
"Aku selalu minum," kelit Reva dengan mata mengerjap menyembunyikan kebohongannya.
"Lalu kenapa bisa sampai hamil?" Harvey berdiri dari duduknya lalu mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Kenyataannya sekarang aku memang hamil anakmu, Harvey. Memangnya kenapa, toh kita akan menikah?"
"Iyaaa, tapi tidak dalam waktu dekat ini, Reva!" Harvey berjalan hilir mudik di tengah apartementnya. Bagaimana ia tidak bingung, ia belum dapat menikahi Reva karena Maura belum dapat ditaklukan. Ia butuh waktu lebih lama lagi, "Berapa bulan?" tanyanya sembari melirik Reva geram.
"Ga tahu, baru kemarin aku cek karena telat datang bulan," ujar Reva sembari duduk di atas sofa.
Hatinya sudah tenang, karena merasa berada satu langkah lebih maju dari siasat Harvey. Ia bukan tidak tahu kalau Harvey ingin mendekati kekasihnya lagi. Namun apa daya, rasa cintanya pada Harvey membuatnya menjalani cinta bodoh yang rela mencintai pria yang tidak mencintainya sepenuh hati.
"Jangan sampai ada orang lain tahu kamu hamil sebelum aku sendiri yang mengabarinya," titah Harvey tegas.
"Sampai kapan? Besarnya perutku ini tidak akan bisa disembunyikan terus."
"Salah sendiri tidak jaga tubuhmu. Sudah aku bilang, tiap hari minum pilnya!" seru Harvey seraya menampik pajangan di rak ruang tamu miliknya. Bunyi pajangan yang jatuh ke lantai dan serpihan kaca yang berderai dekat kakinya, membuat Reva menutup telinganya ketakutan.
"Kamu jahat, Harvey. Aku sedang mengandung anakmu, kenapa kamu kasar?" rintih Reva menangis ketakutan.
"Maafkan aku, maafkan aku, Sayang. Aku hanya emosi tadi." Harvey berjalan mendekat dan merengkuh tubuh Reva lalu menciumi kepalanya berkali-kali.
Situasi seperti ini sudah sering terjadi. Harvey yang tiba-tiba marah dengan emosi yang tak terkendali, tapi dalam hitungan detik berubah menjadi lunak dan penyayang. Pria itu memang tak pernah menyakitinya secara langsung, tapi tetap membuatnya cukup merasa ngeri jika sedang marah seperti ini. Namun entah mengapa ia masih ingin bersama Harvey dan memilih untuk tetap bertahan walau sikapnya menakutkan.
__ADS_1
"Kamu akan menikahiku, Harvey?"
"Tentu, dia anakku bukan? Tentu kita akan menikah, tapi aku minta satu hal padamu. Sabarlah sedikit, bisa?" Harvey mengangkat dagu Reva dan mengintimidasi dengan tatapannya, "Sekarang kamu pulang dulu dan istirahatlah Jaga kandungamu, Reva. Aku juga ada urusan yang harus aku selesaikan," lanjut Harvey.
Pria itu tak menunggu tanggapannya, Harvey langsung berdiri dan menggamit tangannya berjalan menuju pintu.
Sepanjang perjalanan, Harvey tak mengatakan apapun. Pria itu hanya diam sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan kening sesekali berkerut lalu tangan memukul-mukul dan mencengkram kemudi, membuat Reva sedikit khawatir padanya.
"Kamu tidak apa-apa, Harvey?" tanya Reva seraya menyentuh lembut tangan pria itu.
"Diamlah! Aku sedang berpikir," sembur Harvey seraya menangkis belaian lembut Reva di tangannya.
Dengan perasaan hancur dan menyesal, Reva mengusap perutnya yang belum terlihat menonjol. Harvey semakin lama semakin menunjukan sikap yang berbeda sejak awal ia mengenalnya. Anehnya sikap kasar seperti tadi hanya ditunjukan padanya saja. Di depan orang lain, Harvey tampil sebagai sosok yang berwibawa, tenang serta lembut.
Setelah Reva turun dari mobilnya, Harvey langsung memutar kemudi dengan cepat mengarah kembali ke apartement. Sebelum sampai di apartement, ia berhenti sejenak di toko obat langganannya.
"Hai, Bro cari apa?" sapa penjaga toko obat itu begitu melihat pelanggannya yang sering mendatangi tempatnya.
"Kamu masih punya yang ...." Harvey mengetuk-ngetuk etalase kaca dengan resah.
"Resep yang seperti biasa? memangnya sudah habis, Bro? Bukannya baru minggu lalu ya kamu ambil?" Penjaga toko itu berbalik hendak mengambil obat anti depresan yang biasa dipesan pelanggannya itu.
"Bukan, bukaaan," ujar Harvey cepat.
__ADS_1
"Lalu yang mana, Bro?" Pelanggan itu kembali memutar tubuhnya menghadap Harvey.
"Serbuk putih yang pernah kamu berikan padaku beberapa waktu yang lalu," bisik Harvey.
"Waduuh, itu ilegal bos. Iseng-iseng racik sendiri, ga berani lah saya. Jangan jadikan kebiasaan deh," tolak penjaga toko itu.
"Yang kemarin tidak jadi, tumpah sebelum diminum. Tolonglah, ini yang terakhir. Aku akan bayar dua kali lipat," kata Harvey cepat saat wajah penjaga toko itu masih menunjukan rasa enggannya.
"Lima kali lipat," tawar penjaga toko itu.
"Oke, berapapun yang kamu minta."
"Deal. Tunggu sebentar." Penjaga toko itu masuk ke dalam menghilang di balik gorden.
Satu jam kemudian, penjaga toko itu keluar dari dalam dengan memegang plastik klip berisi serbuk putih di dalamnya.
"Ini yang terakhir. Aku tidak mau menerima pesanan seperti ini lagi dan jika terjadi sesuatu, jangan bawa aku dan tempat ini, oke?" tegas penjaga toko itu setelah menerima pembayaran dari Harvey.
Setelah apa yang diinginkannya berada dalam genggaman, Harvey segera melajukan kendaraannya kembali menuju apartement. Dipandanginya plastik klip berisi serbuk putih ditangannya.
"Maafkan aku sayang. Aku terpaksa melakukan ini, karena aku tak ingin kehilanganmu. Aku tidak bisa melihatmu dimiliki oleh orang lain, Maura!" Harvey meremas plastik klip itu dengan emosi yang menggelak dalam hatinya.
...❤️🤍...
__ADS_1