Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Menerima


__ADS_3

"Kendra, iih ga dijawab malah diam." Bibir Maura tertekuk ke bawah. Walaupun reaksinya begitu, ia sudah cukup senang dapat bertemu dengan pemuda itu. Baginya tak peduli apapun jawaban Kendra nanti, ia akan menerimanya asalkan hubungan mereka tetap seperti semula.


"Aku sibuk kerja, Maura," sahut Kendra pelan dengan senyum tipisnya. Menatap gadis pujaannya hanya dari jarak lima kaki, sudah cukup puas baginya. Namun juga membuatnya tersiksa menahan diri untuk tidak menyentuh dan memeluk gadisnya.


"Nanti datang ke apartement ya," pinta Maura penuh harap.


"Aku usahakan."


"Mm, Ken ... Aku ka---" Ucapan dan langkah Maura yang berjalan mendekati Kendra terhenti mendengar suara Harvey memanggilnya dari jauh.


Pria itu berlari kecil mendekati mereka seraya menunjukan layar ponselnya, "Sayang, Mamamu telepon."


"Mama?" Maura urung mendekati Kendra, ia berbalik menuju Harvey dan mengambil ponsel dari tangan pria itu, "Halo, Ma, ada apa?"


"Kamu baik-baik saja, Mola? Apa kalian ada masalah?"


"Aku baik-baik saja, Ma, tadi pagi kita sudah ngobrol lama loh. Kenapa Mama tiba-tiba tanya seperti ini?" Maura melirik Harvey tak suka.


Apalagi yang dilaporkan Harvey pada orangtuanya. Ia memang sengaja tidak menceritakan dulu perihal hubungannya dengan Harvey, karena saat ini Papa dan Mamanya sedang berada di luar kota mengurus bisnisnya yang terkena masalah. Ia hanya tak ingin menambah beban pikiran orangtuanya hanya karena masalah percintaannya. Biarlah ia mengatakan pada orangtuanya nanti setelah mereka berdua kembali dari luar kota.


"Mama hanya khawatir tiba-tiba kepikiran kamu. Harvey bilang kamu juga sekarang mudah marah karena hal yang tidak jelas."


Maura menyeringai sinis pada Harvey, tapi tetap berkata santun pada Mamanya, "Ow, masalah kecil saja, Ma. Lagi banyak tugas dan tekanan ujian. Mama jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini."


"Baiklah kalau begitu, jaga diri ya Mola. Jangan lupa sering-sering pulang ke rumah, jangan di apartement terus."


"Iya, Ma."


Selama Maura berbincang dengan Mamanya di telepon, Harvey beradu tatap dengan Kendra. Kedua pria itu saling mengirimkan signal permusuhan. Mata Harvey mengatakan ia harus segera menyingkir, karena hanya dirinya yang diakui oleh orangtua Maura.


"Mana Harvey, Mama mau bicara," ucap Mama sebelum Maura memutus sambungan teleponnya.


Maura mengembalikan ponsel Harvey ke pemiliknya. Tangannya meraih pergelangan tangan Maura, sebelum gadis itu berhasil kabur mejauh darinya, "Ya, Ma?" Harvey membuka speaker ponselnya agar Maura dapat ikut mendengarkan pembicaraannya dengan Mama Maura.

__ADS_1


"Temani Maura pulang ke rumah ya. Mama titip sama kamu, tolong jaga Maura ya Harvey."


"Ya, Mama jangan khawatir, Maura akan baik-baik saja bersama aku." Harvey memandang gadis yang dimaksud dengan senyuman di bibirnya.


Maura tak mempedulikan ucapan Harvey, mata dan kepalanya sibuk mencari sosok pria yang tadi ada di belakangnya dan sekarang tiba-tiba menghilang.


"Ayo, aku antar kamu ke rumah." Harvey menarik pergelangan tangan Maura.


"Ga perlu repot, aku bisa pulang sendiri."


"Mamamu yang memintaku untuk mengantarmu ke rumah. Aku hanya menjalankan permintaannya."


"Tadi siapa yang menghubungi duluan? Pasti kamu 'kan? Tadi pagi Mamaku sudah telepon, kami bicara panjang lebar. Tidak mungkin telepon lagi hanya tanya kabarku."


"Ya, aku yang telepon memang kenapa? Apa salahnya aku menghubungi mamamu duluan, biasa memang seperti itu kok."


"Sekarang beda, kamu bukan siapa-siapaku lagi. Kita sudah selesai, Harvey." Maura menegaskan ucapannya.


"Persetan dengan janji! Lepas!"


"Kamu mau cari laki-laki itu? Dia sudah pergi, karena tahu posisinya di mana."


Kepala Maura menoleh cepat mencari keberadaan Kendra. Ia merasa menyesal tak sempat mengutarakan rasa rindunya. Tatapan mata Kendra tadi terasa berbeda dan berjarak dengannya.


"Ayo, kamu tidak mau 'kan dapat surat teguran dari kampus kalau kita berbuat keributan lagi di dalam kampus ini?" Harvey menarik tangan Maura dengan lembut namun tegas.


Maura terpaksa mengikuti permintaan Harvey, karena sebelumnya ia sudah mendapat teguran tak tertulis akibat permasalahannya dengan Harvey beberapa waktu yang lalu.


Melewati teman-temannya pun, ia masih menebarkan senyum seolah tak terjadi apapun. Ia tidak ingin menimbulkan gosip berlebihan, karena pihak kampus tidak mentolerir keributan drama percintaan di antara mahasiswa mereka.


Sementara itu, Kendra sudah pergi menjauh dari kampus. Berulang kali ia menarik nafas panjang dan berteriak agar lebih memantapkan hati untuk menghubungi Papanya. Dengan jari bergetar dan rahang bergemeletuk, ia mulai menekan satu persatu nomer ponsel Papanya yang memang sengaja tak ia simpan.


"Halo, Pa."

__ADS_1


"Halo, Kendra, ada apa, Nak? Semua baik-baik saja? Kamu sekarang ada di mana?" Tak pernah dihubungi dan dipanggil dengan sebutan Papa oleh putranya, membuat Tuan Bramantyo antusias mengajukan banyak pertanyaan.


"Aku mau," ucap Kendra dengan suara tercekat di leher.


"Ma-mau apa? Maksudnya kamu mau menerima tawaran Papa untuk melanjutkan kuliah di Perancis?"


"Ya," sahut Kendra samar.


"Baiklah kalau kamu sudah yakin, Papa akan urus semuanya." Kendra hanya menggumam setiap Papanya mengatakan sesuatu.


Setelah itu, selama sisa waktunya belajar di kampus ia mati-matian menuntaskan kuliahnya agar selesai lebih cepat. Malamnya ia bekerja hingga larut sebagai kurir dan ojek online, agar punya tabungan untuk bekal merantau di negara orang. Kendra juga berusaha meminimalkan datang ke kampus supaya pemandangan kemesraan Maura dan Harvey tak mengganggu semangatnya.


Maura sebaliknya, ia berusaha mendatangi kelas Kendra dan berharap dapat bertemu dengan pemuda itu walau secara tak sengaja sekalipun.


Namun, hal itu membuat Harvey semakin geram. Ia merasa malu pada kawan-kawannya, mengapa pacarnya mencari pria lain bukan dirinya?


"Kamu bisa ga jadi perempuan tidak terlalu gatal? Kamu ga malu apa, setiap hari datang kemari cari lelaki itu!"


"Kenapa kamu yang bingung? Aku mau tiap hari kesini atau dari pagi sampai malam duduk di sini menunggu Kendra, bukan urusanmu." tantang Maura.


"Semua tentangmu itu urusanku, Maura. Kamu masih calon istriku, tidak ada yang berubah."


"Harusnya kamu bilang seperti itu sama tunangamu. Memang tidak ada yang berubah, hanya tujuan hidup sedikit bergeser saja."


"Tidak usah bawa-bawa dia, Reva itu urusanku. Kamu dan aku beda cerita."


"Oh, jadi namanya Reva. Beda cerita bagaimana, aku ga paham." Maura terkekeh sinis, sudah tak ada rasa di hatinya. Mendengar nama wanita itupun, tak berdampak apapun dihatinya.


"Kamu tidak perlu pusing memikirkannya. Biar aku yang atur semua, kamu hanya cukup tenang dan percaya padaku. Mau ke puncak bukit?" tawar Harvey dengan sangat lembut.


...❤️🤍...


__ADS_1


__ADS_2