
Akhirnya hari yang dinanti-nanti seluruh murid kelas 9 Madrasah itu pun tiba. Seluruh muridnya lulus dengan beberapa siswa dan siswi yang mendapatkan nilai ujian tertinggi dikota itu . Salah satu siswi terpintar tersebut adalah Annisa Hanadzkiya, nilai Hana sangat membanggakan sekolahnya.
Hari perpisahan murid kelas 9 pun digelar dengan sangat meriah, siswa-siswa memakai baju batik dan berjas rapi. Sedangkan siswi-siswinya memakai baju kebaya cantik. Hana dan Ara tampil dengan kebaya berwarna senada yaitu merah jambu, kedua sahabat itupun sangat menikmati pesta perpisahan mereka. Diiringi dengan rasa bahagia dan haru karena mereka akan berpisah, Ara memilih melanjutkan sekolah di salah satu MAN ternama di kota, benar MAN tempat Zayan Fathurisnin , sedangkan Hana memilih bersekolah di SMA terfavorit di kota itu.
Haripun berganti malam, Hana yang tampak kelelahan didampingi kak Uma masuk kedalam rumahnya. Pesta perpisahan tadi menguras begitu banyak tenaga dan air mata Hana karena ia pasti akan merindukkan Madrasah Tsanawiyahnya itu, begitupun dengan semua kenangan indah dan pahit yang pernah ia terima disana. Kenangan terpahitnya masih tentang Firman, kenapa ia harus kenal dengan lelaki itu. Aahh! cinta memang suatu pembodohan.
"Mandi, terus istirahat ya sayang!" ujar ibunya yang merangkul sibungsu menuju kamar.
"Iya bu," balas Hana dengan senyuman lelahnya.
Sebelum memejamkan mata , Hana kembali menarik ulur beranda facebooknya. Sejak saat kalimat Zayan menusuk kalbunya, Hana tak berani lagi menghubungi Zayan. Alasan Hana tak ingin masuk MAN selain karena Firman, salah satunya juga karena Zayan. Hana tak ingin terus berharap kepada Zayan yang sudah pasti tak pernah mengiraukan kehadirannya.
__ADS_1
Keesokkan harinya, tapatnya hari Minggu. Hana duduk berbincang-bincang dengan keluarga kecilnya di ruang tamu.
"Jadi anak bungsu ayah nih, mau lanjut SMA terfavorit itu atau mau SMA yang lain?" tanya Ayah membuka pembicaraan.
"Ya SMA terfavorit itu lah yah, nilai adekkan bagus semua!" jawab kak Uma.
"Iya yah Hana nggak ada niatan lagi buat cari SMA yang lain, udah yakin sama SMA itu aja," sambung Hana sambil mengunyah camilan yang telah disiapkan sang ibunda.
"Yaudah ayah sama ibu dan kak Uma selalu dukung dimanapun kamu melangkah," ayah mengusap-usap kepala sibungsunya.
"Huumm ayah bingung mau kemana ya.." jawab ayah sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
__ADS_1
"Kita kekampung halaman ibu aja yah, sekalian tengokkin sinenek," ujar ibundanya. Dan ketiga anggota keluarga lainnya bersorak setuju.
Keluarga kecil itupun telah sampai di kampung halaman sang ibunda. Udara pedesaan yang sangat sejuk dan asri, serta kicauan burung menari riang dan terbang bebas di atas sana, membuat Hana tak ingin mengalihkan pandangannya sedikitpun ketika sampai didesa itu.
Beberapa hari didesa Hana tampak lebih baik dari sebelumnya, memori tentang Zayan perlahan-lahan mulai memudar dari benaknya. Hana sama sekali tak memikirkan hal lain lagi, ia hanya ingin menikmati liburannya disini.
"Ini tempat ibu biasanya menenangkan diri kalau sedang sedih sayang," ujar ibu sambil mendekati sibungsunya yang tampak menikmati suasana desa dari halaman belakang rumah.
"Benar bu, pantes aja hati Hana adem disini.." Hana menoleh dan memeluk ibundanya.
"Ada yang Hana pikirin ya, coba cerita ke ibu nak?" tanya ibu sambil mengusap-usap punggung sibungsu.
__ADS_1
"Gak bu, Hana gak lagi mikirin apa-apa kok. Hana justru bahagia banget bisa kesini!" jawab Hana.
Setelah satu minggu didesa, Hana dan keluarganya kembali pulang ke kota.