
Senyum Papa terkembang lepas melihat Kendra mau mendengar permintaan Mamanya untuk duduk bersamanya. Diamatinya wajah dan perawakan Kendra. Putra keduanya yang dari lain wanita ini, perangainya sangat mirip dengannya saat waktu masih muda. Selalu berontak jika menurutnya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Apa yang anda mau bicarakan?" tanya Kendra dingin. Putranya itu memang susah memanggilnya dengan sebutan Papa, karena menurutnya jika benar kepala keluarga nama Papanya juga harus tertera di kartu keluarga.
"Kendraa!" Lagi-lagi Mamanya yang selalu menjadi penengah di antara mereka.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Baik."
"Syukurlah. Mm, setelah lulus nanti kamu mau lanjutkan S2 di mana?"
Kendra tertawa sinis, "Aku tidak ada minat menjadi dokter."
"Ow, kamu mau langsung kerja di perusahaan juga bisa. Kamu bisa bekerja di bidang farmasi atau lembaga sosial sebagai analisis kesehatan, atau ka---"
"Saya tidak tertarik," potong Kendra cepat.
"Ow, lantas, apa kamu sudah punya rencana lain?"
"Entalah, saat memilih jurusan yang sekarang bukan karena saya suka dunia kesehatan tapi karena ingin membungkam mulut anak Bapak yang sombong itu."
"Kendra! Yang sopan, panggil Papa." Bola mata Mama seperti sudah hampir keluar dari tempatnya.
"Iyaa, Papa." Kendra memutar kedua bola matanya jengah, "Aku hanya ingin dia tahu kalau aku juga mampu bahkan bisa melebihi dia."
Papa mengangguk-anggukan kepala mencoba mengerti isi kepala putranya.
"Lalu bidang apa yang sebenarnya yang ingin kamu kejar?"
"Kendra suka sekali memasak, Bram. Dia suka bereksperimen di dapur," timpal Mamanya.
"Maaa!" sergah Kendra tak suka jika hal yang menurutnya pribadi diketahui oleh Papanya.
"Suka memasak? Seperti kamu." Kendra mendengus tak suka ketika Papanya tersenyum manis pada Mamanya, "Papa jadi ingin coba merasakan masakanmu."
__ADS_1
"Hmm." Kendra melengos malas.
"Kamu ingin melanjutkan sekolah yang sesuai dengan bidang kamu?"
Bola mata Kendra bergerak gelisah. Walaupun tubuhnya diam dan mulutnya tidak mengatakan hal apapun, Papanya tahu jika ia sedang menimbang-nimbang aoa yang ditawarkannya.
"Papa tahu sekolah yang bagus untukmu. Lulusan di sana tidak hanya dapat bekerja di restoran dan hotel kelas atas, tapi banyak yang membuka usahanya sendiri. Kalau kamu mau, Papa bisa kirim kamu kesana."
Kendra semakin gelisah. Itulah impiannya. Mungkin bagi sebagian orang, pria masuk ke dalam dapur adalah sesuatu yang memalukan dan tidak bergengsi. Tidak baginya, masuk ke dalam dapur dan berkutat dengan segala peralatan serta bahan makanan yang siap diolah membuatnya merasa ditarik ke dunia yang berbeda.
"Sedikit jauh, tapi hasilnya tak perlu diragukan lagi. Le Cordon Bleu di Prancis."
"Apa? Tidak mau, itu terlalu jauh." Kendra menggeleng tegas.
"Kenapa? Kamu khawatir meninggalkan Mamamu seorang diri? Mamamu bisa ikut, kalian berdua bisa tinggal di sana sampai pendidikanmu selesai atau selama apapun yang kamu mau."
Kendra masih menggeleng samar, bukan hanya itu alasan yang membuat ia menolak tawaran menggiurkan dari Papanya. Tujuan hidupnya sejak lama dan sekolah impiannya sudah ada di depan mata, tapi mana bisa ia meninggalkan gadis cengeng yang masih suka menangis di kamar apartement itu sendirian?
"Coba di pertimbangkan penawaran Papa kamu, Ken. Mama tahu ini dunia yang kamu inginkan sejak dulu." Mama berusaha ikut menyakinkan.
Kepala Kendra menggeleng semakin keras. Perancis itu terlalu jauh, Maura tidak bisa disejajarkan dengan impiannya. Ia rela mengubur impiannya dalam-dalam demi tetap bisa melihat gadis itu sepanjang waktu.
Bagaimana jika Maura memilih kembali dengan Harvey? Setelah pengakuan cintanya dan kedekatan mereka beberapa hari ini, ia tidak yakin dapat bertahan melihat kakak tirinya bersanding dengan gadis impiannya.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Kendra berdiri dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah.
Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, ia berucap pada Mamanya, "Ma, jangan terlalu lama di luar, cepat masuk sudah malam."
"Maafkan Kendra ya, Bram. Dia biasanya tidak seperti ini."
Papa Kendra tertawa kecil, "Aku paham, justru aku senang sekali dia sudah tumbuh besar dan bisa melindungi kamu menggantikan aku. Semoga kita bisa bersatu menjadi keluarga yang utuh."
Tuan Bram hendak ingin meraih tangan Mama Kendra, tapi wanita itu menolak secara halus dengan menarik tangannya.
"Pulanglah, keluargamu menanti. Aku akan coba membujuk Kendra lagi nanti."
__ADS_1
Di dalam kamar, Kendra berbaring di atas ranjang sembari memandangi ponselnya yang penuh dengan kiriman pesan dari Maura.
'Apa maumu? Aku harap kamu tidak menjadikan aku hanya sebagai kekasih bayangan,' batinnya sedih.
Besoknya di kampus Kendra berniat menemui Maura di kelasnya. Tak tahan rasanya tidak melihat gadis itu barang sehari saja. Walaupun hatinya masih sakit sempat melihat adegan tak pantas di dalam kamar kemarin, setidaknya ia dapat memandangi gadis itu dari kejauhan.
Sayangnya Harvey mempunyai pikiran yang sama dengannya, bahkan kakak tirinya itu lebih dulu berada di sana. Situasinya sama dengan waktu Maura datang menemui Harvey di gedung fakultasnya dan berakhir diludahi oleh kekasihnya.
Keduanya duduk berdampingan bersama teman-teman Maura mengelilingi mereka berdua. Maura tampak terus menunduk sesekali mengobrol dan bercanda dengan teman wanita yang duduk di sampingnya. Berulang kali Harvey merapikan anak rambut Maura yang tertiup angin. Tindakan kecil itu memancing mulut mahasiswa di sekitar mereka untuk menggoda mereka berdua.
"Ciieee, romantis betul."
"Susah move on ya, Kak."
"Tentulah, kalian tahu dan saksinya kalau kita berdua nanti akan menikah," timpal Harvey.
"Maura waktu lihat Kak Harvey sama wanita lain, galaunya bukan main, Kak. Kita khawatir aja nih anak mau bunuh diri."
"Apaan sih kalian ini."
"Ciiee, maluuuu!" Alih-alih marah, Maura malah tertawa kecil karena teman-temannya bersorak seraya menggelitik pinggang Maura.
Dari kejauhan, hal berbeda yang tampak di mata Kendra. Pemuda itu mundur dan bersembunyi di balik pohon. Ia merasa Maura bahagia berada di sisi Harvey. Tak ada kesempatan lagi untuknya. Ia tak mau hadir di tengah-tengah mereka dan menerima cemooh kekalahan dari Harvey.
"Aku kayaknya lihat Kendra deh, Ra," bisik Hera. Hanya Hera yang ia percaya untuk berbagi perasaannya.
"Di mana?" Kepala Maura yang sejak tadi menunduk memandangi ponsel, langsung terangkat dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok pria yang ditunggu kabarnya sejak kemarin."
"Mau kemana?" Tangan Harvey menahannya agar tetap duduk di samping pria itu.
"Mau pipis!" Maura melesat menuju pohon yang di tunjuk oleh Hera.
"Ken ... Kendra!" panggil Maura dengan nafas tersengal-sengal. Kendra menarik nafas dan berusaha menenangkan diri, lalu berbalik dan tersenyum.
"Ada apa, Maura?"
__ADS_1
"Kamu kemana saja? Kenapa pesan aku ga dibalas?" Maura memberondongnya dengan pertanyaan yang lebih terdengar seperti merajuk.