Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku
Mengobati


__ADS_3

Maura duduk di kursi lipat berhadapan dengan kaca tebal membatasi ruangan di hadapannya. Antara kaca tebal dan meja, ada celah yang tidak begitu besar. Maura menanti dengan gelisah, sama halnya dengan kawannya yang duduk di bangku panjang di belakangnya.


Hera menggeleng kuat saat Maura memanggilnya untuk ikut duduk bersamanya. Ia lebih baik menjaga jarak aman jika Harvey tiba-tiba mengamuk nanti.


Suara langkah sepatu karet terdengar dari ujung lorong. Maura mulai menegakkan tubuhnya bersiap dengan apapun yang akan terjadi. Menghadapi Harvey mengamuk saat masih waras saja, ia kewalahan. Namun kepalang tanggung ia tak dapat mundur lagi. Bagaimanapun Harvey pernah ada di hatinya dan Harvey yang ia kenal sebelum bertemu dengan Reva, adalah pemuda yang sangat baik dan selalu memperlakukannya dengan lembut.


"Waktu berkunjung 30menit. Silahkan, saya akan berjaga di belakang," ujar petugas yang membawa Harvey.


Tak ada yang memulai pembicaraan. Maura mengatupkan bibirnya rapat sedangkan Harvey terus menunduk sejak ia dibawa duduk dihadapannya.


"Harvey," panggil Maura pelan. Maura menunduk agar dapat melihat wajah mantan kekasihnya itu lebih jelas. Tak ada sahutan ataupun reaksi, Maura menoleh ke arah Hera yang duduk di belakangnya. Gadis itu malah mengerutkan kening dan bertanya balik dengan gerakan bibirnya, 'kenapa?'


"Harvey, ini aku Maura. Bagaimana kabarmu?" panggil Maura lagi dengan sangat perlahan. Perubahan fisik Harvey menarik perhatian Maura. Punggung yang tegap itu tampak kurus dan membungkuk. Rambut yang selalu tertata rapi, kini tampak panjang dan kusut tak beraturan.


"Maura." Harvey bergumam sangat lirih. Seperti teringat sesuatu, kepalanya terangkat perlahan. Mata yang cekung dan kosong itu tiba-tiba bersinar saat melihat wanita yang selalu diimpikannya nyata di hadapannya, "Mauraaa ..." Sinar mata yang berbinar tadi berubah menjadi kubangan air mata.


Tangan Harvey keluar menggapai-gapai dari celah kaca yang membatasi. Maura menatap tangan yang keluar itu dengan perasaan takut tapi juga iba. Ia menatap penjaga yang berdiri agak jauh di belakang Harvey. Pria berseragam itu menganggukkan kepalanya, meyakinkan Maura bahwa semua akan aman.


Perlahan Maura menyambut tangan Harvey. Jemari kokoh yang biasa menggenggam tangannya dulu sekarang terasa kasar dan penuh luka. Kuku serta ujung jari Harvey banyak mengelupas dan menghitam. Maura ikut menitikkan air mata, ia sungguh tak tega.


"Mauraaa, bawa aku keluar dari sini. Aku ingin bersamamu, aku rindu Mauraaa ..."


Maura tak menanggapi rengekan Harvey, ia memberi kode pada penjaga di belakang untuk mendekat.


"Ada kotak P3K? Boleh saya pinjam?" pintanya. Awalnya penjaga itu terlihat heran, tapi setelah Maura menunjukkan tangan Harvey, penjaga itu mengerti lalu beringsut keluar ruangan.

__ADS_1


"Dokter tangannya tidak boleh luka apalagi kotor seperti ini, nanti bawa virus untuk pasiennya," ucap Maura sembari mengusap lembut telapak tangan Harvey.


Harvey hanya diam mengamati dan menurut ketika Maura dengan telatennya membersihkan serta mengobati luka ditangannya. Matanya menatap sendu pada wanita yang masih menjadi separuh jiwanya.


Kewarasannya hilang bahkan ingin mati saja saat menyadari tak akan mungkin memiliki Maura. Sebelum kejadian mengerikan itu, ia masih punya harapan akan memiliki Maura bagaimanapun caranya. Selama bersama Reva, ia berpikir bagaimana dapat menyenangkan orangtuanya tapi juga tidak kehilangan cintanya.


Kesalahan terbesarnya adalah tidak dapat mengontrol hasratnya. Reva terlalu lihai menggoda pria polos sepertinya. Wanita itu selalu mengatakan, tidak apa-apa melakukan hal itu karena rasa cintanya begitu besar dan ia rela diperlakukan bagaimanapun oleh Harvey.


Andaikan saat itu ia dapat lebih tegas menolak semua pesona yang ditawarkan Reva dan berfokus membantu Papanya menaikan omzet perusahaan, tentu semua tidak akan berakhir seperti ini.


Satu lagi, Kendra. Ya, adik dari lain ibu, karena pria itu emosinya semakin tak terkendali. Tiap hari hatinya tak tenang dan merasa terancam akan kehadiran Kendra di sisi Maura. Sejak dekat dengan Kendra, Maura semakin terasa jauh dan sulit dikendalikan.


Mengapa harus dengan Kendra? selalu saja dia yang merebut kebahagiaan hidupnya yang sudah sempurna. Hati Harvey kembali meradang. Di kepalanya kembali tergambar bagaimana Kendra mencium Maura di depan pintu kamar apartemen.


"Awww, sakit Harvey." Maura menjerit ketika telapak tangan Harvey tiba-tiba mengatup dan menggenggam tangannya erat.


"Aku di sini Harvey, aku sedang mengobati lukamu. Kalau begini, aku tak bisa mengobati tanganmu," bujuk Maura.


"Tanganku tidak sakit, di sini yang sakit. Aku butuh kamu, Maura. Sembuhkan sakit ini." Harvey memukul-mukul dadanya dengan sebelah tangan. Air matanya semakin berderai dengan wajah memerah.


"Harveeeyyy, jangan begitu, nanti penjaga datang dan kamu ditarik paksa."


"Sakit, Mauraaaa."


"Harvey ... Dokter Harvey!" panggil Maura tegas saat Harvey masih terus meraung sembari menyakiti dirinya, "Kamu seorang dokter, tidak boleh menangis kalau sakit. Dokter Harvey adalah dokter yang hebat jadi harus kuat tahan sakit ya." Maura mengusap-usap tangan Harvey. Perlahan genggaman itu mulai mengendur.

__ADS_1


"Jam berkunjung sudah habis, Mba. Mas Harvey harus kembali ke dalam," ucap penjaga tepat setelah Maura membereskan isi kotak P3K yang digunakannya.


"Tidak mau, aku baik-baik saja. Aku akan pulang dengan Maura. Dia pacarku, setelah wisuda nanti kami akan menikah, Pak." Harvey menggeleng tegas, ia lalu berdiri dari duduknya dan menghindari penjaga yang akan memegang tangannya.


"Harvey, kamu nanti akan pulang denganku, tapi bukan sekarang," bujuk Maura hanya sekedar agar Harvey menurut dengan penjaganya. Ia hanya takut penjaga bertubuh besar itu akan menyakiti Harvey jika menyulitkan pekerjaannya.


"Sekarang, Maura. Aku tidak mau tinggal di sini." Harvey berjalan mendekati pembatas kaca lalu menempelkan tangan serta wajahnya agar dapat lebih dekat lagi dengan Maura.


"Nanti Mas Harvey pasti pulang, kalau ga nurut seperti ini mana mau Mba-nya sama Mas Harvey," timpal penjaga.


"Siapa bilang aku tidak menurut? Aku selalu melakukan apapun yang kekasihku inginkan! Ya 'kan, Sayang?" Harvey kembali menghadap Maura menatapnya seakan ingin melompati kaca pembatas.


"Waah, bagus itu. Pria hebat namanya, berarti Mas Harvey nurut juga kalau pacarnya suruh makan dan minum obat. Benar 'kan Mba?"


"Eh, apa? ... Oh, ya kamu kelihatan kurus harus banyak makan dan minum obat ya Dokter 'kan harus sehat," ucap Maura sembari tersenyum.


"Nah, yuk makan dulu dan minum obat, kalau sudah segar, gemukkan sedikit pacarnya datang jemput." Petugas itu mulai membimbing Harvey menjauh dari kaca pembatas.


"Janji datang lagi, Maura. Di sini masih sakit," ucap Harvey seraya mencengkram baju di dadanya.


"Dokter Harvey harus sembuh ga boleh sakit, nanti siapa yang obatin aku?" ucap Maura sebelum pria itu menghilang di balik pintu.


Maura kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi, setelah Harvey dikembalikan ke ruangannya. Batin dan raganya terasa sangat lelah menghadapi Harvey. Sedih yang tak terkatakan melihat pria yang dulu pernah dibayangkan bersamanya duduk di pelaminan, harus berada dalam kondisi menyedihkan seperti itu.


Andaikan waktu dapat diputar kembali, apakah ia akan menghalangi Harvey untuk bertunangan dengan Reva, ataukah ... Sejak awal ia tidak memilih Harvey tapi Kendra?

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2