
Malam itu bintang masih setia menemani rembulan di pelantara angkasa. Dari seberang jalan, tepatnya di sebuah minimarket keluarlah Hana sambil kerepotan membawa barang belanjaannya. Seseorang pun tak sengaja menabrak Hana dari belakang.
Bruukk..
"Aaww..." pekik Hana karena ia jatuh tersungkur, dan barang belanjaannya berserakkan di jalanan.
"Maaf-maaf! " ujar orang itu sambil membantu Hana berdiri.
Deg, degup jantung Hana berpacu dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Firman adalah sosok yang tak sengaja menabrak Hana tadi.
"Hana.." lirih Firman, tangannya bersiap-siap untuk menghapus air mata di pipi Hana. Namun dengan sigap Hana menghindar dan mengusap air matanya sendiri.
Hana mengambil barang belanjaannya sesegera mungkin, dan ia berjalan begitu cepat sehingga meninggalkan Firman yang diam terpaku disana.
Di perjalanan menuju rumahnya, air mata Hana tak bisa ia bendung. Bulir demi bulir membasahi pipi chubbynya, kemudian ia tersandung di tepi trotoar jalanan.
"Eeh Hana!" seru Rian yang segera menghentikan motornya.
"Kenapa Naa?" tanya Rian dan menopang tubuh Hana di sandarannya.
"Yaan.." Hana menyandarkan kepalanya di tangan kiri Rian, kemudian ia kembali menangis.
"Kamu kenapa coba cerita?" Rian membantu Hana berdiri dan mengajaknya duduk di motornya. Dan tangan Rian spontan mengusap air mata di pipi Hana.
"Why Hana, kenapa?" tanya Rian dengan raut khawatirnya.
__ADS_1
"Aku ketemu Firman," tutur Hana dengan suara seraknya.
"Dimana?" tanya Rian lagi sambil mencari-cari keberadaan sosok Firman.
"Tadi di depan minimarket!" jelas Hana.
"Huuff.. sekarang kan dia udah nggak ada, kamu jangan nangis lagi ya. Biar aku antar pulang," ujar Rian sambil mengelus-ngelus kepala Hana yang di tutup jilbab.
Kemudian Hana menatap Rian begitu dalam, tampak wajah Rian yang begitu tulus dan khawatir kepadanya. Tatapan Rian yang begitu ramah, serta perhatiannya yang begitu lembut mampu membuat Hana tersenyum kecil. Lalu Rian mengantar Hana pulang dengan motornya.
Sesampainya di rumah, Hana turun dari motor Rian perlahan-lahan karena kakinya yang sakit saat tersandung tadi.
"Pelan-pelan aja," lirih lembut Rian sambil memegangi belanjaan Hana.
"Makasih Yan." Jawab Hana mengulas senyumnya kembali.
"Aku masuk ya, kamu hati-hati di jalan!" ujar Hana sambil masuk ke dalam rumah.
Setelah Rian menghilang dari halaman rumahnya. Hana duduk di kamar mungilnya sembari memainkan handphone miliknya. Tiba-tiba sebuah notifikasi whatsaap dari Rian mengejutkan Hana.
R: Selamat malam Hana, mimpi indah ya jangan mimpiin aku karena aku bukan indah..
Hana tertawa geli membaca notif dari Rian, senyum manis terus menghiasi bibirnya sampai ia tertidur pulas, bayangan tentang Rian masih memenuhi benaknya. Apakah Hana mulai membuka hatinya untuk Rian?.
Pagi ini gerimis mengiringi langkah Hana menuju gerbang sekolah. Setelah turun dari mobil kak Uma, Hana berlari menuju kelasnya. Tiba-tiba tangan Hana di jegal dari belakang oleh seseorang.
__ADS_1
"RIIAN!" teriak Hana sambil menoleh kebelakang.
"Pagi Hana.." ucap Rian yang mengembangkan senyumnya kepada Hana.
"Lepasin Yaan," rengek Hana karena Rian masih menjegal tangannya.
"Kekelas bareng yuk!" ajak Rian, namun belum melepaskan tangannya.
"Iya tapi lepasin dulu!" pinta Hana.
Rian melepaskan tangannya dan berjalan disamping Hana menuju kelas, tampak raut wajah Rian begitu bahagia, sementara Hana hanya menatap lurus kedepan dan sesekali tersenyum karena murid lain menyapanya.
Ketika sampai di depan kelas 9A, Ara tampak melihat Hana dan Rian berjalan menuju dirinya. Entah apa ini yang jelas Ara merasa kesal melihat Hana dan Rian begitu akrab, Ara memanyunkan bibirnya.
"Haai Araa!" sapa Hana ketika sampai di kelasnya.
"Huumm," balas Ara dengan senyum tipis.
"Aku kekelas ya!" lirik Rian kepada Hana dan berlalu menuju kelasnya.
Hana hanya mengangguk kecil dan mengajak Ara masuk ke 9A, mungkin Ara cemburu melihat kedekatan Hana dan Rian. Namun Ara masih tak mau jujur tentang perasaanya kepada Hana sahabatnya sendiri, padahal Hana selalu menceritakan rahasianya kepada Ara. Sementara Ara tidak sedikitpun, Ara sangat tertutup tentang hatinya kepada Hana.
"Raa pr yang kemarin udah selesai?" tanya Hana membuka pembicaraan. Dan Ara hanya mengangguk, Hana menyadari sikap aneh Ara kepadanya.
"Kamu kenapa Ra, ada masalah ya?" tanya Hana lagi.
__ADS_1
"Enggak kok," jawab Ara sambil menggeleng. Dan pelajaran pertama pun di mulai.