Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Tentang Harvey 2


__ADS_3

"Tapi aku tidak suka mendengar nama wanita lain yang kamu sebut jika sedang bersamaku, Harvey!" Reva merenggut kaos Harvey di bagian dada dan menariknya hingga mereka saling bertatapan.


"Banyak sekali permintaanmu, sejak awal sudah tahu aku begini. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus terima!" Harvey menepis cengkraman tangan Reva pada kemejanya.


"Tapi aku mencintaimu, Harvey." Reva mulai menangis. Hormon kehamilannya membuat mentalnya berantakan.


"Maura juga sangat mencintaiku sebelum kamu hadir. Kami saling mencintai," ujar Harvey ringan.


"Kamu janji menikahi aku, perutku sudah mulai kelihatan." Reva memohon sembari mengusap perut bawahnya yang mulai menonjol.


"Sabaaarr!" Harvey menyugar rambutnya. Ia masih belum menemukan cara menaklukan Maura. Jika ia menikah dengan Reva dalam keadaan perang dingin dengan gadis itu, sudah bisa dipastikan Maura tak bisa tergapai lagi.


Percobaan terakhirnya digagalkan oleh kakak Maura, dan sekarang kekasihnya itu sudah tidak tinggal di apartemen lagi. Ia semakin frustasi tak dapat melihat sesering mungkin wajah gadis yang dicintainya, ditambah Reva merengek terus untuk dinikahi. Ia semakin bingung dan tertekan.


"Kalau kamu terus seperti ini, aku tidak mampu bertahan lagi menunggumu." Reva menggelengkan kepala dan kembali mengenakan pakaiannya.


"Apa maksudmu?" Harvey berdiri dan memandang waspada pada Reva yang sibuk memasukan barangnya ke dalam tas.

__ADS_1


"Aku akan meminta Papaku untuk membatalkan pertunangan kita."


"Lalu kehamilanmu?"


"Apa peduli mu? kamu hanya peduli dengan Maura! hanya dia yang ada di kepalamu. Silahkan lanjutkan hubunganmu dengan wanita murah itu, aku tidak yakin dia masih akan menerimamu setelah kamu dan keluargamu jatuh miskin," ucap Reva sinis.


"Jaga mulutmu, Reva! Jangan kau sebut Maura itu murah. Dia tidak seperti kamu."


"Puja aja dia terus, aku sudah tidak peduli lagi. Aku akan meninggalkanmu selamanya, dan setelah ini aku tinggal melihat bagaimana kamu dan keluargamu jatuh dan hancur tak bersisa." Reva mengacungkan jari telunjuknya di wajah Harvey, sama seperti saat ia melihat Mamanya menindas Papanya.


Semua kejadian itu melintas begitu saja di ingatannya. Bagaimana Mama memukul serta menghina Papanya. Harga dirinya sebagai pria dewasa menggelegak mengingat semua itu dan sekarang ia pun merasakan hal yang sama.


"Aduh, Harvey sakit!"


Harvey tak menghiraukan jeritan Reva, ia menarik rambut wanita itu sampai ke dalam dapur.


"Kamu harus diberi pelajaran, Reva. Aku akan memberitahumu bagaimana caranya berbicara dan bersikap yang baik."

__ADS_1


Reva memandang ngeri saat Harvey menghimpitnya pada meja dapur dengan sebilah pisau di tangannya.


"A-apa yang ma-u kamu la-kukan?" Reva menutup kedua matanya dengan tangan.


"Bersikaplah sopan denganku, Reva. Turunkan suaramu saat kamu berbicara denganku. Kamu tidak boleh membentak apalagi berkata kasar di depanku, dan jari ini jangan sekali lagi teracung di depan wajahku!" Tanpa perasaan Harvey menggores jari telunjuk Reva dengan pisau dapur.


"Auuwww, saaakittt, Harvey!" Reva menjerit memegangi jarinya yang mengucurkan darah segar.


Saat Harvey menaruh pisau dan akan mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di jarinya, Reva berusaha melarikan diri dengan berlari ke arah pintu apartment.


Namun dengan cepat, Harvey Kembali menangkapnya dan melemparkannya ke lantai. Reva menjerit-jerit ketakutan melihat sorot mata liar Harvey.


Harvey yang ketakutan dan panik mendengar jeritan Reva, mengambil botol air minum yang terbuat dari kaca dan menghempaskannya pada kepala Reva yang terbaring di lantai.


Seketika wanita itu diam tak bergerak dengan darah mengalir membasahi karpet apartemennya. Sesaat setelah itu, Harvey hanya duduk diam di dekat tubuh Reva yang mulai dingin. Ia memandang aliran darah yang mengalir dengan pandangan kosong.


Setelah kesadarannya kembali, Harvey semakin panik. Ia lari keluar begitu saja dari apartemen dengan membiarkan pintu kamarnya tidak terkunci. Tidak membutuhkan waktu lama untuk meringkus Harvey, ia ditemukan tengah duduk meraung di atas bukit kampus, tempat kenangannya dengan Maura dulu.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2