Rumitnya Cinta Sibungsu

Rumitnya Cinta Sibungsu
Part 8


__ADS_3

Saat Hana sedang sibuk dengan Zayan di dalam lamunannya sebuah nada dering handphone Hana berbunyi, Hana mengambil benda pipih itu.


"ARA" nama yang tertulis pada layar hp nya, langsung saja Hana mengangkat telvon dari Ara.


Via telvon:


A: Assalamualaikum Hana..


H: Waalaikumsalam, ada apaan Ra?


A: Kamu tau sesuatu nggak?


H: Ya enggak lah, emang apaan sih?


A: Ternyata kak Zayan-zayannya kamu tuh punya adek perempuan.


(Kalo itu aku juga tau) batin Hana.


H: Kamu tau dari mana Ra?


A: Tadi pas aku mau ke minimarket aku liat kak Zayan sama adeknya itu, adeknya cute banget Hana gemessiin..


H: Ooo, eeh jangan bilang kamu naksir juga ya sama kak Zayan?


A: Iih apaan sih masak aku naksir sama kak Zayan, emangnya kamu apa!


H: Sok tau kamu..


A: Iya kan Hana kamu naksir sama kak Zayan. Buktinya aja tiap liat kak Zayan pipi kamu langsung merah, Hahaha..


H: Iiiih, emang keliatan banget ya merahnya?


A: Tu kan kamu naksir sama kak Zayan..


H: Iya-iya deh aku naksir sama dia, jangan kamu rebut ya..


A: Enggak lah aku kan suka sama Riaa-.. oopss!


H: Haa Ria? Rian maksud kamu. Kamu suka sama Rian Ra?


A: Enggak kok enggak.


H: Iih ngaku aja kali, aku sering liat kamu curi-curi pandang ke Rian.


A: Jelas banget ya?


H: Ya jelas lah!


A: Aa Hana jangan kasih tau Rian ya..


H: Bodo'..

__ADS_1


A: Iih pliies Hana!


H: Hehehe, dengan satu syarat.


A: Oke apa syaratnya?


H: Kamu bantuin aku buat deket sama kak Zayan.


A: Huumm.. kamu serius mau ngedeketin dia, dia tuh dingin banget loh Na orangnya.


H: Ya serius lah! mau nggak? kalo enggak aku kasih tau Rian nih.


A: Aa iya-iya Hana.


H: Yowes aku tutup dulu telvonnya Assalamualaikum Ara..


A: Waalaikumsalam Na..


Keesokkan paginya, Hana sedang berjalan sendirian menuju kelas 9A. Ia belum melihat sosok Ara dari tadi, Hana sengaja berangkat lebih awal karena ia berharap bertemu kembali dengan sosok Zayan yang waktu itu nganterin Ramadhan. Namun nihil Hana sama sekali tak menemui sosok Zayan Fathurisnin itu. Sesampainya dikelas Hana duduk dibangkunya.


"Kak Hana!" sapa seseorang.


"Rama!" ujar Hana yang kaget akan kehadiran Ramadhan dikelasnya. Kemudian Ramadhan berjalan menuju Hana dan duduk disamping bangku Hana.


"Ini kak," Ramadhan memberi sebatang cokelat kacang yang diikat dengan pita berwarna merah.


"Haa buat aku, dari siapa?" tanya Hana masih dengan raut keheranannya.


"Dari siapa Rama?" tanya Hana lagi.


"Huum dari aku kak!" jawab Rama sambil mendongakkan kepalanya.


"Serius dari kamu. Makasih Ramadhan kamu baik banget iih," balas Hana sambil mencubit kecil bahu Ramadhan. Begitulah Hana, ia telah menganggap Ramadhan seperti adiknya sendiri.


"Hehehee, sama-sama kak aku kekelas dulu ya..!" ujar Ramadhan sambil berlalu meninggalkan kelas 9A.


Saat itu jam pelajaran fiqih sedang berlangsung dikelas 9A, kebetulan guru Fiqih itu adalah wali kelas Hana.


"Jadi anak-anak kalian harus semakin fokus sama pelajaran, karena sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian-ujian dan simulasinya!" jelas guru itu.


"Iya buuk!" jawab semua murid dikelas 9A.


Bel pulang sekolah pun telah berbunyi, Hana yang ditemani Ara berjalan menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba Ramadhan menyusul mereka dan berjalan beriringan di samping Hana.


"Kita nunggu jemputannya disini aja ya!" ujar Hana kepada Ara dan Ramadhan. Dan hanya diikuti oleh anggukkan mereka berdua.


Tiitt..tiitt


"HANA!" lagi-lagi Rian mengagetkan Hana dengan klakson motornya.


"Iih apan sih kaget tauu!" ujar Hana dengan bibir manyunnya.

__ADS_1


"Mmaap my queen, yaudaah hayuuk naik aku anter pulang!" ajak Rian. Hana langsung melirik Ara.


"Enggak ah malees kamu anter Ara aja," jawab Hana.


"Iih maleh juga aku nganterin kecebong pulang," ujar Rian sambil mengejek Ara.


"Iih RIAN! berhenti panggil gue kecebong!" Ara geram dan memukul-mukul pundak Rian.


Brruuukk..


Rian pun terjatuh dari motornya karena Ara yang memukul-mukulnya terlalu kencang.


"Aaarrgh," Rian menggeram kepada Ara.


"Oops maaf!" kedua tangan Ara menutupi mukanya.


"Yan!"


"Bang Rian!" Hana dan Ramadhan membantu Rian berdiri dan menegakkan kembali motornya, tangan Rian berdarah karena tergores aspal kasar.


"Berdarah Na!" jawab Rian sambil menahan sakitnya.


"Yaudah sini-sini aku obatin," Hana segera mengeluarkan botol air minum dan hansaplas dari dalam tas nya.


"Kecebong lo kasar banget sih," Rian melirik sinis ke arah Ara.


"Ya maaf," balas Ara sambil menekuk wajahnya.


Ketika Hana sedang sibuk mengobati tangan Rian, Zayan pun datang dengan motornya. Zayan melihat Hana duduk begitu dekat dengan Rian, sehingga membuatnya kembali meragukan hubungan antara Hana dan Rian.


Tiitt...


Suara motor matic Zayan yang berhenti tepat di depan mereka semua.


"Pulang Rama!" perintah Zayan dengan wajah tak ramah.


"Iya bang, kak Ara kak Hana dan bang Rian aku pulang duluan ya," Ramadhan berpamitan kepada mereka bertiga.


Hana hanya mengangguk kecil dan menatap Zayan sembari tangannya yang terus mengobati luka Rian, Zayan sama sekali tak menunjukkan sifat ramahnya. Tatapannya dingin, bibirnya bungkam dan bola matanya memandang lurus jalanan. Hingga motornya melaju cukup cepat dan meninggalkan tempat itu.


"Apa udah Na?" tanya Ara.


"Iya udah nih Yan," Hana bangun dari duduknya dan merapikan kembali tasnya.


"Thanks my queen!" seru Rian sambil tersenyum lebar kepada Hana.


"Halah sedang sakit masih aja lebaii," ujar Ara yang kembali menepuk kecil luka Rian.


"Aaww apaan sih lu," Rian menghindari tepukkan Ara.


Ketika jemputan Hana dan Ara datang, mereka bertiga pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2