat.
Dua bulan setelah Papa memintanya untuk pulang, ia memantapkan hati untuk kembali tanah air. Ah, sebenarnya ia pulang bukan karena permintaan Papanya, tapi ia hanya mengikuti kata hatinya. Hatinya yang memintanya untuk kembali.
Sejak mendengar nama Maura disebut oleh Papanya, jantungnya terus berdenyut kencang dan akhirnya berhasil menarik raganya untuk menyeberangi samudra dan benua hanya untuk melihat wajah Maura secara langsung. Dan disinilah ia bersama sang Ibunda menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawanya sampai ke Indonesia.
"Kapan kamu akan kembali?" Sebuah tangan melingkar di perutnya. Dengan bahasa Indonesia yang ter patah-patah, Victoria memeluk Kendra dan menempelkan pipinya ke punggung lebar pemuda itu.
"Vi, sudah kubilang berulang kali, stop seperti ini." Kendra mengurai tangan Victoria yang membelit di perutnya.
"Why?" Walau tak suka dengan penolakan Kendra, gadis berambut coklat itu menurut.
"Di sana ada Mamaku, aku tidak mau Mamaku berpikiran yang tidak-tidak dengan kita." Kendra melirik ke arah cafe, Mamanya masih asyik dengan secangkir teh hangat di hadapannya.
"Mamamu tadi tanya, apakah aku mencintaimu? kamu tentu sudah tahu jawabannya." Ditolak untuk memeluk, Victoria beralih merangkul lengan dan merebahkan kepalanya di bahu Kendra.
Kali ini Kendra tidak menolak, bukan karena nyaman tapi karena Mamanya sedang melihat kearahnya. Ia hanya memalingkan kepalanya ke arah kaca besar yang terhubung dengan ruang tunggu, lalu seolah-olah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan begitu Victoria tak bisa lagi menyandarkan kepala di bahunya.
"Pulanglah, sebentar lagi aku akan masuk ke dalam pesawat."
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kapan kamu kembali?" Victoria memasang wajah sedih.
"Apartemenku sudah kosong, dari sana kamu pasti sudah tahu jawabannya."
"No, kamu harus kembali." Victoria menggelengkan kepalanya keras.
"Iya, sekarang aku akan kembali pulang, di sanalah rumahku."
"Apa karena dia?" Victoria melirik gambar di layar ponsel Kendra. Sudah sebulan ini wajah Maura menghias layar ponsel di bagian depan. Victoria bukannya tidak melihat, tapi tak sanggup bertanya. Namun kali ini ia harus memastikan siapakah gadis itu, mengapa baru sekarang hadir selama tiga tahun ia mengenal Kendra.
__ADS_1
Kendra mengikuti arah pandang Victoria, senyum tipisnya terbit. Hal ini menimbulkan luka di hati Victoria. Senyum tulus yang tak pernah diperlihatkan Kendra untuknya, walaupun selama ini raga pria itu selalu ada di saat ia membutuhkannya.
"Mungkin," sahut Kendra jujur. Ia sendiri juga tidak bisa menebak isi hati dan pikirannya. Ia hanya mengikuti kata hati dan nuraninya saja.
"Papa ingin kamu yang memegang restorannya, tidakkah kamu berpikir ulang dengan keputusanmu?"
"Sampaikan maafku pada Papamu, aku tidak bisa memenuhi permintaannya karena aku mungkin tidak akan kembali kemari. Kalaupun aku kembali atau menetap di sini, aku tetap tidak akan bisa menerima penawaran itu, karena aku ingin mendirikan restoran dengan tanganku sendiri bukan karena alasan lain."
"Ken." Victoria terisak, ia mulai merasa putus asa membujuk Kendra.
"Take care, sori aku sudah harus naik pesawat." Tak ada pelukan apalagi kecupan, Kendra menepuk lengan Victoria pelan lalu pergi menjemput Mamanya di cafe.
"Dia tidak apa-apa kamu tinggal begitu saja?" bisik Mama sembari membenahi bawaannya.
"Dia orang asli sini, Ma, kenapa harus khawatir?" ujar Kendra santai.
"Mama ga tega," ucap Mama. Ekor matanya melirik pada Victoria yang berdiri mematung dengan linangan air mata.
Dua jam sudah mereka melayang di atas langit. Kendra pun sudah berulangkali membuka layar ponselnya, tapi hanya di halaman depan. Foto Maura yang dikirimkan Papanya, ia jadikan wallpaper ponselnya. Hanya itu foto Maura yang ia miliki, selebihnya ia sudah hapus saat ia memutuskan berangkat ke luar negeri dulu.
"Cantik," celetuk Mama.
"Iya," sahut Kendra seraya tersenyum. Sedetik kemudian, ia baru sadar kalau Mamanya yang ia kira tertidur ternyata sedang mengintip apa yang sedang ia pandangi, "Apaan sih, Mama nih," gerutu Kendra kesal. Ia mematikan ponselnya lalu memasukannya ke dalam saku.
"Gara-gara dia kamu rela melepaskan semua dan memilih kembali ke Indonesia?"
"Ga juga," sahut Kendra tak acuh. Matanya terpejam rapat berpura-pura akan terlelap.
"Lupa kalau selama ini kamu hidup hanya berdua dengan Mama? Secuil perubahan tentangmu, Mama tahu," ujar Mama ikut memejamkan mata dengan seulas senyum mengejek.
__ADS_1
Dua belas jam lebih di atas langit, hanya wajah Maura yang membayangi. Jantungnya semakin berdebar seiring pesawatnya memasuki langit Indonesia. Beribu pertanyaan hinggap di benaknya, bagaimana kabar Maura, apakah dia masih bersama Harvey? atau jangan-jangan mereka sudah menikah dan mempunyai anak?"
'Prak!' Tersulut emosi yang tiba-tiba menyeruak, Kendra tak sengaja memukul pembatas bangku pesawat.
"Hei, kamu kenapa?" seru Mama terkejut.
"Ga apa-apa cuman lupa sesuatu ... ada barang yang dipinjam teman lupa ambil," sahut Kendra beralasan.
Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah kaca berharap pemandangan awan di luar sana menenangkan hatinya. Mengapa hal itu sama sekali tak dipikirkannya sebelum memutuskan kembali ke Indonesia? Bagaimana bisa dia menjaga kewarasannya melihat kebahagiaan Maura dan Harvey? Tidak mungkin ia selamanya bisa menghindari kedua orang itu.
'Sial!'
Perasaannya sudah tidak seantusias saat ia berangkat tadi. Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, wajah Kendra semakin muram dan kusut. Ia sudah tak bergairah lagi menghirup udara tanah kelahirannya.
Berbanding terbalik dengan Mamanya, wanita itu tampak sumringah sejak kakinya menginjak tanah Indonesia setelah sekian tahun lamanya. Terlebih kekasih hatinya terlihat sedang menunggu kedatangannya dengan senyum lebar.
"Ma, dia masih suami orang. Ingat itu," bisik Kendra. Ia tahu perkataan itu kejam dan dapat melukai hati Mamanya, tapi itu adalah kenyataan yang harus Mamanya terima.
"Mama tahu. Mama hanya melihatnya sebagai Papamu, tidak lebih," ucap Mama. Senyum lebarnya tadi sudah lenyap.
'Maafkan aku, Ma,' batin Kendra menyesal. Semua gara-gara pikiran dan hatinya yang kacau, Mamanya jadi korban kalimat tajamnya.
"Bagaimana kabarmu? penerbangannya lancar?" tanya Pak Bram. Tangannya menggantung di udara. Niatnya ingin memeluk Kendra urung, karena putranya itu malah memasukan kedua tangannya ke saku celananya.
"Baik, penerbangannya lancar," jawab Mama.
"Baiklah, kita makan dulu sebelum aku antar ke tempat tinggal kalian yang baru."
"Tempat tinggal yang baru? Memangnya rumah lamaku kenapa?" tanya Mama heran.
__ADS_1
"Ada, tapi kurang layak untuk dihuni karena sudah lama ditinggal. Lagipula Kendra harus bekerja, jadi aku carikan yang dekat dengan kantor."
Langkah Kendra terhenti lalu membalikkan badan, "Kerja di kantor?"