
Sesampainya dirumah, Hana melemparkan tubuhnya ke kasur empuk dikamar mungil. Kamar bernuansa merah jambu dan sedikit warna biru itu adalah kamar sibungsu Hana, ketika dirumah Hana lebih suka menghabiskan waktunya dikamar. Bagi Hana kamar adalah tempat ternyaman untuk mencurahkan keluh kesahnya. Meski usianya masih remaja, Hana pernah pacaran beberapa kali, namun ya itu, patah hati terbesarnya adalah Firman. Sakit yang di goreskan Firman masih membekas di hatinya, meski usianya baru 15 tahun, Hana sudah cukup paham mengenai sebuah rasa. Tapi bagi Hana rasa yang ada di hatinya sebelum umurnya diatas 17 tahun hanyalah rasa suka biasa, Hana tak pernah menerjemahkan rasanya pada sebuah cinta, bagi Hana rasa itu hanya sekedar suka dan sayang, cinta pertama Hana masih milik sang ayah.
Setelah bergelut dengan hangatnya air kamar mandi, Hana menuju ruang makan, karena cacing di perutnya sudah menunggu makanan.
"Bu," sapa Hana ketika melihat sang ibu di meja makan.
"Apa sayang, sini makan!" suruh ibundanya.
"Iya bu, Hana laper banget apa lagi ada ayam goreng pasti Hana nambah-nambah makannya, hehehe." Ujar Hana sambil terkekeh.
Selesai makan Hana kembali kekamar mungilnya, ia duduk di tepian jendela kamar menatap bintang-bintang di langit malam. Hana dihantui oleh bayangan wajah pria tadi, heran kenapa Hana mudah mengingatnya padahal baru pertama kali bertemu. Rasa penasaran akan sosok pria itu pun bergelayun di pikiran Hana. Lalu ia memilih tidur dan mematikan lampu kamar.
Paginya di Madrasah Hana, ia turun dari mobil sedan kakaknya tepat di gerbang Madrasah, Hana kembali melihat pria kemaren sedang berbicara dengan Ramadhan, kemudian pria itu memberi beberapa lembar uang kepada Ramadhan dan Ramadhan pun menyalim tangan si pria. Ketika si pria kembali melajukan motornya, tatapan si pria dan Hana pun bertemu, kemudian si pria tersenyum manis kepada Hana, dan pria itu pun berlalu.
"Rama, Ramadhan!" teriak Hana. Hingga membuat langkah Ramadhan terhenti.
"Kak Hana, ada apa kak," tanya Ramadhan.
"Itu tadi yang nganterin kamu siapa?" tanya Hana penuh selidik.
"Ooh, itu abang aku kak," jawab Ramadhan terus terang.
__ADS_1
"Sekolahnya di mana?" tanya Hana lagi.
"Di MAN Kota kak!" jawab Zaidan.
"Haa," gumam Hana pelan, jadi pria tadi satu sekolah dengan mantannya.
"Kenapa ya kak?" tanya balik Ramadhan.
"Huumm, dia kelas berapa Rama , terus dia jurusan apa?" tanya Hana bertubi-tubi.
"Bang Zayan kelas X.Ipk 1 kak," jelas Ramadhan.
"Zayan, namanya Zayan ya," ujar Hana.
"Oo yaudah, yuk masuk!" ajak Hana kepada Ramadhan.
Ramadhan tampak tersenyum manis, mereka berdua pun berjalan menuju kelas masing-masing.
Setelah melewati beberapa koridor sekolah, Hana pun sampai dikelasnya, kelas 9 A. Hana termasuk siswi yang cerdas, beberapa prestasinya sempat mengharumkan nama sekolah. Cukup banyak cowok-cowok sekolahan yang naksir kepadanya, namun hatinya yang telah tertutup tak menghiraukan hal itu sama sekali.
Bicara tentang Ramadhan, Ramadhan adalah ketua osis Madrasah tersebut, sebelum menjadi ketua osis, Ramadhan pernah menjadi wakil sekretaris osis, dan ketua sekretarisnya adalah Hana. Maka tak heran Ramadhan dan Hana cukup dekat, ditambah lagi mereke tergabung dalam satu ekstrakurikuler yang sama. Yaap! benar eskul pramuka.
__ADS_1
Kembali kepada Hana yang telah duduk dibangkunya. Hana satu kelas dengan Ara sahabat baiknya sejak masuk di Madrasah ini. Ara sedang menyatap sarapan pagi yang ia beli di kantin sekolah.
"Zayan Fathurisnin!" seru Hana, sambil menepuk pundak Ara.
"Haa, Zayan siapa lagi tuh?" tanya Ara sambil mengunyah makanannya.
"Itu Ara, babangnya Ramadhan yang kemaren," jelas Hana.
"Ooo, kamu selidikin dia Na?" Ara mengangkat satu alisnya.
"Enggak, aku liat dia tadi nganterin Rama terus aku tanya sama Rama, terus Rama bilang itu!" ujar Hana dengan bibir khas cara ia berbicara.
"Heleeh, bilang aja kamu naksir sama dia," balas Ara.
"Enggak, cuman penasaran doang!" sentak Hana kepada sahabatnya.
"Na suka hadir karena berawal dari rasa penasaran, terus nyaman, jadian, eh ditinggalin lagi!" ejek Ara.
"Iih kok bahas itu," ujar Hana sambil menekuk wajahnya.
"Hehehe becanda doang buk jago!" seru Ara sambil tertawa.
__ADS_1
Pelajaran pertamapun dimulai, Hana kembali kebangkunya.