
"Kamu terima usulan Papamu?" Kendra menarik nafas panjang lalu mengangguk, "Sudah kamu pikirkan masak-masak? Mama tak ingin kamu menerima hanya karena Mama yang menyarankan. Mama hanya melihat masa depanmu. Mama ingin melihat kamu sukses dan bahagia, walau itu harus melalui orang yang telah menyakiti Mama sekalipun. Mama ikhlas, Ken."
Mendengar harapan Mamanya agar ia sukses dan bahagia, membuat pertahanan Kendra runtuh seketika. Ia menangis di pangkuan wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang rela dicaci, dihina serta diasingkan demi dapat melahirkannya dengan selamat, tapi masih harus berkorban sampai sejauh ini.
Harapan Mama ia menjadi orang suskes setelah menimba ilmu di negara orang mungkin bisa saja terjadi, tapi ia tidak yakin dapat bahagia jika gadis yang dicintainya tidak dapat ia miliki.
"Kendra, kamu kenapa, Nak?" Naluri seorang Ibu mengatakan putranya sedang tidak baik-baik saja. Tangannya mengusap kepala Kendra.
"Ma, bagaimana perasaan Mama dulu saat Papa meninggalkan Mama demi bersama wanita lain?" tanya Kendra lirih.
Wanita sederhana namun anggun itu, menarik nafas panjang untuk menenangkan deburan dadanya. Pertanyaan putranya kali ini sangat tak terduga dan itu seperti mengorek luka lama yang tak akan pernah mengering.
"Kecewa," jawab Mama Kendra dengan suara tercekat.
"Kenapa Mama masih bertahan dan mau menemui pria itu?"
"Karena Papamu memberikan kamu untuk Mama." Kendra mengangkat kepalanya lalu menatap Mamanya tak mengerti, tapi sedetik kemudian ia memeluk erat tubuh ringkih itu setelah mata Mamanya memancarkan cinta untuk dirinya.
"Kamu kenapa? Tidak biasanya kamu bertanya hal seperti ini."
"Aku sekarang bisa merasakan apa yang Mama rasakan dulu."
"Kamu sedang jatuh cinta?" Mama Kendra mengerling menggodanya.
"Patah hati, Ma." Kendra terkekeh disela tangisannya.
"Ditolak atau pacarmu berpaling ke pria lain?" tanya Mama Kendra lembut.
Kendra terdiam merenungi kebersamaannya dengan Maura belakangan ini. Ia baru merasa kalau sebenarnya dirinyalah yang memaksakan hubungan mereka. Ia memanfaatkan hati Maura yang terluka untuk disusupi. Mana bisa gadis itu jatuh cinta padanya dalam waktu yang teramat singkat? Siapa pula dirinya hingga merasa jauh lebih layak dicintai dari pada Harvey.
__ADS_1
Mengapa ia harus marah jika Maura kembali ke pelukan Harvey, karena saudara tirinya itu jauh lebih lama bersama dengan Maura dibanding dia yang baru dekat beberapa minggu terakhir. Ternyata dialah yang sombong selama ini.
Kendra menggeleng dengan senyum palsunya, "Hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan."
"Coba pastikan dulu sebelum mundur. Ungkapkan perasaanmu. Barangkali gadis itu ada rasa juga sama kamu, tapi malu menunjukannya."
"Sudah, tapi dia memilih kembali dengan mantan kekasihnya."
"Ow, tak apa, Nak. Semua itu proses kehidupan. Mama yakin setelah ini kamu akan mendapat pengganti lainnya. Apa gara-gara ini juga kamu mau menerima tawaran Papa?" Mama memicing curiga, "Jangan gegabah mengambil keputusan hanya karena patah hati, nanti hasilnya tidak baik. Masak gara-gara cewek kamu pindah keluar negeri?" lanjut Mama seraya menepuk kaki Kendra gemas.
"Kalau aku tidak pergi jauh dari sini, aku bakal ketemu dan melihat dia terus. Bahkan mungkin seumur hidupku, aku tidak bisa menghindarinya. Aku belum sanggup, Ma." Mata Kendra menerawang jauh.
"Kenapa tidak bisa? Mama penasaran loh, seperti apa gadis yang membuat anak Mama jadi seperti ini."
"Cantik, sayangnya dia ... Calon istri Harvey." Kendra mengkerutkan bibirnya menahan rasa nyeri di dadanya.
"Ow, benar lebih baik kamu mengalah. Wanita tidak hanya satu di dunia ini." Mama terhenyak lalu memandangnya iba.
Mama tidak mengatakan apapun, ia hanya mengusap-usap punggung putranya untuk memberikan kekuatan. Padahal dirinya pun masih membutuhkan kekuatan tiap melihat wanita yang merebut kekasihnya dulu, melingkarkan tangannya pada lengan pria yang dicintainya.
"Kamu sudah kabari Papamu?"
"Sudah." Kendra mengangguk setengah hati.
"Baiklah, Mama hanya bisa mendukung apa yang terbaik untuk kamu."
...❤️...
Kendra pergi tanpa berpamitan ataupun hanya sekedar memberitahukan niatnya pada Maura. Ia takut jika bertemu dengan gadis itu, pertahanannya akan luluh lalu memeluk dan tak ingin merelakannya untuk Harvey. Itu akan sangat memalukan jika Maura sendiri tidak menginginkannya dirinya.
__ADS_1
"Ken, kamu tidak apa-apa?" Mama mengusap pundak Kendra. Putranya itu tampak gelisah sejak mereka sampai di bandara menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya ke negara seberang.
"Jangan pergi kalau punya beban hati. Selesaikan dulu, biar langkahmu kedepannya nanti ringan," lanjut Mama karena Kendra hanya menggeleng.
Sebaliknya Papanya tampak bahagia, putranya yang dulu terasa jauh sekarang mau mendengarnya. Pria bertubuh tinggi besar itu berjalan cepat menghampiri dua orang kesayangannya yang duduk di kursi tunggu.
"Ayo, sudah waktunya masuk pesawat."
"Kami berangkat dulu, Bram." Mama mengangguk pelan. Matanya hanya melirik sekilas tak berani menatap lama karena takut berharap lebih. Ia selama ini menekan perasaannya hanya agar putranya mendapat kehidupan yang cukup layak dan mendapatkan kasih sayang yang utuh.
"Hati-hati di sana, aku juga akan sering mengunjungi kalian. Ken ...,"panggil Pak Bramantyo saat putranya itu berbalik tanpa mengatakan apapun padanya, "Papa minta maaf. Papa belum bisa menjadi orangtua yang baik, tapi Papa akan terus berusaha yang melakukan yang terbaik untuk kamu."
Kendra mengangguk samar, ia hanya diam tak membalas pelukan hangat Papanya. Pelukan pertama sejak ia mengerti kalau Papanya bukan benar-benar miliknya dan juga Mamanya.
'Maafkan Papa, Ken. Papa tidak bermaksud membuangmu jauh ke luar negeri. Papa tidak mau kamu terus berseteru dengan kakakmu. Papa berharap kamu dapat menemukan wanita yang baik di sana. Papa sayang kamu, Ken.'
Sementara itu, Maura akhirnya menyadari kalau Kendra benar-benar telah menghindarinya. Pria itu sudah tidak bisa ia temukan di mana-mana. Di warung mie ayam favorite Kendra, ia rela berjam-jam duduk dan makan di sana dengan harapan bertemu dengan pria itu.
Pasar malam bahkan pasar yang becek bertanah sekalipun, ia datangi dan berbelanja apa saja hanya untuk mendapati Kendra di sana. Alhasil lemari pendinginnya penuh tanpa berniat ia olah. Maura membuka dan memeriksa ponselnya sekali lagi, ia semakin kalut saat gambar profile di pesan Kendra sudah lenyap.
"Kamu di mana sih!" Maura berteriak kencang dalam apartementnya. Ia frustasi, lebih jelas saat Harvey mengkhianatinya dulu ia tahu alasan untuk membenci pria itu. Namun ditinggal Kendra tanpa pemberitahuan di saat hatinya sedang berbunga dan jatuh cinta itu jauh lebih menyakitkan.
"Aku kangeeen kamu, Kendraaaa! Kamu jahaaatt!"
"Kamu lihat, aku sekarang bisa masak dan cuci semua piring. Kamu ga perlu masak lagi untuk aku, aku sudah bisaaaa!"
Maura menggoreng telur dan memakannya dengan cepat. Air matanya terus mengalir selama ia masak, makan dan mencuci piringnya.
...❤️🤍...
__ADS_1