
Harvey duduk terpekur di lantai yang dingin tanpa alas tikar sekalipun. Besok adalah hari di mana keputusan pengadilan akan diambil. Pandangannya kosong menatap lantai semen yang tanpa dihiasi ubin. Jarinya mengukir nama Maura di atas ubin itu berulang kali.
Penyakit kejiwaan yang sejak kecil ia derita kembali muncul setelah Maura melakukan perlawanan padanya. Sejak kecil ia sudah mengidap penyakit mental yang sering membuatnya cemas dan ketakutan secara berlebih. Semua berawal dari malam di mana ia melihat kedua orangtuanya bertengkar hebat dan saling memaki.
Jika biasanya suami melakukan tindak kekerasan pada sang istri, ini sebaliknya. Mamanya menampar dan mengacungkan jari telunjuknya tepat pada wajah Papanya. Pria yang ia panggil Papa itu hanya menunduk dan tak membalas.
"Anak haram mu dan wanita itu tak akan aku biarkan menikmati harta orangtuaku!"
Suara Mamanya yang menggelegar dan penuh emosi membuatnya ketakutan dan berlari kembali masuk ke dalam kamar. Saat itu ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kedua orangtuanya, karena mereka bagai pemain sandiwara yang ulung. Keesokan pagi setelah perkelahian itu, senyum dan sapaan ramah menyambutnya seolah tak terjadi apapun semalam.
Setelah itu baru ia tahu penyebab kemarahan Mama dan apa arti kata anak haram yang Mama sebut dengan penuh kemarahan. Papa sering mengajaknya pergi mengunjungi seorang wanita yang mempunyai anak sepantaran dengannya.
__ADS_1
Papa memintanya bermain dengan anak yang berwajah suram itu, sedangkan Papanya berbincang dengan teman wanita di teras rumahnya.
"Harvey, berikan mainan yang kamu beli kemarin untuk adikmu," pinta Papa. Saat itu ia masih tidak mengerti mengapa Papanya mengatakan anak berwajah suram itu adiknya? tapi ia tidak pernah bertanya.
Suatu ketika dengan polosnya ia bercerita pada Mamanya tentang keberadaan wanita ramah dan anaknya itu. Sama sekali tak ia duga, wajah Mamanya memucat dengan tangan mengepal.
Sejak itu Papa tidak pernah membawanya lagi ke rumah wanita itu, tapi ia rindu pada kehangatan dan keramahan teman wanita Papa. Ia juga ingin bermain dengan anak wanita itu meski selalu terlihat sedih dan merengut.
Sejak itu ia membenci setiap kata tentang wanita itu dan anaknya yang keluar dari mulut Papa. Di satu sisi, ia juga merasa kasihan Papanya sering mengalami kekerasan verbal dan tak jarang juga fisik dari Mamanya. Papanya sebagai kepala rumah tangga dan suami, sudah tak ada harganya lagi di mata Mamanya.
Tiap kali terdengar pertengkaran, ia selalu bersembunyi di bawah meja belajar dan menutup kedua telinganya. Ia takut kalau Mama akan menyakiti Papa. Namun hal itu tidak menghentikan Papanya untuk menaruh perhatian lebih pada wanita dan anaknya itu.
__ADS_1
"Mereka jahat ... Kendra itu jahat, Maura. Kenapa kamu dekat dengannya?" Harvey terus menggoreskan jarinya ke lantai.
"Kita akan menikah, Maura. Kamu istriku bukan Reva, dia sudah tidak ada. Kamu pasti bahagia 'kan?" Dua sudut bibir Harvey terangkat, tapi dengan air mata yang menetes di pipinya.
Ia teringat saat Reva menjerit memintanya untuk berhenti mengucapkan nama Maura malam itu. Malam di mana mereka baru saja memadu kasih.
"Aku muak! aku ini calon istrimu, Harvey! aku sedang mengandung anakmu!" Bibir Reva bergetar hebat menahan emosi yang sejak lama ia pendam. Egonya sebagai putri konglomerat, terpaksa ia pendam hanya karena cinta bodoh.
"Kamu memang calon istriku, tapi Maura itu kekasihku. Wanita yang aku cintai. Memangnya kenapa sih, toh aku tetap akan bertanggung jawab dengan menikahimu.," ujar Harvey santai sembari mengambil botol kaca dari lemari pendingin.
...❤️🤍...
__ADS_1
Lanjut lagi besok siang ya 🙏