
Sebelum masuk ke gedung apartement, Harvey lebih dulu mampir ke minimarket dan membeli segelas minuman coklat hangat beserta cemilan kesukaan Maura di sana.
Sampai di depan pintu kamar apartement gadis itu, Harvey meminum beberapa pil yang belakangan ini menjadi asupan wajibnya. Setelah merasa sedikit tenang, ia baru menekan bel pintu kamar Maura. Cukup lama ia harus menunggu gadis itu membukakan pintu untuknya. Namun berapapun lamanya ia tetap akan sabar menunggu demi tercapai tujuannya.
"Mau apa?" tanya Maura dingin. Pintu hanya terbuka sedikit celah dengan rantai yang terhubung agar pintu tetap terkunci.
"Mau mengobrol. Aku bawa minuman dan makanan kesukaanmu." Harvey mengangkat gelas serta sekantong makanan kecil.
"Lagi tidak ingin bertemu dan mengobrol dengan siapapun." Maura hendak menutup pintunya kembali.
"Maura ... Maura, Sayang please sebentar saja." Harvey menahan pintu kamar agar tidak tertutup seluruhnya dengan kaki dan lengannya yang memegang gelas berisi coklat panas.
Jeritan Harvey yang terkena tumpahan coklat panas dan kaki yang terjepit pintu, membuat Maura sedikit iba lalu membuka pintu sedikit.
"Sudahlah Harvey, aku tidak mau bertemu kamu lagi."
"Oke, ini yang terakhir setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji. Kita hanya berbicara sebagai sahabat."
"Besok saja di kampus, ini sudah malam."
"Aku bawa ini sekarang, Maura." Harvey mengangkat gelas minuman untuk Maura dengan wajah kecewa, "Baiklah aku mengerti, aku tidak perlu masuk ke dalam, bagaimana kalau kamu yang keluar. Kita duduk di teras ini." Harvey menunjuk lantai yang beralaskan karpet. Matanya mengawasi gerak gerik Maura dan berharap gadis itu menerima usulannya.
Maura mengacak wajahnya gemas. Ia merasa malas dan gerah menanggapi mantan kekasihnya itu, tapi sesuai sifatnya jika tidak dituruti Harvey pasti akan mengejarnya terus.
"Baiklah, di luar dan ini yang terakhir."
Harvey tersenyum sumringah ketika Maura membuka kunci kamarnya lalu keluar dan ikut duduk bersamanya di lantai.
"Tumpah sedikit tadi, maaf ya." Harvey memberikan gelas berisi coklat hangat pada Maura, "Bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
"Baik," ucap Maura sembari mengamati dan mengendus cairan di dalam gelas itu.
"Itu hanya susu coklat, Maura. Tak ada apa-apanya, sejak kapan kamu punya pikiran jelek tentangku?" Harvey mengambil kembali gelas itu, lalu menegak isinya sedikit di depan Maura, "Aku baik-baik saja 'kan?" ucapnya setelah beberapa saat.
"Kamu ada hubungan spesial dengan Kendra?" Maura menggeleng seraya menyeruput minuman coklat dari sedotan.
"Baguslah, lebih baik jangan. Aku tahu betul siapa dia. Asalnya bukan berasal dari keluarga baik-baik, kamu tahu 'kan bagaimana dia dulu saat di SMU."
"Sudahlah, Harvey tidak perlu membicarakan keburukan orang lain. Kehidupan kita toh juga tidak lebih baik dari Kendra."
"Aku hanya berusaha mengingatkan dan melindungimu, tapi tak apa karena dia tidak akan terlihat dalam waktu yang cukup lama." Harvey berdecih sinis.
"Sudah malam, kamu ga kembali ke tempatmu?" Maura malas meladeni kebencian Harvey pada Kendra. Selain ia tidak suka dengan pendapat Harvey tentang Kendra, ia takit tak bisa menahan rindu karena harus teringat akan Kendra lagi.
"Baiklah. Aku juga mau istirahat. Ini untuk kamu." Harvey memberikan kantong plastik berisi makanan kecil pada Maura, "Masuklah dulu," ucapnya sembari berdiri di depan pintu kamar menunggu gadis itu membuka pintu.
"Kamu mau apa!" Maura sangat terkejut, ketika pintu baru saja terbuka, Harvey mendorongnya masuk ke dalam apartementnya.
"Lepaskan, Harvey! Kamu kenapa sih!" Maura mencoba meronta serta menendang ke segala arah. Namun tangan serta kaki Harvey sudah mengunci pergerakannya.
Harvey menekan pipi Maura memaksa gadis itu membuka mulutnya dan dengan sebelah tangannya, Harvey berusaha memasukan semua isi botol ar mineral yang telah ia taburkan serbuk putih ke dalam mulut Maura.
"Ka ... mu gila ... mbbphm ... byuuhh!" Maura meronta saat Harvey mencekokinya dengan air dari botol itu, lalu begitu lelaki itu lengah Maura menyemburkan kembali air ke wajah Harvey.
"Sial, Maura!" Dua buah tamparan keras menghantam pipi Maura menyebabkan gadis itu terplanting ke ubin yang keras, "Tidak bisakah kamu menjadi gadis penurutku seperti dulu?" Harvey menarik tangan Maura dan memaksa gadis itu untuk kembali berdiri.
Antara pening dan nyeri dengan mata yang mulai kabur karena pusing terkena tamparan Harvey, Maura menjerit dalam hati memanggil nama Kendra.
Di ratusan kilometer dari jarak Maura sekarang, Kendra yang sedang berdiri di depan meja praktek, tertegun melihat banyaknya pecahan telor di lantai yang tak sengaja ia jatuhkan.
__ADS_1
"Dibersihkan dong, kenapa hanya dipandangi saja?" Dosen mata kuliah menegurnya.
(anggap saja semua percakapan Kendra di luar negeri memakai bahasa asing ya)
"Maaf, saya melamun." Dengan sigap Kendra mengambil alat pembersih dari lemari penyimpanan.
Hatinya tiba-tiba bergemuruh tak tenang ketika mengingat Maura. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada gadis kesayangannya itu. Namun jarak membuatnya tak dapat melakukan apapun, hanya doa yang bisa layangkan untuk menjaga gadis yang bukan siapa-siapanya itu.
Kembali ke apartement Maura, Harvey kembali menarik tangan Maura yang berhasil lolos dari cengkramannya lalu melemparkan tubuh kecil itu ke atas sofa.
"Andaikan kamu bersikap manis, aku juga tidak akan sekasar ini, Sayang." Harvey mulai mendekati Maura dan akan menarik kaos gadis itu.
"Brengsek, kamu Harvey! Pergiii!" Dengan sisa tenaganya, Maura berteriak dan menendang dada Harvey. Harvey lalu membekap mulut Maura yang semakin keras menjerit. Tepat saat itu, pintu kamar apartement Maura ditendang dan terbuka dengan paksa.
"Lepaskan adikku, bajingan!" William menarik Harvey yang sudah berada di atas Maura dan membantingnya ke lantai dengan keras, "Apa yang kamu lakukan di sini, kamu mau melecehkan dia?!"
Tanpa ampun dan henti, William menghajar Harvey, hingga pria itu babak belur tak berdaya. Setelah puas melihat korbannya merintih tak berdaya, ia menghampiri adiknya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang ia perkir tepat di depan pintu apartement.
Setelah memastikan adiknya aman di dalam mobil, William kembali ke kamar apartement Maura dan mendapati Harvey duduk di lantai dengan wajah penuh luka dan darah. Mantan kekasih adiknya itu memeluk dan mencium jaket milik Maura sambil menangis tersedu.
William membiarkan pria dewasa itu meraung. Ia mengambil semua barang milik adiknya dan mengumpulkannya dalam satu wadah untuk ia bawa pulang. Setelah itu ia menyeret Harvey keluar dari dalam kamar Maura dan melemparkannya ke teras begitu saja.
"Jangan pernah muncul di hadapan Maura dan jangan sesekali mencoba berpikir kembali mendekati adikku, atau kalau tidak perbuatanmu ini aku laporkan ke polisi, " ancam William tegas.
Baru dua langkah meninggalkan Harvey yang masih meraung, William kembali berbalik dan menyambar jaket milik Maura yang di dekap Harvey, "Jauhkan tangan kotormu dari semua milik adikku!"
...❤️🤍...
Lambat updatenya, maaaf yaa baru sembuh 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan kapok menunggu yaa 🥰😘